Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Ivan Sampe Buntu

seorang manusia yang masih terus dalam proses yang tidak pernah selesai,

Hubungan Etika dan Agama

OPINI | 26 February 2013 | 00:08 Dibaca: 4768   Komentar: 0   0

Hubungan Etika dan Agama

Pengantar

Persoalan etika dan agama adalah dua hal yang tidak perlu dipertentangkan. Bahkan seperti disampaikan oleh Franz Magnis Suseno Etika memang tidak dapat menggantikan agama, tetapi etika dapat membantu agama dalam memecahkan masalah yang sulit dijawab oleh agama. Misalnya, bagaimana kita harus mengartikan sabda Allah yang termuat dalam wahyu? Bagaimana menanggapi persoalan moral yang belum dibicarakan ketika wahyu diterima, seperti bayi tabung atau pencangkokan ginjal? Pertanyaan-pertanyaan ini memperlihatkan bahwa bagaimanapun agama membutuhkan etika dalam memecahkan masalah-masalah tersebut.

Etika dalam pandangan Magnis Suseno adalah “ usaha manusia untuk memakai akal budi dan daya fikirnya untuk menyelesaikan masalah bagaimana ia harus hidup kalau ia mau menjadi baik. …itulah sebabnya mengapa justru kaum agama diharapkan betul-betul memakai rasio dan metode-metode etika.” Tetapi sebaliknya memutlakkan etika tanpa agama adalah berbahaya. Ini yang dikatakan A.SudiarjaSJ bahwa etika bisa merendahkan atau cenderung mengabaikan kepekaan rasa, kehalusan adat kebiasaan,konvensi sosial dan sebagainya. Bahkan bahaya formalisme bisa terjadi, berpikir baik buruk secara moral tetapi tidak mampu menjalankannya. Etika bisa menjadi ilmu yang kering dan mandul yang mempunyai kebenaran tetapi kurang mampu dilaksanakan.

Akhirnya kita hanya bisa menjadi pejuang moral di mana kita sendiri tidak memaknai apa yang sedang kita perjuangkan. Kita kritis terhadap tindakan moral tetapi kita sendiri sulit untuk melakukan apa yang di kritisi. Sebaliknya manusia yang hanya mengandalkan agama tanpa etika maka merekapun cenderung akan menjadi budak absolut kebenaran pada agamanya. Nietzsche menyebutnya “Moral Budak-budak”. melihat sesamanya hanyalah wajah yang tidak bermakna, yang akhirnya hanya bertindak berdasarkan kebenaran agamanya dan inilah yang terjadi dengan beberapa kelompok massa di Indonesia seperti FPI (Front Pembela Islam) yang menganggap kebenaran hanyalah milik satu agama. Atau seperti kelompok teroris yang menganggab doktrin mereka tidak pernah salah dan telah berada di jalan yang benar, sehingga membunuh orang tidak berdosa pun menjadi halal bagi mereka.

Apakah Etika itu?

Sebelum lebih jauh kita membahas tentang hubungan etika dan agama, atau mencari titik temu diantara keduanya, maka ada baiknya kita memahami apa etika itu. Memahami etika pertama-tama perlu untuk membedakannya dengan moral. Etika lebih pada prinsip-prinsip dasar baik buruknya perilaku manusia, sedangkan moral untuk menyebut aturan yang lebih kongkrit. Ibaratnya ajaran moral merupakan petunjuk bagaimana kita harus bertindak sedangkan etika adalah bagaimana memberi penilaian terhadap tindakan kita. A.Sudiarja SJ menyebut “etika sebagai filsafat moral, karena objek pengamatannya adalah pandangan dan praksis moral.” Sedangkan Sudarminta menyebut objek material etika adalah tingkah laku atau tindakan manusia; sedangkan objek formalnya adalah segi baik buruknya atau benar salahnya tindakan tersebut berdasarkan norma moral.

Secara sederhana etika dapat dikatakan sebagai ilmu yang mempelajari secara sistematis tentang moralitas dan memberi penilaian terhadap tindakan moral. Meskipun demikian etika dalam pandangan Magnis Suseno bahwa dia tidak mempunyai pretensi untuk secara langsung dapat membuat manusia menjadi lebih baik. Dengan demikian etika dapat juga dikatakan sebagai sebuah pandangan filosofis dalam melihat perilaku manusia. Perilaku tersebut tercermin dalam tindakan moralnya. Sehingga seseorang tidak perlu beretika untuk membuat tindakan moral. Moral merupakan tindakan yang tidak terikat oleh apapun, termasuk agama. Orang bisa betindak moral tanpa harus beragama dan sebaliknya orang beragama bisa bertindak amoral.

Masih adakah tindakan moral yang otonom? Sebuah pertanyaan yang menjadi pergumulan kita sekarang ini, benarkah ada tindakan moral yang tidak dipengaruhi oleh sesuatu yang eksternal? Benarkah masih ada keberanian moral yang berdasarkan suara hati? Pertanyaan ini menjadi pertanyaan yang sulit dijawab, karena pada kenyataannya situasinya menjadi berbeda, bahwa sebagian manusia bertindak berdasarkan kebiasaan yang ada disekitarnya. Bertindak berdasarkan adat istiadat,bertindak berdasarkan agama, bertindak berdasarkan kepentingan politik, dan bertindak berdasarkan pergumulan sosial dll. Dalam pandangan empirisme, maka dapat dikatakan tidak ada tindakan moral yang tidak dipengaruhi oleh sesuatu yang eksternal. Tentu saya tidak ingin mempertentangkan empirisme dan rasionalisme, serta tidak akan membahas terlalu jauh tentang tindakan moral, karena saya hanya ingin melihat bagaimana etika dalam praksis kehidupan manusia, serta bagaimana keterkaitannya dengan agama.

Mengapa manusia beragama?

Pertanyaan yang sederhana tetapi sangat mendasar untuk lebih memahami mengapa penting bicara tentang agama. Salah satu ciri khas manusia adalah dia mampu berefleksi terhadap kehidupannya. Seperti yang diungkapkan Teilhard de Chardin yang dikutip oleh Sastrapratedja bahwa “hewan mengetahui tetapi hanya manusia mengetahui bahwa ia mengetahui” kesadaran diri adalah ciri manusia, karena itu ia mampu berefleksi terhadap hidupnya. Ia mampu berefleksi terhadap kehidupan religiositanya, karena itu tidak salah jika manusia kita sebut sebagai mahluk religius. Sebagai mahluk religius, maka ia mencari yang transenden dalam dirinya, dan manusia mendapatkan itu dalam nilai-nilai agama. Jika agama tidak lagi mampu membuat manusia berefleksi terhadap hidupnya, maka agama pun ditinggalkan oleh manusia dan manusia mulai mencari keberagamaannya dalam bentuk yang berbeda.

Agama memberi doktrin kebenaran yang tidak mungkin diubah oleh manusia. Agama menganggapnya wahyu yang absolut, tetapi bisa ditafsirkan. Karena itu ketika agama bersentuhan dengan etika, maka ajaran agama sebagai yang absolut tidak mungkin diubah, tetapi dalam keabsolutannya etika mempunyai peran untuk menjaga para penafsir untuk tidak menjadi bias. Dengan racionalitas etika maka agama dapat dipahami dalam konteksnya. Untuk lebih memahami hubungan antara keduanya maka akan jelas dalam penjelasan selanjutnya.

Bagaimana Hubungan Etika dan Agama

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa etika dan agama adalah dua hal yang tidak harus dipertentangkan. Antara etika dan agama adalah dua hal yang saling membutuhkan, atau dalam bahasa Sudiarja “agama dan etika saling melengkapi satu sama lain”. Agama membutuhkan etika untuk secara kritis melihat tindakan moral yang mungkin tidak rasional. Sedangkan etika sendiri membutuhkan agama agar manusia tidak mengabaikan kepekaan rasa dalam dirinya. Etika menjadi berbahaya ketika memutlakan racio, karena racio bisa merelatifkan segala tindakan moral yang dilihatnya termasuk tindakan moral yang ada pada agama tertentu.

Hubungan etika dan agama akan membuat keseimbangan, di mana agama bisa membantu etika untuk tidak bertindak hanya berdasarkan racio dan melupakan kepekaan rasa dalam diri manusia, pun etika dapat membantu agama untuk melihat secara kritis dan rasional tindakan –tindakan moral. Bahwa kepelbagaian agama adalah salah satu hal yang membuat kita juga menjadi sadar betapa pentingnya etika dalam kehidupan manusia. Tidak dapat kita bayangkan bagaimana kehidupan manusia yang berbeda agama tanpa etika di dalamnya. Kebenaran mungkin justru akan menjadi sangat relatif, karena kebenaran moral hanya akan diukur dalam pandangan agama kita. Diluar agama kita maka tidak ada kebenaran. Etika dapat dikatakan telah menjadi jembatan untuk mencoba menghubungkan dan mendialogkan antara agama-agama.

Kita dapat mengatakan bahwa etika, secara filosofis menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan agama-agama, khusunya bagi negara-negara yang majemuk seperti Indonesia. Etika secara rasional membantu kita mampu untuk memahami dan secara kritis melihat tindakan moral agama tertentu. Kita tidak mungkin menggunakan doktrin agama kita untuk melihat dan menganalisis agama tertentu. Sebuah pertanyaan menarik akan muncul, jika sekiranya agama hanya satu apakah dengan demikian etika tidak lagi dibutuhkan? Karena agama tersebut akan menjadi moral yang mutlak dalam kehidupan manusia. Kalau kita tetap memahami bahwa etika hadir untuk secara rasional membantu manusia memahami tindakan moral yang dibuatnya, maka tentu etika tetap menjadi penting dalam kehidupan manusia. Karena etika tidak akan terikat pada apakah agama ada atau tidak etika akan tetap ada dalam hidup manusia selama manusia masih menggunakan akal sehatnya dan racionya dalam kehidupannya. Sekalipun manusia menjadi ateis, etika tetaplah dibutuhkan oleh mereka yang tidak mengenal agama.

Pertanyaan berikut yang akan muncul adalah apakah cukup kita ber-etika tanpa ber-agama? Jika kita mencoba memahami secara filosofis, maka dapat dikatakan bahwa etika tanpa agama adalah kering, sebaliknya agama tanpa etika hambar. Bahwa manusia tidak hanya diciptakan sebagai mahluk rasional, tetapi melekat dalam dirinya mahluk religius yang membuat dia mampu berefleksi terhadap kehidupannya. Karena itu agama akan membantu manusia untuk bertindak tidak hanya berdasarkan rasionya tetapi juga berdasarkan rasa yang ada dalam dirinya. Satu kesatuan antara rasio dan rasa yang melekat dalam diri manusia. Manusia bukanlah mahluk egois yang harus mengandalkan rasionya semata-mata.

Hubungan Agama dan etika dalam konteks etika Global

Sebuah pertanyaan menarik bagaimana etika Global melihat hubungan Agama dan Etika. Jika melihat konsep yang disampaikan oleh Hans Kung dalam Etic Global. Maka pertama–tama harus ada kesadaran setiap agama, bahwa dalam perbedaan doktrin kita tetap mempunyai persamaan-persamaan etis yang bisa mempersatukan. Untuk mempersatukan persamaan ini, maka etika mempunyai peran sangat penting didalamnya. Bahkan bisa dikatakan bahwa ketika agama-agama berbeda dalam doktrin, maka etika telah menjadi pemersatu. Perbedaan keyakinan bisa terjadi pada setiap agama, tetapi rasio melalui etika telah menjadi sarana dialog. Tidak dapat disangkal bahwa etika telah mempunyai peran sangat penting dalam mencoba untuk mendialogkan agama-agama.

Karena itu peran etika global dalam konteks agama-agama, sangatlah dibutuhkan. Pun kita menyadari bahwa etika tidak akan dapat menganti peran dari agama. Etika global seperti yang disampaikan oleh Hans Kung bahwa dia tidak akan pernah menggantikan Taurat, Khotbah di Bukit, Alquran, Bhagavadgita, Wacana dari Buddha atau para ungkapan Konfusius. Etika global hanya mencoba mencari titik temu diantara agama-agama dalam nilai-nilai tertentu dengan menggunakan pendekatan etika. Dengan demikian keterhubungan etika dan agama dalam etika global sangat nampak dalam pencarian nilai bersama dengan menggunakan nilai yang logis dan dapat diterima oleh semua manusia.

Kesimpulan dan Refleksi

Dengan penjelasan dari berbagai sudut pandang, maka dapat kita katakan bahwa hubungan etika dan agama merupakan hubungan timbal balik yang saling membutuhkan. Etika tidak dapat berjalan sendiri dengan rasionalitasnya, pun agama tidak dapat berjalan sendiri dengan doktrinnya. Etika tanpa agama menjadi kering dan agama tanpa etika menjadi hambar. Etika yang baik adalah etika yang memberi ruang terhadap kepekaan rasa dan tidak hanya mengandalkan rasio dalam bertindak. Karena etika seperti ini hanya akan mendatangkan sebuah kebenaran subjektif yang tidak bernilai, dan cenderung melupakan hakekat manusia sebagai mahluk religius. Kepekaan rasa itu terdapat dalam agama. Sebaliknya agama pun harus mengakui pentingnya etika dalam kehidupan bersama. Bahwa tanpa etika maka agama-agama akan sulit untuk mencari nilai bersama, karena masing-masing agama mempunyai doktrin sendiri-sendiri. Karena itulah etika mempunyai peran besar dalam agama-agama. Etika juga menjadi penting untuk memahami dan menilai tindakan moral secara kritis dari setiap perilaku moral manusia baik itu moral dasar,moral agama/etnis dan kesukuan , dan moral sosial.

Sebagai mahluk religius yang dimampukan berefleksi terhadap hidupnya, maka dia membutuhkan racio untuk memahami kebenaran. Sebagai mahluk racional yang membedakannya dari mahluk lain, maka dia membutuhkan spirit religiositas sehingga dia bertindak berdasarkan rasa sehingga dia ada untuk kebaikan manusia dan tidak menjadi mahluk yang egois yang melupakan eksistensi sosialnya. Serta tidak hanya menjadi mahluk yang moralis atau humanis, tetapi benar-benar melekat dalam dirinya sebagai mahluk religius dan racional.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membuat KTP Baru, Bisa Jadi Dalam Sehari! …

Seneng | | 22 October 2014 | 10:00

Angka Melek Huruf, PR Pemimpin Baru …

Joko Ade Nursiyono | | 22 October 2014 | 08:31

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Saksi Sejarah Bangsa …

Idos | | 22 October 2014 | 11:28

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Calon Menteri yang Gagal Lolos …

Mafruhin | 4 jam lalu

3 Calon Menteri Jokowi Diduga Terlibat Kasus …

Rolas Jakson | 4 jam lalu

Suksesi Indonesia Bikin Iri Negeri Tetangga …

Solehuddin Dori | 4 jam lalu

Bocor, Surat Penolakan Calon Menteri …

Felix | 5 jam lalu

Fadli Zon dan Hak Prerogatif Presiden …

Phadli Hasyim Harah... | 5 jam lalu


HIGHLIGHT

Senang Sama Visi Poros Maritim Dunia …

Cdt888 | 8 jam lalu

Sinyal “Revolusi Mental” Skuad …

F Tanjung | 8 jam lalu

Tantangan Membuat Buku Mini Kumpulan Puisi …

Den Bhaghoese | 8 jam lalu

Bakmi Mama Lie Ling …

Benediktus Satrio R... | 8 jam lalu

Borneo Menulis …

Anton Surya | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: