Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Filosofi Teori Kreasionisme

OPINI | 17 January 2013 | 17:02 Dibaca: 909   Komentar: 0   2

13585058411373475253Tidak mudah untuk memahami asal muasal dunia yang kita tempati sekarang. Berbagai pertanyaan filosofis dijukan guna mencari titik temu, siapa yang mencipta alam semesta ini dan apa tujuan diciptakannya. Manusia yang bersifat homo religius tidak dapat dengan sendirinya menjawab pertanyaan tentang kausalitas eksistensi alam semesta, kecuali dengan mengajukan adanya Allah Sang Pencipta sebagai sumber dari segala sumber penciptaan. Kajian filsafat tidak mau berhenti hanya sampai pada tataran mempostulatkan eksistensi sesuatu sebagai penyebab mutlak tanpa memberikan dasar-dasar argumentasi yang menguatkan. Tulisan ini akan membahas argumentasi filosofis dan kajian historis beserta paradoks-paradoks teori kresionisme sebagai jawaban dari pertanyaan tentang hukum kausalitas antara Sang Pencipta dan ciptaannya.

KAUSALITAS ALLAH

Kausalitas Allah tidak dapat dipahami sebagai salah satu dari kausalitas-kausalitas yang kita kenal dalam dunia empiris keseharian. Kausalitas Allah bersifat unik. Kausalitas yang dimaksud adalah suatu hukum sebab akibat yang memungkinkan suatu ontologi dapat menjadi penyebab dari eksistensi ontologi lain. Kausalitas Allah merupakan suatu penciptaan. Para filsuf dan teolog abad pertengahan sering menyebut kausalitas Allah pada tataran creatio ex nihillo. Artinya, hanya Allah-lah dzat yang mampu menciptakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Teori-terori yang mendukung gagasan penciptaan tersebutlah yang pada akhirnya disebut sebagai teori kreasionisme.

Di balik segala fenomena dan segala perubahan yang terjadi di dunia ini terdapat misteri. Misteri yang dimaksud adalah misteri eksistensi itu sendiri. Misteri tentang pertanyaan: Mengapa ada sesuatu dari ketiadaan? Bagaimana mungkin bisa dan secara faktual ada suatu eksistensi tanpa disebabkan eksistensi lain? Jika ditelisik lebih dalam, di titik mana batas terakhir kausalitas eksistensi tersebut berhenti? Adakah suatu eksistensi yang tidak terlibat kontingensi? Apakah kontingensi itu? Apakah eksistensi itu? dan seterusnya. Eksistensi menangkap dirinya sebagai aksidental. “Diciptakan bagi alam semesta, berarti berada dalam hubungan transendental di hadapan Allah. Alam semesta bersifat sekunder, kontingen, tergantung pada yang Ilahi.” ~ Teilhard, 1957, jil. 3, 188. Pengalaman empiris tidak memberi kejelasan tentang kausalitas sebagaimana kausalitas pada Allah. Semua sebab yang kita kenal hanya memberi suatu determinasi kepada ‘ada’ dan membuatnya bereksistensi dengan cara tertentu, tetapi tidak membuatnya eksis begitu saja. Sebab-sebab yang dapat kita ketahui dalam realitas hanya mengubah sesuatu yang telah ada menjadi sesuatu yang bersifat lain, bukan sebab yang dapat menciptakan sendiri suatu keberadaan. Kausalitas Allah hanya dapat dimengerti melalui imajinasi, refleksi, dan analogi. Kita dapat ‘meminjam’ eksistensi dan ontologi dalam realitas empiris sebagai analog dari kausalitas Allah. Hal tersebutlah yang dilakukan pemikir kreasionisme guna mencari jalan dan landasan argumen untuk mendekati kausalitas dan eksistensi Allah.

SEJARAH PAHAM KREASIONISME

Paham Nous dari Anaxagoras dan Demiugros dari Plato menyatakan bahwa chaos (kekacauan) melalui mekanisme tertentu telah membentuk dunia sedemikian rupa dengan melibatkan jiwa kosmis. Plato mengemukakan adanya prinsip khora (keharusan mutlak) yang didalamnya terdapat determinasi. Plato menyamakan prinsip tersebut dengan ‘yang tidak ada’. Prinsip tersebut dianggapnya telah eksis sebagai ‘penggerak tidak teratur’ sebelum prinsip tersebut menerima determinasi. Argumentasi ini menjadi cikal bakal munculnya argumentasi Penggerak Pertama dari Aristoteles. Bagi Plato, cosmos (alam semesta) telah ada bersamaan dengan bermulannya waktu. Chaos tidak mempunyai permulaan. Bagi Aristoteles sebaliknya, alam semesta bersifat kekal dan sudah ada sejak masa yang tak terbatas. Ia mengajukan bukti bahwa peredaran langit tidak pernah mengalami permulaan. Dengan demikian, Penggerak Pertamalah yang mempunyai kuasa tak terbatas dengan konsekuensi ketergantungan segala sesuatu pada-Nya. Penggerak Pertama inilah yang disebut Aristoteles sebagai Aktus Murni atau Aktus Purus.

Intervensi Allah dalam alam semesta hanyalah sebagai pihak yang membuka gerakan langit pertama, sebagai pembangkit keinginan pertama. Kemudian langit pertama ganti menggerakkan berbagai sumber-sumber-tindakan (pelaku) kodrati, dan yang terakhir inilah yang satu-satunya merupakan kuasa efisiens. Jadi Allah tidak bertindak atas dunia dalam arti yang sebenarnya. Menurut Plato, kegiatan demiugros atas dasar kebaikannya yang ingin mengkomunikasikan diri. Ia baik, dan dari yang baik, tak pernah lahir sebuah iri hati (kecemburuan) apapun terhadap siapapun. Sementara Aristoteles tidak mengakui ‘ada’nya, baik pengetahuan maupun kasih Allah terhadap hal-hal.

Seiring penyelidikan selanjutnya, ternyata diketahui bahwa paham penciptaan berasal dari lingkup Yudeo-Kristiani. Kitab suci mereka menjelaskan bahwa dunia diciptakan oleh Allah. Kitab kejadian setidaknya memberi penjelasan tentang dua kisah penciptaan. Kisah pertama (Kej. 1-2,4) berasal dari tradisi Elohis. Dlaam kisah tersebut terdapat kata bara yang dalam Seotuanginta diterjemahkan sebagai poiesin, yang dalam Vulgata disebut creavit. Kata tersebut merujuk pada Allah. Kisah kedua (Kej. 2,5ss) berasal dari tradisi Yahwis dengan menampakkan corak antropomorfis yang kuat. Kisah ini berbeda dengan kosmogoni-kosmogoni Babylon. Dalam kisah ini Yahwe digambarkan bertindak secara berdaulat penuh tanpa pembantu. Kebudayaan dan sejarah Israel menyatakan Allah sebagai sau-satunya pencipta segala hal, sebagaimana teori kreasionisme dalam arti sempit, bahwa Allah mencipta segalanya dari ex nihilo. Pernyataan tersebut dikembangkan oleh para Nabi. “Dia yang hidup untuk selama-lamanya menciptakan segala-galannya bersama-sama” (Sir., 18,1). “Aku mendesak, ya anakku, tengadahlah ke langit dan ke bumi dan kepada segala sesuatunya yag kelihatan di dalamnya. Ketahuilah bahwa Allah tidak menjadikan kesemuannya itu dari barang yang sudah ada.” (II MakI., 7,28). Narasi-narasi senada juga di gambarkan dalam kitab Perjanjian Baru. Kitab suci agama Islam juga menjelaskan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa yang menciptakan segala-galanya. Banyak ayat-ayat yang tersurat secara jelas dalam Al-Quran yang menjelaskan tentang ke-Esa-an Allah.

Para filsuf skolastik berusaha membuktikan teori penciptaan dengan rasio akal budi. Thomas Aquinas menegaskan bahwa hanya Allah yang menjadi pencipta segala sesuatu. Allah menciptakan bukan oleh suatu keharusan natural, melainkan oleh aktus yang bebas dari kehendak-Nya. Ciptaan selalu bergantung pada Sang Pencipta. Hal itu menimbulkan perdebatan: Pertama, Mungkinkah Allah mengkomunikasikan kuasa penciptaanNya kepada pihak lain, setidaknya sebagai kausa instrumental? Kedua, perdebatan tentang dunia itu kekal atau tidak. Bonaventura dan kebanyakan tokoh utama magzhab Agustinus mengatakan bahwa dunia mengenal permulaan. Tidak dimungkinkan bahwa Allah menciptakan dunia dari kekekalan. Sementara Aquinas berpendapat bahwa kedua hal tersebut bertentangan. Aquinas tetap bersikukuh mempertahankan pendapatnya.

Tokoh-tokoh filsafat lain pada masa modern yang juga secara intensif memikirkan persoalan penciptaan dan ketuhanan adalah Descartes, Leobniz, Spinoza, dan Immanuel Kant. Pendapat mereka tentang penciptaan bervariasi. Descartes mengajarkan bahwa kebenaran dan hakikat dunia telah diciptakan Allah dengan jalan kausalitas efisien. Perlindungan Allah dianggapnya sebagai penciptaan kembali, seolah-olah setiap saat setiap being kembali ditarik dari ketiadaan. Konsep tersebut dikritik oleh Leibniz yang menganggap hakikat substansi hanyalah satu, yakni Allah itu sendiri. Spinoza membawa aliran panteisme yang juga mengajarkan bahwa Allah adalah hakikat segala-galanya. “Tidak ada sesuatupun yang menghalangi sang filsuf untuk mengejar sampai ujungnya gagasan yang disugestikan padanya oleh mistisisme, yaitu gagasan alam semesta yang bukan lain dari aspek kelihatan dan terjamah dari kasih dan kebutuhan mengasihi, dengan segala konsekuensi yang diakibatkan oleh emosi pencipta.” (Les deux sources de la morale et de la religion)

Pokok pemikiran tentang penciptaan mengalami evolusi sejak pertengahan abad ke-20. Diantara para pemikir kreasionis yang ada adalah Pierre Teilhard, A.D. Sertillanges, Karl Rahner, Etienne Gilson, Keith Ward, dan masih banyak lagi.

KREASIONISME SEBAGAI PAHAM METAFISIK

Tradisi metafisik selalu terpikat oleh monisme. Ciri khas teisme kreasionis adalah selalu membedakan dengan cermat ‘ada’ yang mutlak dan dunia (alam semesta fisik). Idealisme dan Materiasme pada dasarnya sepaham mengenai satu persoalan, bahwa yang ada hanyalah satu macam ‘ada’. Bagi Idealisme, yang ada itu berupa ruh. Sementara bagi Materialisme, yang ada itu berupa materi. Kedua paham tersebut sepakat untuk mengingkari perbedaan antara ada yang tercipta dan ada yang tak tercipta. Maka dengan sendirinya kedua paham tersebut tidak dapat didamaikan dengan paham kreasionisme. Hubungan ada yang mutlak dan dunia fisik baru dapat diketahui dengan argumentasi teisme kreasionistik. Dengan demikian, gagasan penciptaan pada dasarnya bersifat metafisik. Gagasan ini sulit dijelaskan secara empiris eksperimental, bahkan tidak bisa. Adapun penjelasan yang paling mungkin adalah mengunakan analogi dan perhitungan matematis sebagai analisis teknis.

ARTI DAN ISI PAHAM KREASIONISME

Bagi paham kreasionisme, dunia fisik bukanlah ilusi. Dunia fisik itu nyata adanya dan punya ke-khasan eksistensi. Alam semesta bukanlah ‘ada’ yang mutlak. Ia bersifat kontingen. Penciptaan alam semesta tidak berpangkal dari materi yang sudah ada sebelumnya. Alam semesta bukan bagian dari yang Ilahi dan alam semesta terpisah dengan yang Ilahi. Isi dunia (pengada-pengada) diadakan oleh kebesaran dan kebaikan sang Ilahi. Dengan demikian, alam semesta yang dimaksud merupakan anugerah yang diberikan secara cuma-cuma oleh Allah. Anugerah tersebut bersifat sejati dan sengaja. Ada mekanisme aktus penciptaan bebas dan terancang yang menjamin kepadatan ontologis pengada-pengada serta eksistensi yang bersifat pribadi dan konkrit. Ontologi kepribadian dapat mendasarkan diri pada ajaran mengenai kausalitas antara Allah dan ciptaannya. Eksistensi badani, unik, individual, bukanlah suatu kemalangan, ilusi, atau kemerosotan, melainkan suatu penciptaan yang bersifat positif. Arti penciptaan adalah pembentukan pribadi-pribadi yang diciptakan dengan kemampuan untuk mengambil bagian dalam kehidupan ‘ada’ yang mutlak dan bersifat pribadi.

ARGUMENTASI FILOSOFIS PAHAM KREASIONISME

Sebelumnya telah dibahas mengenai gagasan-gagasan penciptaan. Gagasan penciptaan agak sulit untuk dipikirkan dan dicapai satu kesimpulan yang pasti mengenai gagasan penciptaan. Selanjutnya pada bahasan ini akan diterangkan lebih lanjut mengenai alasan-alasan paham kreasionisme.

Sebagai manusia, kita tentunya banyak diajarkan dan mendapatkan pengetahuan dari pengalaman. Pengalaman secara tidak langsung ataupun langsung memberitahu bahwa kehidupan manusia ini segala pengada memiliki awal dan eksistensinya. Disini juga diperlihatkan adanya ajaran bahwa adanya praeksistensi jiwa. Praeksistensi jiwa awalnya dianggap sebuah mitos karena tidak adanya suatu hal dalam pengalaman kita yang bisa melandasi pandangan semacam itu dan membuktikan keberadaannya. Jika pada pendapat lain bahwa jiwa yang sebenarnya menjadi bentuk dinamis dan piñata suatu materi yang beraneka ragam mengubah materi itu menjadi sebuah tubuh yang teratur. Dengan kata lain, bahwa pendapat yang selama ini menyatakan bahwa jiwa turun ke tubuh, sesungguhnya tidak ada sama sekali.

Mengenai masalah penciptaan, hal yang pertama harus kita lakukan adalah dengan tidak mencampur masalah kekekalan dan ketidak-kekalan alam semesta. Karena masalah mengenai kekekalan dan ketidak-kekalan adalah urusan ilmu-ilmu sains, yang mana telah sepakat bahwa alam semesta memiliki awal. Sedangkan masalah yang akan kita bahas disini merupakan masalah penciptaan yang bersifat metafisika. Ada dua hipotesa yang ditawarkan untuk permasalahan penciptaan, yaitu: 1) Hipotesa bahwa dunia memiliki awal. 2) Hipotesa bahwa dunia sudah ada secara abadi (tidak ada awal). Hipotesa disini berguna untuk melihat sebab-sebab yang kemudian muncul dari permasalahan penciptaan.

1. Dalam Hipotesa Permulaan Temporal Dunia

Dalam hipotesa ini dikatakan bahwa dunia memiliki awal, jika dunia memiliki awal bahwa dimungkinkan dunia memiliki pengada atau aktus pencipta terlebih dahulu. Alam semesta tidak mungkin “ada” yang abadi dan tidak mungkin juga keseluruhan ada. Atau dengan kata lain “jika alam semesta pernah mulai ada, maka ia tidak mungkin merupakan “ada” yang satu-satunya; mau tidak mau harus dapat suatu “ada” yang tidak mengenal permulaan, yang memungkinkan adanya alam semesta”.

Jelas bahwa dari ketiadaan mutlak, tak satu pun “ada” dapat timbul. Hal ini selaras dengan pemikiran Lukresius “ex nihilo, nihil”. Suatu “ada” sudah selalu ada, maka sebab tidak mungkinlah keseluruhan “ada” didahului oleh ketiadaan mutlak. Yang dimaksudkan dengan “ada” yang kekal atau sudah selalu ada disini bukanlah sesuatu yang bersifat fisik atau material, melainkan sebagai hal yang metafisik. Dengan begitu, bias ditarik suatu kesimpulan bahwa alam semesta kita ini berasal dari suatu “ada” yang bersifat mutlak dan wajib, tanpa awalan, dan berbeda dari dirinya.

2. Dalam Hipotesa Suatu Dunia Tanpa Awal Temporal

Berbeda dengan hipotesa sebelumnya yang menyatakan bahwa dunia memiliki awal, disini dinyatakan bahwa dunia tidak mengenal awal. Dalam hipotesa ini sebenarnya ajaran mengenai adanya aktus pencipta bukanlah masalah mengenai ada tidaknya awal. Jika melihat sejarah alam semesta ini merupakan serangkaian timbulnya pengada-pengada baru. Alam semesta adalah sebuah sistem yang mulai setiap saat. Alam semesta bukanlah ada yang mutlak dan ia bersifat kontingen dan bergantung pada yang “ada” lain secara hakiki. Bagi Spinoza alam semesta tidak mungkin memiliki awal, maka ia pun tidak mungkin mengalami suatu keterjadian atau evolusi, alam adalah sebuah sisitem yang tidak berevolusi: Natura, siva Deus. Dengan kata lain bahwa Allah tidak berevolusi.

Penciptaan bagi Allah bukanlah sebuah tindakan membuat mulainya adanya ada-ada, melainkan mempertahankan mereka dalam eksistensi mereka. Maksudnya adalah struktur yang ada pada makhluk hidup berlangsung, maka selama itu pula lah ketidakmampuan mereka mengeksistensikan diri berlangsung.

Hasil penciptaan Allah disebut sebagai Karya Ilahi. Karya Ilahi yang mencapai ciptaan ‘esse’ mereka, mengakibatkan berbagai ketergantungan yang mengatasi determinasi atas “ada” itu sendiri. Tindakan penciptaan bias juga kita analogikan dengan tercpancarnya sinar matahari yang tidak bias berhenti sesaat tanpa menyebabkan segera padamnya keindahan siang hari. Penciptaan tidak memuat suatu awal pun dan bahkan tidak bias mendasari pembedaan rasional antara penciptaan dan konservasi.

Kehendak pencipta Allah adalah bebas dan harus mengesampingkan segala determinisme dari kehendak Ilahi. Kehendak pencipta Allah memang tidak terbatas, namun hal ini sering sekali berbenturan dengan pendapat orang-orang mengenai bahwa kebaikan adalah suatu hal yang terbatas, padahal hakikatnya adalah kebaikan tidak ada yang terbatas yang bias mengharuskan pada kehendak ilahi.

Kemahakuasaan Ilahi adalah aktualitas-Nya yang tak terbatas, sejauh orang memandangnya sebagai sumber aktual segala yang bereksistensi dan sumber yang mungkin dari segala yang mungkin. Ia adalah kepenuhan yang subur dari Ada Ilahi. Kemahakuasaan Ilahi bias dikenali dari penciptaan. Ia dikenal mampu mencapai segala yang dijangkau oleh “virtus essendi”, yaitu lewat segala yang bias bereksistensi.

Kekuasaan Allah dibedakan menjadi dua, yaitu kuasa mutlak dan kuasa tertentu. Kuasa mutlak mencakup segala hal yang mutlak mungkin (tidak mengandung kontradiksi). Sedangkan kuasa tertentu berisi pertimbangan mengenai sifat-sifat Allah yang lain dan juga keputusan-keputusan bebas, yang mana seakan-akan Alah telah memutuskan untuk mentaati suatu aturan umum tertentu.

NILAI DUNIA DALAM KREASIONISME

Sepintas, ajaran mengenai keharusan (penciptaan) seakan meninggikan nilai dunia, yakni dengan menaikanya pada tahap ilahi. Tetapi pada kenyataanya keharusan itu malah menirunkan Allah. Necessitism, karena tidak mampu memahami Allah sebagai aktus murni dan memandangNya sebagai sebuah kodrat yang jika mengacu pada Spinoza yaitu natura naturans. Sehingga Allah dipenjartakan dalam ciptaanNya dan meletakanNya dalam kesinambungan dengan karyaNya yang berimplikasi pada mengurangi transendensi illahiNya itu sendiri. Sebaliknya, kehormatan dunia adalah menjadi hasil dari suatu pilihan bebas.

KEBEBASAN MANUSIA DALAM PAHAM KREASIONISME

A. Problem Mengenai Kebebasan Manusia di Depan Allah Yang Maha Tahu Dan Maha Kuasa

Mengenai hubungan antara Allah dengan manusia, ada beberapa pertanyaan yang mendasar yang menjadi problem, misalnya : jika Allah mengetahui segala sesuatu, tahu mengenai apa yang akan saya lakukan, apa yang akan terjadi pada saya di masa mendatang dll, maka bagaimanakan saya dapat dikatakan bebas?. Bagi penulis, problem ini sangat mengganggu bagi kalangan pemikir dan bahkan bisa mengganggu ketenbangan batin seseorang. Maka munculah beragam keberatan yang selanjutnya bagi penulis dianggap sebagai keberatan eksistensial. Perlu bagi kita untuk mengatasi berbagai keberatan ini dan perlu juga untuk membicarakanya karena hal ini terdapat pada hampir semua orang. Dalam usaha untuk menjawaab pertanyaan yang radikal seperti itu, kita dihadapkan pada dua kemungkinan, kemungkinan pertama yaitu jika kita ingin menyelamatkan kebebasan manusia berarti secara tidak langsung sama saja dengan mengurangi kekuasaan Allah, atau kita berusaha untuk meneguhkan kekuasaan Allah tetapi dengan tidak dengan benar benar menghormati kekuasaan manusia. Tentu saja penyelesaian seperti ini sangat mengecewakan karena dengan menghendaki untuk memahami bagaimana kehendak manusia dapat tinggal sebagai kehendak manusia sejati dihadapan kehendak Allah yang tidak mungkin luput dari tujuan dengan cara menempatkan kedua kehendak tersebut pada taraf yang sama dan dengan denominator yang sama. Itulah mengapa kita tidak dapat memecahkan problem seperti ini secara langsung. Karena pada konsepnya, kita akan sangat sulit memahami bagaimana yang terbatas dapat berkoeksistensi dengan yang takterbatas. Namun, pertanyaan ini bukan berarti tidak masuk akal.

B. Kunci Interpretasi : fenomenologi kegiatan dan analogi transkonseptual

Lalu apa yang harus kita lakukan? Yaitu pertama tama kita harus tetap menghormati fakta bahwa dunia terbatas itu benar benar nyata, kebebasan manusia pun nyata walaupun secara tidak sempurna, dan kontingensi dunia menuntut adanya seorang Allah pencipta untuk menerangkan sesuatu yang tidak bisa diterangkan melalui adanya manusia. Sehingga kita harus mengakui adanya Allah sang Pencipta, Yang Tak Terbatas dan mengatasi akal budi manusia. Tetapi hal yang tidak bisa dipahami secara langsung atau konseptual dapatdipahami melalui analogi. Sehingga kita dapat melihat bahwa Yang Tak Terbatas itu tidak meniadakan keaslianya dari yang terbatas, namun merupakan sumber yang wajib dari keaslianya itu sendiri atau dengan kata lain, Yang Tak Terbatas ini tidak meniadakan kebebasan saya sebagai manusia. Kesukaran konseptual ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang absurd atau ungkapan dari sebuah absuditas melainkan tanda dari suatu misteri yang terletak dalam tata trans-konseptual (tata yang mengatasi konsep).

Menerima pengaruhNya samasekali tidak berarti kita kehilangan kebebasan, tetapi sebaliknya, yaitu memperoleh kebebasan dan memekarkan kebebasan. Disitulah kita seolah olah mendapatklan sebuah kunci untuk memahami secara analogis dan tidak langsung arti misteri yang telah dikemukakan diatas, yaitu Jika Allah mahakuasa, menguasai segalanya, pencipta segalanya, bagaimanakah saya dapat menjadi makhluk yang asli/otentik dan bebas?

Berikut penjelasanya :

Allah adalah pencipta yang mutlak

Benar, tapi bukan sebagai tindakan fisik mekanik; Ia hidup

Bukan sebagai tindakan fisik yang lebih halus yang membawa akibat biologis sebab Ia bersifat Rohani

Ia bukan hanya daya pengetahuan semata-mata, sebab Ia bersifat Mempribadi

Allah menciptakan segalanya tidak lain adalah karena cintaNya semata yang tanpa pamrih sebab Ia sendiri sempurna dan tidak membutuhkan apapun dan kita pun diciptakan karena kemurahanNya.

Hal ini pun bukanlah jawaban atas problem kehendak manusia dan kehendak Allah. Hal ini hanya menunjukan bahwa kesulitan konseptual yang kita hadapi bukanlah suatu absurditas tetapi merupakan tanda bahwa kita berhadapan dengan sebuah aspek “ADA” yang terdalam.

KREASIONISME DAN WAKTU

Apakah akal budi kita mengetahui bahwa dunia telah mulai secara temporal? Atau apakah ia kekal?

  1. kekekalan dunia tidak dituntut dan tidak pernah dibuktikan

a). Sebelum penciptaan tidak ada waktu, jadi kata “sebelum” tidak tepat. Atau bjika begitu dapat dikatakan : “Allah tidak ada sebelum dunia ada sebab sebelum itu sendiri tidak ada”.

Juga tidak bisa dikatakan bahwa “dunia pasti telah tercipta ab aeterno” sebab seandainya ia tidak diciptakan, “ab aeterno”, tidak aka nada alasan yang kuat untuk menerangkan bahwa ia telah diciptakan pada saat tertentu dan bukan pada saat lain.

b). Dalam konteks dan sudut pemikiran yang sama, kita juga tidak boleh membayangkan bahwa Allah telah menciptakan dunia lebih awal dari penciptaanya pada kenyataanya. Juga tidak boleh membayangkan sebuah waktu dimana hanya ada Allah. Bila kita membuat pengandaian ini akan berimplikasi pada pemikiran kita bahwa Allah menempati waktu.

Allah tidak ada sebelum dunia ada, sebab kata sebelum dalam hipotesa tersebut tidak mempunyai arti. Yang benar adalah bahwa keberlangsungan tanpa batas itu adalah satu satunya skema yang paling memungkinkan untuk kita mengerti mengenai kekekalan.

  1. permulaan temporal dunia tidak bisa dibuktikan secara ‘apriori’

Sebuah dunia tanpa permulaan sama sekali bukanlah sebuah hal yang kontradiktoris bagi pihak pencipta maupun yang diciptakan. Sama sekali tidak harus ditolak secara apriori bahwa hal hal itu telah ditentukan di dalam eksistensi sejak kekal.

TUJUAN PENCIPTAAN

1. Arti ungkapan “Kemuliaan” Allah

Pertama tama harus kita hindari anggapan bahwa Allah merupakan sosok yang haus akan hormat, pujian dan pujaan. Kemuliaan Allah terletak dalam komunikasi kebaikanNya kepada ciptaan ciptaanNya itu sendiri. Kebaikan Allah adalah manusia yang hidup (Santo Ireneus). Sebagai ciptaan, tidaklah layak untuk memandang dirinya sebagai sarana yang digunakan oleh Allah untuk memuliakan diriNya sendiri.

2. Kemuliaan “objektif” dan “formal”

Kemuliaan Allah dapat dibedakan mendaji kemuliaan objektif dan kemulian formal. Kemuliaan Allah objektif adalah komunikasi kebaikan kebaikan kepada makhluk makhluk itu sendiri. Sedangkan kemuliaan Allah formal adalah pengakuan komunikasi oleh pihak makhluk atau definisi yang dapat dianggap tepat adalah “clara cum laude notitia”.

Allah dimuliakan secara formal oleh makhlukNya jika makhluk itu sendiri menakui bahwa ia menerima kebaikan dari Allah. Tapi dengan catatan bahwa kemuliaan formal itupun adalah sebuah partisipasi, sebuah komunikasi, suatu anugrah Allah yang lebih tinggi.

Penciptaan merupakan satu satunya penjelasan dasariah, yang sembari mengakui eksistensi Allah sebagai kenyataan yang harus diterima bila orang mau setia terhadap tuntutan intelektual roh. Bila orang menghapus transendensi Allah dan mereduksiNya ke dalam imanensinya, maka ia akan merusak apa yang pokok dalam agama yang membinasakan satu satunya dasar yang mungkin bagi agama, yang terletak dalam sebuah dialog antarpribadi. Kreasionisme adalah dasar metafisis semua agama yang di pahami dalam arti yang sebenr-benarnya. Jika tidak, agama menjadi panteisme atau suatu magisme kabur. Penciptaan merupakan suatu komunikasi, dimana komunikasi sebagai sebuah tindakan eksistensi yang menimbulkan sebuah eksistensi lain. Meskipun bereksistensi tanpa wajib sedikitpun dan tanpa manfaat bagi Allah, namun Allah tetao bereksistensi. Itulah hal yang paling misterius, paling mengherankan, dan paling menakjubkan dalam konteks eksistensi dan kreasionisme Yang Ilahi.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kabar Buruk untuk Pengguna APTB, Mulai Hari …

Harris Maulana | | 01 August 2014 | 11:45

Aborsi dan Kemudahannya …

Ali Masut | | 01 August 2014 | 04:30

Mendekap Cahaya di Musim Dingin …

Ahmad Syam | | 01 August 2014 | 11:01

Generasi Gadget dan Lazy Parenting …

Umm Mariam | | 01 August 2014 | 07:58

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

ANTV Segeralah Ganti Nama Menjadi TV India …

Sahroha Lumbanraja | 3 jam lalu

Macet di Jakarta Gubernur Disalahkan, …

Amirsyah | 6 jam lalu

SBY-MEGA Damai Karena Wikileak …

Gunawan | 6 jam lalu

Perbedaan Sindonews dengan Kompasiana …

Mike Reyssent | 15 jam lalu

Lubang Raksasa Ada Danau Es di Bawahnya? …

Lidia Putri | 19 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: