Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Arif Budi Utomo

Menyadari kekurangan, menyadari kekosongan, bersiap untuk mengisi. Menuliskannya kembali dari sebelah kanan. Semoga dalam ridho-Nya. selengkapnya

Kisah Spiritual Mas Dikonthole, Mengungkap Jatidiri Orang Jawa Yang Kehilangan Jawa-nya

REP | 03 February 2013 | 14:17 Dibaca: 1389   Komentar: 0   3

Mas Dikonthole saat ini,  benar benar harus mengatasi rasa enggannya sendiri. Bagaimana tidak, jiwa raganya tengah berada pada fase  kemandegan yang akut. Setelah mengalami beberapa peristiwa yang beruntun diakhir tahun lalu dan juga peristiwa dahsyat  diawal tahun ini. Alam benar benar ingin mengkhabarkan beritanya melalui raga Mas Dikonthole, coba bayangkan bagaimana rahsanya.  Syaraf-syarafnya seperti dialiri ribuan volt arus listrik, jiwanya seperti sedang men download sebuah informasi yang berisi ribuan Megabite. Dan sudah barang tentu akibatnya beberapa kali kesadarannya mengalami ‘hang’. Raganya bergetaran seperti mengalami ‘tripping’, atau mendekati orang ‘ayan’. Itu terjadi tidak hanya satu dua kali, nyaris saban hari keadaannya begitu. Sungguh dia merasa dirinya amat sangat lemah dengan keadaannya itu. Atau kadang dia merasa dirnya seperti ‘gila’ saja.

Pertempuran dalam jiwa, pemberontakkan atas lakon yang harus diperankannya, adalah pertarungan antara raga masa kini dan jiwa orang masa lalunya, membuat dirinya nyaris ‘gila’.  Keghaiban yang semestinya ghaib bagi kesadaran orang lain, kini nyata dan menjadi realitas bagi dirinya. Seakan-akan dirinya mampu membaca sebuah program komputer, berikut juga tahu bagaimana nantinya, menjadi rupa dan bentuk tampilannya di layar monitor. Tidak hanya bagaimana jalan ceritanya, serta bagaimana juga kejadiannya,  namun semua seperti terpola dalam puzle,   seperti terbaca fragmen-fragmennya.

Sungguh itu selalu menakutinya. Dan kadang sebagai manusia biasa dia ingin hidup wajar, seperti halnya manusia lainnya. Tidak perlulah bertemu dengan keghaiban atau lainnya. Karena apa, keghaiban hanya mampu diyakini  keberadannya dalam kesadaran manusia saja,  jika manusia tidak berada dalam posisi kesadaran ini maka dia tidak akan mampu melihatnya. Maka keadaan ini sering menjadi fitnah saja. Sungguh sulit mengkhabarkan bagi orang yang tidak dalam kesadaran yang sama. Bukankah dirinya akan disebut sebagai ‘orang gila’ ?.

Sebagaimana rosululloh yang pada saat itu sering disebut sebagai ‘orang gila’ oleh kaumnya, sebab beliau meyakini keghaiban sebagai realitas. Beliau meyakini dunia akherat sebagaimana keyakinannya  atas keberadan  alam ini, atas  keadaan bumi dan langit ini. Karena keyakinan yang dibawanya inilah ‘Beliau sering diolok-olok sebagai orang gila’. Namun kemudian  rosul dikuatkan dengan firman Allah, yang meyakinkan dirinya bahwa “dia (rosul) sekali-kali bukanlah orang gila”. (QS. 068 :02).

Masalahnya adalah bagaimana dengan keadaan Mas Dikonthole ?. Dirinya bukanlah nabi, bukan wali, bukanlah juga orang suci, dirinya hanya orang biasa, sangat biasa malah. Dengan apa dirinya meyakinkannya, ‘bahwa dirinya juga bukan orang gila’. Maka tidak ada cara lain, selain dirinya hanya ‘berserah’ (Islam) saja, totallitas dalam ber-Islam. Berserah kepada-Nya, terserah maunya Allah akan diperjalankan kemanakah jiwa dan raganya ini. Dia hanya menurut kepada sang Alam.

Alam semesta sedang menjalankan program yang sudah diinstal  jauh sebelum alam semesta terbentuk seperti keadaan  sekarang ini. Mereka sekarang sedang dalam urusan-urusannyamasing-masing. Menjalankan program alam semesta yang sudah di skenario Tuhannya. Jika kemudian dirinya dipersilahkan sang Alam menjadi saksi maka dirinya pasti juga tidak akan mampu menolaknya. Sukarela atau terpaksa pasti itu saja pilihannya. Apakah dirinya akan menjadi saksi secara sukarela ataukah dirinya akan menjadi saksi secara terpaksa.

Tentu saja semua itu ada konsekuensinya. Jika dirinya menjalani dengan ‘terpaksa’ resikonya, tentu akan mengalami pergulatan dan benturan, sebab siapapun tahu bagaimana keadaan orang yang dipaksa dan atau terpaksa, dan bagaimana dengan keadaan jiwa mereka itu. Oleh karena itulah, saat sekarang ini,  dirinya harus mampu selalu dalam keadaan hal ‘sukarela’,  mengikuti kehendak sang Alam ini. Maka untuk mendapatkan dan menempati makom ‘sukarela’, keadaan hal ‘Ikhlas’ inilah,  dirinya terus mendapatkan gemblengan  sang Alam sendiri.  Dengan sikap itulah Mas Dikonthole menapaki kehidupan terkininya, walau kadang sebagaimana manusia normal lainnya, rasanya terjepit, seperti tak mampu saja.

Mengamati diperjalankan dirinya, inilah yag sekarang dilakukannya, diam dan pasrah, diatas gerakan sang raga ini. Diatas gerak alam semesta yang menari dalam harmoninya, gerakan yang secara perlahan namun pasti akan melibas nafsu angkara manusia, kembali kepada fitrah sang Alam. Dengan laku (patrap) itulah kisah ini kembali dikhabarkan kepada sidang pembaca. Dengan selalu memohon hidayah dan ampunan-Nya, jikalau saja kisah ini terkesan ujub adanya. Namun ini hanyalah sepenggal berita, layaknya berita yang setiap hari kita terima dari media lainnya. Maka kearifan dalam menyikapi tetaplah sangat diharapkan, agar selanjutnya tidak menjadi fitnah adanya.

Menelusuri Peradaban Jawa

Diantara bukit-bukit lainnya, dibawah kaki gunung Sindoro,  bukit Argopeni menjadi salah satu bukit yang memiliki kenangan tersendiri bagi Mas Dikonthole. Bukit yang asri, dimana dibawahnya terletak perkampungan yang sudah tertata sangat rapi. Menurun lagi, jauh ke dalamnya, berjarak 500 km jauhnya dari perkampungan terdekat, terletak mata air yang sangat luar biasa jernihnya, Mata Air Mangli namanya. Mata air yang jauh menembus kedalaman pusat bumi. Sebuah lubang, pusat mata air keluar diantara dua buah pohon beringin raksasa, terlihat tanpa dasar.  Mas Dikonthole sering mandi dan berenang disana pada waktu kecilnya. Saat mana mata air itu belum dikelola,  masih seperti apa adanya.

Namun sekarang keadaannya sangat jauh berbeda, perusahaan air terbesar di Indonesia telah memanfaatkan air ini untuk produknya.  Dan bagi masyarakat sekitar telah dibuatkan kolam pemandian umum. Mitos yang dahulu melegenda atas mata air ini sekarang seperti lenyap. Mungkin hanya segelintir orang tua saja yang masih paham legenda tentang mata air Mangli ini, yang konon dahulu dijaga oleh dua ekor ular naga raksasa. Sebab mata air ini dahulu katanya adalah tempat pemandian para dewa.

Mitos ini masih sangat terasa saat Mas Dikonthole kecil. Banyak ikan kecil-kecil yang berada disana, yang sangat aneh. Begitu juga ikan-ikan besar yang sebesar paha orang dewasa, dimana jumlah mereka akan selalu tetap. Ikan-ikan ini diyakini oleh penduduk sekitar adalah para penjaga, hingga tidak ada satupun penduduk yang berani menangkapnya. Sudah berulangkali kejadian aneh terjadi, saat ada orang dari luar kota yang berusaha menangkap ikan-ikan tersebut. Sering orang tersebut hilang dan baru muncul di kemudian hari dengan keadaan tak bernyawa, seperti orang tersebut ditelan mata air atau sering juga  kejadian yang lebih aneh lainnya. Terlihatnya para bidadari sedang mandi disana. Maka kebenaran mitos ni hanyalah alam sendiri yang tahu.

Mas Dikonthole masih sering menatap jauh ke bawah dari atas bukit Argopeni. Menyelusup kedasar lorong jauh di bawah mata air, mencari kebenaran mitos dan legenda disana. Kebenaran adanya sebuah kerajaan yang dahulu pernah jaya. Peradaban yang sempat mengguncang dunia. Betulkah peradaban itu ada ?. Maka semakin tajam mata batin Mas Dikonthole menerobos masuk kedalamnya.  Berusaha mencari serpihan kisah-kisah masa lalu. Barangkali saja dirinya akan menemukan jawaban atas rangkaian sebuah cerita.

Sebuah kisah yang secara turun temurun dikisahkan oleh orang-orang masa lalu, bahwa dari daerah perbukitan inilah jaman dahulu peradaban dan kecerdasan nusantara disebar luaskan keseluruh penjuru dunia. Hingga bergetarlah singgasana nabi Sulaiman.  Puncak kecerdasan nusantara berasal dari perbukitan gunung Sindoro. Ugh..!. Siapakah yang akan percaya, atas apa yang dikhabarkan orang masa lalu kepada dirinya. Itulah yang selalu dinafikan oleh Mas Dikonthole. Kisah-kisah mitos dan legenda sering akan menjadi bahan tertawaan saja. Begitulah kenyataan yang ada di jaman ini.  Begitulah alur pemikiran orang modern jaman sekarang ini, (yaitu)  orang Jawa yang mendapat pendidikan dari luar. Mereka selalu menafikan khabar dari negri sendiri.

Manusia sekarang ini, orang-orang Jawa yang hidup dijaman ini, selalu beranggapan bahwa nenek moyang mereka adalah bangsa yang primitif, yang tidak mengenal akal dan budhi. Hanya bangsa biadab, yang beragama Animisme dan Dinamisme saja. Itulah yang disematkan orang-orang Jawa masa kini atas nenek moyang mereka itu. Sungguh penisbatan yang sangat keterlaluan. Bahkan anggapan ini terus mendapat tempat dalam sistem pengajaran kita, menjadi pelajaran sejarah di sekolah-sekolah umum. Kepada anak didik diajarkan bahwa nenek moyang bangsa Jawa dahulu adalah bangsa primitif , bangsa biadab yang tidak ber Tuhan. Anggapan yang tidak dilandasi ilmu. Hanya parduga yang tidak di dukung fakta yang ada.

Marilah coba kita fikirkan, jika nenek moyang bangsa Jawa tidak ber keTuhanan, mengapa ada candi Borobudur. Pada jaman apakah Borobudur awal mulanya dibangun ?. Maka bolehlah kita berspekulasi bahwa  Borobudur adalah candi yang tidak kalah tuanya dengan Kabah yang didirikan nabi Ibrahim. Inilah khabar yang diterima Mas Dikonthole. Memang menjadi spekulasi yang terlalu berani. Namunkembali ini adalah sebuah keyakinan tersendiri.

Pada setiap masa dan peradaban, Candi Borobudur terus mengalami pemugaran, dijaman-jaman setelahnya, sehingga bentuknya menjadi seperti sekarang ini. Candi Borobudur pada mulanya hanyalah sebuah batu saja, sebuah rumah, namun seiringnya peradaban diperluas lagi dan lagi, hingga mencapai puncaknya pada masa Hindu-Budha. Hanya jika Kabah dipertahankan dalam kesadaran manusia oleh Tuhan. Tidak dengan candi Borobudor, cerita dibiarkan saja bergulir, terserah apa mau manusia memaknainya.

Nenek moyang bangsa Jawa adalah  bangsa-bangsa yang mendiami daerah khatulistiwa. Maka yang dimaksudkan sebagai ‘orang Jawa’ adalah seluruh manusia yang mendiami wilayah di nusantara ini. Semenjak jaman dimana pulau-pulau masih menjadi satu kesatuan, masih berupa daratan yang tersambung antara satu dan lainnya. (Yaitu) daratan yang keadaannya belum seperti sekarang ini, yang kita saksikan, terpisah menjadi pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Papua, dan pulau-pulau lainnya.

Bangsa Jawa adalah bangsa yang mendiami daratan (benua) yang terletak di khatulistiwa. Adalah sebuah bangsa yang sudah memiliki tatanan peradaban yang tinggi. Suatu bangsa yang sudah memiliki kearifan spiritual yang sangat tinggi sekali. Bangsa dengan kecerdasan spiritual yang pilih tanding. (Yaitu) adalah suatu bangsa yang senantiasa mampu menjadi saksi atas kebenaran yang dibawa para Nabi dan Rosul. Merupakan bangsa yang mendiami suatu wilayah yang digambarkan sebagai surga di dalam Al qur an. Maka dalam ayat  Al qur an selalu dikisahkan keadaan surga yang dipenuhi dengan air jernih yang mengalir. Begitulah penggambaran nusantara.

Bangsa Jawa adalah bangsa  yang meyakini Tuhan. Maka setiap agama apapun yang datang selalu akan diterima oleh nenek moyang bangsa Jawa. Adalah suatu kesadaran yang suci berkeTuhanan yang terus menerus diturunkan kepada anak cucunya. Maka sungguh sedih Mas Dikonthole, mendapati realitas kesadaran orang-orang Jawa masa kini. Mereka selalu beranggapan bahwa kearifan yang berdatangan dari luar  ke tanah Jawa, dianggap sebagai kesadaran yang lebih baik dan unggul, lebih baik dari kerifan lokal mereka. Sehingga orang-orang Jawa membuang seluruh kearifan mereka, menafikan kesadaran murni mereka itu.

Bangsa Jawa selalu akan membenarkan berita yang dibawa para nabi, berita yang dibawa kitab suci. Inilah yang menyebabkan seakan-akan kearifan mereka diabaikan. Sesungguhnya kita harus paham, kesadaran seperti apakah yang mampu membenarkan kebenaran yang dibawa para nabi dan kitab suci jika bukan kesadaran murni.  Inilah yang terabaikan oleh kita. Hanya kesadaran yang disucikan saja, yang akan mampu membenarkan berita kebenaran yang dibawa para nabi. Inilah yang sering kita lupakan. Hakekat sang kesadaran murni pasti akan membenrakan berita para nabi. Nah, bangsa Jawa memiliki kesadaran ini, dengan kearifan mereka menerima semua agama-agama. Bangsa Jawa meyakini, dan kemudian mengamalkan, membenarkan, syariat yang dibawa para nabi. Hingga kearifan mereka meliputi agama-agama yang datang, melebur menjadi kearifan ber-agama.


Karenanya kita dapati bahwa sesungguhnya bangsa Jawa tidak pernah menolak khabar kebenaran yang menyambangi mereka. Namun sekali-kali, bukan berarti bahwa bangsa Jawa tidak punya Tuhan dan tidak mengenal Tuhan !. Bukan berarti bangsa Jawa adalah bangsa yang primitif. Ini harus kita kupas dan kita kembalikan kepada kebenarannya dan keadaannya sebab keyakinan sebaliknya saat inilah,  yang sekarang menjadi kesadaran orang Jawa itu sendiri. Orang Jawa selalu beranggapan bahwa neenk moyang mereka adalah bangsa primitif, menganut Animisme dan Dinamisme. Inilah yangharus diluruskan. Hal ini, penting agar orang Jawa mampu menerima kondisi dan keadaannya sebagai
‘wong jowo’. Dalam kesadarannya tidak menolak nenek moyang (baca; leluhur) mereka sendiri. Sehingga mereka berani  menjadi orang jawa yang tidak kehilangan jatidiri jawanya. Inilahupaya dan sungguh menjadi keprihatinan Mas Dikonthole atas orang-orang jawa masa kini.

Kesadaran yang datang kemudian , (yang) menyambangi kesadaran orang Jawa, pada hakekatnya sering tidaklah murni sebagaimana kebenaran yang dimaksudkan Tuhan. Kesadaran suci  seharusnya mampu berserah diri (Islam).  Namun sayang keadaannya, tidaklah begitu. Seiring berjalannya waktu dan peradaban anak manusia, kesadaran suci-pun mengalami pembelokan, dikangkangi oleh kaum berilmu (dari) diantara mereka itu. Sehingga kesadaran yang seharusnya mampu berserah (Islam) mulailah dihinggapi penyakit ujub diri.

Kesadaran yang datang dikemudian menjadi ujub, kesadaran yang menghinggapi kelompok yang tadinya menjadi kaum pilihan Tuhan, akhirnya akan merasa lebih unggul. Begitulah keadaannya. Dan ketika suatu kaum sudah dihinggapi ujub, maka kaum ini secara perlahan akan menjauh dari ber-serah (Islam) meskipun mereka semua tetap menjalankan syariat islam. Begitulah kisah-kisah yang diisyaratkan Al qur an.    Manusia-manusia yang merasa dipilih Tuhan, semakin lama akan merasa lebih unggul dan lebih suci dari manusia manapun dimuka bumi ini. Muncullah rasa ‘sombong’ yang tersembunyi. Rasa inilah kemudian yang akan diturunkan kepada generasi dan peradaban setelah mereka. Sehingga kita dapati  kemudian bagaimana perlaku mereka.

Kesadaran yang datang akan membumi hanguskan seluruh kesadaran yang ada pada masyarakat yang disusupinya. Begitulah keadaan ketika Hindu, Budha, Kristen, bahkan Islam sendiripun tidak terlepas dari penyakit yang sama. Mereka akan meng kloning keadaan diri mereka, kepada masyarakat yang didatangi. Ketika Budha datang, bangsa Jawa dipaksa untuk merubah diri mereka mengikuti peradaban Budha, begitu juga ketika Hindu datang sama saja keadaannya, dan juga  ketika Kristen datang, bangsa Jawa mengikuti saja kebudayaan mereka. mengenakan Jas, stelan, dasi, dan seluruh kebudayaan dan kearifan mereka diadopsi. Masih sama saja, ketika Islam juga datang dengan peradaban padang pasir mereka. Seluruh orang Jawa secara perlahan diarahkan untuk mengikuti kebudayaan dan peradaban padang pasir mereka. Mereka melupakan essensi sibuk dengan atribut-atribut saja. Sehingga perlahan-lahan orang Jawa kehilangan jatidiri Jawanya.

Bagi orang Jawa yang sadar, sebenarnya tidak menjadi masalah, hal itu seperti memakai baju saja. Agama bagi orang Jawa adalah baju, ageman (syariat) yang akan dia pakai untuk menghadap Tuhannya. Maka bagi orang Jawa yang sadar dia akan selalu mematutkan diri,  memilih baju manakah yang pantas pakai, diantara baju Budha , Hindu, Kristen, Kebatinan, dan baju Islam itu sendiri.

Orang Jawa yang sadar akan mencari jatidiri ‘wong jowo’ nya, kemudian dengan tekad bulat mengenakan baju yang dirasa memang pas. Yaitu baju yang mampu mempertahankan keyakinan dirinya terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sebab dari dahulu kala nenek moyang mereka memang sudah meyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa. Sang Hyang Widhi, Gusti Pangeran, dsb. Inilah laku spiritual orang Jawa diantara gempuran agama-agama, yang menerobos kesadaran mereka. Maka dengan keyakinan yang utuh inilah  , Mas Dikonthole menetapkan untuk mengenakan baju Islam. Dirinya telah menemukan hakekat ‘jawa’ nya. Dengan jatidiri ‘wong jowo’ maka dia menerima Islam sebagaimana apa adanya. Berserah sebagaimana keyakinannya. Ber–Islam sebagaimana keadaannya. Berjalan, bertasbih, bersama angin dan burung-burung, dan juga pohon dan gunung-gunung sebagaimana  para leluhurnya dahulu yang senatiasa menjaga alam , menjaga kehidupan dengan laku dan langkah sukarela.

Mengapa dia memilih baju Islam. Sebab menurut Mas Dikonthole Islam telah menetapkan langkah-langkah, dan laku untuk mencapai keadaan berserah (Islam) itu dengan sangat terstruktur dan mudah sekali. Methodologynya sangat simple sekali tinggal kita menjalani saja, mengikuti saja apa-apa yang sudah dicontohkan nabi Muhammad. Karenanya dia tidak perlu lagi susah payah menjalani laku , bertapa, dan lainnya, seperti nenek-nenek  moyangnya dalam mencapai keadaan hal berserah (Islam) tersebut.

Seluruh methode yang ditawarkan oleh Islam, menurut pendapatnya,  memang telah di design oleh sang Pencipta untuk umat jaman sekarang. Methode sederhana dan simple sekali, sehingga orang Jawa sekarang, tdakperlu menjalani laku dan olah spiritual yang sulit-sulit, untuk mencapai posisi keadaan hal berserah (Islam) sebagaimana orang-orang terdahulu. Lihat saja syariatnya semua rukun-rukunnya, ter sistematis, sesuai dengan peradaban terkini, sesuai dengan manusia urban ibukota. Dengan laku yang tersruktur dan tersistematis ini, dan dengan diiringi keyakinan yang benar, maka hasilnya  tidak akan kalah dengan laku nenek moyangnya yang hidup dijaman dahulu. Inilah keyakinan Mas Dikonthole. Maka dirinya menetapi laku spiritual, olah kebatinan melalui  syariat-syariat Islam. Memaknai hikmah dan kejadian dengan methode Iman dan Ihsan. Wolohualam

salam

Bersambung…kisah selanjutnya dalam episode  “ Bara  Langit di  Bukit Argopeni…”

Di kisah selanjutnya…..

Rekan-rekan Mas Dikonthole, menyibak awan dengan kemampuan spiritualnya, sehingga bulan terlihat cerah sekali.  Maka kemudian menjadi jelaslah mana orang masa lalu, titisan ‘leluhur’ dan mana yang hantu gentayangan. Di Bukit Argopeni kisah ini terjadi…

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Curhat Kang Emil pada Ko Ahok di …

Posma Siahaan | | 23 November 2014 | 16:12

Menikmati Kompasianival 2014 Lewat Live …

Gaganawati | | 23 November 2014 | 06:26

Saliman, Buruh Biasa yang Cepat Tangkap …

Topik Irawan | | 23 November 2014 | 16:44

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Menampar SBY dengan Kebijakan Jokowi …

Sowi Muhammad | 8 jam lalu

Dengan Interpelasi, Jokowi Tidak Bisa …

Ibnu Purna | 8 jam lalu

Rangkuman Liputan Acara Kompasianival Akbar …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Kenaikan Harga BBM, Pandangan di Kalangan …

Indartomatnur | 9 jam lalu

Pak Jokowi Rasa Surya Paloh …

Bedjo Slamet | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Kecardasan Tradisional …

Ihya Ulumuddin | 8 jam lalu

Sebaik-baiknya Tahun adalah Seluruhnya …

Ryan Andin | 9 jam lalu

Tak Sering Disorot Kamera Media, Kerja Nyata …

Topik Irawan | 9 jam lalu

Siasat Perangi KKN Otonomi Daerah …

Vincent Fabian Thom... | 9 jam lalu

Pancasila : Akhir Pencarian Jati Diri Kaum …

Vincent Fabian Thom... | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: