Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Kanedi

Meski bukan ilmuwan saya meyakini bahwa sikap ilmiah sangat perlu dikembangkan.

Bencana: Ketika Uang Tak Bisa Dimakan

OPINI | 20 January 2013 | 10:43 Dibaca: 349   Komentar: 0   3

Bencana banjir yang melanda wilayah Jakarta selama sepekan (15—20 Januari 2013) sudah barang tentu menyisakan trauma fisik dan psikis pada  saudara-saudara kita yang mengalaminya. Namun demikian, sebagaimana umumnya sebuah musibah, selalu ada hikmah (pelajaran )yang dapat kita petik darinya.

Dalam hal bencana banjir di Jakarta ini, inti hikmah yang layak dan perlu kita jadikan bahan renungan terangkum dalam kalimat bijak Cree Prophecy berikut ini:

When all the trees have been cut down,
when all the animals have been hunted,
when all the waters are polluted,
when all the air is unsafe to breathe,
only then will you discover you cannot eat money.

Dalam bencana semua manusia ternyata sama

Uang memang bisa menjadi pembeda status social seseorang. Banyak uang bisa membuat seseorang lebih percaya diri. Berlimpah uang bisa membuat seseorang tampak gagah dan berwibawa, bisa membeli benda apa saja, bisa pergi ke mana suka.

Tetapi satu hal yang tak bisa dibedakan oleh uang, yakni status biologi manusia. Secara biologis, kebutuhan manusia ternyata hanyalah sebatas rongga mulut hingga lubang anus. Tidak lebih! Itu terbukti (terlihat) dalam bencana banjir di Jakarta ini.

Seseorang boleh saja memiliki tabungan milyaran rupiah; punya beberapa rumah megah setara istana dengan lusinan mobil mewah di garasinya; punya puluhan kartu kredit di saku celana, tetapi manakala tak ada sesuatu yang bisa diteguk dan dimakan hanya ada satu rasa saja, lapar.

Saat lapar itulah semua manusia, tak peduli tua atau muda, si kaya atau si papa, penguasa atau jelata, pandir atau cendikia menjadi sama dan setara.

Banjir Jakarta membuktikan itu. Dari tayangan televisi terlihat seseorang membawa kantung plastic berisi nasi bungkus untuk dibagikan kepada warga yang bertahan di rumah-rumah megah di pemukiman kaum elit yang terkepung air.

Boleh jadi dalam keadaan normal, di kala mall dan restoran cepat saji buka, kelompok ini tak pernah mau memakan nasi bungkus, yang di mata mereka adalah makanan orang kecil yang identik dengan nilai gisi dan higenis yang rendah.

Tetapi ketika mobil-mobil mahal mereka terendam, kala semua jalan tergenang, kala semua pusat perbelanjaan sibuk mengatasi genangan air, saat itulah kalimat bijak Cree Prophcy nyata kebenarannya, bahwa ternyata uang tak bisa dimakan.

Pada saat itulah pertanyaan ini pantas dan actual untuk selalu diajukan: Untuk apa sesungguhnya semua “kegilaan” menumpuk kekayaan kita lakukan? Bahwa demi harta itu kita harus pergi fajar pulang larut? Demi uang semua flora dan fauna kita buru dan kita niagakan? Untuk uang semua hutan kita babat, semua rawa kita urug? Jika ternyata kebutuhan hidup biologis  kita  hanya sedikit saja?

Banjir Jakarta adalah cermin kita

Penyebab banjir, khususnya yang terjadi berulang di ibu kota, sudah menjadi pengetahuan umum. Anak kecil, orang buta huruf, hingga orang terdidik-cerdik-pandai semuanya sudah tahu penyebab banjir itu.

Degradasi lahan di kawasan hulu, berkurangya kawasan penampung air (danau dan situ), menyempitnya badan sungai, tiadanya lagi lahan terbuka penyerap air, buruknya drainase, hingga kebiasaan membuang sampah sembarangan adalah penyebab factual banjir yang sudah dihafal orang di luar kepala.

Kalau semua sudah tahu penyebabnya, lantas mengapa musibah itu harus berulang kali terjadi? Agaknya benarlah kata-kata Mahatma Gandhi: “Dunia ini sebenarnya cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap orang, tetapi dunia tak kan pernah cukup memenuhi kebutuhan satu orang yang serakah”

Semoga kita (sebagai bangsa) belum masuk kategori memiliki mentalitas seperti sindiran Mahatma Gandhi itu.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Saat Warga Kupang Anti-McDonald …

Yusran Darmawan | | 29 August 2014 | 06:43

Pak Jokowi, Saya Setuju Cabut Subsidi BBM …

Amy Lubizz | | 28 August 2014 | 23:37

Jatah Kursi Parlemen untuk Jurnalis Senior …

Hendrik Riyanto | | 29 August 2014 | 04:36

Jangan Mengira “Lucy” sebagai Film …

Andre Jayaprana | | 28 August 2014 | 22:59

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Mafia Migas dibalik Isyu BBM …

Hendra Budiman | 9 jam lalu

Pelecehan Seksual pun Terjadi Pada Pria di …

Nyayu Fatimah Zahro... | 15 jam lalu

Jokowi dan “Jebakan Batman” SBY …

Mania Telo | 15 jam lalu

Kota Jogja Terhina Gara-gara Florence …

Iswanto Junior | 18 jam lalu

Dulu Saat Masih Dinas, Kakek Ini Keras …

Posma Siahaan | 22 jam lalu


HIGHLIGHT

Daun Ilalang Publishing (Kembali) Menggeliat …

Rumahkayu | 9 jam lalu

Soal BBM, Bang Iwan Fals Tolong Bantu Kami! …

Solehuddin Dori | 9 jam lalu

Kebahagiaan Termurah, Termudah dan Bisa …

Seneng Utami | 9 jam lalu

Mengajari Anak Siap Kalah sejak Dini …

Daniel Yonathan Mis... | 9 jam lalu

Anak Kami Tak Diakui Kemdikbud (?) …

Nino Histiraludin | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: