Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Alipius Sadaniang

Adil Ka' Talino Ba Curamin Ka' Saruga Ba Sengat Ka' Jubata. Idup diri' nian ina selengkapnya

Peranan Filasfat Ilmu dalam Masyarakat Dayak Kanayatn

REP | 20 February 2013 | 23:55 Dibaca: 1195   Komentar: 0   0

BAB I

PENDAHULUAN

Dalam bab ini, saya akan membahas beberapa hal yang mengaweali pemabahasan makalih ini. Pembahasan tersebut meliputi: Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, dan Tujuan Penulisan.

Dunia modern memacu manusia untuk lebih mengembangkan ilmu pengetahuan agar manusia tidak ketingggalan zaman. Kemajuan teknologi sekarang ini memotivasi manusia untuk meemberikan ide-ide yang menunjang kesejahteraan manusia di beberapa negara sekarang ini yang sedang berusaha mengembangkan atau memproduksikan apa yang mereka miliki seperti negara Jepang mengembangkan peralatan canggih, di Eropa mengembangkan pengetahauan penelitian alam, di beberapa negara di Asia mengembangkan budaya dan usaha pengembangan pertanian dan lain-lain. Tujuan manusia melakukan pengembangan dalam dunia ini memberi makna bahwa manusia ingin menunujukan kehebatannya. Sifat ini dimiliki oleh semua manusia yang ada di muka bumi ini. Ilmu merupakan sebuan gejala sosial, maka dapat dianalisis sebagai gejala sosial disebut sosiologi ilmu. Sosiologisme adalah kesahihan teori digayutkan pada fakta sosial. Artinya ilmu dipersempit menjadi fakta sosial. Kecondongan kearah sosiologisme terdapat pada pemikir penting yang melihat adanya hubungan erat antara ilmu dan masyarakat antara lain: K. Marx, E. Durkheim, dan K. Mannheim. Tetapi tidak hanya dengan mempelajari masyarakat sendiri, melainkan guyuban lain juga, dihasilkan pengertin antara hubungan penalaran ilmiah dengan suatu kebudayaan atau hubungan sosial tertentu. Dari sinilah filsafat snagat berperan dalam pembentukan pola pikir setiap manusia untuk bisa bersaing dalam kemajuan zaman sekarang ini dan tampil dalam persaingan ditengah-tengah masyarakat global.

Berfilsafat merupakan kemungkinan yang terbuka bagi setiap orang, seketika ia mampu menerobos lingkaran kebiasaan yang tidak mempersoalkan hal ikhwal sehari-hari, filsafat bertitik pangkal pada pertanyaan. Filsafat bertanya-tanya disertai rasa heran yang merupakan peranan bagi filsafat. Pertanyaan tersebut menunjuk ke dua arah yaitu : kepada arus peristiwa sehari-hari yang kini tidak lagi dianggap serba bias dan kepada si penanya sendiri.

Istilah filsafat terlah kita jumpai dalam sastra Yunani pertama, semua berarti bahwa manusia memandang barang-barang disekitarnya dengan penuh perhatian, kemudian hari berarti manusia mulai bermenung mengenai hal-hal yang luhur tadi. Filsuf Heraklitos + 500 sM, sudah memakai kata “filsuf” tetapi sekaligus menerangkan bahwa; hanya Tuhanlah yang dapat disebut bijaksana dan pandai, sebab hanya Tuhan yang memiliki kebijaksanaan, manusia yang mendambakan dan mencari kebijaksanaan karena ia tak pernah dapat meraihnya. Dengan demikian telah kita lihat bahwa pengertian filsafat timbul dari pengalaman sehari-hari dari pergaulan kita dengan orang-orang lain dan dengan barang-barang. Berfilsafat pada pokoknya terjadi di tengah-tengah kejadian yang biasa menurut hakekatnya selalu bertautan dengan permenungan sehari-hari.

Bila dalam berfilsafat kita berbicara mengenai pengetahuan manusia, maka istilah pengetahuan itu cukup luas artinya. Istilah itu menunjukkan bahwa manusia sadar akan barang-barang disekitarnya. Dan kata “pengetahuan” tidak hanya meliputi pengetahuan ilmiah, melainkan juga pengalaman pribadi, melihat dan mendengar, perasaan dan intuisi, dugaan dan suasana jiwa. Dalam sebuah filsafat, dua macam bentuk pengetahuan yang menjadi pusat perhatian, yaitu pengetahuan lewat panca indra dan pengetahuan lewat intuisi.

Dengan demikian pemikiran manusia kadang-kadang mendekati pengetahuan lewat panca indra, kadang-kadang yang lebih menyangkut akal budi. Tetapi yang lebih sering terjadi adalah menyangkut perpaduan kedua aspek tadi, sehingga kita dapat berbicara tentang pengamatan intelektual, yaitu bila pengertian langsung dapat melihat barang-barang dan sambil melihat juga mengerti dan memahami hal-hal tadi. Inilah pemikiran filsafat yang bisa digunakan dalam kehidupan sosial masyarakat Dayak Kanayatn. Berdasarkan penguraian diatas jelas filsafat sangat berperan dalam pembentukan cara pandang suatu masyarakat untuk meningkatkan kemajuan seluruh aspek khidupan hidup umat manusia. Maka perlu pembahasan untuk menyelidiki apa peranan filsafat ilmu dalam kihidupan sosial masyarakat Dayak Kanayatn. Berdasarkan kebutuhan tersebut maka saya bermaksud menulis makalah ini dengan judul: “Peranan Filsafat Ilmu Dalam Kehidupan Sosial Masyarakat Dayak Kanayatn.”

B. Rumusan Masalah.

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang ada dalam penulisan makalah ini maka saya merumuskan permasalahan dalam makalah ini dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan mendasar yang akan mengarahkan dan mempertajam kajian penulis terhadap peranan filasfat ilmu dalam kehidupan sosial masyarakat Dayak Kanayatn, adapun pertanyaannya adalah sebagai berikut:

  1. Apa yang dimaksud dengan Filsafat Ilmu?
  2. Bagaimanakah khidupan sosial masyarakat Dayak Kanayatn?
  3. Apa peranan Filsafat Ilmu dalam kehidupan sosial masyarakat Dayak Kanayatn?

C. Tujuan Penulisan

Berdasarkan perumusan masalah yang dikemukan dalam makalah ini maka maksud dan tujuan penelitian adalah sebagai berikut:

  1. Untuk Mengetahui Apa peranan Filafat Illmu dalam kehidupan sosial masyarakat Dayak Kanayatn.
  2. Untuk mengetahui ruang ligkup kajian filsafat secara khusus Filsafat Ilmu.
  3. Untuk menerapkan setiap peranan Filasafat Ilmu dalam kehidupan sosial masyarakat.
  4. Untuk memenuhi tutntuan akademis, sebagai tugas belajar di Magister Ilmu Sosial prodi Sosiologi secara khusus mata kuliah Filsafat Ilmu Pengetahuan.

BAB I I

LANDASAN TEORI

Dalam bagian ini saya akan menguraikan Landasan Teori sebagai dasar pijakan saya untuk menemukan peranan filsafat ilmu dalam kehidupan sosial masyarakat Dayak Kanayatn. Penguraian saya antara lain: Pengertian Filsafat, Ciri-Ciri Filsafat, Peranan Filsafat atau Tujuan Filsafat, Pengertian Filsafat Ilmu, Kehidupan sosial Masyarakat Dayak Kanayatn, Kosmologi Masyarakat Dayak Kanayatn

A. Pengertian Filsafat

Ada yang mengira bahwa filsafat itu sesuatu yang kabur, serba rahasia, mistis, aneh, tak berguna, tak bermetoda, atau hanya sekedar lelucon yang tak bermakna atau omong kosong. Selain itu ada pula yang mengira bahwa filsafat itu merupakan kombinasi dari astrologi, psikologi dan teologi. Filsafat bukanlah semua itu.
Oxford Pocket Dictionary mengartikan filsafat sebagai use of reason and argument in seeking truth and knowledge of reality. Sementara Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
mengartikan filsafat, adalah sebagi berikut:

1. Pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi menegani hakikat segala yang ada, sebab, dan hukumnya.

2. Teori yang mendasari alam pikiran atau suatu kegiatan

3. Ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika, dan epistemologi dan falsafah.

Sedangkan menurut Kamus Filsafat, yang ditulis oleh Bagus, ialah:

1. Upaya spekulasi untuk menyajikan suatu pandangan sistematik serta lengkap tentang seluruh realitas.

2. Upaya untuk melukiskan hakikat realitas akhir dan dasar serta nyata.

3. Upaya untuk menentukan batas-batas dan jangkauan pengetahuan: sumbernya, hakikatnya, keabsahannya, dan nilainya.

4. Penyelidikan kritis atas pengandaian-pengandaian dan penyataan-penyataan yang diajukan oleh berbagai bidang pengetahuan.

5. Disiplin ilmu yang berupaya untuk membentu manusia melihat apa yang dikatakan dan untuk mengatakan apa yang dilihat.

Secara etimologi atau asal kata, kata “filsafat” berasal dari sebuah kata dalam bahasa Yunani yang berbunyi philosophia. Kata philophia ini merupakan kata majemuk yang terdiri dari kata philos dan sophia. Kata philos berarti kekasih atau sahabat, dan kata sophia yang berarti kearifan atau kebijaksanaan, tetapi juga dapat diartikan sebagai pengetahuan. Jadi secara etimologi, philosophia berarti kekasih/ sahabat kebijaksaan/ kearifan atau kekasih/ sahabat pengetahuan. Agar bisa menjadi kekasih atau sahabat, seseorang haruslah mengenal dekat dan akrab dengan seseorang atau sesuatu yang ingin dijadikan kekasih atau sahabat tersebut. Dan ini hanya bisa dilakukan apabila seseorang tersebut senantiasa terus-menerus berupaya untuk mengenalnya secara dalam dan menyeluruh. Dengan harapan bahwa upaya yang terus-menerus itu dapat membawa seseorang atau sesuatu itu pada kedekatan yang akrab sehingga dapat mengasihinya. Seseorang yang melakukan aktivitas tersebut disebut filsuf. Filsuf adalah seseorang yang mendalami filsafat dan berusaha memahami dan menyelidikinya secara konsisten dan mendalam. Konsisten artinya bahwa seseorang tersebut terus menerus menggeluti filsafat. Mendalam disini berarti bebar-benar berusaha menyelidiki, memepelajari, meneliti, dan memahami filsafat dalam kehidupan sehari-hari dan dalam berpikir.
Tadi dikatakan bahwa filsafat adalah kekasih/ sahabat kebijaksaan/ kearifan atau kekasih/ sahabat pengetahuan, jadi karena ia merupakan kekasih/ sahabat kebijaksaan/ kearifan atau kekasih/ sahabat pengetahuan, maka filsafat memiliki hasrat untuk selalu ingin dekat, ingin akrab, ingin mengasihi kearifan/ kebjaksanaan/ pengetahuan. Tapi, kearifan/ kebijaksanaan/ pengetahuan merupakan sesuatu yang sangat abstrak dan luas. Keabstrakan dan keluasan ini menjadikan hasrat yang dimiliki filsafat tersebut tak mudah untuk dipuaskan sepenuhnya. Ini menyebabkan filsafat terus-menerus melakukan usaha untuk memenuhinya. Usaha yang terus menerus ini membuat filsafat, pada satu sisi, dikenal tak lebih dari sebagai sebuah usaha. Selain sebagai sebuah usaha atau suatu upaya, William James, seorang filsuf dari Amerika, melihat bahwa berpikir juga merupakan sisi lain dari filsafat. Menurutnya, filsafat adalah suatu upaya yang luar biasa hebat untuk berpikir yang jelas dan terang. Artinya, bahwa segala upaya yang dilakukan oleh filsafat tak dapat dilepaskan dari tujuannya untuk meraih kejelasan dan keterangan dalam berpikir. Jadi, berpikir adalah sisi lain yang dimiliki filsafat. Bagi manusia, berpikir adalah hal yang sangat melekat. Manusia, merujuk pada Aritoteles, adalah animal rationale atau mahluk berpikir. Tidak seperti mahluk-mahluk lainnya, oleh Tuhan manusia diberi anugerah yang sangat istemewa yakni akal. Dengan akal, manusia memiliki kemampuan untuk berpikir dan mengatasi dan memecahkan segala permasalahan yang dihadapinya pikirannya. Karena filsafat mengandaikan adanya kerja pikiran, maka sifat pertama yang terdapat dalam berpikir secara filsafat adalah rasional.
Rasional berarti bahwa segala yang dipikirkannya berpusar pada akal. Tapi, tidak semua aktivitas berpikir manusia dapat dikatakan berpikir secara filsafat.

Dengan demikian berfilsafat berarti selalu berusaha untuk berfikir guna mencapai kebaikan dan kebenaran, berfikir dalam filsafat bukan sembarang berfikir namun berpikir secara radikal sampai ke akar-akarnya, oleh karena itu meskipun berfilsafat mengandung kegiatan berfikir, tapi tidak setiap kegiatan berfikir berarti filsafat atau berfilsafat.

B. Ciri-Ciri Filsafat

Bila dilihat dari aktivitasnya filsafat merupakan suatu cara berfikir yang mempunyai karakteristik tertentu. Menurut Sutan Takdir Alisjahbana syarat-syarat berfikir yang disebut berfilsafat yaitu : a) Berfikir dengan teliti, dan b) Berfikir menurut aturan yang pasti. Dua ciri tersebut menandakan berfikir yang insaf, dan berfikir yang demikianlah yang disebut berfilsafat. Sementara itu Sidi Gazalba (1976) menyatakan bahwa ciri ber-Filsafat atau berfikir Filsafat adalah : radikal, sistematik, dan universal. Radikal bermakna berfikir sampai ke akar-akarnya (Radix artinya akar), tidak tanggung-tanggung sampai dengan berbagai konsekwensinya dengan tidak terbelenggu oleh berbagai pemikiran yang sudah diterima umum, Sistematik artinya berfikir secara teratur dan logis dengan urutan-urutan yang rasional dan dapat dipertanggungjawabkan, Universal artinya berfikir secara menyeluruh tidak pada bagian-bagian khusus yang sifatnya terbatas. Ada beberapa filsuf juga mengatakan ciri berfikir filsafat, yaitu berfikir metodis, berfikir sistematis, dan berfikir koheren. Secara umum, berfikir metodis berarti berfikir dengan cara tertentu yang teratur. Dalam membeberkan fikiran-fikirannya, filsafat senantiasa menggunakan cara tertentu yang teratur. Keteraturan ini membuat fikiran-fikiran yang dibeberkan oleh filsafat menjadi jelas dan terang. Tapi agar cara tertentu itu dapat teratur, filsafat membutuhkan faktor lain, yakni sistem. Sebagai sebuah sistem, filsafat suatu susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan. Ia terdiri dari unsur-unsur atau komponen-komponen yang secara teratur menurut pola tertentu, dan membentuk satu kesatuan. Adanya sistem membuat satu cara berpikir tertentu yang teratur tetap pada keteraturannya. Disinilah yang disebut berfikir secara sistematis. Oleh karena itu, selain berfikir metodis filsafat juga memiliki sifat berfikir sistematis. Berfikir secara sistematis memiliki pengertian, bahwa aktivitas berpikir tersebut haruslah mengikuti cara tertentu yang teratur, yang dilakukan menurut satu aturan tertentu, runtut dan bertahap, serta hasilnya dituliskan mengikuti satu aturan tertentu pula tersusun menurut satu pola yang tidak tersusun secara acak atau sembarangan. Jadi, agar dapat dikatakan bahwa seseorang tersebut sedang berfikir secara filsafat, ia haruslah berfikir menurut atau mengikuti satu aturan tertentu yang runut dan bertahap dan tidak acak atau sembarangan. Sistematis mengandaikan adanya keruntutan. Jadi, berfikir filsafat atau berfikir filsafati juga memiliki sifat runtut atau koheren. Koheren berarti bertalian. Ia merupakan kesesuaian yang logis. Dalam koherensi, hubungan yang terjadi karena adanya gagasan yang sama. Pada berfikir filsafat, koherensi berarti tidak adanya loncatan-loncatan, kekacauan-kekacauan, dan berbagai kontradiksi. Dalam koherensi, tidak boleh ada pernyataan-pernyataan yang saling bertentangan

Dengan demikian berfilsafat atau berfikir filsafat bukanlah sembarang berfikir tapi berfikir dengan mengacu pada kaidah-kaidah tertentu secara disiplin dan mendalam. Pada dasarnya manusia adalah homo sapien, hal ini tidak serta merta semua manusia menjadi Filsuf, sebab berfikir filsafat memerlukan latihan dan pembiasaan yang terus menerus dalam kegiatan berfikir sehingga setiap masalah/substansi mendapat pencermatan yang mendalam untuk mencapai kebenaran jawaban dengan cara yang benar sebagai manifestasi kecintaan pada kebenaran.

C. Peranan dan Tujuan Filsafat

Diatas telah dipaparkan bahwa filsafat merupakan suatu upaya berpikir yang jelas dan terang tentang seluruh kenyataan. Upaya ini, bagi manusia, menghasilkan beberapa peranan. Pertama, filsafat berperan sebagai pendobrak. Artinya, bahwa filsafat mendobrak keterkungkungan pikiran manusia. Dengan mempelajari dan mendalami filsafat, manusia dapat menghancurkan kebekuan, kebakuan, bahkan keterkungkungan pikirannya dengan kembali mempertanyakan segala. Pendobrakan ini membuat manusia bebas dari kebekuan, kebakuan, dan keterkungkungan. Jadi, bagi manusia, filsafat juga memiliki peranan sebagai pembebas pikiran manusia.

Maka, pembebas merupakan peranan kedua yang dimiliki filsafat bagi manusia.
Pembebasan ini membimbing manusia untuk berpikir lebih jauh, lebih mendalam, lebih kritis terhadap segala hal sehingga manusia bisa mendapatkan kejelasan dan keterangan atas seluruh kenyataan. Jadi, peranan ketiga yang dimiliki oleh filsafat bagi manusia adalah sebagaipembimbing. Selain memiliki peranan bagi manusia, filsafat juga berperan bagi ilmu pengetahuan umumnya. Menurut Descartes (1596-1650), filsafat adalah himpunan dari segala pengetahuan yang pangkal penyelidikannya adalah mengenai Tuhan, alam dan manusia. Ia, merujuk pada Kant (1724-1804), adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan. Jadi, merujuk pada dua penrnyataan tersebut, dapat dapat disimpulkan bahwa bagi ilmu pengetahuan, filsafat, memiliki peranan sebagai penghimpun pengetahuan. Memahami perannya sebagai penghimpun, maka filsafat dapat dikatakan merupakan induk segala ilmu pengetahuan atau mater scientiarum. Bagi Bacon (1561-1626, filsafat adalah induk agung dari ilmu-ilmu. Ia menangani semua pengetahuan.
Selain sebagai induk yang menghimpun semua pengetahuan, bagi ilmu pengetahuan filsafat juga memiliki peranan lain, yakni sebagai pembantu ilmu pengetahun.
Bagi Bertrand Russell (1872-1970), filsafat adalah sebuah wilayah tak bertuan di antara ilmu pengetahuan dan teknologi, yang memiliki kemungkinan untuk menyerang keduanya. Karena terdapat kemungkinan ini dalam filsafat, maka, menurutnya, filsafat dapat memeriksa secara kritis asas-asas yang dipakai dalam ilmu dan kehidupan sehari-hari, dan mencarisuatu ketidakselarasan yang dapat terkandung di dalam asas-asas tersebut. Secara sederhana, paparan Bertrand Russell tersebut dapat dipahami bahwa bagi pengetahuan, filsafat juga memiliki peranan sebagai pembantu pengetahuan. Sejalan dengan hal tersebut, Schlick, seorang filsuf Wina, pernah menyatakan bahwa tugas ilmu adalah untuk mencapai pengetahuan tentang realitas; dan pencapaian ilmu yang sebenarnya tidak pernah dapat dihancurkan atau diubah oleh filsafat, tapi filsafat dapat menafsirkan pencapaian-pencapaian tersebut secara benar, dan untuk menunjukkan maknanya yang terdalam.
Dalam menjalankan peranannya tersebut, filsafat memiliki tujuan.

Menurut Plato, filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha meraih kebenaran yang asli dan murni. Jadi secara umum, tujuan filsafat adalah meraih kebenaran. Dengan harapan kebenaran ini dapat membawa manusia kepada pemahaman, dan pemahaman membawa manusia kepada tindakan yang lebih layak. Tapi, janganlah dianggap bahwa kebenaran yang berusaha diraih filsafat adalah sama dengan kebenaran yang diraih agama.
Tidak seperti agama yang menyandarkan diri dan mengajarkan kepatuhan, filsafat menyandarkan diri dan mengandalkan kemampuan berpikir kritis. Kondisi berpikir kritis ini sering tampil dalam perilaku meragukan, mempertanyakan, dan membongkar sampai ke akar-akarnya. Kebenaran yang oleh agama wajib diterima, dalam filsafat senantiasa diragukan, dipertanyakan dan dibongkar sampai ke akar-akarnya untuk kemudian dikonstruksi menjadi pemikiran baru yang lebih masuk akal. Maka, tak heran, apabila kebenaran yang ditawarkan filsafat dipahami sebagai kebenaran yang logis.

D. Pengertian Filsafat Ilmu

Dilihat dari segi katanya filsafat ilmu dapat dimaknai sebagai filsafat yang berkaitan dengan atau tentang ilmu. Filsafat ilmu merupakan bagian dari filsafat pengetahuan secara umum, ini dikarenakan ilmu itu sendiri merupakan suatu bentuk pengetahuan dengan karakteristik khusus, namun demikian untuk memahami secara lebih khusus apa yang dimaksud dengan filsafat ilmu, maka diperlukan pembatasan yang dapat menggambarkan dan memberi makna khusus tentang istilah tersebut.

Para akhli telah banyak mengemukakan definisi/pengertian filsafat ilmu dengan sudut pandangnya masing-masing, dan setiap sudut pandang tersebut amat penting guna pemahaman yang komprehensif tentang makna filsafat ilmu, berikut ini akan dikemukakan beberapa definisi filsafat ilmu :

Menurut The Liang Gie, filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi kehidupan manusia. Pengertian ini sangat umum dan cakupannya luas, hal yang penting untuk difahami adalah bahwa filsafat ilmu itu merupakan telaah kefilsafatan terhadap hal-hal yang berkaitan/menyangkut ilmu, dan bukan kajian di dalam struktur ilmu itu sendiri. Terdapat beberapa istilah dalam pustaka yang dipadankan dengan Filsafat ilmu seperti : Theory of science, meta science, methodology, dan science of science, semua istilah tersebut nampaknya menunjukan perbedaan dalam titik tekan pembahasan, namun semua itu pada dasarnya tercakup dalam kajian filsafat ilmu .

Sementara itu Gahral Adian mendefinisikan filsafat ilmu sebagai cabang filsafat yang mencoba mengkaji ilmu pengetahuan (ilmu) dari segi ciri-ciri dan cara pemerolehannya. Filsafat ilmu selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar/radikal terhadap ilmu seperti tentang apa ciri-ciri spesifik yang menyebabkan sesuatu disebut ilmu, serta apa bedanya ilmu dengan pengetahuan biasa, dan bagaimana cara pemerolehan ilmu, pertanyaan - pertanyaan tersebut dimaksudkan untuk membongkar serta mengkaji asumsi-asumsi ilmu yang biasanya diterima begitu saja (taken for granted).

Secara historis filsafat merupakan induk ilmu, dalam perkembangannya ilmu makin terspesifikasi dan mandiri, namun mengingat banyaknya masalah kehidupan yang tidak bisa dijawab oleh ilmu, maka filsafat menjadi tumpuan untuk menjawabnya, filsafat memberi penjelasan atau jawaban substansial dan radikal atas masalah tersebut, sementara ilmu terus mengembangakan dirinya dalam batas-batas wilayahnya, dengan tetap dikritisi secara radikal, proses atau interaksi tersebut pada dasarnya merupakan bidang kajian Filsafat Ilmu, oleh karena itu filsafat ilmu dapat dipandang sebagai upaya menjembatani jurang pemisah antara filsafat dengan ilmu, sehingga ilmu tidak menganggap rendah pada filsafat, dan filsafat tidak memandang ilmu sebagai suatu pemahaman atas alam secara dangkal.

E. Kehidupan Sosial Masyarakat Dayak Kanayatn

Sebelum menjelaskan konsep masyarakat Dayak Kanayatn tentang kehidupan sosial, pada bagian ini saya merasa perlu menguraikan tentang asal-usul Masyarakat Dayak secara umum dan Masyarakat Dayak Kanayatn secara Khusus. Hal ini dipandang perlu karena berhubungan dengan identitas dan jatidiri Masyarakat Dayak Kanayatn, serta bermanfaat untuk melihat keterkaitan antara asal usul suku dengan kehidupan sosial masyarakat Dayak Kanayatn.

a. Suku Dayak Secara umum

Beberapa pakar berpendapat bahwa untuk mengetahui asal usul suatu suku bangsa yang perlu diteliti adalah keanekaragaman bahasa yang ada di wilayah tersebut. Hasil penelitian terhadap suku dan bahasa Dayak di Kalimantan Barat menunjukan bahwa ternyata subsuku dan bahasa Dayak di Kalimatan Barat mempunyai tingkat keaneka ragaman yang tinggi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pulau Kalimantan adalah tanah asal usul orang Dayak dan Melayu yang berketurunan Dayak karena mengubah identitasnya pada sekitar tahun 1800-an karena berganti agama. Berdasarkan teori di atas maka dapat dipastikan bahwa Pulau Kalimantan adalah tanah asal usul suku (orang) Dayak. Beberapa teori terdahulu menyatakan bahwa penduduk Pulau Kalimantan berasal dari migrasi suku bangsa Austronesia. Ada dua teori yang menjelaskan proses perpindahan suku bangsa tersebut. Teori pertama berasal dari P dan F Sarasin (1893-1893), yang kemudian didukung oleh Heine-Geldern (1932). Proses perpindahan suku bangsa Austronesia tersebut adalah sebagai berikut:

Suku-suku asli dirantau ini kononnya orang Vedda. Mereka didesak oleh pendatang baru dari Benua Asia lebih kurang 5000 tahun yang lalu. Pendatang ini berhijrah ke pesisir Asia Tenggara, termasuk perpulauannya dan memencilkan suku asli tersebut. Penghijraan itu dinamakan Melayu Proto. Sesudah 3000 tahun, mereka pula yang didesak dengan gelombang penghijraan yang baru yang dinamakan Melayu Deutro. Karena kedua-dua kelompok, Proto dan Deutro ini, berasal dari daerah dan sumber budaya dan bangsa yang sama maka mereka bergaul dan berpadu, kecuali di beberapa daerah pedalaman yang hingga kini masih memperlihatkan kebudayaan Melayu Proto.

Sementara Henrik Kern (1889) menyatakan bahwa rumpun Austronesia berasal dari Cina Selatan atau bagian utara Vietnam dan kemudian berpindah kearah selatan menuju Asia Tenggara melalui beberapa buah sungai yang mengalir di tempat itu. Sewaktu orang-orang Austronesia masuk pulau Kalimantan, mereka mendapati pulau ini masih berbentuk hutan belantara. Kemudian mereka hidup di dalam belantara ini, bergaul dengan alam dan menyatu dengan alam, hutan, sungai dan terbiasa dengan kekuatan-kekuatan alam. Dapat dimengerti apabila alam sangat berpengaruh dan paling banyak menentukan perkembangan budaya dan peradaban yang mereka miliki. Berdasarkan kutipan J.U Lontaan dari tulisan Ch.F.H.Duman (1924) menuliskan, bahwa suku Dayaklah penduduk asli pulau Kalimantan. Mula-mula mereka menduduki (mendiami) tepi sungai Kapuas dan laut Kalimantan. Tetapi datangnya Melayu dari Sumatera dan dari tanah Semenanjung Malaka, terpaksa terdesaklah mereka ke hulu sungai. Sebelum kedatangan orang-orang Austronesia di nusantara termasuk di pulau Kalimantan, pulau Kalimantan sudah dihuni oleh sekolompok suku bangsa yang belum diketahui identitasnya. King mengungkapkan ” We have Evidence of human habitation in Borneo going back at least 35.000 to 4000 years,the Austronesian speaking ancestors of today’s native population of the island only began to seatle there quite recently, probably 4500 years ago.” Bukti-bukti arkeologi terkini yang ditemukan di Sabah dan Sarawak Malaysia, dapat dijadikan patokan untuk melihat keadaan pulau Kalimantan pada masa purba. Misalnya penemuan fosil tengkorak yang dianggap sebagai manusia modern (homo sapiens) oleh Tom Harrison di Gua Niah Gunung Subis dekat Miri, Serawak. Umur tengkorak ini diperkirakan mempunyai rentang waktu antara 38.000 sampai 40.000 tahun. Berbagai teori yang dikemukan di atas, mengokohkan kayakinan bahwa suku Dayak memang telah menjadi penghuni pulau Kalimantan sejak zaman permulaan, hal ini sejalan dengan cerita-cerita rakyat yang dituturkan secara lisan tentang asal usul suku Dayak.

b. Suku Dayak Kanayatn

Uraian mengenai asal usul suku Dayak, sebagaimana dikemukan dalam pembahasan terdahulu belum menjawab asal usul suku Dayak Kanayatn. Hingga sekarang, menjadi begitu penting untuk dibahas dalam perbincangan tentang Dayak khususnya pada orang-orang Dayak yang bermukim diwilayah Kabupaten Bengkayang, Sambas, Pontiank, dan Landak Dalam catatan-catatan paraantropolog, Dayak Kanayatn kadang-kadang diklasifikasikan sebagai Melayic Dayak - suatu klasifikasi fragmental berdasarkan analisis linguistik–karena bahasa mereka yang sangat dekat dengan bahasa Melayu. Walaupun bahasa Dayak Kanayatn memiliki kemiripan dengan bahasa Melayu, namun secara budaya sangat jauh berbeda. Sehingga tidak tepat jika membuat klasifikasi seperti itu. Beberapa diskusi menarik mengenai asal usul suku Dayak Kanayatn di kalang intelektual Dayak, Menurut para penliti Dayakologi, pada orang-orang Banana’-Ahe, penegrtian Kanayatn mengarah pada isu budaya, yaitu sistem religi dan tradisi lisan. Dalam penelitiannya mengenai “Agama Suku Dayak Kanayatn Sebagai Sarana Penginjilan Kontekstual” Evigo Jermia dalam wawancara dengan para pamaliatn (dukun perobatan asli dalam masyarakat Dayak Kanayatn) dan toko-tokoh Adat Dayak Kanayatn menemukan bahwa terdapat keyakinan bahwa Orang Dayak Kanayatn barasal dari satu tempat yakni “bukit Bawakng”. Dari bukit Bawakng tersebut kemudian penduduk tersebut menyerbar ke beberapa wilayah.

Berdasarkan Tradisi lisan diceritakan bahwa mereka berasal dari “binua Aya” yang datang dari sebuah daratan luas, yang tidak jelas letaknya dimana, dan kemudian mendiami bukit Bawakng yang terletak antara perbatasan Samalantan dan Kota Bengkayang. Masyarakat ini meyakini bahwa dari sanalah mereka kemudian menyebar diberbagi tempat. Keyakinan tersebut diteguhkan dengan keyakinan religius bahwa setiap mengadakan upacara adat mereka selalu menyampaikan permohonan mereka (disangahatn/dibamangan) dalam doa kepada Jubata Bawakng sebagai tempat yang paling tinggi bagi masyarakat ini memohon. Maniamas Miden seorang Tiomanggong (tumenggung) di Binua Sangah Tumila’ Ilir III. Mengatakan:

Berdasarkan tradisi Bawakng tersebutlah bahwa penciptaan langit dan bumi dan segala isinya adalah Jubata. Ungkapan rasa hormat kepada Jubata ini tertuang lewat adat istiadat yang dilakukan oleh orang Knayatn. Selain adanya kepercayaan kepada Jubata tradisi Bawakng juga mewarisi hukum adat. Hukum adat ini menurut tradisi Bawakng dimaksudkan untuk melindungi masyarakatnya baik secara komunal maupun personal.

Namun ada kejanggalan dalam kayakinan tersebut karena ternyata disekitar kaki bukit Bawakng hanya ada orang-orang Dayak yang menuturkan bahasa Bakati’ bukan Banana’. Sedangkan semua doa-doa dalam bahasa upacara adat bagi penutur bahasa Banan’-Ahe, dan Badamea-Jare, selalu dibamangan ke bukit Bawakng. Sementara itu menurut hasil penelitian Tim peneliti “Struktur Bahasa Kendayan” yang dilakukan FKIP Untan (1979) kata “Kanayatn” berasal dari nama sebuah bukit yang terletak diperbatasan Kecamatan Samalantan, dan kecamatan mempawah Hulu. Daerah itu kemudian disebut sebagai binua Kanayatn dengan bahasa yang sehari-hari disebut bahasa Kanayatn. Masih belum jelas apakah yang dimaksud tim peneliti FKIP untan tersebut adalah bahasa Banana’-Ahe/Jare atau bahasa Bakati’. Beberapa keterangan mengenai asal usul masyarakat Dayak Kanayatn, yang telah dikemukakan di atas tidak memberikan alasan yang meyakinkan dari mana sesungguhnya masyarakat tesebut berasal. Namun yang pasti saat ini adalah adanya pengakuan-pengakuan masyarakat yang berbahasa Banana’-Ahe, Bakati, Banyadu, Bakambai, Badamea-Jare, masing-masing menyebut diri mereka adalah suku Dayak Kanayatn. Mungkin saja dulunya mereka memang berasal dari daerah yang sama. Atau paling tidak istilah “Kanayatn” telah menyatukan masyarakat Dayak yang dahulunya sering menyebut diri berdasarkan wilayah tempat tinggal (hunian) atau berdasarkan gunung (bukit) dan sungai dimana masyarakat tersebut berada. Kini dengan sebutan Dayak Kanayatn mereka merasa satu.

F. Kosmologi Dayak Kanayatn

Keadaan geografis, seperti luasnya daerah, hutan yang lebat, sungai lembah dan gunung-gunung merupakan salah satu faktor penyebab lahirnya pemikiran mistis religi manusia Dayak tentang realitas mutlak. Konsep mengenai realitas mutlak dapat ditelusuri dengan mengamati sejauh mana kosmos atau alam itu menguasai hidup manusia. Pengalaman mengenai dahsyatnya alam membuat manusia terperangah. Di satu pihak alam itu memberi keuntungan. Di lain pihak alam itu mengundang bahaya, seperti banjir, angin topan dan sebaginya. Kondisi alamiah Kalimantan yang penuh misteri, yang kemudian melahirkan pertanyaan-pertanyaan fundamental seperti: siapkah penguasa alam ini? Siapa yang mengatur bulan dan bintang, mata hari, hujan, siang, dan malam? Kondisi yang demikian telah melahirkan konsep tentang realitas mutlak, yakni sesuatu yang harus ada, sebagai mana ia ada menyatakan dirinya. Dan bagi suku Dayak Kanayatn yang penting ialah bahwa ada kekuatan yang bersifat supranatural sudah cukup.

Suku Dayak Kanayatn, salah satu sub suku Dayak di Kalimantan Barat menyebut realitas mutlak tersebut sebagai Jubata. Ia adalah pencipta dari segala yang ada. Dan kepadanya segala yang ada tersebut bergantung. Jubata adalah ada dan keberadaannya adalah mutlak. Ia ada dan terus ada. Menurut alam pikiran Dayak Kanayatn, Jubata ada dalam setiap ciptaannya. Tidak ada maksud jahat yang dihubung-hubungkan dengan Jubata. Karena Jubata selalu berada di pihak kebaikan, dan bila kejahatan yang ditimpakannya kepada manusia itu hanyalah sarana atau peringatan Jubata bahwa manusia harus berbuat baik.

Selain Jubata yang adalah realitas mutlak ada juga makhluk-makhluk rohaniah, yang dianggap orang Dayak Kanayatn mempunyai hubungan dengan kosmos ini. Makhluk-makhluk rohaniah diakui berada dalam kosmos dinyatakan melalui cerita-cerita lisan orang Dayak Kanayatn atau mite-mite yang ada salah satu seperti cerita Ne’ Baruang Kulub. Cerita atau mite-mite ini sangat berhubungan dengan pandangan hidup suku Dayak Kanayatn atau dipengaruhi oleh pemahaman tentang kosmos yang dihuni oleh makhluk-makhluk rohani. Dari cerita lisan atau mite suku Dayak Kanayatn diatas saya mengambil satu cerita untuk memaparkan mengenai adanya mahluk-mahluk rohani yang menghuni kosmos ini.

Dalam cerita lisan atau mite suku Dayak Kanayatn yang berjudul Ne’ Baruang Kulub, saya menemukan ada penguraian yang secara khusus memaparkan bawa kosmos ini dihuni oleh makhluk-makhluk rohani. Melalui keturunan Ne’ Baruang Kulub suku Dayak Kanayatn meyakini bahwa setiap tempat atau di alam nyata didalam kosmos ini ada yang menghuninya makhluk-makhluk rohani. Keturunan Ne’ Baruang Kulub itu adalah sebagai berikut:

I. Ne’ Baruang Kulub kawin dengan Ne’ Si Putih Panara Subayatn, yang adalah hantu. Anak-anaknya, yaitu: Burung dan Bintang Rasi yang bernama : Keto Laki, Keto Bini, Keto Maniamas, Keto Tungal, Keto Bakar, Buria, Cece, Kohor, Popo Buragah, So’oh, Adatn, Kutuk, Bilang, Macet, Parere, Pararah, Kijakng, Owanyi, Ujatn Darang, Binalu, Duya, dan Punggana Punggani.

II. Ne’ Baruang Kulub kawin dengan Ne’ Petor Batu Buntar Muha, anaknya yaitu semua cacat, yang beri nama : Sarinteke yang berdiam di tangga rumah, Antu Rege yang tinggal di dapur, Salat Kena’ Sansa, yang berdiam di Jalan, Sima yang berdiam di kuburan nabi, Opos yang tinggal di simpang kuburan, Lagi yang berdiam di tanah berbukit yang kemudian menjadi Kamang, yaitu orang yang berani dipanggil apabila ada kerusuhan besar.

Penjelasan diatas menunjukan bahwa suku Dayak Kanayatn sangatlah dipengaruhi oleh mite-mite ini. Setiap aspek kehidupan suku Dayak Kanayatn dihubung-hubungkan dengan adanya pengaruh dari makhluk-makhluk rohani yang suku Dayak Kanayatn yakini berasal dari keturunan Ne’ Baruang Kulub yang saya uraikan diatas. Anak-anak Ne’ Baruang Kulub inilah yang menempati setiap tempat yang ada didalam kosmos ini.

Jadi saya menyatakan bahwa suku Dayak Kanayatn sampai saat ini masih mempercayai adanya makhluk-makhluk rohani di alam semesta atau kosmos yang ditempati suku Dayak Kanayatn sekarang.

Suku Dayak Kanayatn adalah suku yang selalu berhubungan dengan kosmos atau alam semesta. Mereka hidup di tengah-tengah alam yang maha luas dan ganas. Oleh karena itu, untuk eksistensi diri, mereka selalu melakukan percobaan. Hasil percobaan-percobaan yang dianggap praktek terbaik akan diikuti untuk warisan anak-cucu. Praktek terbaik inilah yang kini dikenal sebagai adat. Adat diyakini sebagai solusi menciptakan keseimbangan kehidupan, antar sesama manusia, antara mereka dengan alam sekitar dan antara mereka dengan sang penguasa alam semesta. Melanggar adat berarti mengancam kehidupan.

Dalam kehidupan Dayak Kanayatn sudah sejak lama meyakini bahwa kosmos diciptakan dari ada yang mutlak, yaitu Jubata. Jubata-lah yang menciptakan dunia dan segala isinya. Untuk mengungkapkan apa yang disebut “Jubata” , agar dapat dimengerti dan dipahami secara jelas bukanlah sederhana dan perlu waktu yang cukup banyak, karena tidak dapat dipisahkan dan sangat erat sekali kaitannya dengan adat, mithe-mithe tentang kejadian alam semesta dan manusia dan mithe-mithe lainya yang memperlihatkan keterkaitan-keterkaitan antara manusia dengan makhluk-makhluk lain serta alam lingkungan sekitarnya.

Secara ringkas, suku Dayak Kanayatn yakin bahwa ada dua ruang lingkup alam kehidupan, yaitu kehidupan alam nyata dan kehidupan alam maya.

Yang berada di alam kehidupan nyata ialah makhluk hidup, tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia. Sedangkan yang berada di alam kehidupan maya antara lain: Ibalis, bunyi’an (mahluk halus), antu (hantu), sumangat urang mati(semangat orang mati), dan Jubata. Kedua alam kehidupan ini dapat saling pengaruh-mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Kekuatan supranatural yang dimiliki oleh seseorang adalah salah satu contoh dari akibat tersebut di atas. Untuk menjaga keseimbangan antara kehidupan alam nyata dan kehidupan alam maya, serta untuk menata seluruh aspek kehidupan warganya, hubungan timbal-balik sesama warganya, hubungan warganya dengan alam lingkungannya, serta penciptanya/ Jubata agar tetap serasi dan harmonis, nenek moyang para leluhur mereka telah menyusun secara arif dan bijaksana ketentuan-ketentuan, aturan-aturan yang harus ditaati dan dijadikan pengangan hidup bagi seluruh warganya dan warga keturunannya dari generasi ke generasi sampai kini, yang terangkum dalam apa yang disebut adat.

Suku Dayak Kanayatn yang hidup berpencar-pencar di desa mereka masing-masing secara umum dikategorikan dalam masyarakat hortikultural. Sebuah masyarakat yang menanam tanaman pangan guna memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga dalam jangka waktu satu tahun. Bentuk subsistensi yang demikian itu bukan untuk mengkasilkan produk yang surplus (pasar oriented), namun hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga saja. Suku Dayak Kanayatn dalam menjalani rutinitas kehidupannya tidak lepas dari praktek religius tradisionalnya yang diwarisi oleh para leluhurnya, terutama dalam interaksinya dengan alam lingkungan hidupnya.

Mereka percaya bahwa dalam usaha mendapatkan rejeki, kesehatan dan keselamatan dalam kehidupan ini tidak hanya bertumpu pada usaha kerja keras saja, tetapi juga pada harapan adanya campur tangan dari “apa” yang mereka yakini. Dengan kata lain, religi tradisionalnya mengajarkan bahwa segala sesuatu yang mereka dapatkan dalam kehidupan mereka baik dan jahat selalu ada campur tangan dari unsur-unsur lain di luar manusia.

Kosmos atau alam semesta selaku ciptaan menurut suku Dayak Kanayatn memiliki jiwa sang pencipta. Maka ciptaan-ciptaan yang ada seperti air, padi, pohon, dan sungai memiliki roh Jubata. Ini tersirat dalam syair-syair religi seperti terungkap dalam doa naik dango (ucapan syukur panen padi) atau pada saat panyangahatn/ imam (bamang/doa) yang ada, dimana disebutkan Jubata kayu aya’ (Jubata kayu besar), Jubata ai’ (Jubata air), dan Jubata menguasai segala tempat.

Struktur rohani dan konfrontasi kosmos suku Dayak Kanayatn bersumber pada dan berdasarkan pada latarbelakang kesadaran yang didasarkan pada persaan (intuitf), tentang kesatuan dan kemutlakan tata tertib hidup dalam kosmos atau alam. Manusia dan alam merupakan suatu kesatuan yang sangat erat dalam menciptakan suatu keserasiaan yang indah, kesatuan dan keserasiaan dari kehidupan, pekerjaan rohani dan perlakuan sosial, diatur dan ditentukan oleh hubungan dengan kosmos atau alam. Keserasiaan kosmos mengakibatkan suku Dayak Kanayatn merasa dirinya sebagai suatu pokok (subjek) di antara sekian banyak pokok lain.

Dunia ini dilihat dalam pengertian penuh dengan daya gaib atau kekuasaan yang tidak tampak. Dengan istilah yang bisa dapat dikatakan bahwa mereka hidup dalam suasana magis di mana alam dipandang sebagi suatu area oprasi dari kuasa-kuasa ini sangat besar. Supaya daya-daya gaib itu jangan mengakibatkan hal-hal yang tidak baik baginya atau keluarganya, maka keserasiaan kosmis harus dipertahankan dan dipelihara dengan segala macam upacara adat. Di balik itu pula, akibat ketakutan-ketakutan itu timbulah usaha untuk memiliki atau menguasai daya-daya gaib itu, pemilikan atau penguasaan dan penggunaan daya-daya ini dilakukan dengan berbagai formula, kata atau lakon tertentu yang dikenal dengan perbuatan-perbuatan magis. Ketakutan serupa tadi mempunyai tempat yang khusus pula bagi ilah tertinggi, yang dipandang sebagi pencipta dari sesuatu yang ada di dunia ini. Hampir semua suku Dayak Kanayatn mengenal ilah pencipta ini, walaupun nama-namanya berbeda-beda.

Pikiran-pikiran dasar yang terdapat dalam suku Dayak Kanayatn mengenai kosmologi ini sendirinya diproyeksikan dalam bentuk-bentuk kehidupan dan perbuatan-perbuatan sosial, seperti pesembahan-persembahan, upacara-upacara kematian, perbuatan-perbuatan gaib dan sebagainya. Bahkan dapat dikatakan bahwa hampir seluruh tindakan praktik kehidupan semuanya dipengaruhi oleh pandangan hidup atau kosmologi yang ada. Demikianlah, maka hal-hal tersebut dicerminkan dalam hukum adat suku Dayak Kanayatn dan tentunya juga dalam bentuk-bnetuk budaya dan keseniannya.

Adat yang mencakup pengertian religi (world-view), norma, dan etika yang selanjutnya diperjelas oleh mitos merupakan pandangan hidup (way of life) bagi masyarakat holtikultural Dayak Kanayatn dalam kehidupannya. Adat bersama mitosnya mempengaruhi dan membentuk sikap serta perilaku individu maupun komunitas terhadap alam dalam sistem kehidupan ini.

Berdasarkan pandangan dunianya, masyarakat Dayak Kanayatn memahami manusia itu sebagai bagian dari alam dalam suatu bentuk sistem kehidupan. Bentuk sistem kehidupan ini merupakan lingkungan hidup bersama dari unsur manusia dan unsur-unsur lain yang non-manusia (organisme dan non-organisme). Kesemua unsur dalam sistem itu memiliki nilai dan fungsinya masing-masing.

Pandangan kosmologi tersebut telah berdampak pada pemahaman mereka terhadap hubungan manusia dengan alam yang bersifat antropokosmik, yang berarti manusia dan alam menyatu, tidak terpisahkan, hal ini berimplikasi terhadap korelasi dari unsur-unsur dalam sistem kehidupan itu di mana manusia sebagai salah satu unsurnya tidak pernah memanifestasikan diri mereka sebagai raja penguasa atas alam.

Pandangan kosmologi yang demikian itu melahirkan suatu etika lingkungan hidup yang tercakup dalam adat sehingga membuat masyarakat Dayak Kanayatn mempunyai sikap menghargai, menghormati dan bersahabat terhadap alam, dan sesama. Dari sinilah jelas kehidupan sosial masyarakat Dayak Kanayatn yang masih ada sampai sekarang ini.

BAB III

PERANAN FILSAFAT ILMU

DALAM KEHIDUPAN SOSIAL MASYARAKAT DAYAK KANAYATN

Setelah saya menguraikan landasan teori diaatas yang merupakan dasar dari kerangka berpikir untuk melihat peranan filsafat ilmu dalam kehidupan sosial masyarakat Dayak Kanayatn. Pada bagian ini saya akan memeparkan apa yang menjadi peranan filsafat ilmu tersebut dalam kehidupan sosial masyarakat Dayak Kanayatn, yaitu: Membentuk Pemikiran Kritis Masyarakat Dayak Kanayatn, Mempertajam Krangka Berfikir Kebenaran Masyarakat Dayak Kanayatn, dan Meningkatkan Kepekaan Terhadap Masalah Sosial dalam Masyarakat Dayak Kanayatn.

A. Membentuk Pikiran Kritis Masyarakat Dayak Kanayatn

Kritis dapat dipahami dalam artian bahwa tidak menerima sesuatu begitu saja. Secara spesifik, berfikir kritis secara filsafat adalah berfikir secara terbuka terhadap segala kemungkinan, dialektis, tidak membakukan dan membekukan pikiran-pikiran yang ada, dan selalu hati-hati serta waspada terhadap berbagai kemungkinan kebekuan pikiran.
Untuk mencapai berpikir kritis, hal yang harus dilakukan adalah berpikir secara skeptis. Skeptis berbeda dengan sinis. Skeptis adalah sikap untuk selalu mempertanyakan segala sesuatu, meragukan apa yang diterima, dan mewaspadai segala kepastian agar tidak mudah ditipu. Sedangkan sinis adalah sikap yang berdasar pada ketidakpercayaan. Secara metaforis, sikap sinis dapat digambarkan seperti seorang laki-laki di tengah perempuan-perempuan cantik, tapi dia malah mencari seekor kambing yang paling buruk. Jadi, pada intinya, sikap skpetis itu adalah meragukan, sementara sikap sinis adalah ketidakpercayaan.
Dalam kajian teoritis di atas, bahwa filsafat berusaha memberikan penjelasan tentang dunia seluruhnya, termasuk dirinya sendiri. Agar dapat meraih hal tersebut, filsafat harus menemukan radix (akar) dunia seluruhnya tersebut.
R. Kwant, juga mengatakan berfilsafat adalah penting bagi kehidupan manusia, sebab manusia harus menguji secara kritis gagasan- gagasan yang dikuasainya. Dalam kehidupan sosial masyarakat Dayak Kanayatn dibutuhkan juga berpikir kritis untuk mengkaji masalah-masalah sosial yang terjadi dan setiap wancana sosial masyarakat yang ada harus dikeritis dengan pikiran yang berasal dari filsafat ilmu. Dari sinilah letak peranan Filsafat imu dalam kehidupan sosial masyarakat Dayak Kanayatn.

B. Mempertajam Krangka Berfikir Kebenaran Masyarakat Dayak Kanayatn

Manusia selalu berusaha menemukan kebenaran. Beberapa cara ditempuh untuk memperoleh kebenaran, antara lain dengan menggunakan rasio seperti para rasionalis dan melalui pengalaman atau empiris. Pengalaman-pengalaman yang diperoleh manusia membuahkan prinsip-prinsip yang lewat penalaran rasional, kejadian-kejadian yang berlaku di alam itu dapat dimengerti. Ilmu pengetahuan harus dibedakan dari fenomena alam. Fenomena alam adalah fakta, kenyataan yang tunduk pada hukum-hukum yang menyebabkan fenomena itu muncul. Ilmu pengetahuan adalah formulasi hasil aproksimasi atas fenomena alam atau simplifikasi atas fenomena tersebut. Struktur pengetahuan manusia menunjukkan tingkatan-tingkatan dalam hal menangkap kebenaran. Setiap tingkat pengetahuan dalam struktur tersebut menunjukkan tingkat kebenaran yang berbeda. Pengetahuan inderawi merupakan struktur terendah dalam struktur tersebut. Tingkat pengetahuan yang lebih tinggi adalah pengetahuan rasional dan intuitif. Tingkat yang lebih rendah menangkap kebenaran secara tidak lengkap, tidak terstruktur, dan pada umumnya kabur, khususnya pada pengetahuan inderawi dan naluri. Oleh sebab itulah pengetahuan ini harus dilengkapi dengan pengetahuan yang lebih tinggi. Pada tingkat pengetahuan rasional-ilmiah, manusia melakukan penataan pengetahuannya agar terstruktur dengan jelas. Plato pernah berkata: “Apakah kebenaran itu? lalu pada waktu yang tak bersamaan, bahkan jauh belakangan Bradley menjawab; “Kebenaran itu adalah kenyataan”, tetapi bukanlah kenyataan (dos sollen) itu tidak selalu yang seharusnya (dos sein) terjadi. Kenyataan yang terjadi bisa saja berbentuk ketidakbenaran (keburukan). Jadi ada 2 pengertian kebenaran, yaitu kebenaran yang berarti nyata-nyata terjadi di satu pihak, dan kebenaran dalam arti lawan dari keburukan (ketidakbenaran) . Dalam bahasan ini, makna “kebenaran” dibatasi pada kekhususan makna “kebenaran keilmuan (ilmiah)”. Kebenaran ini mutlak dan tidak sama atau pun langgeng, melainkan bersifat nisbi (relatif), sementara (tentatif) dan hanya merupakan pendekatan. Dalam kehidupan sosial masyarakat dayak Kanayat diperlukan kragka berpikir kebanaran yang tinggi untuk bisa hidup berdapaingan secara damai adan aman. Peranan Filsafat Ilmu dalam kehidupan sosial masyarakat Dayak Kanayatn sangat jelas mempertajam pola pikir manusia Dayak untuk bersosial dalam masyarakat, melalui keragka pemikiran kebenarn yang tinggi ini.

C. Meningkatkan Kepekaan Terhadap Masalah Sosial dalam Masyarakat Dayak Kanayatn

Peranan Filasafat Ilmu dalam kehidupan sosial masyarakat Dayak Kanayatn, berikitnya yaitu untuk meningkatkan kepekaan terhadap maslah sosial masyarakat. Untuk menguraikan peranan ini ini dapat dilihat ungkapan kepekaan terhadap masalah-masalah (sensitivity of problems). Ungkapan ini sering digunakan untuk memperlihatkan bagaimana manusia mampu memandang keadaan-keadaan secara baru pada waktu dipermasalahkan. Mengutip pendapat J. Bronowski, dikatakan bahwa keinsyafan akan kedwiartian gejala merangsang khayalan menemukan hal-hal yang baru. Dalam hal ini manusia melampaui kemampuan hewan, namun juga kesanggupan komputer, karena tak mampu mempermasalahkan programnya sendiri. Kepekaan terhadap masalah ini merupakan penggerak kreativitas. Maka lebih penting memikirkan pertanyaan pada jawaban daripada hanya menjawab pertanyaan. Pada filsafat ilmu ada yang menggarisbawahi pentingnya permasalahan antara lain Collingwood dan Popper. Collingwood berlainan dengan Popper, menganggap hal ini sebagai sesuatu yang terus mempengaruhi metodologi suatu ilmu bagaikan “logika tanya jawab”. Itu semua berharga tetapi kepekaan akan masalah sosial sebagai hal yang lebih luas daripada mempermasalahkan sesuatu secara kognitif atau teoritis. Mengenai masalah inventivitas dan kreativitas dalam ilmu dipergunakan latihan psikologis tertentu, lebih-lebih membiasakan diri memakai metode pemecahan persoalan (problem solving). Ini berfaedah bagi keluwesan perseorangan atau kelompok. Maksudnya bukan menyelesaikan persoalan praktis, teknis, atau teoritis tertentu, tetapi lebih-lebih memperoleh kepekaan dan persoalan etis dibelakang ilmu, teknik, politik, dan ilmu sosial dan organisasi. Begitu juga dalam kehidupan sosial masyarakat Dayak Kanayatn sangat diperlukan hal ini supaya setiap pemikiran yang mistis dan tidak rasional dalam masyarakatdapat diuji secara filosfis yang akan membawa kepada solusi dalam meyelesaikan setiap masalah sosial atau komflik sosial dalam masyarakat Dayak Kanayatn.

BAB IV

KESIPULAN

Dalam kenyataannya kini, peranan filasfat ilmu dalam kehidupan sosial masyarakat Dayak Kanayatn cenderung menekankan satu atu lebih dari tiga pendekatan peranan yaitu (1) membentuk fikiran kritis masayarakt Dayak Kanayatn, (2) mempertajam krangka erfikir kebenaran masyarakat Dayak Kanayatn , (3) meningkatkan Kepekaan Terhadap Masalah Sosial dalam Masyarakat Dayak Kanayatn. Oleh karena teori-teori yang berhubungan dengan filfat dan filsafat ilmu itu lebih bersifat saling menyempurnakan daripada saling bertentangan, maka teori tersebut dapat digabungkan dalam suatu pandangan untuk membentuk keragka berfikir masyarakat Dayak Kanayatn dalam setiap kehidupn sosial dimasyarakat dimana mereka tinggal. Akan tetapi karena kita dengan situasi yang sebenarnya, maka dapat diujilah beberapa peranan tersebut dengan konsistensinnya dengan pertimbangan-pertimbangan lain yang kita anggap sah dan benar, atau kita uji dengan faidahnya dan akibat-akibatnya yang praktis.

Uraian dan ulasan mengenai berbagai teori filsafat dalam kehidupan sosial masyarakat secara khusus masyarakat Dayak Kanayatn di atas telah menunjukkan kelebihan dari berbagai teori-teori filsafat itu sendiri dan filsafat ilmu pada umumnya. Untuk mewujudkan peranan filsafat ilmu dalam kehidupan sosial masyarakat Dayak kanayatn diperlukan kajian dan pembahasan yang kuat dan masyarakat ilmiah perlu waktu lama untuk menemukan kebenaran peranan filsafat ilmu tersebut.


. Diktat Filsafat Ilmu Pengetahuan, Loyok, Hlm.5.

. G. Frege, Die Grundlagen der Arithmetik, Brslau, 1884, cetak ulang Darmstadt 1961, hlm. 11

. Bahan Kuliah Filsafat Timur di STT “ATI” Anjongan. Hlm. 1.

. Ibid… Hlm. 8

. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa Depertemen Pendidilkan Nasinoanl, Jakarat 2008. Hlm. 414

. Bagus, Kamus Filsafat, (BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2001), Hlm. 45.

. Bahan Kuliah Filsafat Ilmu, Dosen Prof. Dr. H. Ismaun, M.PD.

. Bahan Kuliah Filsafat Timur di STT “ATI” Anjongan. Hlm. 3-4.

. Ibid…Hlm.4

. Bahan Kuliah Filsafat Timur di STT “ATI” Anjongan. Hlm. 2.

. Ibid…Hlm. 2.

. Sujarni Alloy, Albertus, Chatarina Pancer Istiyani,…13

. Ibid,… 17

. Ibid,…18

. J.U Lontaan, Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat Edisi I. (Pontianak: Pemda Tingkat I Kal-Bar,1975),48

. Ibid,… 15

. Ibid,…15

. Istilah Kanayatn/Kanayat di kalangan suku Dayak Bakati’ dianggap istilah untuk menamakan seluruh orang-orang Dayak yang berbahasa Bakati’. Sedangkan bagi orang yang berbahasa Banana’-Ahe dengan semua variannya istilah Kanayatn sudah cukup jauh merasuk kedalam hati sanubari mereka, sehingga mereka mengidentikan diri mereka sebagai Dayak Kanayatn walaupun istilah ini masih baru bagi mereka…35

. Ibid,…35

Stepanus Djuweng, Dayak Kanayatn, Kelompok Besar Yang Hampir Terlupakan, dalam Nico Andasputra dan Vincentius Julipin (ed) Mencermati Dayak Kanayatn, Pontianak: Institut of Dayakologi Reasearch and Development, 1997…v

. Mengenai asal usul Dayak Kanayatn diungkapkan lebih dari 80 pamaliatn dan toko masyarakat, diantaranya Musin, menyatakan bahwa Dayak Kanayatn berasal dari gunung Bawakng Hal itu dapat diketahui dari mitologi tentang asal usul Dayak Kanayatn dalam ritual perobatan baliatn ketika sang pamaliatn memanjat “batakng taman” ia seolah-olah pergi ke gunung Bawakng dengan cara memanjat batang taman tersebut, karen diyakini sebagai tempat asal nenek moyang. Evigo Jermia, Agama Suku Dayak Kanayatn Sebagai Sarana Penginjilan Kontekstual, Skripsi yang tidak diterbitkan. STT “ATI” Anjungan, 2005…8

. Nico Andasputra, … 5, 22

. Timanggong adala jabatan administratif menurut masyarakat Dayak Kanayatn, yang mengepalai sutu wilayah yang disebut Binua, terdiri dari beberapa kampung Dayak pada masa lalu.

. Maniamas Miden Dalam Nico Andasputra, … 23

. Dibamangan artinya didoakan dalam bahasa Banan’-Ahe.

. Nico Andasputra…,7

Niko Andasputra, Kalimantan Review, No. 01Th 1 Januari-Juli 1992 s/d No 09 Th 03 Oktober-Desember 1992. Manusia Dayak: Manifestasi perilaku dan Perbuatannya (Pontianak: Lembaga dan Penunjang Pembangunan Sosial-Instute of Dayakology Research and Development, 1992), hlm. 1-3.

Ibid…hlm. 3.

IDRD, Cerita Ne’ Baruang Kulub, (Pontianak:Institute of Dayakology Research and Development, 1994), hlm. 12

http://us.click.yahoo.com/2pRQfA/bOaOAA/yQLSAA/pyIolB/TM

Niko Andas Saputra, Kalimantan Review,No 01 Th 1 Januari-Juli 1992 Dayak Kanayant dan Alam, (Pontianak: Lembaga dan Penunjang Pembangunan Sosial-Instute of Dayakology Research and Development, 1992), hlm, 7.

Niko Andas Saputra, Kalimantan Review,No 01 Th 1 Januari-Juli 1992 Dayak Kanayant dan Alam, (Pontianak: Lembaga dan Penunjang Pembangunan Sosial-Instute of Dayakology Research and Development, 1992), hlm. 19.

Vincentius Julipin, Kalimantan Review, No. 05Th 1 Septe1mber-Desember1993. Melestarikan Alam Kalimatan Barat(Pontianak: Lembaga dan Penunjang Pembangunan Sosial-Instute of Dayakology Research and Development, 1993), hlm. 21.

Ibid…hlm. 22.

Ibid…hlm 22.

Ibid…hlm. 25-26.

Ibid…hlm. 26.

Ibid…hlm. 12.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Rame-Rame Minum Air Sungai Cisadane …

Gapey Sandy | | 18 September 2014 | 23:42

Lebaynya Guguk-Guguk di Jepang …

Weedy Koshino | | 19 September 2014 | 07:39

Masukan Untuk Petugas Haji Indonesia …

Rumahkayu | | 19 September 2014 | 07:37

Tips Hemat Cermat selama Tinggal di Makkah …

Sayeed Kalba Kaif | | 18 September 2014 | 16:10

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48


TRENDING ARTICLES

Memilih: “Kursi yang Enak atau Paling …

Tjiptadinata Effend... | 4 jam lalu

Kita Nikah Yuk Ternyata Plagiat? …

Samandayu | 5 jam lalu

Ahok Rugi Tinggalkan Gerindra! …

Mike Reyssent | 6 jam lalu

Ahok Siap Mundur dari DKI …

Axtea 99 | 11 jam lalu

Surat untuk Gita Gutawa …

Sujanarko | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Timnas U23 Sebagai Ajang Taruhan… …

Muhidin Pakguru | 8 jam lalu

Tetangga …

Pm Susbandono | 8 jam lalu

Elpiji 12 kg Naik & Solusi Hemat …

F Tanjung | 8 jam lalu

Mogok Sekolah …

Yuni Cahya | 8 jam lalu

[Tips Haji] Bawalah Sabar Sebanyak Bulu di …

Thamrin Dahlan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: