Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Ulul Rosyad

Menyukai hal yang berbau misteri dan tempat bersejarah. http//www.akarasa.com

Kenapa Toh Pak, Saat Sholat Kita Angkat Tangan dan Sedekap?

REP | 31 December 2012 | 12:48 Dibaca: 772   Komentar: 0   4

“Kenapa toh pak,  saat shalat kita mengangkat kedua tangan dan setelah itu beersedekap di dada?”

Barangkali pertannyaan diatas adalah sebuah pertannyaan yang tidak penting, terlebih untuk yang lebih tahu tentang agama. Namun, ini tidak berlaku untuk saya, maklum tidak pernah mondok secara formil dalam pesantren, adapun kalau dibilang belajar ya cuman ngaji di langgar-langgar kecil di kampung saya tinggal.

Nah, pertannyaan tersebut terlontar dari anak saya yang kelas lima SD beberapa hari yang lalu selepas dia shalat maghrib berjamaah di musholla dekat rumah. Tentu saja  pertanyaan ini membuat saya bingung menjawabnya. Dengan jawaban klasik saya menjawab, “Sudah adik masuk dulu, ganti pakaian, dan belajar!”. Saya yakin anak saya kecewa atas pertanyaan yang tak terjawab itu. Memang anak-anak zaman sekarang kritis-kritis!

Hari berlalu, anehnya, pertannyaan anak saya begitu mengusik perasaan saya, dan pertanyaan ini sebelumnya tidak pernah terpikirkan apalagi ‘ngerti ‘jawabannya. Dalam sebuah kesempatan dua hari yang lalu, ketika saya berkunjung ke rumah temen di daerah Blora, sebuah sore menjelang maghrib yang berhias gerimis, entah kebetulan atau tidak dalam obrolan ringan kami, terdengar siaran radio entah stasiun mana saya tidak tahu. Siaran seorang ustadz yang membahas tentang shalat. Dan yang paling menggembirakan, ketika ustadz tersebut beraudiensi dengan jamaahnya, menanyakan tentang pertannyaan kurang lebihnya seperti pertanyaan anak saya seperti diatas. “Kenapa dalam shalat seseorang mengagkat kedua tangan lalu bersedekap di atas dada?”. Karena tidak siaran televisi, yang saya dengar hanya jamaah terdiam. Menunjuk seorang ibu, lama terdiam dan saya rasa mungkin sama dengan saya karena tidak tahu. Dan jawaban klasiknya pun keluar, “saya tidak tahu, ustadz!”

Ustadz tadi lalu mengarahkan pertannyaan itu ke semua jamaah, beberapa lama tidak terdengar apa-apa. Terpikir oleh saya barangkali mereka tidak ada yang tahu!

Akhirnya, sanga ustadz menjawab sendiri pertannyaannya tersebut. Dan ini saya tunggu-tunggu juga. “Maksud seseorang saat shalat mengucapkan takbir lalu mengangkat kedua tangan itu adalah ia mengakui kebesaran Allah dan pada saat yang sama ia sebagai hamba betul-betul menyerah di hadapan-Nya. Tidak salah, jika hal itu kemudian menjadi pertanda kalau orang dalam keadaan kalah perang lalu menyerah, maka ia akan mengangkat kedua tangan. Lalu, untuk masalah mendekapkan kedua tangan di dada merupakan bentuk ketundukan hamba untuk mengikat tubuh dan tidak akan kemana-mana sampai shalat itu benar-benar usai!”

Tercengang saya mendengar jawaban tersebut, apalagi kekurangpahaman saya masalah agama. Ternyata, dalam urusan agama sebagian kita hanya memahamkan tartilnya dalam membaca Al-Qur’an sedangkan pada hal-hal kecil juga seringkali kita sama sekali tidak paham!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Masa Kecil Membuat Ahok Jadi …

Hendra Wardhana | | 23 November 2014 | 22:44

Pungutan di Sekolah: Komite Sekolah Punya …

Herlina Butar-butar | | 23 November 2014 | 22:08

Masyarakat Kampung Ini Belum Mengenal KIS, …

Muhammad | | 23 November 2014 | 22:43

Penerbitan Sertifikat Keahlian Pelaut (COP) …

Daniel Ferdinand | | 24 November 2014 | 06:23

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Musni Umar: Bunuh Diri Lengserkan Presiden …

Musni Umar | 5 jam lalu

Baru 24 Tahun, Sudah Dua Kali Juara Dunia! …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Momentum Pencabutan Subsidi BBM, Memicu Dua …

Dwi Hartanto | 7 jam lalu

Menampar SBY dengan Kebijakan Jokowi …

Sowi Muhammad | 16 jam lalu

Dengan Interpelasi, Jokowi Tidak Bisa …

Ibnu Purna | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Autokritik untuk Kompasianival 2014 …

Muslihudin El Hasan... | 7 jam lalu

Kangen Monopoli? “Let’s Get …

Ariyani Na | 8 jam lalu

Catatan Kecil Kompasianival 2014 …

Sutiono | 8 jam lalu

Jangan Sembarangan Mencampur Premium dengan …

Jonatan Sara | 8 jam lalu

Beda Banget Nasib Rinni dan Aris …

Dean Ridone | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: