Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Chris Tokan

Bagi orang BERIMAN TEGUH & BERKEYAKINAN DASYAT, maka KEHIDUPAN menjadi PASTI dan ABADI !!!, walaupun selengkapnya

Misteri Keilahian Makna Angka 0 dan 8: Mengungkap Awal Mula, Alpha-Omega, Lokasi Surga & Akhir Zaman

OPINI | 30 November 2012 | 11:17 Dibaca: 287   Komentar: 0   6



Oleh Chris Boro Tokan

Pendahuluan

Bentuk angka 8 (delapan) yang unik, bahwa dalam peletakan posisi secara vertikal maupun horisontal tetap tidak merubah nilai angka yang terkandung di dalamnya. Artinya tetap secara persepsi dalam benak dan penilaian setiap orang bahwa itu angka 8 dan maknanya seperti yang telah menjadi pengetahuan umum, yakni 8. Begitupun bentuk angka 0, dalam membolak-balik letak, posisinya ke mana-mana dan di mana-mana (poisi vertikal maupun horizontal), tetap tidak mengubah persepsi makna angka satuannya. Bentuk angka 0, boleh peletakan posisinya berada di mana-mana, namun makna nilainya tetap tidak ke mana-mana, dalam arti tidak berubah. Jadi secara numerik mulai dari 0 sampai 9 itu, makna angka 0, begitupun angka 8 senantiasa tidak berubah walaupun letaknya dibolak-balik, dalam posisi timur-barat, atau selatan-utara. Dengan demikian angka 0 dan angka 8 boleh berada di mana-mana, namun sesunguhnya tidak ke mana-mana mengenai persepsi pemaknaan angka satuannya masing-masing.

Sesungguhnya angka 0 menjadi sumber dari segala munculnya angka satuan ( 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9) bandingkan catatanku : http://filsafat.kompasiana.com/2012/09/15/misteri-keilahian-makna-angka-angka-dalam-pengungkapan-kerangka-rahasia-alam-semesta-melalui-salib-atlantis-lewotanah-pancasila/, yang kelak kembali ke angka 0 lagi, yakni satu (1) nol (0), yang disebut dengan 10. Keunikan keilahian makna angka 0 dan angka 8, bahwa angka 8 itu terbentuk dari angka 0 jamak yang berpasangan dan saling menempel, berdempet masing-masing salah satu sisi-nya dan saling menyatukan kedua sisi 0 jamak itu. Tertempelnya masing-masing salah satu sisi dari 0 jamak dan saling menyatu itu, membentuk-kan angka 8 yang unik itu. Lalu penelusuran purba, awal keberadaan angka 0 itu sebagai satu-satunya telur kosmik. Telur kosmik itu menetas, lalu melahirkan lagi dua telur yang saling berdempet dan menyatu yang disebut angka 8 itu. Penetasan telur kosmik ini dalam keilahian pemaknaan sebagai sebuah ledakan besar ( The Big Bang), awal penciptaan langit dan bumi, yang kelak akhir zaman nanti dikenal dengan akhir kehancuran langit dan bumi (The Big Crunch), bandingkan Alan Woods dan  Ted Grant dalam “Reason in Revolt: Revolusi Berpikir Dalam Ilmu Pengetahuan Moderen”, 2006 hal. 223 -281.

Awal Mula Kehidupan dalam Keilahian Makna Angka 0: adalah Roh

Pada mulanya adalah Firman, firman itu bersama-sama dengan Allah, dan  firman itu adalah Allah. Ia  (baca: roh, sabda, firman) pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari  segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya (Injil Yohanes 1: 1-6).

Awal Mula  Kehidupan adalah sesuatu yang di antara tiada dan ada. Karena sesuatu yang tidak nyata ada terlihat dan terasakan, namun teryakini ada dalam nurani melalui Sabda. Sabda, firman, sebagai sesuatu yang tidak terlihat ada dengan mata, sehingga tidak diterima akal, tidak terdengar dengan telinga sehingga tidak dipercayai hati, maka itu sering dimaknakan sebagai kosong untuk arti angka 0. Namun sesungguhnya awal mula kehidupan itu dalam makna angka 0, yakni adalah Roh. Roh itu yang bersuara, bersabda, karena dalam angka 0 itu sesunguhnya bukan kosong, namun mengilahikan makna Roh tersemayam di situ. Bandingkan catatan-ku Awal Mula Kehidupan adalah Roh dari ketiadaan, melalui ketiadaan,  menuju ketiadaan http://filsafat.kompasiana.com/2012/07/04/awal-mula-kehidupan-adalah-roh-dari-ketiadaan-melalui-ketiadaan-menuju-ketiadaan . Kata Hegel,  ini adalah batu nisan yang cocok untuk teori inflasi kosmik. Sesungguhnya hanya ada satu cara untuk mendapat sesuatu dari ketiadaan – dengan Penciptaan.  Dan ini hanya mungkin jika ada  Sang  Pencipta (Alan Woods dan  Ted Grant, hal.277). Sang Pencipta itu adalah Roh, yakni Roh Allah.

Sabda (Firman, Kata-kata), Simbol ini awal mulanya merupakan Roh/angka 0, (wujud abstrak) yang terkudus, tersuci, terhalus sekali sehingga sosok/bentuknya tidak dapat terlihat dengan mata, serta gerakan/vibrasinya tidak dapat terdengar dengan telinga. Namun getaran nurani insan manusia yang suci, kudus, halus sekali dapat meyakini itu. Meyakini dengan menangkap gerakan (vibrasi) Roh bagi yang bernurani mampu mendengar dalam bentuk suara, dan melihatnya dalam bentuk cahaya. Roh ada di mana-mana tapi tidak ke mana-mana, tervibrasi (tergerak) dalam napas yang bisa di dengar dalam bunyi yakni suara, terformulasi dalam kata-kata, bisa terlihat dalam cahaya, sinar-api…!!! Suara ROH, biasa dilihat dan didengar dalam ketajaman mata dan kedalaman telinga NURANI, sedangkan secara kasat mata dan gendang telinga itu, jarang-jarang dapat melihat dan mendengarNYA!!!, karena sering selalu sibuk melihat dan repot mendengar keduniawiaan yang morat-marit, hiruk-pikuk dan selalu risih, ribut dan gaduh.

Hazrat Inayat Khan dalam karyanya The Mysticism of Sound and Music, Boston & London, 1996, diindonesiakan Dimensi Mistik Musik dan Bunyi, Yogyakarta, 2002, mengistilahkan suara Roh yang suci (suara abstrak) itu dengan sebutan sauti sarmad, suara tataran abstrak. Suara itu yang didengar Muhammad di gua Hira ketika ia tersesat dalam ideal gaibnya. Alquran menyebut bunyi ini dalam kata-kata: “Jadilah! Maka terjadilah.” Sedangkan Musa mendengar suara ini di Gunung Sinai. Seruling Krisna adalah lambang dari suara yang sama. Isa mendengarnya waktu asyik bersama Bapa Surga-Nya di hutan liar. Suara itu adalah sumber dari segala wahyu bagi para Guru yang menerima wahyu dari dalam. Karena itu mereka tahu dan mengajarkan sebuah kebenaran yang sama. Dalam keyakinan mendengar suara/bunyi dan melihat cahaya dari Roh itu, maka mereka merasakan masa lalu, mengetahui masa kini, menjangkau masa depan tentang segala hal dalam hidup. Karena dalam mendengar keilahian misteri bunyi dan melihat keilahian sinar cahaya, menuntun mereka kepada pengertian seluruh alam semesta. Siapapun mengikuti nada dari bunyi ini, telah melupakan semua kelainan dan perbedaan duniawi, dan telah mencapai tujuan kebenaran, di mana semua yang diberkahi bersatu dalam Tuhan (hal. 214-215).

Ruang (baca: angka 0, di situ bersemayam Roh) ada di dalam tubuh dan di sekelilingnya, dengan kata lain tubuh ada di dalam Roh (ruang, angka 0), dan ruang di dalam tubuh. Begitulah keadaannya, suara dari hal yang abstrak selalu berjalan di dalam, di sekeliling dan sekitar manusia. Manusia biasanya tidak mendengarnya, karena seluruh kesadarannya terpusat di dalam eksistensi materialnya. Karena manusia begitu asyik di alam pengalamannya di dalam dunia lahiriah melalui media tubuh fisik, sehingga ruang tampak kosong (angka 0), baginya, dengan segala keajaiban cahaya dan bunyinya. Mereka yang secara nurani mampu mendengar bunyi abstrak (sauti sarmad) dari angka 0 sebagai suara Roh , dan bermeditasi dengan itu sampai juga melihat dalam cahaya, akan terangkat dari segala kekhwatiran, kegelisahan dan duka cita, ketakutan dan penyakit, dan jiwanya terbebas dari kurungan dalam indera dan tubuh fisik. Jiwa pendengar menjadi kesadaran yang menembus segala sesuatu, dan ruhnya menjadi baterai yang menjaga seluruh alam semesta, terus bergerak. Mengosongkan diri (mengangka 0-kan diri), bermeditasi dalam konsentrasi untuk bersatu dengan Roh, roh Allah. Dalam kajian ilmu pernapasan, hal pertama yang kita perhatikan adalah bahwa napas (baca: gerakan, vibrasi dari Roh) bisa didengar: ini adalah kata dalam dirinya sendiri, karena apa yang biasa kita sebut kata hanyalah hembusan napas yang lebih jelas yang dihasilkan oleh mulut dan lidah (Bandingkan Hazrat Inayat Khan, hal.215 dan 315). Di dalam kapasitas mulut napas menjadi suara, dan karena itu kondisi asli sebuah kata adalah napas. Karena itu bila firman Allah mengatakan : “Pertama adalah Sabda”, sama dengan mengatakan: “awalnya adalah kata”, kata itu adalah napas. Bandingkan dalam Injil Yohanes, bahwa: “ awalnya adalah sabda, dan sabda telah menjadi manusia”. Dalam arti awal mula napas itu adalah Roh Allah. Roh itu bisa di dengar suara-Nya yang disebut firman atau sabda, dan dapat terlihat cahaya-Nya dalam sinar dan api. Roh, dalam wujud napas bagi manusia dan dalam udara bagi ruang (dalam angka 0), bersabda untuk terjadi, maka: terjadi/terciptalah semua oleh-Nya (Roh).

Semakin dalam menyelam dalam ilmu suara dan kata (baca: angka), maka semakin menemukan kedalaman misteri kehidupan yang seluruh rahasianya tersembunyi dalam keilahian makna angka-angka dalam kata-kata melalui gerakan/vibrasi napas, yang adalah Roh Allah itu sendiri bersemayam dalam ruang angka 0. Alam dan Manusia adalah misteri dalam segala aspek kehidupan dan diri, bukan hanya dalam jiwa alam dan manusia, melainkan juga dalam aspek fisik dan raga. Ada beberapa kemampuan jiwa yang mengekspresikan dirinya sendiri melalui pusat-pusat tertentu dalam tubuh manusia. Karena dibanding alam, maka ada bagian tanah yang tidak pernah dicapai oleh air, dan karena itu bagian-bagian itu tidak pernah mencapai tanah subur, begitupun pusat-pusat tertentu ketika kematian tidak pernah mencapai mereka. Pusat-pusat itu, adalah naluriah, penuh dengan kedamaian dan keseimbangan, merupakan pusat-pusat cahaya, tapi tidak pernah terjaga, karena manusia hanya bernapas di bagian-bagian tubuhnya yang ia gunakan untuk makan, hidup dan melakukan tindakan. Ia baru setengah hidup bila keberadaannya dibandingkan dengan penuhnya kehidupan yang ia peroleh dengan perkembangan ruhaniah. Manusia bernapas, berarti itu tanda kehidupan, tapi ia tidak bernapas dengan benar. Seperti hujan yang jatuh di tanah dan menumbuhkan tanaman kecil dan menyuburkan tanah, sehingga napas dan esensi dari segala energy, jatuh bak air hujan di seluruh bagian tubuh. Ini juga terjadi pada akal, tapi manusia tidak bisa merasakan bagian napas yang mempercepat akal; hanya dirasakan dalam tubuh yang bisa dirasakan, dan bagi rata-rata orang ini bahkan tidak bisa dirasakan dalam tubuh. Dia tidak tahu menahu tentang hal ini, kecuali apa yang tampak dalam bentuk hirupan dan hembusan melalui organ pernapasan. Ini saja umumnya terjadi bila orang berbicara tentang pernapasan (Bandingkan Hazrat Inayat Khan hal.314 - 315).

Penciptaan Langit dan Bumi, Laki-laki dan Perempuan dalam Keilahian Makna Angka 8

Namun Sabda, atau Koda untuk sebutan Lamaholot, menyakini  Rera-Wulan (angka 0 langit) dan Tanah-Ekan (angka 0 bumi) dalam membentuk angka 8, sebagai dialektika Langit menghujam Bumi (Vertikal). Langit  (Matahari) sebagai simbol Laki-Laki dan  Bumi (Empat Sungai Surga) sebagai simbol Perempuan. Sinar Matahari meneroboskan cahaya menerjang Bumi sampai ke dalam lautan samudera (empat sungai surga), bandingkan catatanku : http://filsafat.kompasiana.com/2012/07/05/matahari-salib-empat-sungai-surga-awal-kehidupan/. Dialektika Langit dengan Bumi, sangat berhubungan dengan  komposisi awal lingkungan dengan atmosfir bumi.  Terbentuklah Sel Hidup jantan (laki-laki) dengan betina (Perempuan): Horisontal, cikal bakal kehidupan Fauna dan Flora. Kelak sebagai simbol Manusia (Laki-Laki dan Perempuan: Horisontal) Pertama yang diciptakan ALLAH sesuai citra-NYA. Teryakini,  teramati, terpahami, termengerti, termaklumi  semuanya dalam Dialektik-Integralistik-Sinergik hidup dan kehidupan: SALIB, bertaut (cross) Vertikal dengan Horisontal.

Alan Woods dan  Ted Grant dalam “Reason in Revolt: Revolusi Berpikir Dalam Ilmu Pengetahuan Moderen”, 2006 menyatakan bahwa: Gas-gas vulkanik yang terbentuk dalam atmosfir purba pastilah mengandung air, bersama metana dan amonia, orang menduga bahwa gas-gas ini dilepaskan dari dalam bumi. Akhirnya gas-gas ini menjenuhkan atmosfir dan menghasilkan hujan. Dengan mendinginnya permukaan bumi, danau-danau dan lautan mulai terbentuk. Orang kini percaya bahwa lautan purba ini mengandung semacam “Sup” pre-biotik (pendahulu kehidupan), di mana unsur-unsur kimia yang ada, di bawah hantaman sinar ultraviolet dari matahari, bersintesa untuk menghasilkan senyawa-senyawa nitrogen-organik yang kompleks seperti asam amino. Efek dari ultraviolet ini dimungkinkan oleh ketiadaan ozon di atmosfir  (hal.309).

Keyakinan Sabda, (Koda: Rera-Wulan Tanah-Ekan, dalam keyakinan suku bangsa Lamaholot yang menjadi sample keyakinan Nusa Tenggara-Maluku, Dualisme Kosmos dan Dualisme Sosial dari F.A.E. Van Wouden dalam karyanya Structuurtypen in de Groote Oost (1935), diindonesiakan: KLEN, MITOS, DAN KEKUASAAN, Struktur Sosial Indonesia Bagian Timur (1985), hal. 25-146) bagi Alan Woods dan Ted Grant, teramati dan terpahami dalam kajian seluruh jalannya sejarah waktu geologis. Dialektika (kesalingtergantungan/saling melengkapi)  dari aktivitas atsmosfir  (langit) dan biosfir (bumi). Di satu pihak kebanyakan dari oksigen bebas yang kini terdapat di atmosfir adalah hasil dari aktivitas biologis (melalui proses foto sintensis di dalam tumbuhan). Di pihak lain perubahan dalam komposisi atmosfir, khususnya peningkatan dalam jumlah oksigen bebas, memicu inovasi-inovasi besar secara biologis, yang memungkinkan bentuk-bentuk kehidupan yang baru untuk muncul dan berkembang biak (hal.310).

Ungkapan  lain dari kisah Awal Penciptaan Alam Semesta dengan segala isinya yang ada dalam Kitab Kejadian,  hingga  awal kejatuhan Manusia ke dalam dosa. Dapat terpahami  dalam cermatan Arysio Santos dalam bukunya ATLANTIS The Lost Continent Finally Found, The Definitive Localization of Plato’s Lost Civilization (2005), diIndonesiakan (2009) plus subjudul: INDONESIA TERNYATA TEMPAT LAHIR PERADABAN DUNIA (hal. 128) mengenai mitos pengebirian primodial  umat Hindu dalam simbol letusan gunung berapi dengan takdir yang menyertai pengebirian yang mengubah palus (lingga/penis) kosmis menjadi yoni (vulva/vagina) kosmik. Hal ini terpahami dalam penciptaan awal manusia wanita dari tulang rusuk Adam/laki-laki.

Mitos pengebirian demikian sesungguhnya spirit kisah awal kehidupan manusia (manusia pertama Adam) yang diambil rusuknya oleh Allah untuk menciptakan Eva, wanita, perempuan. Namun latar paling purba spirit dimaksud yaitu Pusat Matahari Salib Utama terpahami dalam Zaman Arkaezoikum (Surga Positivis) dijatuhkan hingga ke Bumi untuk terbentuk  Matahari Salib Kehidupan (Surga Empirik: Empat Sungai Surga ) terpahami dalam Zaman Paleozoikum. Matahari Salib Kehidupan ini menjadi Sumber (Pusat) Mata Air dari Empat Sungai Surga. Dialektika  menyatu Langit dan Bumi menghasilkan sel hidup untuk kehidupan awal makluk hidup berwujud fauna (ikan) dan Flora (gangga), terus berdialektik menyatu menyempurnahkan menuju zaman Mezozoikum sampai zaman Neozoikum Tersier, sebagai Atlantis Lemuria menurut Arysio Santos (Siklus Peradaban Dunia 1). Kemudian Neozoikum Kuartier, khusus era Pleistozen sebagai zaman Awal makhluk hidup Manusia sebagai Atlantis Sang Putra menurut Arysio Santos (Siklus Peradaban Dunia 2). Teryakini sebagai era penciptaan Manusia Awal (Adam, Laki-laki) bersama duplikat tulang rusuknya (Eva, perempuan) yang hidup di Taman Eden sebagai perwujudan Surga Empirik).

Taman Eden, Taman Awal kehidupan Manusia (Adam dan Eva), dan Awal Kejatuhan dalam Dosa melalui godaan Ular memakan buah yang terlarang.  Merujuk kepada awal kehidupan sebagai menyatu Langit dan Bumi (Rera-Wulan dengan Tanah-Ekan), terpahami dan teramati dalam “Sup” pre-biotik purba  (pendahulu kehidupan purba), yakni menyatunya sinar mentari menembuskan cahaya ke dalam lautan purba samudra Pasifik (menyatu empat sungai surga) membentuk sel kehidupan. Bandingkan dengan Arysio Santos  menandaskan  Ular Ouroboros dalam keyakinan Hindu berpadanan dengan Samudra, Lautan, sebenarnya berarti ”yang melingkungi”, seperti juga kata ”Ocean (Samudra)” itu sendiri (hal. 342). Gagasan tentang “yang melingkungi” ini menurut Arysio Santos seperti tepatnya apa yang Plato maksudkan tentang laut atlantisnya sebagai samudra sesungguhnya (alethinos pontos) yang melingkungi dunia, yakni samudra Atlantik yang sesungguhnya  Lautan Pasifik itu sendiri (hal. 342). Samudra Pasifik merupakan samudra utama yang membagi ke Barat  (lautan Atlantik) dan ke timur (lautan Hindia).  Simbol Atlantis:  MATAHARI, Bintang Laut sebagai simbol Matahari di bawah laut (malam hari). Simbol Atlantis yang hilang tenggelam, tersembunyi di bawah laut  (hal. 265-278).

Jejak arti Ular sebagai Matahari,  bisa ditemukan dalam  kata ”Nipon” (Jepang) yang berarti ”Matahari Terbit”. Dengan demikian dalam Koda Lamaholot  ditemukan   oleh Petu Sareng Orin Bao alias Pater Piet Petu, SVD (almarhum) yang menyebut nama purba pulau Flores adalah Nusa Nipa dalam bukunya: “NUSA NIPA WARISAN PURBA(1969) sebagai ”heliocentris”: ”Koten rae lera matan, ikung lau lera helut”= Konsep tentang Asal muncul (matahari terbit atau mata air) dan Akhir singgah (terbenamnya matahari atau tujuan akhir mengalirnya air sungai). ”Koten pana doan, ikung gawe lela”= sebuah ungkapan simbolis dari gerak muncul dan menghilangnya matahari”. Dengan demikian sesungguhnya nama purba yang lain dari Pulau Flores selain Nusa Nipa, Nusa Ular adalah Nusa Matahari  (Matahari Salib Kehidupan) nama yang terpurba, bandingkan catatanku http://filsafat.kompasiana.com/2012/07/31/homo-floresiensis-penegasan-manusia-matahari-solor-purba-nusa-tenggara-timur-maluku-dengan-pembuktian-oppenheimer/

Lokasi Surga dalam Tautan Angka 8, menjelaskan Alpha-Omega dan Lokasi Akhirat

Dunia langit (angka 0 di atas) dari angka 8 dengan dunia bumi (angka 0 di bawah) dari angka 8, dalam perenungan terhadap filsafat angka-angka sesuai peradaban yang menjadi sistem kehidupan (kutur, substansi, struktur) sosial suku bangsa Lamaholot di Nusa Tenggara Timur, maka makna angka 8 adalah penyatuan Langit dengan Bumi. Angka 8 menjelaskan rahasia alam semesta menempatkan 0 di atas itu sebagai Langit yang dikenal dengan Rera-Wulan, sedangkan 0 di bawah itu sebagai Bumi yang dikenal dengan Tanah-Ekan. Dalam dialektika langit dan bumi, angka 8 itu menjadi jalan matahari disetiap garis yang membentuk angka 8: yakni untuk 0 langit itu (di atas) jalan matahari siang, sedang 0 bumi itu (di bawah) jalan matahari malam/Bulan (Bandingkan Arysio Santos (2009), hal. 188).

Arysio Santos mencermati bahwa konsep pembalikan waktu itu sampai ke Yunani, seperti yang diutarakan oleh Plato dalam dialog berjudul Negarawan (Statesmen). Konsep ini sebenarnya berasal dari masyarakat Hindu dan, lebih tepatnya bangsa Atlantis. Dalam tradisi-tradisi Hindu, waktu berputar. Atas dasar inilah, Shesha (baca: ular), sering kali disebut Ananta (tak berujung). Fakta ini digambarkan oleh bentuk Shesha sendiri, yang berhubungan dengan symbol ketakterbatasan, angka 8 telentang. Inilah yang sebenarnya terjadi dengan waktu yang berputar. Dua lingkaran (dua angka 0) di sini (langit dan bumi) adalah pasangan dari masing-masing pihak. Simbol Ular Shesha ini sering menjadi lambang kedokteran, atribut lain yang sering digunakan yang berasal dari dewi Tanit dan pasangan lelakinya, Moloch, alias Atlas itu sendiri. Dua monster juga sering membentuk citra Ouroboros, yaitu mulut masing-masing monster berada di anus monster yang lain, kurang lebih sama dalam simbolisme angka “69”.

Misteri tentang  Atlantis yang Hilang atau Lokasi Surga yang hilang dalam polemik berabad-abad melalui kajian para pengarang yang berlandaskan warisan gagasan  Filsuf Besar Yunani, Plato (dalam Timaeus dan Critias), terbuktikan berada di wilayah Indonesia.  Pembuktian itu melalui kajian  Arysio Santos (hal. 68-280, 533-554), yang menegaskan bahwa dari sekian wilayah di dunia yang diselidiki sebagai lokasi  Atlantis yang hilang (surga empirik yang hilang) itu, ternyata wilayah Indonesia yang memenuhi persayaratan. Meneguhkan penandasan Arysio Santos mengenai wilayah Indonesia yang sesungguhnya menjadi wilayah Atlantis yang Hilang, tentunya posisi geografis Kepulauan Nusa Tenggara (NTB dan NTT) dan  Kepulauan Maluku menjadi sangat penting, sebagai pembuka tabir misteri Surga Empirik yang hilang itu.  Seperti elaborasi Arysio Santos terhadap sebutan Pulau versi Plato, yakni nesos dalam bahasa Yunani, sesungguhnya merujuk kepada pulau-pulau versi dunia di Indonesia. Kata nesos berarti tanah yang tenggelam dari kata dvipa yang digunakan oleh orang-orang Hindu, berarti juga benua (hal. 22).

Telusuran lebih jelas tentang kata insula dari bahasa Latin dan kata nesos dari bahasa Yunani, pada dasarnya dari kata incu bahasa Dravida, berarti tanah yang berair, rawa. Menurut Diodorus Siculus, atlantis yang tenggelam  dalam rawa Tritonides, sekaligus menegaskan bahwa Atlantis adalah benua yang tenggelam. Berikut kiasan untuk surga atlantis yang hilang dikenal dengan Taman Hesperides (atau Atlantides) sesungguhnya bermakna taman yang memiliki dua perairan dari bahasa Dravida yang merujuk makna kata dvipa=dvi-ap, berarti memiliki air di kedua sisi (hal 22-23). Tercermati makna dua perairan dari kata dvipa=dvi-ap (bahasa Dravida) itu merujuk kepada perairan samudra Pasifik dengan samudra Hindia. Dua perairan yang menjadi gerbang masuk dari Timur menuju Barat atau dari Barat menuju Timur. Gerbang masuk,  oleh Plato menegaskan sebagai salah satu indikator geografis terletak Benua Atlantis yang Hilang (Surga Empirik yang Hilang).  Merujuk keyakinan Buddha Amitabha menandaskan bahwa  itu wilayah sesungguhnya Surga Buddha tempat Matahari Terbit, yakni di Barat (Arysio Santos, hal. 36), bandingkan catatanku http://sosbud.kompasiana.com/2012/07/24/cendana-cengkeh-pala-sebagai-pembuka-tabir-misteri-geografis-atlantis-yang-hilang/

Dapat termaklumi bahwa Barat yang dimaksudkan sebagai tempat Surga Buddha itu, sesungguhnya Barat Terjauh (Kepulauan Nusa Tenggara), dan di situ juga Timur Terjauh (Kepulauan Maluku). Kedua wialayah ini  terletak pada poros bumi, dua ujung terjauh dunia bertemu: yakni penyatuan ujung  Timur dan ujung Barat dari Bumi. Timur Terjauh dan Barat Terjauh menunjuk kepada satu wilayah/ satu lokasi dalam pengertian purba.  Mengingat Bumi berbentuk bulat, sehingga ujung Timur Terjauh dan ujung Barat Terjauh itu menyatu menjadi satu tempat/satu wilayah (Arysio Santos, hal.27-28). Wilayah itu adalah terbit dan terbenamnya Matahari, lokasi poros Surga Empirik yang Hilang, tempat poros Taman Eden (Kebun Firdaus yang Hilang), ibukota kekaiseran Atlantis yang Hilang yang telah dikaji Stephen Oppenheimer dalam bukunya “EDEN IN THE EAST The Drowned Continent of Southeast Asia” 1998, diindonesiakan  “EDEN IN THE EAST, SURGA DI TIMUR, Benua yang Tenggelam di Asia Tenggara” 2010.

Timur Terjauh menjadi wilayah  kepulauan Maluku penghasil rempah-rempah  (Cengkeh dan Pala), komoditi yang tidak ada duanya di bumi. Barat Terjauh dalam hal ini Nusa Tenggara Timur wilayah penghasil Kayu Cendana yang kualitas kewangiannya sampai kekinian tidak tertandingi di dunia. Wilayah penghasil rempah-rempah dan bahan wewangian antara lain menjadi bagian fakta flora penegasan gagasan Plato tentang ciri Benua Atlantis yang Hilang (Arysio Santos,hal. 134). Dengan demikian fakta flora dan fakta letak geografis tentang Benua Atlantis yang Hilang (Surga Empirik yang Hilang), seperti yang digagaskan Plato dan dielaborasi Arysio Santos, sulit terbantahkan untuk menempatkan Nusa Tenggara dan Maluku sebagai bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sekaligus sebagai bukti nyata bahwa Atlantis yang Hilang itu menjadi pewaris yang syah: adalah Indonesia.

Memang, kejeniusan Arysio Santos untuk membuktikan Indonesia sebagai ahli waris syah wilayah Atlantis yang Hilang (Surga Empirik yang Hilang), tidak dapat tertandingi dan sulit untuk dibantah oleh siapapun. Namun penegasan lokasi Selat Sunda dan Pulau Sumatra menjadi penunjuk poros tentang ibukota kekaiseran Atlantis yang Hilang itu (hal. 533-554), terletak di Pulau Sumatra atau Taprobane (sebutan purba untuk pulau Sumatra), hanya merupakan replica/duplikat dari poros surga Asli yang hilang berlokasi sesungguhnya di Nusa Tenggara-Maluku. Suatu pengkajian secara cermat, telah membuktikan lokasi Matahari Terbit dan Matahari Terbenam, yakni Timur Terjauh dan Barat Terjauh, sebagai lokasi/tempat Matahari Terbit dan Matahari Terbenam itu, sesungguhnya poros Taman Eden (Kebun Firdaus), poros lokasi Surga,  sekaligus ibukota Kekaiseran Surga Empirik  yang Hilang (Atlantis yang Hilang), telah dilakukan oleh Oppenheimer melalui pembuktian Asal Gen Manusia awal dan Bahasa Asli Dunia (bab 2 hal. 53-96 dan bab 5 hal. 191-244).

Dalam tautan angka 0 jamak yang membentuk angka 8 itu, termaknai lokasi poros surga yang hilang, lokasi Awal Mula (Angka 0=Roh), di sini sesungguhnya juga lokasi Awal Penciptaan (The Big Bang/Ledakan Besar) dan kelak sebagai lokasi Akhir Zaman (The Big Crunch/Kehancuran Dasyat), bandingkan Alan Woods dan  Ted Grant, hal. 223-281 The Big Bang, 285-299 Dialektika Geologi, hal. 223-281 The Big Crunch. Dalam bahasa firman dikenal dengan Awal dan Akhir (Alpha-Omega), namun yang Awal Mula tentu tetap dalam keabadian-NYA sampai Akhir Zaman.

Penutup

Terpahami dalam Dialektika Geologi, bahwa mitos penghayutan benua melalui penghancuran oleh Ekor Ikan Raksasa sebagai bencana vulkanik (letusan gunung berapi di dalam samudera), dan melalui  senjata geografis Tombak sebagai bencana vulkanik (letusan gunung berapi di daratan), catatanku http://sejarah.kompasiana.com/2011/09/17/nusa-tenggara-timur-dan-maluku-dalam-mitos-sejarah-penghayutan-benua-396163.html. Pemahaman ini tentu membantu upaya menyingkap  misteri benua yang hilang (lokasi surga yang hilang) sebagai akibat akumulasi letusan gunung berapi baik di dalam samudra maupun di daratan mengepung wilayah Poros. Dapat tertelusuri dari aspek geologis pertemuan lempeng-lempeng benua menghimpit lempeng Benua Atlantis (saling bertubrukan:   Australia dari selatan, Amerika dari barat, dan Asia akibat tubrukan India membentuk Pegunungan Himalaya menyebabkan tubrukan lempeng Asia  Tenggara dari atas), maka terhanyutlah Benua Atlantis.

Terhanyut Benua Atlantis (Surga yang Hilang) akibat terkepung tubrukan  lempeng tiga benua (Australia dari selatan, Amerika dari Barat, Asia Tenggara dari Utara akibat tubrukan India), memaksa muncul listofer (daratan baru) yang tertebar berbagai pulau-pulau di wilayah Poros (bandingkan garis Wallace-Weber),  serta berbagai pulau yang berserakan di  zamudera Pasifik, juga Kepulauan Filipina. Tebaran daratan baru dari benua yang hilang melalui listofer, terapit oleh dua lempeng samudera yaitu zamudera Pasifik dan zamudra Hindia.  Sesungguhnya lempeng samudra Pasifik sebagai lempeng utama  zamudera Purba (Pasifik) dengan lempeng Benua Purba yang hilang (Atlantis) itu saat pemecahan massa benua tahap kedua di zaman Mezosoikum. Karena  akibat pemecahan massa benua tahap ke 3 (Amerika terbelah dari utara sehingga terpisah dengan Eropa, terbelah ke selatan sehingga terpisah dengan Afrika, maka Afrika bergerak naik menubruk Eropa terbentuk pegunungan Karpatia, bersamaan India bergerak dari bawah menubruk Asia terbentuk pegunungan Himalaya, memaksa daratan Asia bergerak  ke bawah (Asia Tenggara) melalui daratan Jawa Purba  menghimpit di atas lempeng benua yang hilang), maka samudra Purba (Pasifik) itu terbagi ke samudera Hindia dan samudera Atlantik. Sedangkan samudra Lethys sebagai samudera Utama Purba dunia pada saat pemecahan massa benua tahap 1 terjebak sampai kekinian menjadi Laut Tengah di Eropa sebagai akibat akumulasi tubrukan Afrika terhadap Eropa membentuk pegunungan Karpatia ( Afrika yang bergerak naik dari Selatan Katulistiwa  arah Barat, karena terlepas dari Amerika Selatan). Bersamaan  dengan tubrukan India terhadap Asia membentuk pegunungan Himalaya (India yang bergerak naik dari Selatan Katulistiwa arah Timur karena tubrukan lempeng benua Australia terhadap lempeng Benua yang Hilang/Atlantis), catatanku http://sosbud.kompasiana.com/2011/09/20/dialektika-geologi-nusa-tenggara-maluku-dan-misteri-india-dalam-mitos-permusuhan-dua-bersaudara-mengenai-penghayutan-benua-396913.html

. Listofer Benua yang Hilang (wilayah Poros: Kepulauan Nusa  Tenggara minus Bali, Kepulauan Maluku, Pulau Sulawesi), ke Utara termasuk Kepulauan Filipina, sedangkan ke Timur mencakup tebaran pulau-pulau di zamudera Pasifik. Ke wilayah Selatan mencakup Selandia Baru, sedangkan ke wilayah Barat mencakup Madagaskar saat itu berposisi dengan India yang masih berada di belahan bumi selatan katulistiwa arah Timur saat pemecahan massa benua tahap 2.  Posisi pulau  Irian (Papua), merupakan daratan yang terlepas dari lempeng benua Australia di saat lempeng benua Australia bergerak dari selatan menubruk benua Atlantis saat pemecahan massa benua tahap 3 yang mengakhiri zaman Meolitikum, untuk memasuki zaman Neolitikum (zaman es), bandingkan dengan Peta Atlantis, Kekaiesran tempo dulu yang maha luas, direproduksi Arysio Santos (hal. 256) dari peta Leo Frobenius (1873 – 1938).

Tercermati  di akhir zaman Es (akhir zaman Neozikum) setelah banjir dasyat (Air Bah Nabi Nuh)  pada 11.600 tahun lalu, menempatkan  India sebagai pusat peradaban dunia (Replikanya Salib Atlantis) yang berakhir 3000 tahun lalu. Di saat akhir replika atlantis itu, peradaban dunia bergeser ke Mesir (Dewa Ra, Matahari)  dan Yunani (dengan Filsafat), yang berakhir 2000 tahun lalu. Kemudian 2000 tahun lalu itu peradaban Salib Kristus di Timur Tengah dan Eropa, menyusul 1500 tahun lalu peradaban Bulan-Bintang Arab. Semua peradaban itu berawal atau sumber asalnya dari Atlantis, benua yang terhanyutkan oleh lempeng benua Amerika. Peradaban Atlantis itu dielaborasi oleh filsuf Plato sebagai Peradaban Tinggi Masyarakat Sipil. Dibuktikan oleh Arysio Santos sebagai Peradaban Salib Atlantis, ditunjukan lokasi  dan wilayah benua (surga) yang hilang itu oleh Stephen Oppenheimer melalui pembuktian asal Gen Asli dan sumber Asal Bahasa Austronesia di Wilayah  Kepulauan  Nusa Tenggara dan Kepulauan Maluku.

Dengan demikian angka 0 menjelaskan makna keilahian Awal Mula (Roh), sebagai telur kosmik yang menetaskan 0 jamak (Awal Penciptaan) yang membentuk angka 8 mengandung keilahian makna penciptaan Langit dan Bumi. Angka 8 tegak/vertikal menjelaskan Langit-Bumi, sedangkan angka 8 telentang/horizontal menjelaskan manusia Laki-laki dan Wanita. Posisi Laki-laki menjelaskan Barat, sedangkan Wanita menjelaskan Timur, dan tempat Langit menjelaskan Utara, sedangkan Bumi menjelaskan Selatan. Di tautan kedua angka 0 yang menyatu membentuk angka 8 itu terletak lokasi Surga Empirik, alpha-omega, tempat bersemayam Roh. Di situ tempat Awal Penciptaan (The Big Bang) dan kelak terjadi Akhir Zaman (The Big Crunch).***

Dataran Oepoi, Kota Karang Kupang, Tanah Timor, 30 Nopember 2012

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

9 Mei 2014, Sri Mulyani Come Back …

Juragan Minyak | | 25 April 2014 | 10:12

Senayan Berduka: Wajah Baru Caleg Misterius …

Saefudin Sae | | 25 April 2014 | 08:37

Kesuksesan Kerabat Kepala Daerah di Sulawesi …

Edi Abdullah | | 25 April 2014 | 10:02

Selamat Hari Malaria Sedunia 2014 …

Avis | | 25 April 2014 | 11:08

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: