Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Shanan Asyi

Mahasiswa Fakultas Kedokteran. Baca buku kedua saya "Kisah Perjalanan Umrah", dapat di download di http://www.mediafire.com/?m3o396e721b5wgo Lihat selengkapnya

Tersesat dalam Kehidupan di Luar Idealisme

REP | 14 November 2012 | 01:21 Dibaca: 209   Komentar: 0   0

Hari ini aku terpaku dan terdiam. membisu dan membeku. Aku kini sadar bahwa makna hidup berbeda-beda bagi tiap insan.

TIap orang berlari pada rodanya masing-masing. Tiap orang berlari diatas putaran mimipinya lalu ketika dia mendapatkannya, bukankah hal tersebut yang disebut dengan sukses.

Aku ingat ketika dulu aku baru masuk ke sekolah itu, semuanya hampa. Aku melihat berbagai orang luar biasa, dan sayangnya aku hanya menjadi penonton.

Lalu takdir Tuhan pun mengubahku, berbagai inspirasi datang, motivasi muncul, hingga aku bisa berdiri sekarang.

Sekarang aku berada pada FK terhebat se-Indonesia, disertai mahluk super jenius dari seluruh Indonesia. Jika melihat kebelakang kepada aku yang hanya seonngok daging dulu, bukankah ini adalah akumulasi dari berbagai Usaha dalam mewujudkan mimpi.

Namun sayangnya teman, mimpi bisa berubah. Jiwa manusia bukan hanya sesuatu yang monoton. Manusia bukanlah robot. Dia memiliki poros yang tak terkendali namun dikontrol. Dikontrol oleh yang diatas.

Namun apakah jika mimpi berubah berarti kita tidak konsisten? tentu tidak. Manusia adalah isan pembelajar yang luar biasa. Mereka akan mencari idealisme terbaik dalam hidup mereka, dan itu berlangsung dalam kurun waktu yang lama, bahkan seumur hidup mereka. Maka jalanlah dijalan yang telah ditetapkan oleh tuhanmu yang akhirnya menjadi tersadar olehmu.

Seharusnya kita dapat berpikir bahwa seberapapun tebok yang menghadang, manusia diperkeannkan untuk mendakinya. Bukankah manusia diberikan otak untuk berpikir? Bukankah manusia diciptakan kaki dan tangan untuk banyak manfaat? Memberi? Dan dalam kasus ini mendaki.

Ingat teman. terus lah cari idealisme anda sendiri, seberapapun tersesatnya anda saat ini, karena nanti jika waktunya tiba maka yang timbul adalah harmoni.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tim Indonesia Meraih Emas dalam Taste of …

Ony Jamhari | | 20 September 2014 | 13:35

Pendaftar PNS 1,46 juta, Indonesia Minim …

Muhammad | | 20 September 2014 | 12:59

Dari Melipat Kertas Bekas Bergerilya Berbagi …

Singgih Swasono | | 20 September 2014 | 17:28

Di Pantai Ini Tentara Kubilai Khan Mendarat! …

Mawan Sidarta | | 20 September 2014 | 13:30

Beli Bahan Bakar Berhadiah Jalan-jalan ke …

Advertorial | | 20 September 2014 | 07:12


TRENDING ARTICLES

Ini Tanggapan Pelatih Valencia B tentang …

Djarwopapua | 14 jam lalu

Kalau Tidak Mau Dirujuk, BPJS-nya Besok …

Posma Siahaan | 18 jam lalu

Jokowi Pernah Disumbang Tahir, Kenapa TNI …

Aqila Muhammad | 20 jam lalu

Heboh!Foto Bugil Siswi SMP Di Jakarta …

Adi Supriadi | 22 jam lalu

Kisah Perkawinan Malaikat dan Syaiton …

Sri Mulyono | 23 jam lalu


HIGHLIGHT

Rebranding Sepak Bola di India …

Handy Fernandy | 14 jam lalu

Kesetrum, Antara Reflek dan Tuhan …

Bang Pilot | 15 jam lalu

Judika Bangga Membagikan Budaya di Rising …

Sahroha Lumbanraja | 15 jam lalu

i-Road, “Bajaj” Masa Depan ! …

Angga Saputra | 15 jam lalu

Kompasiana - Yamaha Nangkring Heboh …

Rahmat Hadi | 16 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: