Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Ujang Bandung

Di dunia langit kebenaran itu sebenarnya satu walau di atas bumi nampak seperti banyak

Cukupkah hanya bukti empirik semata ?

OPINI | 06 February 2013 | 22:47 Dibaca: 334   Komentar: 0   0

Dengan matanya manusia melihat-menangkap bukti empirik,

dengan akalnya manusia merumuskan,

dengan hatinya manusia meyakini

Itulah optimalisasi seluruh potensi jiwa manusia,artinya : dunia indera-akal dan hati digunakan secara menyatu padu ke satu muara - ke satu arah yaitu keyakinan.

Misal : dengan matanya manusia menangkap bukti empirik ketertataan alam semesta yang terstruktur hingga ke bagan dan organnya yang terkecil,dengan akalnya ia merumuskan bahwa dibalik ketertataan alam semesta yang terstruktur itu ada sang desainer,sebab mustahil ketertataan alam semesta itu bisa berasal dari kebetulan,lalu hatinya meyakini bahwa sang desainer itu adalah Tuhan sebab mustahil sang penata alam semesta itu adalah ’sang desainer yang mati’ yang hanya ‘konsep belaka’.

Nah sekarang : cukupkah otak manusia hanya di isi oleh ribuan fakta-bukti empirik tapi akal nya mati-beku tak digunakan untuk merumuskan semua apa yang ditangkap oleh dunia inderawi nya itu,cukupkah otaknya hanya di isi oleh ribuan fakta-bukti empirik sementara hatinya sama sekali kosong dari meyakini (hal yang bersifat hakiki-essensial) dari semua apa yang ditangkap oleh dunia panca inderawinya itu ?

Lalu apa fungsi akal dan hati manusia sebenarnya ?

Padahal Tuhan memberi manusia peralatan pencari - penelusur serta pengelola kebenaran yang super komplit : dunia inderawi-akal dan hati,dan pencarian terhadap kebenaran (secara menyeluruh) itu berakhir atau bermuara pada keyakinan dihati bukan hanya menghasilkan jutaan fakta-bukti empirik yang menumpuk di otak sebagai koleksi intelektualitas semata.

Apa artinya akal dan hati bila tidak digunakan untuk mengolah-mengelola-merumuskan serta memaknai semua apapun yang telah ditemukan sebagai fakta-bukti empirik itu ?

Tuhan memberi manusia agama agar seluruh potensi yang ada dalam dirinya-dalam jiwanya : dunia indera-akal dan hati berfungsi secara maksimal,agama membantu akal dalam merumuskan apapun yang ditangkap oleh dunia inderawinya itu,sehingga akalnya bisa menemukan konsep kebenaran konstruktif yang bersifat universal-menyeluruh dari semua apa yang ditangkap dunia inderawi nya itu,agama memberi informasi tentang hal hal yang bersifat abstrak dibalik semua yang ditangkap oleh dunia inderawi nya agar hati manusia meyakini adanya kebenaran yang bersifat menyeluruh yang bisa dibawa nya ke alam kematian sebagi iman.

Tuhan memberi manusia agama sebab Ia tahu bahwa dunia inderawi manusia itu terbatas kemampuannya,demikian juga dengan akal manusia yang tanpa bantuan kitab suci akal manusia tetap tidak akan bisa memahami adanya konsep kebenaran konstruktif yang bersifat universal-menyeluruh dibalik semua apa yang bisa ditangkap oleh dunia inderawinya.

Sains semata bila berjalan sendirian ia hanya berjalan berputar putar diseputar dunia materi,memberi manusia bukti demi bukti empirik tapi tanpa bantuan akal maka bukti bukti empirik yang diperoleh sains itu hanya ibarat potongan potongan mainan puzzle yang terserak-tercerai berai.

Nah agama membantu manusia agar dengan kemampuan akalnya bisa merangkai potongan potongan ‘mainan puzzle’ yang ditemukan oleh sains itu ¬†menjadi sebuah kesatuan yang utuh yang kita kenali sebagai ‘kebenaran yang bersifat mutlak dan menyeluruh’.

Agama memberi manusia ‘kerangka raksasa’ yang mana dengan kerangka raksasa itu akal manusia bisa merangkai apapun yang ditemukannya dalam kehidupan baik yang bersifat lahiriah - material maupun yang bersifat abstrak-gaib menjadi suatu kesatuan yang utuh dan menyatu padu.

Dan,tanpa bantuan kitab suci bisakah manusia meyakini dengan hatinya siapa sang desainer yang dirumuskan oleh akalnya itu ?

Tanpa bantuan kitab suci bisakah manusia menjawab pertanyaan pertanyaan yang bersangkutan dengan masalah HAKIKAT sebagaimana pertanyaan pertanyaan yang banyak kita temukan dalam dunia filsafat :

mana yang hakikatnya terlebih dahulu ada ayam atau telur,lelaki atau wanita ?

apa hakikat realitas ?

apa hakikat kehidupan ?

yang bahkan para filosof sendiri tidak bisa menjawabnya.

Bisakah sains sendirian mendeskripsikan yang abstrak dibalik yang gaib yang dibutuhkan oleh batin manusia (yang hidup hatinya) yang merindukan untuk memahaminya ?

Bisakah sains memberitahukan hakikat dan hikmat (makna) dari seluruh apa yang telah ditemukannya yang dibutuhkan oleh batin manusia (yang hidup hatinya) yang merindukan untuk memahaminya ?

Karakter batiniah manusia yang hidup hatinya adalah selalu merindukan apa yang abstrak dibalik yang lahiriah-material,selalu merindukan apa hakikat dan hikmat (makna Ilahiah) dibalik semua yang telah ditangkap oleh dunia inderawinya sebagai bukti empirik.

Kecuali yang akalnya beku

Kecuali yang hatinya mati

Sepanjang hidupnya ia hanya mencari cari dan hanya mengumpulkan bukti bukti empirik dan mengoleksinya dalam otak sebagai hiasan intelektualitasnya,atau sebagai hiasan bagi gelar intelektual nya mungkin,tapi akalnya tidak memahami adanya konsep kebenaran konstruktif yang bersifat universal dari rangkaian bukti empirik yang ditemukannya itu,dan hatinya kosong dari memahami hakikat dan hikmat (makna Ilahiah) dari apa yang tertimbun dalam otaknya itu.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kekecewaan Penyumbang Pakaian Bekas di …

Elde | | 25 October 2014 | 12:30

Rafting Tidak Harus Bisa Berenang …

Hajis Sepurokhim | | 25 October 2014 | 11:54

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15

Dukkha …

Himawan Pradipta | | 25 October 2014 | 13:20

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 7 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 13 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 13 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 14 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Matinya Filsafat, Matinya Kemanusiaan …

Herulono Murtopo | 8 jam lalu

Jadilah Peniru …

Wiwik Agustinanings... | 8 jam lalu

Belajar Ungkapan (Idiom) Amerika - Part 7 …

Masykur | 8 jam lalu

Sempatkan Berwisata ke Sumatra Barat …

Nurul Falah Elyandr... | 8 jam lalu

Pesan Membaca di Film The Book of Eli …

Eko Prasetyo | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: