Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Matakucingku

Laki-laki biasa-biasa saja. Berujar lewat kata-kata, bersahabat lewat dialog. Menulis adalah energinya. Suka BurgerKill, DeadSquad, selengkapnya

Filosofi Ranting Kering, Kering Tapi Tak Mati

OPINI | 14 December 2012 | 18:20 Dibaca: 338   Komentar: 0   2

KETIKA REMAJA, saya termasuk sering berkemah atau kemping. Bersama beberapa kawan, saya memilih lokasi-lokasi yang dekat dengan pegunungan. Alasannya sederhana, ingin cari udara segar dan hawa pegunungan yang dingin membuat badan terasa lebih fresh.

Sambil bercengkerama sembari genjrang-genjreng gitar, nyanyi asal sekadar meramaikan suasana, saya benar-benar seperti terbebas dari sumpek udara kota. Benar-benar menyegarkan.

Disela-sela nyanyi-nyanyi tadi, saya dan teman-teman biasanya mencari ranting kering yang berserakan. Potongan ranting yang sudah kering kami kumpulkan dan kemudian kita pakai bersama-sama untuk api unggun. Ranting kering itu terbakar dan memberi kehangatan di udara pegunungan yang biasanya makin malam makin dingin.

Ranting-ranting yang tercecer itu, nyaris tak tersentuh ternyata bisa memberikan satu kehangatan. Bayangkan jika tak ada ranting kering tadi, bisa-bisa saya menggigil tak henti. Dalam beberapa kasus, tak sedikit pendaki yang tewas karena kedinginan dan taki sempat mencari ranting atau kayu bakar bakar di sekitar lokasi istirahat misalnya.

Dari sesuatu yang tidak berguna, diremehkan, dianggap tak berguna, bahkan dianggap hanya mengotori, ranting kering tadi membuktikan “eksistensinya” memberi kehangatan di api unggun. Jujur saja, kita pasti jarang menoleh pada hal-hal seperti itu. Kita jarang belajar pada alam yang sebenarnya juga menjadi “guru” kita juga.

Ranting kering akhirnya memang menjadi abu. Tapi tahukah kita, bahkan abunya pun masih bisa dimanfaatkan untuk hal-hal lain. Segala yang tampaknya kotor, sampah dan tidak penting itu, ternyata justru menolong kita pada saat kita mencoba bercengkerama dengan alam.

Filosofi sederhana apa yang bisa kamu tangkap? Jangan pernah merasa menjadi orang tidak berguna. Jangan pernah merasa jadi manusia paling terpuruk di dunia. Jangan merasa miskin ketika melihat orang kaya. Jangan merasa buruk rupa ketika melihat orang cantik atau tampan. Ranting kering adalah contoh sederhana, bagaimana membuat diri kita bermanfaat. Filosofi sederhananya, jangan pernah takut diremehkan dan tidak dianggap penting, karena sebenarnya kita adalah orang penting…

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Robohkah Surau Kami Karena Harga BBM Naik? …

Arnold Mamesah | 8 jam lalu

Sahabat Hati …

Siti Nur Hasanah | 8 jam lalu

Susi Mania! …

Indria Salim | 8 jam lalu

Ada Oknum “Nakal” di BPN Jakarta …

Syaifudin | 9 jam lalu

Wow, Cantiknya Puteri Bu Susi …

Den Hard | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: