Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Mutiara Andalas

Rohaniwan, pengajar, dan aktivis kemanusiaan

Waiting Outside the Lines

OPINI | 27 January 2013 | 10:41 Dibaca: 186   Komentar: 0   1

WAITING OUTSIDE THE LINES:

Orang Muda, Budaya Pop & Ekaristi


Rules and regulations,
force you to play it safe
Get rid of all the hesitation,
it’s time for you to seize the day

Greyson Chance – “Waiting Outside the Lines”

Deretan kursi-kursi panjang gereja hanya terisi bagian depan oleh para suster. Beberapa lansia duduk berpencaran di antara barisan kursi yang kosong. Sr. Dolores, dirigen koor, memberi tanda kepada paduan suara suster untuk menyanyikan lagu Oh Maria. Aba-aba tangan dirigen, musik piano, dan suara koor berpadu.

Hail holy Queen enthroned above,
Oh Maria,
Hail mother of Mercy and of Love,
Oh Maria,

Triumph all ye cherubim!
Sing with us ye seraphim!
Heaven and Earth, resound the hymn!

Salve (salve), salve, salve Regina!

Harmoni paduan suara menyentak semua yang bersekutu di gereja. Bahkan, anggota koor terpana ketika mendengarkan suara sendiri. Pada tugas-tugas pelayanan sebelumnya, mereka hampir selalu tampil berantakan. Senyum suster kepala tersungging dengan suara merdu mereka yang dibimbingnya. Di pertengahan lagu, dirigen mengubah irama lagu menjadi rancak. Tangan pianis berdansa di atas tuts piano. Harmonis dengan dirigen dan pianis, paduan suara menyanyi sambil menari mengikuti irama musik.

Hail holy Queen enthroned above,
Oh Maria,
Hail mother of Mercy and of Love,
Oh Maria,

Triumph all ye cherubim!
Sing with us ye seraphim!
Heaven and Earth, resound the hymn!

Salve, salve-salve, salve Regina!

(Piano)

Our life, our sweetness here below,
(Oh-o-o)Oh Maria,
Our hope in sorrow and in woe (woe-oh-oh),
Oh Maria,

Triumph all ye cherubim (cherubim),
Sing with us ye seraphim (seraphim),
Heaven and Earth resound the Hymn!

Salve, salve-salve, salve Regina!

A-le-lu-iah

Di mimbar, pastor bersuka cita atas para suster yang biasanya tampil lesu saat bertugas koor. Para misdinar yang awalnya kikuk perlahan menggoyang-goyangkan kakinya mengikuti irama lagu. Para suster menyelipkan lirik rap dalam lagu. Senyum suster kepala berubah cemberut masam.

Mater ad mater inter marata
Sanctus sanctus dominus
Virgo respice mater ad spice
Sanctus sanctus dominus

A-le-lu-iah (A-le-lu-iah)

Our life, our sweetness here below,
Oh-o-oh-o Maria,
Our hope in sorrow and in woe,
Woh-o-oh-o Maria,

Triumph all ye cherubim (cherubim),
Sing with us ye seraphim (sweet seraphim)
Heaven and Earth, resound the Hymn!

Salve, salve-salve, salve Regina! (Salve yeah)
Salve Regina! (woh-o-oh)
Salve Regina!

Suara paduan suara bergema sampai pelataran gereja. Beberapa remaja berpenampilan Punk menyendengkan telinga ketika mendengar alunan musik dari arah gereja. Kaki-kaki mereka mencari pemilik suara. Langkah-langkah mereka meragu ketika sampai di depan pintu gereja. Romo yang memimpin ekaristi mempersilakan mereka untuk ambil tempat duduk di gereja. Film Sister Act 1 menuntun penonton untuk melihat paras kontras gereja. Gereja dari awal sampai menjelang akhir film menyisakan para suster dan lansia sebagai penghuni terakhir. Pada menit-menit akhir film, gereja membludak dengan umat dari segala usia. Di tengah-tengah pujian umat yang memuji kreativitas paduan suara,  suster kepala merenung. Telinga lansianya kesulitan untuk menikmati paduan suara bergaya anak muda. Pada saat bersamaan, ia berbagi suka cita dengan para suster lain yang menyapa kaum muda untuk menemukan kembali gereja sebagai rumahnya.

Di Luar Pagar Gereja

Ketika bebas dari jadual merayakan Ekaristi, saya  menyempatkan diri untuk bercengkerama dengan umat yang jaga parkir dekat pastoran. Dari tempat ngobrol, saya leluasa melihat umat yang bergegas memasuki kompleks gereja. Ketika mendapati ruangan di dalam pagar gereja telah penuh, sebagian akhirnya duduk, bahkan berdiri di luar pagar gereja. Beberapa kaum muda duduk di atas sadel kendaraan bermotor. Sebagian duduk di tepi taman dan menjadikan pembatas taman sebagai ruang duduk darurat. Mengharukan melihat gairah mereka untuk berjumpa dengan Allah dalam perayaan Ekaristi. Kenangan saya kembali pada adegan muda-mudi Punk di pelataran gereja dalam film Sister Act 1. Betapa sering kita berprasangka buruk terhadap mereka sebagai yang datang ke gereja hanya untuk memenuhi kewajiban agama. Kekhusyukan mereka di tengah-tengah kebisingan jalan Abubakar Ali untuk menghadap Allah mengundang saya untuk memandang mereka sebagai para peziarah Allah.

Penamaan yang benar kepada orang muda menyingkapkan besarnya kepedulian, bahkan kecintaan kita kepada mereka. Sebaliknya, penamaan yang keliru membongkar kurangnya kepedulian, apalagi kecintaan kita kepada mereka. Generasi èla-èlu salah satu nama favorit yang gereja mengenakannya pada orang muda. Pada masa anak-anak, mereka banyak menghabiskan waktu dengan play station dan berkunjung ke warung internet. Ketika beranjak remaja, mereka suka berhura-hura dan orang tuanya cemas akan kenakalan mereka, terutama narkoba. Perasaan suka atau tidak suka seringkali menjadi acuan dalam menjatuhkan pilihan. Jiwa mereka masih labil. Pada saat bersamaan, mereka mulai melibatkan diri dalam ibadat gereja, seperti menjadi anggota koor, misdinar,  dan lektor. Dalam mendampingi generasi muda ini, para pendamping hendaknya mengenali bahasa dan gaya mereka.[1] Gereja memandang mereka sebagai warga paroki penuh, bukan penggembira (unthal-unthul).[2]

Para perintis Ekaristi Kaum Muda mulai dengan melukis paras orang muda. Menyaksikan orang muda di luar pagar gereja saat ekaristi, mereka jauh dari buru-buru mendakwa mereka sebagai yang mengikuti ekaristi untuk memenuhi peraturan gereja. Persoalan utamanya bukan mengenai penambahan kursi di luar pagar gereja. Para perintis EKM melihat tantangan untuk menyapa dan mengundang mereka masuk ke dalam pagar gereja. Setelah orang muda masuk ke dalam kompleks gereja, mereka pasang telinga untuk mendengarkan kebutuhan iman mereka. Orang muda menyingkap dahaga mereka akan Allah. Para perintis EKM kemudian mengangkat kisah-kisah iman itu dalam perayaan Ekaristi kaum muda. Di mata mereka, orang muda bukan generasi èla-èlu atau unthal-unthul, melainkan pencari, bahkan pencinta Allah.

Ketika menjumpai Allah dalam Ekaristi, orang muda membawa serta imannya dan budaya populer. Terutama dalam diri orang muda, iman kristiani dan budaya populer berjumpa. Orang muda dekat dengan budaya populer. Budaya ini sudah seperti udara yang mereka menghirupnya setiap saat. Sayangnya kita seringkali tergesa-gesa berprasangka buruk terhadap budaya populer bahkan sebelum mendalaminya. Kita secara gegabah memperlawankan iman kristiani dengan budaya populer. Kita mendakwa perengkuh budaya populer sebagai yang menjauhkan diri dari nilai-nilai kristiani.  Bahkan sebagian menempelkan label antikristiani pada budaya populer. Di mata pengritik, penyelenggaraan acara-acara rohani, termasuk Ekaristi Kaum Muda, tujuannya menangkal pengaruh buruk budaya populer. Mereka berambisi melakukan invasi terhadap budaya populer dengan menyuntikkan nilai-nilai Kristiani.

Pemahaman baru mengenai orang muda dan budaya populer membantu kita untuk kemudian menempatkan Ekaristi. Menanggapi pertanyaan umat mengenai waktu ekaristi, mendiang Tom Jacobs, SJ mengangkat pembicaraan mengenai keseimbangan antara batas kemampuan psikologis manusia dan tujuan Ekaristi, yaitu menghormati dan memuji Allah. Kemampuan orang untuk berdoa, khususnya doa bersama,

tidaklah tanpa batas. Oleh karena itu, mengulur-ulur Ekaristi tidak ada gunanya. Lebih-lebih lagi, suatu perayaan Ekaristi yang bertele-tele dan kurang memberikan semangat sangatlah tidak berguna…. Pada umumnya dapat dikatakan bahwa Perayaan Ekaristi pada hari Minggu hendaknya dibatasi kira-kira satu jam. Pada hari biasa setengah jam. Ini tentu bukan ukuran, melainkan pedoman.[3]

Di mata mendiang Tom Jacobs, perayaan Ekaristi dalam bahasa pribumi masih menyimpan kesulitan. Kata-kata dan tanda dalam perayaan Ekaristi umum seringkali kurang sesuai dengan daya tangkap anak-anak. Akibatnya, gereja merugikan perkembangan rohani pribadi-pribadi tersebut. Gereja hendaknya belajar dari Yesus yang memeluk dan memberkati anak-anak (Mrk 10, 6). Konsili Vatikan II, dalam Konstitusi Liturgi, mendorong gereja-gereja untuk menyesuaikan liturgi dengan ragam kelompok umat.[4] Selain perayaan Ekaristi anak, perayaan Ekaristi remaja, kaum muda, dan lansia merupakan tanggapan kreatif gereja Katolik St. Antonius Kotabaru terhadap nasehat Injil dan amanat Konsili Vatikan II. Ekaristi Kaum Muda, yang menjadi fokus tulisan ini, adalah sebentuk inkulturasi berdasarkan kelompok usia.Ia mendialogkan orang muda, budaya populer, dan iman kristiani. Para penyelenggaranya belajar dari sikap Yesus yang memandang orang muda dengan penuh kasih (Matius 19, 16-30).

Terhadap pertanyaan-pertanyaan, bahkan keberatan-keberatan dari sebagian umat terhadap penyelenggaraan Ekaristi khusus, gereja Katolik Kotabaru setia berpegang pada amanat Konsili Vatikan II.

Liturgi terdiri atas bagian yang tidak dapat diubah, karena dilembagakan secara illahi, dan atas bagian yang dapat diubah, yang selama peredaran zaman dapat atau malah harus bervariasi, apabila ke dalamnya mungkin telah menyusup hal-hal yang kurang serasi dengan hakikat liturgi yang paling inti, atau sudah menjadi kurang cocok” (Sacrosanctum Concillium 21).

Konsili memandang Doa Syukur Agung dan Komuni sebagai yang berasal dari Tuhan Yesus dan mengungkapkan iman Gereja secara penuh. Keduanya inti dan pokok. Bagian-bagian yang bukan pokok dapat, bahkan hendaknya  mengalami perubahan supaya partisipasi umat lebih banyak dan semarak.[5]

Menyadari tegangan-tegangan, bahkan tabrakan-tabrakan dari perjumpaan-perjumpaan tersebut, buku ini mengangkat kisah-kisah perjumpaan orang muda, budaya populer dan iman kristiani. Tulisan-tulisan ini dalam buku ini lebih menampilkan praktek daripada teori dialog. Berangkat dari praktek Ekaristi Kaum Muda, saya akan berbicara mengenai orang muda, budaya populer, dan iman Kristiani. Saya menempatkan diskusi ini sebagai keterlibatan kreatif dalam gerakan katekese liturgi. Pembaca akan segera menemukan buku ini bukan pedoman liturgi dalam arti konvensional yang berisi pembolehan-pembolehan atau larangan-larangan dalam Ekaristi kaum muda. Buku ini menawarkan praktek-praktek dialog yang harapannya inspiratif bagi penyelenggaraan Ekaristi kaum muda. Meminjam istilah Komisi Liturgi Keuskupan Agung Semarang, perspektif-perspektif baru yang muncul dari dialog-dialog ini mendorong perayaan Ekaristi kaum muda yang “inovatif, kreatif, inkulturatif dan kontekstual.”[6]


[1] Komisi Liturgi Keuskupan Agung Semarang, “Remaja yang Terlibat, dari “Éla-Élu” ke “Melu” dalam Bersama Anak dan Remaja Berliturgi: Renungan Bulan Maria dan Bulan Katekese Liturgi (Yogyakarta: Kanisius, 2008), 34-5.

[2] Komisi Liturgi Keuskupan Agung Semarang, “Visi jemaat yang Melibatkan Anak dan Remaja,” dalam Bersama Anak dan Remaja Berliturgi, 65.

[3] Tom Jacobs, SJ., Misteri perayaan Ekaristi, 146.

[4] Tom Jacobs, SJ., 182-3.

[5] Tom Jacobs, SJ., 43-4.

[6] Pedoman Pelayanan Pastoral Liturgi Keuskupan Agung Semarang 2006, 10.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Susahnya Mencari Sehat …

M.dahlan Abubakar | | 30 August 2014 | 16:43

Penghematan Subsidi dengan Penyesuaian …

Eldo M. | | 30 August 2014 | 18:30

Negatif-Positif Perekrutan CPNS Satu Pintu …

Cucum Suminar | | 30 August 2014 | 17:13

Rakyat Bayar Pemerintah untuk Sejahterakan …

Ashwin Pulungan | | 30 August 2014 | 15:24

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22



Subscribe and Follow Kompasiana: