Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Hento2008

Praktisi Ayur Hypnotherapy dan Neo Zen Reiki. Menulis adalah upaya untuk mengingatkan diri sendiri. Bila selengkapnya

Spritual: Sepi dari Ritual atau Spirit di Balik Ritual?

OPINI | 30 January 2013 | 05:11 Dibaca: 243   Komentar: 0   1

Itulah arti spiritual. Spirit di balik ritual. Kebalikan dari agama, ritual di atas segalanya. Ritual adalah jalan untuk mencapai spirit atau esensi dari ritual. Apa makna dan tujuan ritual yang dilakukan. Setelah memahami esensinya, melakukan ritual bukan lagi tujuan tetapi sekedar untuk mengingat saja.

Oleh karenanya yang terjadi adalah para penggiat spiritual tidak lagi begitu giat melakukan ritual keagamaan. Ritual Agama merupakan jalan atau sarana menuju esensi atau spirit. Dengan kata lain, tidak ada lagi ada perbedaan bagi pejalan spiritual.

Bila agama di ibaratkan jalan kecil, spiritual bagaikan jalan tol atau jalan raya besar. Spiritual adalah muara dari agama. Tiada lagi yang perlu diperdebatkan. Perdebatan terjadi ketika masih berada di jalan kecil.

Ketika masih berada di jalan kecil, kata yang paling tinggi adalah toleransi. Ketika melakukan perjalanan di jalan raya, toleransi berubah jadi apresiasi. Ia melihat bahwa ternyata jalan - jalan kecil bermuara satu, jalan raya, spiritual.

Kesadaran bahwa sesungguhnya para pejalan atau penggiat spiritual juga berasal dari jalan kecil atau agama semestinya tidak perlu menjadikannya besar kepala atau bersombong diri. Tanpa jalan kecil, tidak mungkin mencapai jalan raya. Pertanyaan yang muncul kemudian, apakah mungkin seseorang lahir ke dunia meloncat ke spiritual tanpa melului jalan kecil lagi?

Bisa saja terjadi. Mengapa? Karena sesungguhnya orang yang demikian pada masa kehidupan masa lalunya sudah menjalani ritual keagamaan, sehingga pada kelahiran sekarang, jiwanya mendesak untuk menuju langsun ke jalan raya.

Hal sama bisa saja terjadi pada seseorang yang lahir sekarang di lingkungan para penggiat ritual, namun jiwanya merasakan ketertarikan yang besar terhadap pemahaman keberagamaan yang lebih luas. Dan pengalaman ini terjadi pada seseorang. ( Baca tulisan: http://fiksi.kompasiana.com/drama/2012/12/29/waduh-wanita-berjilbab-itu-seorang-biku-519778.html ).

Apa yang ditanyakan setelah kematian? Shalat… Betul sekali. Tetapi bukan ritual shalat, esensi shalat itu yang ditanyakan. Bukankah esensi shalat itu untuk mencegah perbuatan yang mungkar? So, esensi shalat akan menjawab di saat dalam liang kubur. Tegakkan shalat, bukan lakukan shalat, dan terjadilah shalat 24 jam sehari… Bukan hanya 5 kali sehari…..

Esensi pembacaan kitab suci pun demikian. Apakaha sudah dilakoni isi kitab suci sehingga menjadikan dirinya lebih baik dan mulia dihadapan Allah. Bukan pembacaan secara harfiah. Bukankah harfiah hanya berurusan dengan manusia? Esensi berhubungan dengan spirit atau jiwa.

Pasti ada yang bertanya, apakah setelah menemukan atau mencapai esensi, ritual tidak perlu dilakukan? Terganng masing - masing. Bukankah seseorang yang sudah merasakan esensi atau spirit di balik ritual sadar bahwa setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri? Ia akan memiliki kemampuan ntuk menilai, apakah hal tersebut menjadi beban bai dirinya atau tidak? Kepada siapakah ia mempertanggungjawabkan segala perbuatannya? Pada manusia atau spirit, jiwa yang menghidupi manusia.

Para penggiat spiritual ¬†merasakan kesatuan dan persatuan dengan alam. Jadi saya sering bingung jika melihat seseorang yang mengaku penggiat spiritual tetapi merendahkan mereka yang masih melakoni ritual keagamaan…. Itu juga masa lalu seorang pejalan spiritual…..

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selamat Tinggal Banjir, Proyek Revitalisasi …

Agung Han | | 30 October 2014 | 21:02

Elia Massa Manik Si Manager 1 Triliun …

Analgin Ginting | | 30 October 2014 | 13:56

[YOGYAKARTA] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:06

Bau Busuk Dibelakang Borneo FC …

Hery | | 30 October 2014 | 19:59

“Nangkring” bareng Tanoto …

Kompasiana | | 27 October 2014 | 10:31


TRENDING ARTICLES

Mantan Pembantu Mendadak PD, Berkat Sudah …

Seneng | 3 jam lalu

70 Juta Rakyat Siap Masuk Bui …

Pecel Tempe | 5 jam lalu

Pramono Anung Menjadi Satu-satunya Anggota …

Sang Pujangga | 9 jam lalu

Mba, Pengungsi Sinabung Tak Butuh …

Rizal Amri | 12 jam lalu

Pemerintahan Para Saudagar …

Isk_harun | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Toleransi terhadap “Orang Kecil” …

Fantasi | 8 jam lalu

Batu Bacan dari SBY ke Obama Membantu …

Sitti Fatimah | 8 jam lalu

Kenapa Orang Jepang Tak Sadar Akan Kehebatan …

Weedy Koshino | 8 jam lalu

Surga Kecil di Sukabumi Utara …

Hari Akbar Muharam ... | 9 jam lalu

Pengampunan Berisiko (Kasus Gambar Porno …

Julianto Simanjunta... | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: