Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Katedrarajawen

"Merindukan Pencerahan Hidup Melalui Dalam Keheningan Menulis" ______________________________ Saat berkarya, kau adalah seruling yang melalui hatinya bisikan selengkapnya

Omong Kosong Tentang Hidup adalah Pilihan

OPINI | 12 February 2013 | 16:29 Dibaca: 2286   Komentar: 44   2

Hidup adalah pilihan! Entah sudah berapa kali kita membaca atau mendengar. Sebagian dari kita mengamini, bahwa hidup itu memang adalah pilihan.

Tapi kalau kita mencermati kenyataan, betapa omong kosongnya kebenaran ini. Ya, kalau memang hidup adalah pilihan. Mengapa kita tidak memilih yang serba baik saja bagi hidup kita?

Andaikan kita diberikan kesempatan masuk ke dalam sebuah ruang dan di dalamnya disediakan 3 jenis hadiah. Yakni: Rp 10 juta, Rp 100 Juta, dan Rp 1 miliar.

Kita diberikan kebebasan untuk memilih. Apa yang akan kita pilih? Bukan omong kosong bila kita pasti memilih Rp 1 miliar.

Namun kenyataannya dalam hidup banyak di antara kita memilih hidup yang tidak benar. Menjadi penjahat dan koruptor yang dicaci-maki. Memilih menjadi pengedar dan pengguna narkoba. Padahal masih banyak pilihan yang baik.

Dalam hal ini apakah memilih dengan sadar, terpaksa memilih, atau tidak ada pilihan lagi?
Tapi yang jelas semua itu bukan pilihan yang berkenan bagi Tuhan dan nurani.

Kalau kita mau lebih memperhatikan lagi, maka kita akan menemukan realita tidak sedikit manusia yang hidup tidak sesuai pilihannya.

Ada yang ingin hidup kaya dan sukses, maka ia bekerja keras dan tekun. Tapi kenyataannya sepanjang hidup tetap hidup pas-pasan. Kecewalah kemudian.

Pernah juga ada yang mengeluh, bahwa ia hidup tidak bahagia karena menikah bukan dengan pilihannya. Yang ada hidup dalam penyesalan.

Ada teman yang mengatakan, kalau hidup ini boleh memilih, maka ia akan menikah dengan wanita yang paling cantik dan kaya. Tapi akhirinya hanya bisa menikah dengan wanita biasa saja.

Saya sendiri waktu masih muda, pengen pilih Ria Angelina, penyanyi melakolis dari Bandung itu jadi kekasih pujaan. Sialnya tidak pernah jadi kenyataan. Bermimpi pun tak kesampaian. Tragis.

Tidak sedikit pula yang mengalami hidup yang tidak sesuai dengan pilihannya. Ingin panjang umur, tak tahunya mati muda.

Sudah berhati-hati di jalan, agar terhindar kecelakaan, tahu-tahu ada mobil remnya blong menghantam kendaraannya dari belakang.

Apakah bukan omong kosong bahwa hidup itu adalah pilihan bila melihat realita yang ada?

Sama hal ketika ada yang membaca tulisan ini semata tak sengaja. Bukan pilihan secara sadar. Setelah membaca lalu menyesali, karena hanya berisi omong kosong belaka.
Hidup memang bukan sekadar pilihan. Yang terpenting adalah memiliki hati untuk menerima segala keadaan setelah berusaha dengan kemampuan yang ada.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menikmati Barang-barang Antik di Pasar Loak …

Arke | | 30 January 2015 | 03:53

Menjaga Air Kehidupan di Bumi Sumbawa …

Dhanang Dhave | | 30 January 2015 | 11:19

Daun Ajaib Ini Bukan Sekedar Pelengkap Pecel …

Wahyu Triasmara | | 30 January 2015 | 18:33

Inilah Empat Cara Agar Suami Istri Tetap …

Syaiha | | 30 January 2015 | 07:06

Anggota DPR Dilarang “Ngartis”, …

Kompasiana | | 30 January 2015 | 12:24


TRENDING ARTICLES

Prabowo Bertemu Jokowi, KIH Konsolidasi …

Cindelaras 29 | 7 jam lalu

Kalau Mau Ngartis, Kenapa Jadi Anggota DPR? …

Daniel Setiawan | 8 jam lalu

Jokowi Siapkan Arena Prabowo vs Megawati …

Sowi Muhammad | 13 jam lalu

Benarkah Pak Jokowi Meninggalkan PDI …

Kosmas Lawa Bagho | 13 jam lalu

Jumat Keramat Komjen Budi Gunawan Dipanggil …

Edi Abdullah | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: