Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Faiz Al-jawahir

mahasiswa jurusan pendidikan agama islam UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG aktivis HMI komisariat tarbiyah cabang kabupaten selengkapnya

Perlunya Ilmu Sosial Profetik

OPINI | 10 January 2013 | 04:00 Dibaca: 40   Komentar: 0   1

Perdebatan teologis di kalangan umat Islam Indonesia, menurut penilaian Kuntowijoyo, masih berkutat pada tataran semantik. Di satu pihak, kalangan yang berpegang teguh pada konvensi Islam masih memahami teologi sebagai ilmu kalam, suatu disiplin yang mempelajari ilmu ketuhanan, bersifat abstrak, normatif dan skolastik, dengan tetap menekankan pada pengkajian ulang terhadap ajaran-ajaran normatif yang telah terumuskan dalam berbagai karya kalam klasik. Kajian-kajian yang dilakukan lebih bersifat refleksi-normatif. Sementara pihak lain, justru melihat teologi sebagai penafsiran terhadap realitas dalam perspektif ketuhanan, jadi lebih merupakan refleksi-empiris. Pihak ini cenderung menekankan pada reorientasi pemahaman keagamaan pada realitas-empiris kekinian, atau mengajak pada upaya untuk melakukan refleksi-aktual dan empiris.

Di tengah perdebatan semantik tentang teologi di atas, muncul gagasan yang dikemukakan oleh pihak kedua, berupa perlunya merumuskan suatu teologi baru yang di sebut teologi transformatif. Gagasan yang semula dilontarkan oleh Moeslim Abdurrahman ini  menyiratkan  serangkaian  kritik  yang  tajam  terhadap  teologi-teologi  tradisional  yang dianggap kehilangan relefansinya sehingga dianggap perlu untuk dirombak. Hal inilah yang kemudian menimbulkan reaksi pihak pertama, suatu reaksi yang kemudian melahirkan perdebatan dan salah paham.

Kuntowijoyo menyimpulkan bahwa pedebatan yang terjadi ini menandakan belum bisanya umat Islam Indonesia untuk menerima gagasan pembaharuan teologi. Hal ini karena sebagian besar umat Islam menganggap persoalan teologi itu telah selesai. Teologi difahami hanya terkait dengan konsep ketuhanan, doktrin tawhid. Gagasan tentang pembaharuan teologi sama halnya dengan upaya untuk merubah doktrin sentral Islam tentang keesaan Tuhan tersebut. Dalam konteks inilah, Kuntowijoyo kemudian menawarkan konsepnya, “ilmu sosial transformatif” yang selanjutnya lebih spesifik disebut “ilmu sosial profetik”.

Dari Ilmu Sosial Transformatif Ke Ilmu Sosial Profetik

Perdebatan semantik teologis yang berawal dari kesalahpahaman, seperti telah disinggung di atas, menandakan bahwa masih sangat banyak masyarakat Indonesia yang belum bisa menerima reinterpretasi teologis, seperti yang ditawarkan oleh kalangan pembaharu. Oleh karena itu, menurut Kuntowijoyo, dibutuhkan “jembatan” yang dapat menetralisir perdebatan tersebut. Menurutnya, langkah pertama yang harus ditempuh adalah menghindari penggunaan istilah teologi, karena di samping akan membingungkan, istilah ini juga belum bisa meng-cover secara utuh kehendak sesungguhnya konsep teologi transformatif  seperti  yang  digulirkan  oleh Abdurrahman. Istilah ini bisa dirubah ilmu sosial transformatif, misalnya.

Tampaknya Kuntowijoyo lebih cenderung untuk menggunaan istilah “ilmu sosial”. Penggantian istilah “teologi” dengan “ilmu sosial” dimaksudkan untuk menegaskan sifat dan maksud dari gagasan tersebut, jika gagasan pembaharuan teologi adalah agar agama diberi  tafsir  baru  dalam  rangka  memahami  realitas,  maka  metode  yang   efektif   untuk

Maksud tersebut adalah mengelaborasi ajaran-ajaran agama ke dalam bentuk suatu teori sosial. Tampaknya Kuntowijoyo mencoba membebaskan gagasan transformasi dari pretensi doktrinal, sebagaimana  hakekat kebenaran ilmu yang memang bersifat relatif. Ini berarti bahwa dengan “ilmu sosial” terbuka kemungkinan adanya perumusan ulang, revisi dan rekonstruksi secara terus menerus baik melalui refleksi empiris maupun normatif - sesuatu yang jauh lebih sulit dilakukan jika kita menggunakan istilah teologi.

Tetapi Kuntowijoyo melihat kelemahan-kelemahan yang terkandung dalam rumusan ilmu sosial. Menurutnya, dewasa ini ilmu sosial sedang mengalami kemandegan. Itu sebabnya muncul ilmu sosial transformatif, yang tidak berhenti hanya untuk menjelaskan fenomena sosial, namun juga berupaya untuk mentransformasikan. Masalahnya adalah ke arah mana transformasi itu dilakukan, untuk apa dan oleh siapa? sampai disini, ilmu sosial transformatif tidak memberi jawaban.

Berkaitan dengan itu, Kuntowijoyo memperkenalkan “ilmu sosial profetik”. Menurut rumusannya, ilmu sosial profetik tidak hanya menjelaskan dan mengubah fenomena sosial, tetapi juga memberi petunjuk ke arah mana transformasi itu dilakukan, untuk apa dan oleh siapa. Oleh karena itu ilmu sosial profetik tidak sekedar mengubah demi perubahan, tapi mengubah berdasarkan cita-cita etik dan profetik tertentu.

Dalam kontek ini, Kuntowijoyo memperkenalkan cita-cita profetik bagi umat Islam yang meliputi humanisasi, emansipasi, liberasi dan transendensi sebagai suatu cia-cita profetik yang diderivasi dari misi historis Islam (Ali Imran: 110). Humanisasi bertujuan memanusiakan manusia dalam konteks masyarakat industri yang mengalami proses dehumanisasi. Liberasi bertujuan pembebasan bangsa dari kekejaman kemiskinan dan keangkuhan tehnologi, dan pemerasan kelimpahan. Sedangkan tujuan transendensi adalah menambahkan dimensi transendental dalam kebudayaan.

Dalam pada itu, Kuntowijoyo juga mengingatkan perlunya dilakukan reorientasi terhadap epistemologi melalui ilmu sosial profetik, yaitu orientasi terhadap mode of thought dan mode of inquiry, bahwa sumber ilmu pengetahuan itu selain dari rasio dan empiris, juga bersumber dari wahyu.

Berdasarkan konstatasi di atas, Kuntowijoyo kemudian mengingatkan agar umat Islam tidak khawatir berlebihan terhadap dominasi sains Barat. Meskipun dalam proses theori-building, terjadinya peminjaman dari sintesis dengan khazanah ilmu Barat tidak dapat dihindarkan. Hal itu menurut Kuntowijo, karena Islam adalah sebuah paradigma yang terbuka. Islam merupakan mata rantai peradaban dunia. Untuk itu Kuntowijoyo menulis:

Dalam sejarah kita melihat Islam mewarisi peradaban Yunani-Romawi di Barat, dan peradaban-peradaban Persia, India dan Cina di timur. Selama abad VII sampai XV, ketika peradaban-peradaban besar di Barat dan timur itu tenggelam dan mengalami kemorosotan, Islam bertindak sebagai pewaris utamanya untuk kemudian diambil alih oleh peradaban Barat sekarang melalui renaisance. Jadi Islam menjadi mata rantai yang penting dalam sejarah peradaban dunia. Dalam kurun delapan abad itu Islam bahkan mengembangkan warisan-warisan ilmu pengetahuan dan tehnologi dari peradaban-peradaban tersebut”.

Komentar

Hal yang melatari munculnya gagasan Kuntowijoyo, ilmu sosial profetik, adalah perdebatan teologis, terutama teologi transformatif. Ia menghendaki agar gagasan transformasi itu bisa membumi, sehingga term yang “melangit” itu dicoba bumikan dengan term yang profan.

Meskipun demikian, Kuntowijoyo tidak menginginkan hilangnya nilai-nilai normatif dalam gagasan transformasi, sehingga ia merumuskan karangka epintimologi ilmu sosial profetiknya berada dalam paradigam al-Qur’an (baca: Islam), dengan menekankan pendekatan sintetik-analitik dalam kajiannya. Dengan demikian akan dapat diperoleh ikatan dialektis antara yang sakral dan normatif (al-Qur’an) dengan yang profan.

Dalam mewujudkan cita-cita profetik ini, menurut Kuntowijoyo, umat harus terlibat dalam sejarah kemanusiaan untuk turut serta melakukan humanisasi (memanusiakan manusia), liberasi (membebaskan manusia dari penindasan), dan transendensi (membawa manusia beriman kepada Allah). Ilmu sosial profetik yang dicetuskan oleh Kuntowijoyo ini menekankan suatu etika yang berlandaskan kaidah-kaidah agama dalam aplikasi dilapangan. Ilmu sosial profetik tidak boleh dipaksakan, ilmu itu harus elektik, bersifat terbuka, menimba dari banyak sumber, sehingga ada Cross-fertilization. Pilar dari ilmu sosial profetik itu ada tiga, yaitu amar ma’ruf (emansipasi), nahi munkar (liberasi), dan tu’minunabillah (transendensi). Dari ketiga pilar tersebut dapat dipilih untuk dijadikan tema dalam melakukan kegiatan penelitian. Penelitian ilmu sosial profetik yang tujuan prioritasnya adalah untuk memecahkan persoalan umat menghadapi masyarakat industri yaitu masyarakat kota, masyarakat global, masyarakat pengetahuan, dan masyarakat abstrak.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Keluarga Pejabat dan Visa Haji Non Kuota …

Rumahkayu | | 30 September 2014 | 19:11

Me-“Judicial Review” Buku Kurikulum …

Khoeri Abdul Muid | | 29 September 2014 | 22:27

Spongebob dalam Benak Saya …

Ire Rosana Ullail | | 30 September 2014 | 16:48

Sepak Bola Indonesia Kini Jadi Lumbung Gol …

Arief Firhanusa | | 30 September 2014 | 15:58

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Indahnya Teguran Allah …

Nduk_kenuk | 9 jam lalu

Kumpulan Berbagai Reaksi Masyarakat …

Elvis Presley | 11 jam lalu

Asian Games Incheon: Kagum atas Pelompat …

Hendi Setiawan | 13 jam lalu

UU Pilkada, Ahok dan Paham Minoritas …

Edi Tempos | 14 jam lalu

People Power Menolak Penghapusan Pilihan …

Daniel Setiawan | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Smartphone dan Pribadi Boros Energi …

Dian Savitri | 8 jam lalu

Gerakan Indonesia Menulis; Mencari Nilai …

Rendra Manaba | 8 jam lalu

Pegawai BRI Beraksi Bak Debt Collector …

Rusmin Sopian | 8 jam lalu

Tradisi dan Teknologi …

Susy Haryawan | 8 jam lalu

Pisah Sambut Kejari Singaparna …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: