Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Katedrarajawen

"Merindukan Pencerahan Hidup Melalui Dalam Keheningan Menulis" ______________________________ Saat berkarya, kau adalah seruling yang melalui hatinya bisikan selengkapnya

Omong Kosong Tentang Hidup adalah Pilihan

OPINI | 12 February 2013 | 16:29 Dibaca: 2283   Komentar: 44   2

Hidup adalah pilihan! Entah sudah berapa kali kita membaca atau mendengar. Sebagian dari kita mengamini, bahwa hidup itu memang adalah pilihan.

Tapi kalau kita mencermati kenyataan, betapa omong kosongnya kebenaran ini. Ya, kalau memang hidup adalah pilihan. Mengapa kita tidak memilih yang serba baik saja bagi hidup kita?

Andaikan kita diberikan kesempatan masuk ke dalam sebuah ruang dan di dalamnya disediakan 3 jenis hadiah. Yakni: Rp 10 juta, Rp 100 Juta, dan Rp 1 miliar.

Kita diberikan kebebasan untuk memilih. Apa yang akan kita pilih? Bukan omong kosong bila kita pasti memilih Rp 1 miliar.

Namun kenyataannya dalam hidup banyak di antara kita memilih hidup yang tidak benar. Menjadi penjahat dan koruptor yang dicaci-maki. Memilih menjadi pengedar dan pengguna narkoba. Padahal masih banyak pilihan yang baik.

Dalam hal ini apakah memilih dengan sadar, terpaksa memilih, atau tidak ada pilihan lagi?
Tapi yang jelas semua itu bukan pilihan yang berkenan bagi Tuhan dan nurani.

Kalau kita mau lebih memperhatikan lagi, maka kita akan menemukan realita tidak sedikit manusia yang hidup tidak sesuai pilihannya.

Ada yang ingin hidup kaya dan sukses, maka ia bekerja keras dan tekun. Tapi kenyataannya sepanjang hidup tetap hidup pas-pasan. Kecewalah kemudian.

Pernah juga ada yang mengeluh, bahwa ia hidup tidak bahagia karena menikah bukan dengan pilihannya. Yang ada hidup dalam penyesalan.

Ada teman yang mengatakan, kalau hidup ini boleh memilih, maka ia akan menikah dengan wanita yang paling cantik dan kaya. Tapi akhirinya hanya bisa menikah dengan wanita biasa saja.

Saya sendiri waktu masih muda, pengen pilih Ria Angelina, penyanyi melakolis dari Bandung itu jadi kekasih pujaan. Sialnya tidak pernah jadi kenyataan. Bermimpi pun tak kesampaian. Tragis.

Tidak sedikit pula yang mengalami hidup yang tidak sesuai dengan pilihannya. Ingin panjang umur, tak tahunya mati muda.

Sudah berhati-hati di jalan, agar terhindar kecelakaan, tahu-tahu ada mobil remnya blong menghantam kendaraannya dari belakang.

Apakah bukan omong kosong bahwa hidup itu adalah pilihan bila melihat realita yang ada?

Sama hal ketika ada yang membaca tulisan ini semata tak sengaja. Bukan pilihan secara sadar. Setelah membaca lalu menyesali, karena hanya berisi omong kosong belaka.
Hidup memang bukan sekadar pilihan. Yang terpenting adalah memiliki hati untuk menerima segala keadaan setelah berusaha dengan kemampuan yang ada.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mau Ribut di Jerman? Sudah Ijin Tetangga …

Gaganawati | | 24 October 2014 | 13:44

Pesan Peristiwa Gembira 20 Oktober untuk …

Felix | | 24 October 2014 | 13:22

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pelayanan Sertifikasi Lebih Optimal Produk …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 24 October 2014 | 07:31

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Kemana Pak Dahlan Iskan? …

Reo | 3 jam lalu

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 8 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 9 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 11 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Si Belang, Si Nenek, dan Barang Bekasnya …

Ulfah Fa'izah N... | 7 jam lalu

Tips Bepergian Backpacking …

Rizal Abdillah | 7 jam lalu

Saudis Gay “Luthiy” …

Ali Uunk | 7 jam lalu

Tangisnya Danum …

Hozrin Hilmo | 7 jam lalu

Project Sophia: Memutus Benang Konflik …

Jafar G Bua | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: