Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Rizka.fn

Mahasiswi Psikologi UI Angkatan 2010

Psikologi: Ilmu tentang Jiwa?

OPINI | 26 March 2013 | 05:06 Dibaca: 735   Komentar: 0   0

“Psikologi”…

Ketika pendengar kata itu, apa yang terpikirkan ? Sebagian akan menjawab, “ilmu tentang Jiwa.” Penulis pada awalnya juga menjawab itu. Terdengar sangat menarik karena mempelajari suatu yang sangat abstrak namun dekat dengan diri kita masing-masing. Seiring waktu berjalan selama kurang lebih 3 tahun mempelajari psikologi di universitas, penulis akan memberikan jawaban yang berbeda dengan sebelumnya. Jawaban saya sekarang mengenai “Apa itu psikologi” adalah “ilmu tentang tingkah laku.” Jawaban itu bahkan disetujui oleh banyak orang, bahkan penulis mendapatkan pengertian tersebut dari salah seorang dosen.

Mungkin teman-teman yang belum tersentuh mempelajari psikologi modern akan bingung akan perubahan pengertian psikologi. Salah satu alasan mengapa psikologi sekarang merupakan ilmu tentang tingkah laku, adalah pembahasan memang hanya fokus pada tingkah laku manusia, baik yang terlihat dan yang tertutup. Tingkah laku yang terlihat misalnya adalah tingkah laku menolong (prososial) dan agresivitas. Tingkah laku yang tertutup seperti emosi dan proses berpikir (kognitif), keduanya tidak terlihat secara langsung. Bukan hanya itu. Tingkah laku sangat banyak: tidur, makan, berpikir, belajar, berorganisasi, mengasuh anak, merokok, dll. Semua itu dapat dibahas dalam psikologi.

Tidakkah kita semua berpikir mengenai perubahan pengertian psikologi dari jiwa menjadi tingkah laku ?

Coba kita lihat arti psikologi secara bahasa. Psikoogi berasal dari bahasa Yunani. Ada kata “psyche” dan “logos”. Psyche artinya jiwa, logos artinya ilmu. Berarti ilmu tentang Jiwa. Ini kata para filsuf Yunani terdahulu. Kata Plotinus, jiwa berasal dari akal pertama dari Yang Tunggal (Tuhan). Mirip-mirip dengan itu, menurut Ibnu Maskawih jiwa adalah hal sederhana yang tidak dapat diindera oleh salah satu alat indera. Semuanya setuju bahwa jiwa adalah sesuatu dalam diri manusia dan bersifat abstrak.

Jiwa mengandung unsur-unsur metafisik, yang ghoib, atau segala sesuatu yang berada di luar kuasa manusia. Contohnya adalah Tuhan, malaikat, setan, akhirat. Berbeda dengan tingkah laku yang dapat terukur oleh manusia. Manusia masih bisa merasakan emosi, melihat proses berpikir orang lain, mendengar bagaimana orang lain berbicara, merasakan lezatnya makanan atau dinginnya suhu ruangan. Berbeda dengan jiwa yang ada unsur metafisik. Bagaimana tingkat keimanan manusia terhadap Tuhan tentu saja tidak dapat diukur.

Jiwa yang sangat abstrak dan melibatkan unsur metafisik akan mempengaruhi tingkah laku secara tidak langsung. Memang tidak dapat dinilai secara kasat mata atau diukur dengan sistematis. Orang yang beriman pada Tuhan akan memegang nilai-nilai mengenai apa yang diperintahkan, apa yang dilarang, bagaimana kita bertingkah laku dalam sehari-hari. Orang yang dekat dengan Tuhan akan bertingkah laku sesuai dengan perintah Tuhannya. Jika berbuat menyimpang, dia akan merasa bersalah. Itu berdampak pada emosi yang negatif. Dia akan berpikir secara rasional tanpa mengabaikan keberadaan-Nya. Dia juga akan menggunakan hati nurani yang terpaut pada Tuhannya ketika akan bertingkah laku.

Sayangnya, hal-hal metafisik semakin tidak diakui di dunia ilmuwan karena tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Metode ilmiah menuntut pencari kebenaran menemukan sebuah kesimpulan dengan cara yang sangat ketat. Psikologi menjadi sebagai sains yang sarat akan metode ilmiah, di mana indera berperan begitu besar. Dalam konteks psikologi modern, tingkah laku harus dapat diukur, sehingga dapat dengan jelas dipersepsikan secara objektif oleh semua orang. Manusia tidak dapat melihat Tuhan yang membuat emosi menjadi tenang, ataupun mendengar suara hati nurani yang melarang berbuat menyimpang. Itu merupakan pengalaman spiritual manusia yang belum tentu dirasakan oleh manusia lain dan tentu saja tidak dapat diukur secara obyektif.

Pembahasan tingkah laku semakin bagus, bahkan sudah ada ilmu pengukuran tingkah laku. Itu hal yang bisa dibanggakan karena pengetahuan semakin jelas dengan metode ilmiah tersebut. Semua orang setuju kalau motivasi akan mendorong manusia semakin giat bekerja atau marah akan membuat jantung berdetak lebih kencang. Dari semua kemajuan pembahasan tingkah laku itu, tidak ada pembahasan tentang jiwa yang berhubungan dengan aspek metafisik. Tidak ada pelibatan Tuhan dalam pencarian ilmu, termasuk pembahasan tentang jiwa. Jiwa diwakilkan oleh tingkah laku yang dapat terukur. Tapi, apakah tingkah laku bisa mewakili jiwa yang sebenarnya ?

Ada penyempitan makna psyche selama ini. Psikologi dewasa ini semakin mengagung-agungkan pencarian pengetahuan secara empiris dan rasionalis, sementara hal yang bersifat metafisik diabaikan. Penulis membayangkan ada suatu masa ketika ilmu psikologi akan mengakui keberadaan jiwa dengan hal metafisik tanpa harus menghilangkan unsur-unsur ilmiah sekarang. Perlu diingat lagi, bahwa jiwa itu sendiri akan berdampak pada tingkah laku.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Serangan Teror Penembakan di Gedung Parlemen …

Prayitno Ramelan | | 24 October 2014 | 06:00

Petualangan 13 Hari Menjelajahi Daratan …

Harris Maulana | | 24 October 2014 | 11:53

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46

Proses Kreatif Desainer Kover Buku The Fault …

Benny Rhamdani | | 24 October 2014 | 14:11

Bagi Cerita dan Foto Perjalanan Indahnya …

Kompasiana | | 22 October 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 4 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 5 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 7 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 7 jam lalu

Jokowi Tunda Tentukan Kabinet: Pamer …

Ninoy N Karundeng | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Ada Esensi Pembelajaran Hidup dalam Lagu …

Yunety Tarigan | 8 jam lalu

Aplikasi Info KRL Anti-ketinggalan Kereta …

Nyayu Fatimah Zahro... | 8 jam lalu

Review “The Giver” : Kegagalan …

Irvan Sjafari | 8 jam lalu

Sudah Siapkah Indonesia Menghadapi AFTA …

Ira Cahya | 8 jam lalu

Brisbane akan jadi “Ibu Kota …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: