Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Ujang Bandung

Di dunia langit kebenaran itu sebenarnya satu walau di atas bumi nampak seperti banyak

Kebenaran itu ada Dalam Keseluruhan

OPINI | 09 February 2013 | 15:26 Dibaca: 333   Komentar: 0   0

Sebuah kendaraan bermotor apakah itu yang beroda dua atau beroda empat mungkin bisa kita gunakan sebagai analogi gambaran miniatur dari adanya ‘kebenaran yang bersifat menyeluruh’,bila mengingat bahwa sebelum menjadi sebuah konsep yang utuh dalam fungsi yang utuh sebagai ‘kendaraan bermotor’ semula ia adalah sesuatu yang tercerai berai kepada berbagai komponen-suku cadang yang berlainan,lalu perakit menyatu padukan semua suku cadang yang berlainan itu menjadi kesatuan konsep yang memiliki fungsi yang tersendiri yang kemudian kita kenali sebagai ‘kendaraan bermotor’.

Sehingga ‘kebenaran yang bersifat menyeluruh’ seputar kendaraan bermotor adalah bila kita mengenal tiap komponennya dan bisa menyatu padukan atau merakitnya secara utuh menjadi suatu kesatuan.

Nah di awal saya ingin membuat sebuah pertanyaan bagi anda : maukah anda menjadi seorang ‘perakit’ kebenaran (yang bersifat menyeluruh) ?

Sebab sejatinya Tuhan menurunkan ilmu kepada manusia tidaklah dalam bentuk yang ‘built up’- tinggal pakai,tapi Tuhan menurunkannya dalam bentuk ‘komponen’ atau ‘suku cadang’ yang terserak - tercerai berai ke seluruh penjuru dunia,dimana berbagai golongan manusia apakah itu agamawan-filosof-saintis atau berbagai golongan manusia dari berbagai golongan bangsa menemukan ‘komponen’ atau ‘suku cadang’ dari ilmu Tuhan yang bersifat menyeluruh itu.

Itulah sebab saya sering berbicara tentang rahasia adanya ‘teka teki ilmu Ilahi’ karena ilmu Tuhan memang bukan sesuatu yang selalu built up - tinggal pakai - tinggal baca - tinggal memahami kemudian tinggal telan,tetapi untuk mencari dan memahaminya terkadang kita harus masuk terlebih dahulu ke rimba teka teki ilmu pengetahuan yang terkadang seperti rumit dan pelik.

Artinya apa yang disebut sebagai ‘kebenaran yang bersifat mutlak dan menyeluruh’ pun (secara keilmuan) sebenarnya bukanlah konsep yang selalu tinggal baca -tinggal telan dan tinggal pakai,tetapi kita sepertinya harus menelusuri dimana bagan atau ‘komponen’ atau ‘suku cadang’ dari kebenaran yang bersifat menyeluruh itu berada,dan setelah kita bisa menemukan dan mengumpulkannya pun kita harus memahami pula bagaimana kita bisa menyatu padukan semua yang terserak itu sehingga menjadi sebuah kesatuan yang menyatu padu.

Tetapi yang sudah jelas adalah bahwa di dunia ini setidaknya ada tiga golongan yang berbeda yang banyak menemukan bagan atau ‘komponen’ atau ‘ suku cadang’ dari kebenaran yang bersifat menyeluruh itu yaitu para agamawan-filosof dan saintis,disebut tiga golongan yang berbeda sebab mereka menemukan bagan dari kebenaran yang berbeda - beda baik jenis - bentuk sampai kepada derajatnya,sehingga sebenarnya bukan suatu yang mudah untuk menyatu padukan semua yang ada pada mereka yang masing masing mereka temukan itu.

Sehingga bila di ibaratkan penemuan material bangunan maka para agamawan ibarat menemukan batu fondasinya,para filsuf pintunya dan para saintis jendelanya,artinya semua bisa difahami sebagai kesatuan hanya bila semua disatu padukan.

Lalu bagaimana kita bisa memahami adanya hal hal yang serba berlawanan atau bersifat paradoks yang selalu terdapat  kala kita berselancar menelusuri kebenaran yang bersifat menyeluruh (?),misal adanya hal yang nampak bertentangan dengan Tuhan seperti adanya salah disamping yang benar,adanya yang buruk disamping yang baik,adanya yang kafir disamping yang beriman,adanya yang ateis disamping yang teis,maka harus kita katakan bahwa adanya paradoksial itu adalah bagian dari konsep kebenaran yang bersifat menyeluruh itu sendiri ,sama dengan adanya sang antagonis disamping sang pahlawan adalah bagian dari ceritera sandiwara itu sendiri secara keseluruhan,sebab manusia tidak akan memahami apa itu benar bila tidak ada cerminnya yaitu salah,sebagaimana sang pembuat ceritera tidak akan bisa menghadirkan sosok sang pahlawan bila ia tidak menciptakan peran sang antagonis.

Jadi adanya hal hal yang nampak berlawanan dengan Tuhan - agama seperti kekafiran-ateisme yang pandangan pandangannya senantiasa menghadang kita ditengah jalan kala kita menelusur mencari kebenaran yang bersifat menyeluruh janganlah membuat kita kehilangan orientasi kepada mencari rahasia kebenaran Ilahi sebab mereka itu sendiri adalah bagian atau ‘komponen’ daripada konsep kebenaran yang bersifat menyeluruh itu sendiri.

Sebab bila konsep kebenaran mutlak-menyeluruh ibarat sebuah sandiwara agung maka sebuah sandiwara betapapun agungnya ia tetaplah akan memerlukan kehadiran para tokoh antagonis sebagai jalan untuk melahirkan para pahlawannya.sebab itu jangan galau dan risau bila didunia ini banyak yang memperlihatkan perlawanan mati matian terhadap agama termasuk bila hal seperti itu datang dari dunia filsafat-sains,dari filosof tertentu atau saintis tertentu yang pada dasarnya berpandangan materialistik,sebab konsep kebenaran Ilahi analoginya ibarat sebagai sebuah sandiwara agung yang memang memerlukan para tokoh antagonis sebab tanpa keberadaan mereka justru rahasia konsep kebenaran mutlak Ilahi itu sebenarnya justru akan menjadi tidak akan terungkapkan.

Nah sekarang berarti kita tinggal memikirkan kerangka ilmiah raksasa tempat seluruh bagan atau komponen atau ‘suku cadang’ dari konsep kebenaran Ilahi yang ada terserak pada berbagai kalangan dan golongan manusia itu kita lekatkan atau kita susun satu persatu,sebab tanpa adanya kerangka raksasa itu maka semua bagan yang terserak itu hanya akan terserak dan akan difahami manusia secara terkotak kotak-parsialistik,artinya kerangka ilmiah raksasa itu kita perlukan agar kelak manusia bisa menata dan melekatkan semua apapun yang mereka temukan dalam kehidupannya yang merupakan ‘komponen’ dari kebenaran yang bersifat menyeluruh agar semua bisa difahami secara menyatu padu.

Analoginya ibarat bila kita belum bisa membuat kerangka besi beton besar maka semua element material serta ornament bangunan yang bagaimanapun tidak lah akan bisa kita rangkai - kita tata atau kita susun menjadi sebuah kesatuan fungsi yang bernama ‘bangunan’.

Sebab sebagaimana untuk memahami ‘kebenaran yang bersifat menyeluruh’ seputar kendaraan bermotor maka kita harus mengenal semua komponennya dan harus bisa merangkai atau merakitnya, maka demikian pula untuk memahami konsep kebenaran Ilahi yang bersifat menyeluruh sebenarnya kita harus mengenal dan memahami komponen komponennya dan lalu harus bisa menyusun atau ‘merakitnya’ pula.

Hanya beda dengan merakit kendaraan bermotor,untuk ‘merakit’ konsep kebenaran Ilahi yang bersifat menyeluruh itu kita memerlukan sebuah ‘kerangka ilmiah raksasa’.

Jadi konstruksi ilmiah raksasa itu kita perlukan untuk melekatkan semua apa pun yang kita temukan apakah itu yang berasal dari kitab suci - dari para agamawan-dari para filosof maupun dari para saintis.nah masalahnya adalah dimana kerangka raksasa itu berada atau bisa kita temukan ?

Sebab sebagaimana kita tahu baik dalam dunia filsafat maupun dalam dunia sains kita tak bisa menemukan kerangka ilmiah raksasa yang bisa merangkum serta melekatkan semua ‘komponen kebenaran’ yang ada pada realitas secara keseluruhan (yang meliputi dunia alam lahiriah dan dunia alam abstrak - gaib),kerangka yang dibuat orang dalam dunia filsafat ternyata terbatas sebatas hanya bisa melekatkan semua temuan komponen kebenaran sebatas yang akal fikiran manusia masih bisa memahaminya,dan kerangka ilmiah yang dibuat dalam sains tentu sebatas hanya bisa merangkum atau melekatkan semua temuan komponen kebenaran yang sebatas bisa diukur oleh pengalaman dunia inderawi.

Lalu bagaimana dengan temuan bagan atau komponen kebenaran yang bersifat abstrak - gaib - yang sulit difahami akal - yang tak bisa diukur oleh pengalaman dunia indera,yang semua itu adalah realitas yang merupakan bagan atau komponen kebenaran yang bersifat menyeluruh,dan semua itu bisa masuk kedalam pengalaman hidup manusia sehari hari (?) sebab semua pasti tidak akan muat bila dilekatkan kepada kerangka kecil yang dibuat manusia dalam filsafat maupun sains.

Itulah sebab saya katakan kita harus mencari ‘kerangka ilmiah raksasa’ karena kita memerlukan suatu kerangka yang bisa menampung keseluruhan bagan atau komponen kebenaran yang ditemukan manusia,termasuk yang ditemukan manusia dari dunia atau hal hal yang bersifat abstrak-gaib atau dari hal hal yang dianggap ‘tak masuk akal’.

Dan satu satunya yang bisa memberi manusia kerangka raksasa itu pasti hanya Tuhan sendirinya,dan manusia bisa menemukan rahasianya dalam kitab suci.

Kitab suci memberitahu manusia adanya konsep ilmu sari’at (yang berbicara tentang konsep hukum sebab-akibat yang universal),ilmu logika (yang berbicara tentang konsep dualisme universal),ilmu hakikat (yang berbicara tentang asal muasal dari segala suatu) dan lalu ilmu hikmat (yang berbicara tentang makna Ilahiah dibalik segala suatu yang ada dan terjadi).dan melalui penggambaran dari perjalanan nabi Khaidir dan nabi Musa kita bisa mengetahui bahwa semua bentuk ilmu itu tidaklah memiliki derajat yang sejajar tapi terstruktur secara hierarkis,dimana konstruksi ilmu Ilahiah itu menempatkan ilmu hakikat-ilmu hikmat pada derajat ilmu yang tertinggi karena kedua ilmu itu memang secara spesifik memuarakan segala suatu yang ditemukan manusia pada yang satu yaitu : kebenaran versi Tuhan,berbeda dengan ilmu sari’at dan ilmu logika yang memerlukan campur tangan serta pilihan bebas akal fikiran manusia.

Nah sebagaimana kerangka ilmiah yang dibuat manusia dalam dunia filsafat-sains melahirkan apa yang disebut sebagai ‘kacamata sudut pandang filsafat’ atau ‘kacamata sudut pandang sains’ maka kerangka ilmiah raksasa yang berasal dari kitab suci itu menghasilkan apa yang disebut sebagai ‘kacamata sudut pandang Ilahiah’,artinya kacamata yang bila digunakan untuk melihat segala suatu bisa memberi informasi-gambaran tentang adanya pandangan atau visi Tuhan (yang bisa didalami dalam ilmu hikmat).

Nah kacamata sudut pandang Ilahiah ini bisa kita perbandingkan dengan kacamata sudut pandang manusia yang bila digunakan untuk melihat segala suatu tidak bisa memberi informasi-gambaran tentang adanya hal hal yang bersifat Ilahiah.

Nah sekarang kita tinggal uji coba dua macam kacamata sudut pandang yang berbeda ini dalam meneropong berbagai realitas yang ada dan terjadi dalam kehidupan.

Kita coba untuk meneropong peristiwa besar yang legendaris seperti tenggelamnya kapal Titanic :

Bila kita teropong peristiwa tenggelamnya kapal Titanic dengan teropong kacamata sudut pandang manusia maka sebagaimana yang kita tahu dan terekam oleh media apa yang bisa manusia fahami dari peristiwa itu memang tidak jauh sebatas segala suatu yang masih berhubungan dengan masalah sebab akibat dimana lalu manusia pada berlogika dengan berbagai sebab akibat yang mereka temui seputar tenggelamnya kapal itu.

Artinya media tidaklah menelusur sampai kepada masalah hakikat dan hikmat dari peristiwa tenggelamnya kapal besar itu,sehingga apakah kacamata sudut pandang manusia yang meneropong peristiwa tenggelamnya kapal itu telah memberitahu kepada manusia kebenaran yang bersifat menyeluruh (seputar bencana tenggelamnya kapal besar itu) ?

Bandingkan dengan bila kita melihatnya dengan kacamata sudut pandang Ilahiah yang disamping memberi kebebasan kepada manusia untuk menelusuri masalah sebab akibatnya dan berlogika dengan logika nya masing masing maka kacamata sudut pandang Ilahiah lebih memberi penekanan kepada masalah hakikat dan hikmat dari peristiwa besar itu,sehingga bila hal itu menyangkut peristiwa tenggelamnya kapal Titanic maka pertanyaan yang akan muncul dalam batin kita bila kita melihatnya dengan kacamata sudut pandang Ilahiah adalah : apa hakikat dan hikmat dari peristiwa tenggelamnya kapal Titanic itu ?

Hakikat senantiasa menggiring manusia kepada pemahaman bahwa segala suatu yang ada dan terjadi dalam kehidupan termasuk dalam contoh ini peristiwa tenggelamnya kapal Titanic,semua hanya bisa terjadi atas kehendak Ilahi dan hikmat mengakhiri penelusuran tiap masalah dengan pertanyaan : apa hikmat (yang manusia bisa temukan-dalami-hayati) dari segala suatu yang manusia temukan dalam realitas-kenyataan yang terjadi ?

Bagi saya pribadi ada hikmat besar yang bisa kita ambil dari peristiwa tenggelamnya kapal besar itu yaitu : sangat mungkin bahwa Tuhan hendak memperlihatkan kepada manusia bagaimana Tuhan menghukum kesombongan manusia,apa hikmat yang bisa anda temukan (?) mungkin saja berbeda,hikmat adalah ‘rabaan-penelusuran’ batin manusia yang terdalam yang mungkin bisa saja berbeda satu sama lain dalam berbagai kasus yang berbeda beda,tapi karakter hikmat adalah semua sama sama mengarah kepada ‘kebenaran versi sudut pandang Ilahiah’.

Itulah kebenaran bisa difahami secara utuh dan menyeluruh hanya bila manusia telah bisa menggapai serta mendalami hakikat atau hikmat dari segala suatu,artinya bila manusia sebatas hanya bisa sampai berlogika dengan berdasar kepada berbagai sebab akibat yang ditemukannya lalu lahir beraneka ragam logika yang berbeda beda versi sudut pandang manusia maka itu belumlah bisa dikatakan telah menggapai kebenaran yang bersifat menyeluruh.

Sehingga begitulah,misal anda mengalami berbagai peristiwa yang menggetarkan hati apakah itu musibah atau bencana yang membuat anda menderita atau media memberitakan berbagai bencana alam besar yang bertubu tubi yang merenggut banyak korban tapi kemudian anda hanya berfikir sebatas sebab - akibat yang bisa masuk ke logika manusiawi belaka maka artinya anda belumlah bisa dikatakan telah memahami kebenaran secara menyeluruh.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Cara Cermat Buang Sampah, yang Mungkin Dapat …

Tjiptadinata Effend... | | 21 October 2014 | 21:18

Tips Ibu Jepang Menyiasati Anak yang Susah …

Weedy Koshino | | 22 October 2014 | 08:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Ketika Rintik Hujan Itu Turun di Kampung …

Asep Rizal | | 21 October 2014 | 22:56

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

3 Calon Menteri Jokowi Diduga Terlibat Kasus …

Rolas Jakson | 2 jam lalu

Suksesi Indonesia Bikin Iri Negeri Tetangga …

Solehuddin Dori | 2 jam lalu

Bocor, Surat Penolakan Calon Menteri …

Felix | 3 jam lalu

Fadli Zon dan Hak Prerogatif Presiden …

Phadli Hasyim Harah... | 4 jam lalu

Pak Prabowo, Sikap Anda Merusak Isi Kepala …

Eddy Mesakh | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Inaq Marhaeni, Cerita Lain dari Pulau Seribu …

Maya Rahmayati | 7 jam lalu

Mungkinkah Takdir Itu Bisa Dirubah? …

Jejen Al Cireboni | 7 jam lalu

4 Keunikan Krisna Pusat Oleh-oleh Khas Bali …

Rizky Febriana | 7 jam lalu

Menyambut Harapan Baru dengan Kerja Nyata …

Saikhunal Azhar | 7 jam lalu

Saksi Sejarah Bangsa …

Idos | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: