Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Monsy Zy

Sapere Aude (Berani untuk Berpikir Sendiri)

Film Twilight dan Pemahaman Sejarah Kehidupan Manusia Dalam Bingkai Filsafat Eksistensialisme Martin Heidegger

OPINI | 11 March 2013 | 08:39 Dibaca: 3661   Komentar: 0   0

A. Pengantar

Twilight adalah salah satu film serial yang banyak disukai oleh seluruh penikmat dunia perfilman masa kini. Film ini memiliki kekuatan magis bagi para penikmat film khususnya kaum muda atau remaja. Melewati salah satu seri dari serial film twilight ini rasanya ada yang kurang dengan dunia twilight. Pada mulanya cerita seputar kehidupan yang terdapat dalam film ini adalah kisah tertulis dalam bentuk novel. Sesungguhnya, ketertarikan peminat film kepada film twilight ini bermula dari kesukaan mereka dengan cerita tokoh-tokoh twilight. Ternyata efek audio visual atas novel ini sungguh ditanggapi secara positif oleh para penikmat film.

Tulisan ini hendak membahas keterpautan pergumulan eksistensial tokoh-tokoh dalam film twilight dalam bingkai pemikiran filsuf eksistensial Martin Heidegger. Pergumulan cerita fiksi tersebut sesungguhnya merupakan pergumulan semua manusia dewasa ini. Pergumulan itu terjadi tatkala manusia ingin keluar dari kemapanan hidupnya. Pergumulan seperti apa yang ditonjolkan dalam cerita twilight ini dan seperti apa kedirian manusia ketika berhadapan dengan pergumulan hidupnya?

B. Twilight Sebagai Bentuk Metanarasi Eksistensi manusia

1. Twilight Sebagai pertunjukan dunia kehidupan

Begitu banyak orang yang terbius dengan hadirnya film ini. Entah bagian apa dan kisah seperti apa yang ditunjukkan dalam film ini, sehingga film ini menjadi primadona bagi penikmat film secara khusus kaum muda. Unsur kefiksian film ini tidak mengurangi kemauan penikmat film untuk mengenal unsur ketegangan eksistensial hidupnya sebagai manusia. Tatkala para tokoh dalam film ini memerankan kisah hidup yang menegangkan, seolah para penonton terbawa ke dunia kehidupan mereka. Kehidupan yang penuh dengan unsur keluwesan dan ketegangan, kekauan dan dinamisme, serta kebekuan dan suasana yang cair. Manusia sejauh manusia tidak pernah luput dengan perasaan dan peristiwa yang menegangkan, mencemaskan, serta mengagumkan.

Pemeran drama serial Twilight adalah Kristen Stewart, Robert Pattinson, Ashley Greene, Peter Facinelli, Elizabeth Reaser, Jackson Rathbone, Nikki Reed, Kellan Lutz, Taylor Lautner, Billy Burke, Cam Gigandet, Rachelle Lefevre, Edi Gathegi. Bella Swan (Kristen Stewart) memang gadis yang ‘berbeda’. Ia tak pernah merasa cocok dengan teman-temannya di Phoenix High School. Saat ibunya menikah lagi dan Bella memutuskan untuk tinggal bersama ayahnya di kota kecil Forks, ia tak berharap akan ada perubahan banyak. Tapi pertemuannya dengan Edward Cullen (Robert Pattinson) yang misterius membuat hidup Bella berubah. Edward tak sama dengan pria-pria lain yang pernah ditemui Bella. Pesona Edward membuat Bella akhirnya jatuh cinta pada pria misterius ini.

Edward memang beda. Ia pandai dan lucu. Ia dapat berlari lebih cepat dari singa gunung. Ia dapat menghentikan mobil berjalan hanya dengan tangan kosong. Dan ia tak pernah bertambah tua sejak 1918. Ia adalah vampir.Tapi Edward dan keluarganya juga berbeda dari vampir lain yang memangsa manusia. Buat Edward, Bella adalah wanita yang telah ia tunggu-tunggu selama 90 tahun. Namun hubungan asmara ini harus menghadapi masalah saat James (Cam Gigandet), Laurent (Edi Gathegi), dan Victoria (Rachel Lefevre) datang ke kota kecil Forks. Mereka adalah vampir-vampir yang tak segan membantai seisi kota untuk memuaskan hasrat mereka.

TWILIGHT adalah sebuah film drama romantis yang dirilis untuk konsumsi remaja. Kisah tentang vampir sebenarnya hanyalah bumbu penyedap untuk membuat film ini berkesan beda dari kebanyakan film drama percintaan remaja Dan seperti kebanyakan film drama remaja, film ini juga mengusung tema yang sangat sederhana. Bahkan bisa dibilang bahwa tak banyak yang diceritakan film ini selain hubungan asmara antara Bella dan Edward. Kisah tentang vampir di sini sebenarnya tak terlalu punya kaitan yang cukup kuat dengan kisah utama ini. Cerita tentang vampir ini hanya dibuat untuk membuat kisah ini jadi lebih panjang karena konflik antara Bella dan Edward pun sebenarnya tak terlalu banyak.

Dilihat dari sisi penyutradaraan, film ini juga tak bisa dibilang memuaskan. Beberapa adegan terasa sangat panjang tanpa jelas tujuan sebenarnya sementara di sisi lain, banyak karakter yang tak digarap dengan baik sehingga keberadaannya terasa hanya sekedar tempelan saja. Untuk disebut sebuah kisah asmara yang romantis pun agaknya kurang tepat karena jalinan emosi antara Bella dan Edward juga terasa sangat tipis. Banyak dialog yang terasa janggal dan tak alami sehingga sangat mengganggu kredibilitas jalan cerita secara keseluruhan. Usaha untuk mendefinisikan ulang vampir pun membuat film ini jadi terasa aneh. Misalnya saja dalam film ini digambarkan kaum vampir ini tak lagi bisa dibunuh dengan cara menikam jantungnya atau membakarnya dengan sinar matahari. Mereka juga tak lagi takut dengan benda-benda suci seperti kayu salib atau air suci. Pendefinisian ulang ini jadi membuat film ini makin sulit dipercaya.

2. Prinsip eksistensial film twilight

Jika dicermati dengan baik, cerita yang terdapat dalam serial film ini berisi pergulatan manusia yang tidak hanya berhenti duduk pada satu titik kehidupan, tetapi ingin menyeberang ke titik-titik kehidupan lainnya. Prinsip penyeberangan ini bermula dari sebuah perjumpaan akan realitas atau kenyataan dunia kehidupan di luar dirinya. Itulah konsekuensi logis ketika manusia bersentuhan dengan dunia kehidupan dan pengalamannya sendiri. Tidak mudah bagi manusia untuk menyeberang ke dunia kehidupan lain. Tetapi, itulah isi cerita film twilight dalam seri-seri ceritanya. Sebuah kisah penyeberangan hidup.

Perjumpaan manusia (Bella) dengan sang vampir (Edward) adalah permulaan cerita. Jika tidak ada perjumpaan, tidak memunculkan cerita. Cerita itu memuncak pada sebuah komplikasi unsur cerita yaitu ketika Bella mencintai Edward sebagai seorang vampir dan kemauannya untuk menjadi vampir. Keputusan ini merupakan keputusan yang sulit sekaligus beresiko. Keputusan ini adalah keputusan pribadi manusia yang mencoba menggali pengalamannya ketika bersentuhan dengan sisi terdalam dari panggilan hidupnya yaitu mencintai yang lain. Pengalaman ada bersama sang vampir baginya adalah pengalaman luar biasa. Lebih dalam lagi dari itu adalah ketika seorang manusia bahkan jatuh cinta dengan sang vampir. Si vampir pun mengalami getaran yang sama. Ada unsur chemistry yang tercipta dari perjumpaan tersebut. Bagi Edward, Bella adalah wanita yang berbeda di matanya. Dia adalah misteri yang tak terpecahkan. Edward tidak bisa menembus sisi kemanusiaan si Bella. Namun, ketika dia membahasakan perempuan lain, dengan mudahnya dia berbicara dan mengenal dunia kehidupan wanita tersebut. Karena perbedaan inilah, Edward jatuh hati dengannya.

Migrasi eksistensial. Inilah istilah yang cukup tepat bagi perpindahan eksistensi manusia menuju ke dunia kehidupan lain bagi Bella yaitu dunia vampir. Cinta kemudian mengalahkan segalanya. Bagi Bella, cinta merombak sekat-sekat dunia kehidupan. Tidak ada lagi dunia manusia dan dunia vampir yang ditakuti. Asalkan niat mencintai itu tulus, migrasi eksistensial ini akan terjadi dengan sendirinya sesuai dengan niat. Itulah cinta. Dia membuat kita beranjak dari dunia kehidupan kita dan bertemu dengan dunia kehidupan lain. Berjumpa dengan dunia kehidupan lain, itulah akibat dari keputusan untuk mencintai. Berpindah ke dunia kehidupan lain adalah tindakan yang penuh dengan keberanian karena berpindah sama dengan kita memulai dari awal kehidupan.

Mungkin menjadi lebih sempurna jika ada sebuah difusi eksistensial. Difusi eksistensial hendak mengatakan bahwa dua buah eksistensi menyatu dan membentuk eksistensi baru tanpa meninggalkan corak khas masing-masing eksistensi. Bella sebagai manusia hidup bersama dengan sang vampir (Edward) dan kebersamaan keduanya membentuk dunia kehidupan baru sebagai hasil peleburan dunia manusia dan dunia vampir. Namun dalam cerita twilight, eksitensi manusia yang hilang dan yang tetap mengada adalah eksistensi para vampir. Di sinilah letak ketidakadilan migrasi eksistensial dalam cerita Twilight. Menjadi adil jika seorang vampir tetap menjadi vampir tetapi keluar dari ikatan batin dan jasmaniah dengan anggota keluarga vampir lainnya. Demikian juga Bella tetap menjadi manusia, tetapi keluar dari ikatan batin dan jasmaniah dengan keluarganya. Mereka bukan lagi dua (manusia dan vampir) tetapi satu yaitu penyatuan kedua eksistensi. Dengan demikian, migrasi eksistensial menjadi sempurna.

Penjelmaan Bella menjadi Vampir bukanlah cerita yang baru. Cerita serupa terdapat dalam Injil (Alkitab). Yesus yang adalah Allah rela turun ke dunia dan meninggalkan singgasana-Nya yang penuh kemegahan untuk menjadi seperti manusia. Keinginan Yesus menjadi manusia adalah wujud konkret dari cinta-Nya kepada manusia. Jika kita memparalelisasikan kedua cerita ini, konsep ceritanya sama. Keduanya sama-sama rela meninggalkan dunia kehidupan lama untuk mengejar suatu nilai yang besar bagi dirinya yaitu cinta. Migrasi esksistensial terjadi karena cinta, dalam cinta, dan untuk cinta.

Berbeda deengan itu, dewa-dewi dalam mitologi Yunani pun turun ke dunia dan berkontak dengan manusia bahkan ada yang mengawini manusia hingga melahirkan manusia setengah dewa. Apakah perkawinan Bella dan Edward akan mengahasilkan keturunan setengah manusia atau setengah Vampir? Dalam cerita Twilight Breaking Down , dilukiskan bahwa Bella justru merasa terancam dengan kehadiran calon bayinya. Bayinya malah memiliki kecenderungan untuk membunuh ibunya. Yang diciptakan malah membunuh penciptanya.

C. Problem Eksistensi dalam Wacana Filsafat Eksistensial Martin Heidegger

1. Heidegger dan Makna Eksistensi manusia

Martin Heidegger sepintas mungkin dinilai matematis dan kaku dalam menenun eksistensialismenya. Namun, hal tersebut sesungguhnya tidak identik dengan Martin Heidegger. Ia memiliki bangunan filosofis yang permanen dengan keterbukaannya yang luar biasa untuk mengantar filsafat pada pencarian sesuatu yang terdalam pada hal-hal lain yang berada di sekelilingnya. Hal-hal yang mengitari proses identifikasi human. Dengan demikian filsafat Heidegger adalah rangkaian arus berpikir yang tidak hanya mengetengahkan makna dari penjumlahan dalam dan luar belaka, melainkan bagaimana manusia dalam proses menjadi dan mencari arti keberadaaannya mampu memasuki ranah makna hal-hal di luar dirinya sebagai dirinya.

Ekternalisasi eksistensialisme Martin Heidegger merupakan salah satu bagian dari filosofi keberadaan yang memberi ruang bagi interaksi manusia dengan hal-hal sekitar. Kalau pada Sartre interaksi itu dipenuhi oleh gaya kebebasan, maka pada Heidegger interaksi itu ditentukan oleh pemberian makna. Apa yang dimaknai di luar diri kemudian menjadi salah satu bagian yang tidak bisa dilepaskan dari eksistensi manusia sendiri. Yang di luar manusia harus bisa dicari benang merahnya dengan manusia itu sendiri. Semua yang di luar baru bermakna apabila manusia mendekatinya. Manusia mampu menjadi yang lain dengan mengembangkan pemaknaannya serentak semua yang lain yang berada di luar manusia tersebut ditarik ke dalam ranah individu, karena semua yang lain itu adalah pemenuh arti manusia sendiri. Manusia menjadi penuh karena keterhubungan ini.

2. Twilight dan Problem eksistensial

Kepenuhan hidup manusia bagi Heidegger terjadi bila manusia memberikan makna atas hidupnya dan keterhubungannya dengan yang lain. Bagi Heidegger, eksistensi manusia adalah eksistensi yang tidak sekedar mengada untuk dirinya, tetapi rela melepaskan tudung pribadinya untuk berhubungan dengan yang lain. Manusia perlu berinteraksi dengan yang lain. Yang lain dalam konsep Heidegger adalah sesama manusia dan apa saja yang dipuja manusia di luar dirinya termasuk Tuhan. Vampir adalah yang lain bagi manusia bahkan di satu sisi adalah yang lain sama sekali.

Dalam sejarah kehidupan, vampir adalah mahluk yang haus darah. Dan darah yang dicari adalah darah manusia. Bagaimana mungkin eksistensi manusia mengalami kepenuhan melalui interaksinya dengan yang lain tetapi pada saat yang sama yang lain tersebut malah menjadi ancaman bagi dirinya? Yang lain mestinya menjadi pendukung pemenuhan hidup bukan malah sebagai ancaman. Tetapi, Bella rela mengambi resiko demi tujuannya yang tertinggi yaitu mencintai Edward. Pada titik inilah kita menemukan pergumulan eksistensi yang cukup problematis. Persoalannya semakin rumit ketika Bella ingin mengubah dirinya menjadi vampir. Bella tidak mempertahankan pergulatan asalinya untuk mencari kepenuhan eksistensinya sebagai manusia. Dia malah meninggalkan jejak menjadi manusia dan memilih untuk menjadi vampir. Perjumpaan dengan yang lain malah mengubah status eksistensinya sebagai manusia. Akhirnya, perjumpaan bagi Bella bukan untuk mencapai kepenuhan eksistensinya, tetapi mengaburkan eksistensinya sebagai manusia.

Dalam kajian filosofis, sejatinya perjumpaan menumbuhkan diri manusia sebagai manusia. Apalah jadinya jika perjumpaan Bella dengan Edward membangkitkan sisi lain dari sebuah arti perjumpaan yaitu pembunuhan eksistensi? Pembunuhan dekat dengan pemangkasan. Pemangkasan dilakukan secara perlahan. Namun, niat Bella untuk membunuh eksistensinya adalah pasti. Tetapi usaha itu terjadi dalam perjalanan menuju migrasi eksistensi. Pergulatan Bella sesungguhnya berjalan dalam proses menjadi. Tetapi berbeda dengan pemikiran Heidegger. Bagi Heidegger, proses menjadi adalah perjalanan menuju kesempurnaannya menjadi manusia. Tetapi, proses menjadi dalam serial twilight adalah pergumulan untuk menjadi yang lain sama sekali. Menjadi bukan menjadi manusia atau setengah manusia, tetapi menjadi seorang vampir.

D. Kesimpulan

Gambaran serial Twilight adalah kisah migrasi eksistensial. Sebuah perpindahan keberadaan manusia menjadi vampir. Menjadi seorang vampir bagi Bella adalah keputusan final. Itu semua dilakukan demi cintanya kepada Edward yang adalah anggota keluarga vampir. Kekuatan dunia vampir melebihi dunia manusia. Hegemoni patriarkal dalam serial film ini sangat menonjol. Dunia laki-laki mendominasi dan dunia wanita harus tunduk di bawah perintah dan arahan laki-laki yaitu sang vampir.

Dalam konteks zaman modern, modernitas dan segala wajah kemajuannya tidak membawa dampak baik bagi kepenuhan diri manusia. Modernitas malah membawa efek nirhuman. Sebuah efek yang membawa eksistensi manusia tereduksi. Modernitas membangun krisis eksistensial. Dalam keadaan krisis inilah Bella mengambil keputusan untuk berpindah menjadi vampir. Jika identitas dirinya tidak jatuh dalam krisis eksistensial, apapun bentuk tawaran dia tetap memilih untuk menjadi manusia karena menjadi manusia baginya penuh dengan kekayaan makna. Namun di sisi lain, Bella mau membongkar kemapanan. Dia mengalami sisi kemapanan menjadi manusia. Membongkar kemapanan adalah corak semangat postmodernisme. Pemikiran postmodernisme membongkar kemapanan dan mengajak manusia untuk selalu beranjak. Hal yang sama terjadi dalam percintaan dua orang yang menganut agama yang berbeda. Demi cintanya, seorang perempuan melepaskan agamaya dan memilih untuk memeluk agama yang lain.

Konsep eksistensi Twilight dan Heidegger sangat berbeda. Bagi Heidegger, Bella malah berada di titik problem eksistensi. Namun bagi Bella, apabila dikaji lebih dalam justru dia mau beranjak menjadi manusia walaupun beresiko baginya. Bukankah begitu banyak orang yang berani meninggalkan cara hidup lamanya untuk sesuatu yang bernilai? Bukankah kita setiap hari rela mengubah nasib untuk memperbaiki kesejahteraan hidup? Migrasi eksistensial bagi kaum fundamentalis adalah haram, tetapi bagi Bella migrasi eksistensial adalah pilihannya yang tepat. Mau Mati atau berubah?? Wasallam!!!!!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jokowi Jadi Presiden dengan 70,99 Juta Suara …

Politik14 | | 22 July 2014 | 18:33

Prabowo Mundur dan Tolak Hasil Pilpres Tidak …

Yusril Ihza Mahendr... | | 22 July 2014 | 17:27

Timnas U-23 dan Prestasi di Asian Games …

Achmad Suwefi | | 22 July 2014 | 13:14

Sindrom Mbak Hana & Mas Bram …

Ulfa Rahmatania | | 22 July 2014 | 14:24

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Beri 8 Milliar untuk Facebook! …

Tukang Marketing | 17 jam lalu

Selamat Datang Bapak Presiden Republik …

Ahmadi | 17 jam lalu

Perlukah THR untuk Para Asisten Rumah …

Yunita Sidauruk | 18 jam lalu

Jangan Keluar dari Pekerjaan karena Emosi …

Enny Soepardjono | 18 jam lalu

Catatan Tercecer Pasca Pilpres 2014 (8) …

Armin Mustamin Topu... | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: