Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Arimbi Bimoseno

Keep calm and write a novel :: http://arimbibimoseno.com

Filosofi Santan Kelapa Bagi Kehidupan

OPINI | 15 November 2012 | 12:46 Dibaca: 853   Komentar: 10   9

1429927860831564521

Foto ilustrasi: http://www.vemale.com/

-

Kamu mau tahu indahnya rasa sakit, pedih, perih? Tanyakan pada buah kelapa yang sudah berubah menjadi santan yang siap dilebur ke dalam masakan bersama racikan bumbu lainnya.

Awalnya buah kelapa itu tertutup rapat di dalam batoknya. Batoknya yang keras itu harus dihancurkan terlebih dulu supaya buah kelapa yang putih itu bisa diambil untuk kemudian dibelah dengan memakai pisau yang tajam. Kulit tipis kecokelatan yang menutupi buah kelapa perlu dikerok sampai habis supaya nantinya tampilan santannya putih benar, tidak bercampur kecokelatan.

Masih ada proses lanjutannya, buah kelapa yang sudah dikerok dan dicuci bersih itu kemudian diparut. Bagaimana rasanya diparut, perihkah? tapi itu harus dilalui si buah kelapa agar dirinya menjadi santan yang berguna bagi penggunanya, yang menyukai masakan bersantan tentunya, atau yang suka membuat jajanan dengan menggunakan santan.

Ibarat perjalanan panjang kehidupan, proses si buah kelapa belum selesai sampai di sini. Setelah diparut sampai habis, parutan kelapa itu kemudian diperas-peras untuk diambil sari santannya, diperas di atas saringan untuk memastikan santan tidak bercampur dengan parutan kelapa yang lembut sekalipun.

Sudah selesai? Belum. Santan kental dan santan encer sudah diletakkan di dua wadah yang berbeda. Pun demikian, santan tidak bisa berdiri sendiri. Untuk menjadi berarti, ia harus bersatu padu dengan aneka bumbu lainnya apabila ingin dibuat masakan gulai ayam misalnya, bersama bawang merah, bawang putih, cabe, lengkuas, daun salam, garam, gula, dan kawan-kawannya dengan ukuran sesuai selera.

-

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Nazariah: Dari Tsunami ke Sokola Rimba …

Bai Ruindra | | 03 May 2015 | 16:54

Pemecah Granit di Tanjung Berbatu Pulau …

Rakhmad Fadli | | 03 May 2015 | 13:34

Juventus Kunci Juara, Chelsea Tinggal Tunggu …

Aditya Prahara | | 03 May 2015 | 16:02

Tiga Cerita Tetangga, Terpuruk pada Usia Tua …

Sugiyanto Hadi | | 02 May 2015 | 21:41

Mari Lestarikan Air Bersama AQUA! …

Kompasiana | | 10 April 2015 | 19:03


TRENDING ARTICLES

Mendambakan Kartun Jokowi yang …

Gustaaf Kusno | 4 jam lalu

Hukuman Apakah yang Pantas Buat Jenderal …

Avatar Aang | 8 jam lalu

Terpojok, Mayweather Angkat Sabuk 20 Miliar …

Fazrin Fadhillah | 9 jam lalu

Prestasi Terbesar Budi Waseso …

Ricky Vinando | 9 jam lalu

Sudahlah, Pak La Nyalla! Kami Mau Nonton …

Ade Adran Syahlan | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: