Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Sai Baba

OPINI | 22 December 2012 | 21:10 Dibaca: 853   Komentar: 0   0

13561852961024935969Oleh: Arif Rahman Hakim, Lc. Dipl.*

“I am God. And you too are God. The only difference between you and Me is that while

I am aware of it, you are completely unaware.” –Sathya Sai Baba-

Ada dua alasan yang cukup krusial kenapa penulis ingin mengangkat mengenai Sai Baba sebagai pokok basahan tulisan singkat ini. Pertama, karena munculnya buku “Dajjal ‘Sudah’ Muncul Dari Khurasan” yang bisa disebut best seller, karena hanya dalam waktu empat bulan saja, di Indonesia buku terjemahan ini sudah mencapai cetakan keenam. Buku tersebut ‘memvonis’ Baghawan Sathya Sai Baba sebagai Dajjal yang disebutkan dalam hadits-hadits Nabi Saw., yang muncul sebagai salah satu dari 10 rangkaian major signs Hari Kiamat. Karena penulis buku tersebut berasumsi bahwa sifat-sifat Dajjal yang disebutkan hadits-hadits tersebut terdapat pada Sai Baba. Mulai dari pengakuan dirinya sebagai tuhan sampai kelebihan-kelebihan supranatural yang dimilikinya, yang oleh para pengikutnya dianggap sebagai mukjizat. Kedua, begitu banyaknya pengikut Sai Baba. Ini bisa dilihat dari terdapatnya Organisasi Sri Sathya Sai di 167 negara di dunia. Tidak hanya itu, pengikutnya pun berasal dari berbagai agama baik itu islam, kristen, hindu, budha dan lainnya. Dari dua alasan itulah penulis merasa tertarik untuk mengulas secara singkat mengenai Sai Baba ini.

Sai Baba ini ternyata bukanlah yang pertama. Ia merupakan Sai Baba yang kedua, di mana menurut keterangan Sai Baba yang sekarang ini, ada tiga serangkai Sai Baba atau yang disebut sebagai The Triune Sai Avatar. Sai Baba yang pertama atau yang disebut dengan Shirdi Sai Baba lahir pada tahun 1835 dan meninggal pada tahun 1918. sama halnya dengan Sathya Sai baba, Shirdi Sai Baba pun mengaku dirinya adalah jelmaan tuhan (avatar) dan mempunyai kelebihan-kelebihan supranatural. Seperti menyembuhkan orang yang buta, sakit, dan kelebihan lainnya. Sehingga ia pun mempunyai pengikut yang banyak saat itu. Sebelum meninggalnya, Shirdi Sai Baba pernah berkata kepada para pengikutnya, bahwa setelah supreme-being (tuhan) meninggalkan jasadnya, suprime-being tersebut akan menjelma kembali, 8 tahun setelah kematiannya. Maka ketika Shirdi Sai Baba meninggal pada tahun 1918, 8 tahun setelahnya atau tepatnya pada tahun 1926 lahirlah Sathya Sai Baba yang dianggap sebagai avatar yang kedua. Sama halnya dengan Shirdi Sai Baba, Sathya Sai Baba pun mengatakan kepada para pengikutnya, bahwa setelah dirinya meninggal, tuhan yang ada pada dirinya akan menjelma kembali 8 tahun setelah kematiannya. Ia pun menerangkan bahwa tuhan akan meninggalkan jasadnya ketika dirinya mencapai usia 96 tahun.

Sai Baba sendiri menerangkan bahwa tujuan dari adanya triple inkarnasi ini adalah, bahwa inkarnasi yang pertama, ketika tuhan menjelma pada diri Shirdi Sai Baba adalah tuhan ingin mengumumkan kepada manusia mengenai tugas yang harus dilakukannya. Inkarnasi yang kedua yaitu ketika tuhan menjelma pada diri Sathya Sai Baba bertujuan untuk memberitahukan kepada manusia bahwa tuhan bisa bangkit pada diri siapa saja. Dan inkarnasi yang ketiga yaitu pada diri Prema Sai Baba yang akan datang adalah untuk memberitahukan kepada manusia bahwa tuhan tidak hanya bisa bangkit pada diri siapa saja, tetapi juga ingin memberitahukan bahwa setiap orang adalah tuhan.

Perkataan Sai Baba tersebut bersandar kepada diskursus Shiva Shakthi, 6 Juli 1963 yaitu obrolan yang terjadi antara Dewa Shiva, Dewi Shakthi dan Bharadwaja setelah ia melakukan ritual khusus. Dewa Shiva menerangkan bahwa dirinya sendiri akan menjelma pada diri Shirdi Sai Baba, kemudian setelah itu Shiva dan Shakthi, mereka berdua akan menjelma pada diri Sathya Sai Baba dan terakhir Shakthi sendiri akan menjelma pada diri Prema Sai Baba.

Pada dasarnya ajaran yang diusung Sai Baba dan disebarkannya kepada orang–orang tidak lain adalah ajaran Hindu. Ini bisa dilihat dari perkataannya mengenai tuhan. “There is only one God, He is Omnipresent”. Selain itu juga tentang pengakuannya sebagai avatar yang tidak lain adalah ajaran panentheisme. Sebuah keyakinan bahwa alam semesta ini adalah bagian dari tuhan. Oleh karena itu tidak salah ketika ia mengatakan bahwa tuhan adalah omnipresent (kulliyul wujud). Namun perlu diketahui bahwa Hindu memiliki dua aliran, hindu monotheistic dan hindu polytheistic walaupun keduanya sama-sama menganut panentheisme. Bagi aliran monotheistic, mereka meyakini bahwa hanya ada satu tuhan yaitu Brahman yang menjelma dengan berbagai bentuk untuk menampakan dirinya kepada manusia. Sedangkan aliran polytheistic menyatakan bahwa tuhan itu ada tiga Brahman sebagai the ultimate power ia bersifat impersonal, Vishnu dan Shiva.

Sai Baba mengajarkan mengenai ketuhanan bahwa, hanya ada satu tuhan untuk seluruh umat manusia walaupun ia dipanggil dengan nama yang berbeda-beda. Di sini kita bisa lihat bahwa Sai Baba menganut monotheisme. Namun pada saat ia menerangkan tentang triple inkarnasi, ia menganggap bahwa dirinya sebagai inkarnasi dari Shiva dan Shakthi. Maka bisa dikatakan ia mencampur adukan antara Hindu monotheistic dan polytheistic.

Bukti lain bahwa ajaran yang diusung oleh Sai Baba ini merupakan ajaran Hindu adalah konsep avatar yang diusungnya. Bahwa tuhan menjelma pada diri manusia. Dalam ajarannya tuhan menjelma dalam bentuk avatar untuk turun ke bumi dan menunjukkan cinta kasihnya kepada manusia. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh Krishna the avatar of the adwapara age (sebagai incarnation of vhisnu) di dalam Bhagavad-Gita, bahwa adanya avatar adalah ketika tuhan melihat keadilan dikalahkan oleh kejahatan, maka tuhan berinkarnasi dari waktu ke waktu untuk membela keadilan tersebut.

Namun Sai Baba sendiri mengatakan, “I have come not to disturb or destroy any faith, but to confirm each in his own faith, so that the Christian becomes a better Christian, the Muslim a better Muslim and the Hindu a better Hindu”. Maka dengan logika sederhana penulis mengasumsikan bahwa alih-alih Sai Baba ingin menjungjung tinggi pluralisme agama, yang ada adalah Sai Baba mengajak umat manusia untuk meyakini dirinya sebagai avatar (khususnya avatar dari shiva dan shakthi) sebagai salah satu inti dari ajaran Hindu. Atau dengan kata lain, secara “halus” Sai Baba mengajak umat manusia untuk meyakini ajaran agama Hindu.

Hanya yang menjadi keheranan saya adalah, mengapa sebagian besar pengikut Sai Baba ini (menurut opini yang berkembang) terdiri dari para cendikiawan, para intelek, dan orang-orang pintar yang seharusnya dengan akal sehat dan keilmuan yang mereka miliki bisa membaca ada apa di balik “dakwah” Sai Baba ini. Mengenai masalah ini penulis mempunyai beberapa asumsi. Pertama, berkaca kepada pertama kali lahirnya aliran Bâbiyyah. Ali Muhammad Asy-Syirazi, pendiri aliran Islam sempalan ini, disetir oleh pemerintah Rusia yang ingin menguasai Iran saat itu melalui anteknya, yang membisiki Ali bahwa dirinya adalah titisan Imam kedua belas Syi’ah yang dijanjikan. Ali yang memang berwatak gila kekuasaan dan ketenaran pun mengiyakan bisikan tersebut. Dan si antek ternyata sudah mensetting semuanya, di antaranya dengan sudah mempersiapkan belasan orang pengikut Ali sebagai pendukung dirinya sekaligus “da’i” untuk menyebarkan ajarannya. Begitu juga dengan Sai Baba, semuanya sudah disetting oleh “pihak” tertentu bahwa dirinya banyak diikuti orang.

Hanya mungkin asumsi ini melahirkan pertanyaan baru. Kalau ada Rusia yang berniat menguasai Iran di belakang gerakan Bâbiyyah, maka ada siapakah di balik Sai Baba? Bagi saya pribadi yang percaya kepada global conspiration againts Islam, menganggap bahwa konspirasi global itulah yang ada di balik semua ini untuk “mengobok-obok” umat Islam secara keagamaannya, setelah secara fisik sudah diobrak-abrik dengan cara militer melalui tuduhan terorisme.

Kedua, ketika manusia sudah tenggelam dengan dunia indera yang serba materi (materialisme) akhirnya sampai juga kepada titik nadhirnya, titik kulminasi terendah. Sehingga spiritualisme menjadi pilihan terakhirnya. Setelah umat dunia ini merasa berputus asa melihat dunia materi yang hanya membawa kepada kesengsaraan fisik dan batin, maka mereka akan dengan mudah menerima ajaran yang berbau spiritualisme yang menjanjikan mereka kehidupan yang tenang jauh dari huru-hara dan perang. Apalagi jika sang pendakwah ajaran tersebut memperkuat dakwahnya dengan berbagai kekutan supranatural dan berbau mistik.

Ketiga, itu semua hanya image building yang berusaha dibangun oleh beberapa orang pengikut setia Sai Baba, bahwa Sai Baba memiliki pengikut yang banyak dan orang-orang hebat. Padahal sebenarnya tidaklah demikian.

Adapun menyoal kelebihan-kelebihan supranatural yang dimilikinya, penulis tidak bisa mengatakan benar atau tidak. Karena penulis belum pernah melihat langsung dengan mata telanjang kehebatan sang Sai Baba tersebut. Penulis hanya pernah melihat kehebatannya dari rekaman video saja, ketika Sai Baba mengeluarkan linggam emas dari mulutnya dan mengeluarkan tepung gandum dari jemarinya. Seandainya kehebatan yang dimiliki Sai Baba itu benar, maka tidak secara otomatis kehebatan yang dimilikinya itu sebagai bukti dirinya tuhan/jelmaan tuhan atau minimalnya seorang nabi, tentu tidak. Karena tidak semua kelebihan supranatural yang menyalahi kebiasaan adalah bukti ketuhanan atau kenabian seseorang. Oleh karenanya para ulama dahulu sudah membuat spesifikasi hal-hal yang di luar kebiasaan (khariqul ‘adah) agar tidak semua hal yang aneh dianggap sebagai mukjizat, pembenar kenabian seseorang. Karenanya hal yang di luar kebiasaan itu oleh para ulama dibagi menjadi beberapa macam, di antaranya: pertama, disebut mukjizat jika keanehan tersebut muncul pada seseorang yang mengaku sebagai nabi disertai dengan tantangan dan tidak ada yang bisa mengalahkannya. Kedua, disebut karamah jika keanehan tersebut muncul pada orang beriman yang shaleh. Ketiga, disebut sihir jika keanehan tersebut muncul pada pribadi yang buruk setelah menjalani ritual-ritual khusus. keempat, disebut ibtila’ jika keanehan tersebut muncul pada seseorang yang mengaku tuhan. Wallahu A’lam

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perpu Pilkada Adalah Langkah Keliru, Ini …

Rolas Jakson | | 01 October 2014 | 10:25

3 Kesamaan Demonstrasi Hongkong dan UU …

Hanny Setiawan | | 30 September 2014 | 23:56

Punya Ulasan Seputar Kependudukan? Ikuti …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:29

Kompasiana “Mengeroyok” Band Geisha …

Syaiful W. Harahap | | 01 October 2014 | 11:04

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 8 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 9 jam lalu

Masalah Pilkada: Jangan Permainkan UU! …

Jimmy Haryanto | 10 jam lalu

Beraninya Kader PAN Usul Pilpres oleh MPR, …

Sahroha Lumbanraja | 10 jam lalu

Guru Pukul Siswa, Gejala Bunglonisasi …

Erwin Alwazir | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Menuju Organisasi Advokat Muda yang …

Valerian Libert Wan... | 7 jam lalu

Semoga Jokowi-JK yang Membuka Indonesia …

Bambang Trim | 7 jam lalu

Dialog Sunyi dari Hati ke Hati dengan Gus …

Puji Anto | 7 jam lalu

Satu Lagi Atlet Muslim Yang Di …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Eksposisi, Argumentasi, Deskripsi, Narasi, …

Sigit Setyawan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: