Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Rio Krishermono

mencoba memakai nalar sehat

Islam dan Budaya Lokal

REP | 18 January 2013 | 16:40 Dibaca: 1151   Komentar: 0   3

PEMIKIR progresif muslim dari Mesir Prof Hassan Hanafi, dalam bukunya Dirasat Islamiyah (2000:71) menyatakan, ”Wahyu bukanlah sesuatu yang berada di luar konteks yang kukuh tak berubah, melainkan berada dalam konteks yang mengalami perubahan demi perubahan.” Pernyataan Hassan Hanafi tersebut semakin menegaskan sebuah tesis bahwa Islam bukan nebula wahyu yang jauh di langit, terlepas sama sekali dari kenyataan konkret masyarakat. Islam bukanlah suatu creatio ex nihilio: ciptaan yang meloncat begitu saja dari ruang kosong. Nabi Muhammad sebagai penerima adalah seseorang yang ‘diasuh’ oleh lokalitas Arab waktu itu. Ia tidak terisolasi dari konteks. Dengan demikian, wajar jika aspek lokalitas ini terliput demikian luas dalam Alquran. Sejumlah nomenklatur Alquran dengan jelas menunjukkan latar lokalitas kehadiran Alquran ini.

Islam ditayangkan tanpa rigiditas. Islam era Muhammad adalah agama yang cukup akomodatif terhadap tradisi lokal yang telah ada. Dalam khazanah keislaman klasik terekam dengan baik adanya sejumlah ketentuan ajaran Islam yang sengaja dipungut dari tradisi-tradisi sebelumnya, baik pada era kenabian sebelumnya maupun pada zaman kevakuman kenabian. Terhadap pokok soal ini banyak sekali contoh. Misalnya, dikisahkan bahwa anjuran jabat tangan, khitan, puasa, haji, bahkan salat sekalipun bukanlah orisinal bawaan Muhammad saw, tetapi merupakan sesuatu yang diambil dari tradisi masyarakat pra-Muhammad. Ini artinya, bahwa Islam yang hadir di setiap jengkal bumi mana pun selalu merupakan hasil racikan-dialektik antara wahyu dan tradisi. Tak terkecuali Islam yang ada di Mekah atau Madinah. Islam Mekah adalah Islam hasil perjumpaan wahyu dengan tradisi lokal Arab. Begitu juga Islam yang ada di Madinah. Dengan nalar demikian, bisa dimengerti jika karakter dan genre ayat yang turun di Mekah berbeda dengan ayat yang turun di Madinah. Konsep nasikh-mansukh (penganuliran syariat) dengan jelas menunjukkan adanya pertimbangan lokalitas.

Di hadapan Islam Pribumi, budaya-budaya lokal Arab era Muhammad memiliki dua keuntungan sekaligus. Pertama, kita akan dapat mengetahui kepiawaian Nabi di dalam membangun pangkalan-pangkalan pendaratan ajaran inti Islam. Strategi kebudayaan yang telah dilakukan Nabi Muhammad kiranya akan memberi inspirasi tatkala hal yang sama hendak digelar di tempat lain. Kedua, kita bisa melakukan penyaringan, mana-mana yang merupakan tardisi lokal-particular Arab dan mana-mana ajaran universalnya. Artinya, Islam Arab harus diperas sedemikian rupa untuk mendapat sari pati Islam universal. Tentu, proses penyaringan ini harus dilakukan secara hati-hati agar tidak terperangkap pada upaya purifikasi Islam.

Islam Pribumi sama sekali tidak berpretensi untuk mengangkut budaya-budaya lokal Arab untuk coba ditanam di pelbagai belahan bumi Indonesia. Islam Pribumi menyadari sepenuhnya bahwa universalisasi terhadap budaya-budaya lokal Arab seperti itu bukanlah tindakan yang bijaksana, malah kerap berimplikasi pada pupusnya budaya-budaya lokal itu. Lebih jauh, Abdurrahman Wahid menyatakan, proses mengidentifikasikan diri dengan budaya Timur Tengah hanya akan menyebabkan tercabutnya penduduk Indonesia dari akar budayanya sendiri. Sebab, demikian Abdurrahman Wahid, arabisasi belum tentu cocok dengan kebutuhan. Berbeda dengan Wahabisme atau penggerak purifikasi Islam yang hendak menanam tradisi lokal Arab ke tanah Indonesia, maka Islam Pribumi berupaya untuk mendialektikkan ajaran-ajaran inti Islam ke dalam budaya-budaya lokal Indonesia.

***

Dalam aksinya, Islam Pribumi selalu mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan lokal masyarakat di dalam merumuskan hukum-hukum agama, tanpa mengubah hukum-hukum inti dalam agama. Ajaran-ajaran inti Islam itu dihadirkan sebagai kontrol konstruktif terhadap pelbagai kebengkokan yang terjadi dalam lokalitas. Terhadap tradisi lokal yang mempraktikkan perikehidupan zalim, hegemonik, tidak adil, maka Islam Pribumi pasti akan melancarkan kritik kerasnya.

Sedangkan terhadap tradisi lokal yang memberikan jaminan keadilan dan kesejahteraan pada lingkungan masyarakatnya, maka Islam Pribumi akan bertindak sangat apresiatif dan akomodatif. Bahkan, tradisi lokal yang adiluhung seperti itu, di mata Islam Pribumi, memiliki semacam otoritas untuk men-takhsish keumuman teks, baik Alquran maupun Al-Sunnah. Bayangkanlah, bagaimana tradisi yang bersifat profan oleh para ulama ushul fikih kemudian diberi semacam wewenang untuk men-takhshish sebuah teks yang dipandang berasal dari Tuhan. Dalam tataran tersebut menarik juga memerhatikan sebuah kaidah fikih bahwa apa yang terhampar dalam tradisi tidak kalah maknanya dengan apa yang dikemukakan oleh teks.

Dari kaidah ini terlihat dengan terang benderang, betapa para ulama telah memberikan apresiasi yang begitu tinggi terhadap tradisi. Tradisi tidak dipandang sebagai unsur ‘rendah’ yang tak bernilai, melainkan dalam spasi tertentu didudukkan sederajat dengan teks agama sendiri. Jangan lupa, upacara-upacara keagamaan Islam selalu dimeriahkan dengan anasir-anasir budaya yang mencolok. Bagi Islam Pribumi, agama Islam yang dipeluk oleh penduduk Jawa, misalnya, tidak bisa dipandang sebagai Islam pristin yang tidak terpengaruh oleh unsur-unsur lokal, melainkan sebentuk Islam yang dihasilkan dari proses kontekstualisasi. Bahkan, unsur-unsur lokal itulah yang membuat Islam mengalami transformasi bentuk dan ekspresi-penampakan yang beragam. Di tanah Jawa (sebagai salah satu contoh saja), Islam telah mengalami ‘pemaknaan’ ulang melalui optik pribumi-lokal-Jawa yang kerap berlainan dengan Islam dalam optik pembacaan pribumi-lokal-Madinah.

Dengan demikian, Islam tidak bisa dipersempit hanya dengan artefak-artefak teks kuno yang lucut dari relevansi budayanya. Dalam usianya yang semakin matang, kini Islam pasti amat kaya setelah menyerap segala macam manifestasi kultural yang datang dari pelbagai lokasi budaya yang berjenis-jenis. Kearifan lokal dari proses saling memengaruhi antara agama (Islam) dan kebudayaan, itu merupakan sebuah keniscayaan. Jika tidak, yang akan terjadi adalah pembasmian demi pembasmian, satu di atas yang lain. Dan, ini jelas kontraproduktif bagi kelangsungan agama Islam sendiri.

Akhirnya, sembari merespons pelbagai gugatan yang muncul di ruang polemik ini, maka perlu ditegaskan bahwa Islam Pribumi tidak akan memberikan vonis apa pun terhadap sejumlah keyakinan-teologis yang menjadi pegangan masyarakat lokal. Kata musyrik, kafir, murtad, tidak dikenal dalam kamus Islam Pribumi. Dalam ranah teologi ini, Islam Pribumi tidak akan pernah menggantikan posisi Tuhan sebagai Dzat yang paling berhak dan berotoritas untuk menjatuhkan ‘kata putus’ di akhirat nanti perihal kekafiran serta kemurtadan seseorang. Biarkanlah itu menjadi wewenang penuh Tuhan semata. Allah swt sendiri sudah dengan amat tegas mengatakan, ”Sesungguhnya Tuhanmulah yang akan memutuskan di akhirat kelak menyangkut perselisihan yang terjadi di antara mereka (umat manusia).

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hari Pusaka Dunia, Menghargai Warisan …

Puri Areta | | 19 April 2014 | 13:14

Pengakuan Mantan Murid JIS: Beberapa Guru …

Ilyani Sudardjat | | 19 April 2014 | 20:37

Keluar Uang 460 Dollar Singapura Gigi Masih …

Posma Siahaan | | 19 April 2014 | 13:21

Sepotong Senja di Masjid Suleeyman yang …

Rumahkayu | | 19 April 2014 | 10:05

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: