Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Ulul Rosyad

Lahir berbarengan dengan banjir bandang di kota kecil Tuban. menggemari tempat-tempat yang bersejarah dan yang selengkapnya

Sedulur Alus Dalam Konsep Spiritualitas Kejawen

OPINI | 23 March 2013 | 17:42 Dibaca: 1075   Komentar: 0   3

Dalam pemahaman spiritualitas Jawa mengakui bahwa setiap orang mempunyai saudara-saudara halus yang mendampinginya. Mereka ini tak bisa dilihat oleh mata biasa, karena mreka tidak berbadan fisik. mereka ada, berbadab halus, berwujud sinar.

Seperti kita telah fahami bahwa manusia sejati adalah sukma yang memakai pakaian halus dan badan fisik yang sesuai. Sukma atau jiwa hidup langgeng dan immortal, yang rusak adalah raga. Bila raga rusak, maka sukma/jiwa kembali kealam asal atau dalam bahasa sehari-hari bisa disebut meninggal dunia. Orang Jawa kuni bilang, kembali kemula-mula, pulang ke haribaan Gusti, Tuhan.

Manusia hidup yang berujud raga dan fisik, didalamnya berupa suksma, yang dalam spiritualitas sering dipanggil pribadi sejati dan pada penampilan luarnya berujud manusia yangberga. Ada juga spiritualitas yang menyebutnya ”Kembaran Saya”, mereka mengatakan pada waktu ketemu dengan Pribadi dejati, rupa dan bentuknya persis seperti dirinya.

Menurut Kejawen, pengetahuan spiritual Jawa yang merupakan suatukebenaran dan kenyataan, setiap manusia selalu didampingi saudara-saudara halusnya. Dari begitu banyak bibit kehidupan berupa sperma yang masuk dalam rahim ibu, hanya satu yang menjadi janin dan ketika sudah sembilan bulan dikandungan ibu, telahir sebagai bayi.

Bisa juga dua atau lima, kalu terjadi bayi kembar. Jadi banyak bibit kehidupan yang tidak` mendapatkan kesempatan untuk telahir sebagai bayi manusia. Sedangkan yangtelah menjadi bayi tumbuh menjadi manusia untuk menjalani kehidupan didunia ini.

Oleh karenanya, kita yang menjadi manusia wajib mensyukuri hidup ini dan mengisi kehidupan didunia ini dengan benar, baik berguna bagi sesama dan jagad ini. Manusia dalam kiprahnya menjalani kehidupan di bumi, selalu didampingi oleh saudara-saudara halusnya kapanpun dan dimanapun dia berada. Para saudara halus ini mendapatkan tugas dari Sang Pencipta Kehidupan, Gusti, Tuhan untuk membantu dan menjaga saudaranya yang pada saat ini menjadi manusia di bumi.

Siapa saja saudara halus itu? Saudara halus (sedulur alus) yang tidak berbadan fisik itu menurut kepercayaan tradisional Jawa selalu membantu saudaranya yang manusia dengan jalan meyertai, melindungi, membantu supaya saudaranya yang manusia menjalani kehidupannya dengan selamat, sehat, sejahtera selama hidup di bumi ini.

Tugas sedulur alus tersebut sesuai dengan ketentua Tuhan saudara halus itu jumlahnya banyak, dalam tulisan ini mengajak pembaca untuk mengenali mereka: Yang pertama adalah Mar dan Marti. Biasa dipanggil Mar Marti. Mereka adalah saudara manusia yang lebih tua mereka tidak ikut dilahirkan melalui rahim. Mar yang palingtua mnencerminkan perjuangan ibu sewaktu melahirkan.

Dia adalah daya, kekuatan yang kuat, hebat untuk hidup dan melindungi hidup. Marti mencerminkan perjuangan ibu setelah melahirkan. Perjuangannya berhasil, tentunya akan lega rasanya. Oleh karena itu Mar Marti tinggi pangkatnya, sebagai Raja dan Ratu.

Secara mistis warnanya berupa cahaya putihbersih dan keninng muda jernih. Mar Marti membantu manusia yang dikawalnya, hanya untuk hal-hal yang penting, dalam keadaan yang benar-benar diperlukan.

Karena derajat Mar Marti adalah bagai Raja dan Ratu, maka manusia yang memintabantuan mereka adal;ah yang punya perbuatan, pikiran dan rasa yang jernih. Menurut istilah Kejawen adalah manusia yang telah melakukan tapabrata terlebih dahulu, yang telah melakukan laku spiritual yang sungguh-sungguh.

Berikutnya ada yang disbut Sedulur Papat Kalimo Pancer (saudara empat kelima pancer) yaitu : Kakang Kawah (kakak kawah), yang keluar dari rahim ibu, sebelum si bayi. Warnanya outih tempatnya di Timur. Adi ari-ari (adik ari-ari), yang keluar dari rahim ibu, sesudah si bayi. Warnanya kuning, tempatnya di Barat. Getih (darah), yang keluar dari rahim ibu sewaktu melahirkan. Warnanya merah, tempatnya di Selatan. Puser (pusar), yang dipotong sesudah kelahiran bayi. Warnanya hitam, tempatnya di Utara.

Sedangkan Pancer adalah wujud badan jasmani yang ada ditengah keempat saudara yang lain yang tidak punya raga fisik. Sedulu papat kalima pancer juga disebut keblat papat, kalima tengah, artinya : kiblat empat., yang kelima di tengah. Para saudara halus ini mempunyai tugas membantu manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya ada saudara-saudara halus yang dipanggil sebagai : Kabeh kadang ingsun kang metu saka marga ino (semua saudaraku, yang ada melaui rahim ibu dan yang tidak melalui rahim ibu). Kabeh kadang ingsun kang ora katon miwah kang ora karawatan (semua saudaraku yang tidak kelihatan dan tidak terrawat). Kabeh kadang ingsun kang lair bareng sadino sawengine karo aku (semua saudaraku yang lahir siang malam bersamaku). Jadi, memang benar saudara halus manusia itu ada banyak, mereka juga sering disebut sedulur sinarawedi (saudara terdekat). Dari sudut kebatinan, ada yang menyebut makdum sarpin.

Para pnisepuh Kejawen mengajarkan supaya kita semua mengenal dan syukur kalau mau memahami saudara halus kita. Mereka ituselalu mengawal dan membantu kita, disadari atau tidak, karena mereka mendapat tugas dari Tuhan.

Tentunya, manusia juga harus berbuat dan berkemauan baik. Perlu diketahui bahwa para saudara halus tersebut merasa senang kalau kita mengetahui kehadiran dan keberadaan mereka, terlebih kalau kita memperhatikan mereka.

Kalau merasa dianggap dan diperhatikan tentu mereka akan lebih rajin dan giat membantu. Mereka senang bila setiap saat diajak berpartisipasi dalam setiap kegiatan kita, seperti : makan, minum, belajar, bekerja, menyopir, mandi dan sebagainya.

Berikut contoh mengajak saudara halus kita, cukup dikatakan dalam batin saja; “ Kabeh sedulur halusku kakang kawah, adi ari-ari, getih, puser, kadang igsun papat kalimo pancer, kabeh kadang ingsun kang metu saka margo ino lan kang ora metu saka margo ino, kabeh kadang ingsun kang katon miwah kang ora karawatan, kabeh kadang insun kang lair bareng sadino sawengi karo aku, aku arep nyambut gawe, bantu aku. Maksudnya supaya kita dibantu bisa bekerja dengan selamat dan pekerjaan itu menjadi berkah juga baik bagi kita.

Dan pada waktu akan tidur, kita tidak boleh bilang supaya kita dibantu tidur. Nanti mereka semua tidur dan tidur itu bukanlah kebutuhan mereka. Katakan dalam batin “Kabeh sedulur alusku, aku arep turu, reksanen aku sajerone turu, yen ana kang ngganggu utawa mbebayani tandangana utawa gugahen aku”. Artinya: Semua saudara halusku, saya mau tidur, lindungilah saya. Kalau ada yang akan mengganggu atau membahayakan, kamuatasi atau bangunkan aku”.

Hubungan akrab dengan saudara halus bisa dilakukan dengan biasa berkomukikasi. Seperti juga dalam pergaulan antar manusia, kalau sering terjadi komunikasi, tentulah hubungannya menjadi lebih terbiasa dan bahkan menajdi akrab.

Kalau sudah akrab, bisa terjadi hubungan saling membantu, jalinan komunikasi pertama adalah : Anda sering menyebut nama mereka lengkap, satu prsatu. Ini dilakukan karena kita perlu minta dibantu atau dilindungi.

Dengan menyebut mereka dan minta bantuan itu artinya kita mengakui keberadaan mereka dan bahwa mereka adalah saudara-saaudara kita yang kita sayangi dan perlukan. Jadi menyebut mereka dan minta kerjasama mereka, itu tidak merendahkan mereka maupun kita, itulah kenyataan yang digariskan Gusti (Tuhan), sesuai Kejawen.

Ini adalah tindakan terhormat karena kita dan saudara-saudara halus kita adalah dari sumber yang sama yaitu atas karsa Gusti. Seandainya kita, tidak pernah menyapa mereka, maka sebagai sesama makhluk mereka juga merasa bahwa keberadaan mereka tidak kita perhatikan dan perlukan. Mereka akan antusias mendampingi, melindungi dan membantu, meskipun itu tugas alami mereka atas kehendak Gusti.

Maka jangan heran kalau kita lihat banyak teman, kenalan kita yang hidupnya kesandung-sandung, banyak mengalami kendala, sial, nasib jelek dan sebagainya. Mungkin saja mereka tidak dibantu secara optimal oleh saudara-saudara halusnya sendiri, selain ada masalah karma!

Dalam pehaman Kejawen, mengajak saudara halus bisa dilakuakn dengan beberapa pendekatan. Pertama, adalah ketika kita manembah kepada Gusti. Kita ajak mereka, disebut namanya satu persatu untuk membantu dan melindungi kita.

Pendekatan kedua, adalah ketika kita melakukan laku spiritual untuk memperteguh iman kita untuk percaya, berbakti dan mendekatkan diri kepada Gusti. Mengajak saudara halus kita untuk membantu dan melindungi.

Pendekatan ketiga supaya akrab dengan saudara halus adalah supaya mereka emmbantu kita dalam menjalankan tugas kehidupan yang baik dan benar supaya berhasil dan tidak terkena halangan atau gosa negatif. Sedangkan pendekatan keemapt kita yakni mengajak saudara halus kita supaya kita berhasil mencapai cita-cita dan keinginan yang baik.

Menurut pengalaman para pinisepuh dan yang sudah akrab dengan saudara-saudara halus, sebenarnya mereka itu mempunyai tugas masing-masing yang khusus, seperti yang penulis tuliskan diatas, Mar Marti, hanya membantu dalam hal yang sungguh perlu dalam kehidupan seseorang.

Kakang Kawah dan Adi Ari-Ari adalah banyak membantu dalam memenuhi kehendak yang baik. Kakang Kawah selalu memabntu sebaik-baiknya terjadi satu cita-cita/keinginan, sedangkan Adi Ari-Ari selalu mendukung dan menyenangkan. Getih membantu menggerakkan gairah dan semangat.

Puser memperhatikan kemauan dan kebutuhan duniawi. Sedangkan bagi saudara-saudara spiritualis yang sudah serasi hubungannya dengan pribadi sejati. Pribadi sejati bukan untuk permintaan apapun, apalagi bersifat keduniawian, tetapi untuk berpasrah total kepada Gusti. Pada tataran ini seorang manusia sejati sebenarnya telah memasuki tataran kesaran spiritual yang jarang digapai oleh orang bisa. Semoga tulisan yang masih banyak kekurangan ini sedikit banyak memahamkan kita akan ajaran spiritualitas warisan leluhur sendiri. Penulis akan menerima kritikan untuk menambah wawasan. Matur suwun

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung Perjanjian Linggarjati: Saksi …

Topik Irawan | | 26 July 2014 | 16:11

Kompasianer Dalam Kunjungan Khusus ke Light …

Tjiptadinata Effend... | | 26 July 2014 | 18:13

Susah Move On dari Liburan? Ini Tipsnya..! …

Sahroha Lumbanraja | | 26 July 2014 | 18:08

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Saya Juga Ingin Menggugat Kecurangan Bahasa …

Gustaaf Kusno | | 26 July 2014 | 17:05


TRENDING ARTICLES

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 3 jam lalu

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 3 jam lalu

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 7 jam lalu

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 9 jam lalu

[Surat untuk Jokowi] Dukung Dr. Ing. Jonatan …

Pither Yurhans Laka... | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: