Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Handoyo El Jeffry

Bila ingin mengenal seseorang, bacalah tulisannya. Bila ingin membaca seseorang, kenalilah tulisannya. Bila ingin menulis selengkapnya

Sepak Bola: Antara Olahraga, Berhala, dan Agama

HL | 30 November 2012 | 12:37 Dibaca: 1243   Komentar: 0   2

1354253608741546966

TROFI PIALA DUNIA: simbol pemersatu manusia. Sumber photo: achiles-punyablog.blogspot.com

Tuhan tak pernah kehabisan kreativitas dalam dalam mengolah peradaban si planet bundar bola bumi. Dan Tuhan juga tak pernah kehabisan inovasi dalam menghidupkan dinamika peradaban dunia. Dan Tuhan juga tak pernah kehabisan cara untuk “bercanda” dengan hamba-hambanya.

Ketika kreativitas, inovasi dan candaan Tuhan disatukan, terciptalah sebuah “permainan maha unik” yang pernah ada dalam sejarah kehidupan manusia. Sepakbola, sebagian menyebutnya sebagai bolasepak, football atau soccer. Sebuah benda berbentuk bundar-atau lebih tepatnya bulat-berbungkus kulit yang akrab disebut bola.

Beberapa orang saling berhadapan bertanding dalam kesebelasan. Di atas tanah lapang, dua gawang saling berseberangan, dengan seorang hakim-pengadil yang memimpin permainan, sang wasit. Format dibuat, organisasi dan lembaga dibentuk, peraturan diciptakan, hukum diberlakukan. Seiring perjalanan sejarah peradaban manusia selama konon sejak ribuan tahun silam hingga hari ini, sepakbola ber-evolusi, berinovasi sepanjang zaman.

Dari sekadar permainan yang telah diilhamkan oleh Tuhan Sang Kreator Sejati, sepakbola di era terkini telah berubah menjadi sebuah industri. Melibatkan banyak manusia di hampir seluruh dunia, ragam profesi, ragam kepentingan, ragam bahasa, budaya, komunitas, agama dan negara. Sepakbola menjadi maha arena lintas batas dunia.

Sepakbola, sebagai salah cabang olah raga, pada dasarnya bermain atas kaidah olah raga. Olah raga dibutuhkan manusia untuk menjaga kesehatan raga, meskipun, dalam perkembangannya sepakbola lebih dari sekadar olah raga. Ia bercabang-cabang menjadi ajang seni hiburan (entertainment), pelepasan beban kepenatan (refreshing), pembuktian kekuatan dan kedigdayaan sebuah komunitas (tournament).

Terciptalah berbagai ajang kejuaraan (turnamen), dari tingkat RT-RW, desa-kelurahan, antar provinsi, antar negara, kawasan hingga antar benua. Seperti bulatnya bola, sepakbola menyebar bulat merata di seluruh permukaan bola dunia. Sepakbola kini telah mendunia.

Sebagai industri, sepakbola adalah magnet luar biasa bagi pelaku niaga. Klub-klub profesional bertebaran. Di Eropa, tempat lahirnya sejarah sepakbola, klub-klub raksasa tumbuh sebagai industri yang menyedot eksodus para milyarder dan pemain-pemain besar dunia untuk mengadu nasib mendulang pundi-pundi harta. Gegap gempita sepakbola berimbas lebih luas ke ranah sosial budaya, politik hingga urusan negara.

Sepakbola, pusaran beliung raksasa menggulung segala kepentingan manusia, pergulatan nilai-nilai hukum hingga politik-kekuasaan. Tiada medan magnetik berdaya tarik luar biasa selain sepakbola. Tua-muda, pria-wanita, awam-intelek, desa-kota, badui-modern, atheis-beragama, semua mata tak berdaya dan tersedot oleh pesonanya.

Sepakbola, dari olah raga kini bermutasi menjadi berhala. Para pecandu, penggila, hingga supporter fanatik bernama hooligans, menjadikan sepakbola sebagai Tuhan lapangan, hingga Tuhan sebenarnya terkesampingkan. Lihatlah jika orang sudah mulai keranjingan “setan bola-mania” ketika tergelar sebuah ajang turnamen antar negara berkelas dunia.

Tak peduli pemain, official, penonton, yang menyaksikan pertandingan secara langsung maupun di layar teve, termasuk siaran tunda, hingga pendukung yang kadang belum tentu menghadirkan wakil negara untuk turut serta. Semua urusan sejenak terlupa, hingga kadang lupa waktu shalat, keaktian di gereja, pura, atau wihara untuk memenuhi panggilan Tuhannya.

Sepakbola, pada saatnya berposisi sebagai “tuhan pertama,” Tuhan (yang justru menciptakan inspirasi permainan) tergeser menjadi “tuhan kedua,” atau lebih parah, dilupakan begitu saja. namun anehnya, dalam memberhalakan sepakbola, manusia masih tetap saja membutuhkan Tuhan untuk “turun tangan” ke lapangan.

Entah itu pertandingan amatiran sekelas turnamen antar RT di acara tujuh belasan, atau pertandingan internasional seperti Piala AFF 2012 yang tengah berlangsung saat ini, hampir semua para penyembah berhala sepakbola tak lupa berdoa, mengharap Tuhan berpihak pada kubunya. Unik, ketika kedua kesebelasan bertanding, ke kubu mana Tuhan akan berpihak, sebab kedua-duanya sama-sama meminta Tuhannya untuk memenangkan timya?

Lihatlah pula ketika sebuah gol tercipta. Selebrasi ritual agama kerap dirayakan oleh pencetak gol, sujud syukur misalnya. Berhala sepakbola juga terlihat dengan berbagai klenis-mistis yang kental merasuk dalam “dunia sepakbola,” termasuk Indonesia. Dukun, pawang, peramal dan paranormal turut dilibatkan. Konon, demi kemenangan, apapun harus dilakukan, bahkan meski dengan diving “cara-cara setan.“

Kaum dhedhemit, genderuwo, kuntilanak hingga kuntilemak dan beberapa jenis jin pun konon laris kontrak. Menjadi tim bayangan yang tak terlihat oleh mata kepala, namun kehadirannya kerap diyakini ada di lapangan sepakbola (percaya tidak percaya, hanya orang berilmu tinggi yang bisa melihatnya, nah lho). Makanya, jangan heran jika kadang ada hal-hal aneh yang tak bisa diterima oleh logika pertandingan sepakbola. (Masih belum percaya?)

Namun begitu, sepakbola juga boleh dikatakan sebagai agama, bahkan “lebih baik” dari pada agama. Dalam dunia persepakbolaan dunia, hampir semua manusia patuh dan taat pada sebuah hukum. FIFA yang menjadi lembaga tertinggi federasi sepakbola di seluruh dunia, seakan mendapat amanat risalah dari Tuhan. FIFA mampu membuat semua manusia di seluruh dunia, dari segala agama (bahkan termasuk yang tak beragama) takluk di bawah satu peraturan.

Lihatlah pula bagaimana klub-klub besar di Eropa mampu menyatukan para pemain berbeda-beda agama untuk bersatu-padu demi tim, tanpa menghiraukan apakah ia muslim, kristen, yahudi, budha, konghucu atau atheis. Semua guyub-rukun holopis kuntul baris dalam ukhuwwah-persatuan solid atas nama kesebelasan. Lihatlah pula bagaimana dalam setiap pergelaran resmi FIFA, selalu menggemakan nilai-nilai universal kemanusiaan, pertandingan amal untuk bantuan bencana, semangat sportivitas “fairplay,” propaganda anti rasialis dan spirit perdamaian.

Lihatlah pula bagaimana tradisi nilai-nilai ditanamkan dalam setiap pertandingan. Saling memaafkan dengan bersalaman ketika berbuat “dosa” kesalahan melanggar lawan, membuang bola ketika lawan tengah tak berdaya karena ada salah satu pemain yang cidera, bertukar cindera mata, juga saling bersalaman antara kedua kubu, pra dan pasca kedua tim berlaga.

Supremasi hukum FIFA benar-benar perkasa di dunia sepakbola. Hukuman keras pada tindak rasialis, skandal permainan, pengaturan skor, dan berbagai rekayasa. Sanksi tegas bagi perusak semangat “fair play” bermain sehat bermartabat, merupakan aktualisasi nyata dari fitrah hukum dan nilai-nilai agama.

Sepakbola, dengan ritual 4 tahunan perhelatan Piala Dunia sebagai puncaknya, nyatanya telah mampu menyatukan manusia untuk sejenak melupakan perbedaan agama. Untuk sepakbola manusia relatif bersepakat dalam satu kata.

Ketika dunia di sepanjang sejarah peradaban manusia tak kunjung reda dari pertikaian, peperangan dan permusuhan yang dipicu oleh perbedaan agama. sepakbola hadir sebagai “agama alternatif,” sarana pembauran-rekonsiliasi-toleransi terbaik di dunia. Mungkin, memang itulah cara Tuhan  dengan ke-Maha Kreatif-Inovatif-Canda-Nya mengajarkan manusia untuk memahami agama dengan benar, lewat sepakbola.

Sebagaimana olahraga menyehatkan badan manusia, sepakbola juga mestinya menyehatkan peradaban dunia. Meskipun kadang menyeret manusia untuk memberhalakan sepakbola dengan kegembiraan, hiburan canda-tawa dan kegilaan luar biasa, namun sepakbola terbukti menyatukan ragam perbedaan manusia dari berbagai belahan dunia, termasuk perbedaan agama. Maka, bolehkah kiranya jika dikatakan, bahwa sepakbola adalah “agama” di atas segala agama?

Salam…
El Jeffry

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Menjelajah Pulau Karang Terbesar di …

Dizzman | | 31 October 2014 | 22:32

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | | 31 October 2014 | 08:42

Hati Bersih dan Niat Lurus Awal Kesuksesan …

Agung Soni | | 01 November 2014 | 00:03

Rayakan Ultah Ke-24 JNE bersama Kompasiana …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 12:53


TRENDING ARTICLES

Susi Mania! …

Indria Salim | 8 jam lalu

Gadis-Gadis berlagak ‘Murahan’ di Panah …

Sahroha Lumbanraja | 10 jam lalu

Pramugari Cantik Pesawat Presiden Theresia …

Febrialdi | 12 jam lalu

Kerusakan Demokrasi di DPR, MK Harus Ikut …

Daniel H.t. | 13 jam lalu

Dari Pepih Nugraha Untuk Seneng Utami …

Seneng | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 9 jam lalu

Sengkuni dan Nilai Keikhlasan Berpolitik …

Efendi Rustam | 11 jam lalu

Wakatobi, Potongan Surga yang Jatuh ke Bumi …

Arif Rahman | 11 jam lalu

Danau Poso, Keelokannya Melahirkan Rindu …

Jafar G Bua | 12 jam lalu

Politik Saling Sandera …

Salman Darwis | 13 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: