Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Matakucingku

Laki-laki biasa-biasa saja. Berujar lewat kata-kata, bersahabat lewat dialog. Menulis adalah energinya. Suka BurgerKill, DeadSquad, selengkapnya

Filosofi Ranting Kering, Kering Tapi Tak Mati

OPINI | 14 December 2012 | 18:20 Dibaca: 318   Komentar: 0   2

KETIKA REMAJA, saya termasuk sering berkemah atau kemping. Bersama beberapa kawan, saya memilih lokasi-lokasi yang dekat dengan pegunungan. Alasannya sederhana, ingin cari udara segar dan hawa pegunungan yang dingin membuat badan terasa lebih fresh.

Sambil bercengkerama sembari genjrang-genjreng gitar, nyanyi asal sekadar meramaikan suasana, saya benar-benar seperti terbebas dari sumpek udara kota. Benar-benar menyegarkan.

Disela-sela nyanyi-nyanyi tadi, saya dan teman-teman biasanya mencari ranting kering yang berserakan. Potongan ranting yang sudah kering kami kumpulkan dan kemudian kita pakai bersama-sama untuk api unggun. Ranting kering itu terbakar dan memberi kehangatan di udara pegunungan yang biasanya makin malam makin dingin.

Ranting-ranting yang tercecer itu, nyaris tak tersentuh ternyata bisa memberikan satu kehangatan. Bayangkan jika tak ada ranting kering tadi, bisa-bisa saya menggigil tak henti. Dalam beberapa kasus, tak sedikit pendaki yang tewas karena kedinginan dan taki sempat mencari ranting atau kayu bakar bakar di sekitar lokasi istirahat misalnya.

Dari sesuatu yang tidak berguna, diremehkan, dianggap tak berguna, bahkan dianggap hanya mengotori, ranting kering tadi membuktikan “eksistensinya” memberi kehangatan di api unggun. Jujur saja, kita pasti jarang menoleh pada hal-hal seperti itu. Kita jarang belajar pada alam yang sebenarnya juga menjadi “guru” kita juga.

Ranting kering akhirnya memang menjadi abu. Tapi tahukah kita, bahkan abunya pun masih bisa dimanfaatkan untuk hal-hal lain. Segala yang tampaknya kotor, sampah dan tidak penting itu, ternyata justru menolong kita pada saat kita mencoba bercengkerama dengan alam.

Filosofi sederhana apa yang bisa kamu tangkap? Jangan pernah merasa menjadi orang tidak berguna. Jangan pernah merasa jadi manusia paling terpuruk di dunia. Jangan merasa miskin ketika melihat orang kaya. Jangan merasa buruk rupa ketika melihat orang cantik atau tampan. Ranting kering adalah contoh sederhana, bagaimana membuat diri kita bermanfaat. Filosofi sederhananya, jangan pernah takut diremehkan dan tidak dianggap penting, karena sebenarnya kita adalah orang penting…

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Kaum Dhuafa Berebut Zakat, Negara Gagal …

Nasakti On | | 28 July 2014 | 23:33

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 28 July 2014 23:45

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 28 July 2014 22:40

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 28 July 2014 21:13

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 28 July 2014 18:24

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 28 July 2014 13:56

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: