Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Moh Khoiri

Moh Khoiri 22 tahun, dilahirkan di Kota Pati, 30 Oktober 1991. Pendidikan menengahnya dilaluinya di selengkapnya

Mengintip Filsafat Yahudi

OPINI | 17 January 2013 | 15:01 Dibaca: 689   Komentar: 0   0

Pertama-tama, filsafat Yahudi adalah suatu displin akademik. Filsafat Yahudi adalah suatu penemuan (invention) dari para sejarahwan filsafat abad ke -19. Mereka ingin menyatukan para filsuf berdarah Yahudi ke dalam satu kerangka untuk bisa dipelajari dan ditanggapi secara kritis

Sebelum abad ke-19, tidak ada orang yang secara eksplisit mengajukan tesis ataupun pertanyaan terkait dengan filsafat Yahudi. Sebabnya sederhana yakni karena tidak ada yang disebut sebagai filsafat Yahudi. Tidak ada filsuf sebelum abad ke-19 yang mengakui filsafat Yahudi sebagai cabang dari filsafat. Para filsuf berdarah Yahudi seringkali digolongkan di dalam aliran-aliran filsafat tertentu, namun bukan filsafat Yahudi. Hal ini sebenarnya bisa dimengerti, karena pada masa pra-modern dan modern, filsafat, teologi, dan ilmu pengetahuan masih berada di dalam satu kesatuan. Pada masa-masa itu, perbedaan antara ketiganya seringkali tidak jelas.

Sekali lagi perlu untuk ditegaskan, bahwa filsafat Yahudi bukanlah cabang filsafat, melainkan suatu cara untuk menafsirkan tradisi kultur Yahudi dengan menggunakan pendekatan filosofis yang sifatnya rasional, kritis, dan sistematis.

filsafat Yahudi adalah temuan pada sejarahwan filsafat abad ke-19. Tujuan mereka adalah untuk menanggapi suatu situasi dan kondisi jaman tertentu yang dianggap dapat menghancurkan identitas keYahudian. , demikian FL, “muncul sebagai suatu upaya untuk melukiskan, sejalan dengan standar garis akademik, sebuah kesatuan tulisan-tulisan.”[3] Dengan kata lain filsafat Yahudi adalah suatu kesatuan tekstual yang berpijak pada tradisi suku dan agama Yahudi, serta memenuhi standar akademik. Misalnya filsafat Yahudi tidak membahas mistisisme, karena dianggap tidak sesuai dengan standar akademik dan rasionalitas.

Dari pemaparan FL dapatlah disimpulkan, bahwa filsafat Yahudi merupakan suatu displin akademik yang diciptakan pada abad ke-19 untuk memelihara dan mengembangkan tradisi Yahudi, serta untuk menegaskan akar akademisnya

tujuan dari filsafat abad pertengahan, dan juga di dalam Filsafat Yahudi abad pertengahan, bukanlah mempertanyakan tradisi dan agama, melainkan memahaminya dengan cara-cara yang rasional(The House Of Phelosophy).

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perpu Pilkada Adalah Langkah Keliru, Ini …

Rolas Jakson | | 01 October 2014 | 10:25

3 Kesamaan Demonstrasi Hongkong dan UU …

Hanny Setiawan | | 30 September 2014 | 23:56

Punya Ulasan Seputar Kependudukan? Ikuti …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:29

Kompasiana “Mengeroyok” Band Geisha …

Syaiful W. Harahap | | 01 October 2014 | 11:04

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 8 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 9 jam lalu

Masalah Pilkada: Jangan Permainkan UU! …

Jimmy Haryanto | 10 jam lalu

Beraninya Kader PAN Usul Pilpres oleh MPR, …

Sahroha Lumbanraja | 10 jam lalu

Guru Pukul Siswa, Gejala Bunglonisasi …

Erwin Alwazir | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Menuju Organisasi Advokat Muda yang …

Valerian Libert Wan... | 7 jam lalu

Semoga Jokowi-JK yang Membuka Indonesia …

Bambang Trim | 7 jam lalu

Dialog Sunyi dari Hati ke Hati dengan Gus …

Puji Anto | 7 jam lalu

Satu Lagi Atlet Muslim Yang Di …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Eksposisi, Argumentasi, Deskripsi, Narasi, …

Sigit Setyawan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: