Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Shanan Asyi

Seorang calon dokter. Tolong di vote ya teman teman tulisan saya di gramedia writing project http://gwp.co.id/born-of-new-disease/ selengkapnya

Tersesat dalam Kehidupan di Luar Idealisme

REP | 14 November 2012 | 01:21 Dibaca: 212   Komentar: 0   0

Hari ini aku terpaku dan terdiam. membisu dan membeku. Aku kini sadar bahwa makna hidup berbeda-beda bagi tiap insan.

TIap orang berlari pada rodanya masing-masing. Tiap orang berlari diatas putaran mimipinya lalu ketika dia mendapatkannya, bukankah hal tersebut yang disebut dengan sukses.

Aku ingat ketika dulu aku baru masuk ke sekolah itu, semuanya hampa. Aku melihat berbagai orang luar biasa, dan sayangnya aku hanya menjadi penonton.

Lalu takdir Tuhan pun mengubahku, berbagai inspirasi datang, motivasi muncul, hingga aku bisa berdiri sekarang.

Sekarang aku berada pada FK terhebat se-Indonesia, disertai mahluk super jenius dari seluruh Indonesia. Jika melihat kebelakang kepada aku yang hanya seonngok daging dulu, bukankah ini adalah akumulasi dari berbagai Usaha dalam mewujudkan mimpi.

Namun sayangnya teman, mimpi bisa berubah. Jiwa manusia bukan hanya sesuatu yang monoton. Manusia bukanlah robot. Dia memiliki poros yang tak terkendali namun dikontrol. Dikontrol oleh yang diatas.

Namun apakah jika mimpi berubah berarti kita tidak konsisten? tentu tidak. Manusia adalah isan pembelajar yang luar biasa. Mereka akan mencari idealisme terbaik dalam hidup mereka, dan itu berlangsung dalam kurun waktu yang lama, bahkan seumur hidup mereka. Maka jalanlah dijalan yang telah ditetapkan oleh tuhanmu yang akhirnya menjadi tersadar olehmu.

Seharusnya kita dapat berpikir bahwa seberapapun tebok yang menghadang, manusia diperkeannkan untuk mendakinya. Bukankah manusia diberikan otak untuk berpikir? Bukankah manusia diciptakan kaki dan tangan untuk banyak manfaat? Memberi? Dan dalam kasus ini mendaki.

Ingat teman. terus lah cari idealisme anda sendiri, seberapapun tersesatnya anda saat ini, karena nanti jika waktunya tiba maka yang timbul adalah harmoni.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Horor, Jenazah Anak Diajak Main Ayunan oleh …

Riana Dewie | | 24 May 2015 | 10:23

Hati-hati, Kita Bisa Turut Menyebarkan …

Christian Kelvianto | | 24 May 2015 | 14:39

[Blog Competition] Selfie Moment …

Kompasiana | | 18 May 2015 | 17:04

Benteng Otanaha di Gorontalo …

Arief Setiawan | | 24 May 2015 | 15:12

Kirim Review Blogshop bersama JNE Anda dan …

Kompasiana | | 10 April 2015 | 15:13


TRENDING ARTICLES

Kisruh Golkar Senjata Jusuf Kalla, Petral …

Ninoy N Karundeng | 5 jam lalu

Lecehkan Ras Sunda, Color Run Subang Dicekal …

Jadiah Upati | 6 jam lalu

Beras Platik: Teror untuk Siapa? …

Gatot Swandito | 7 jam lalu

Rekayasa Hadi, Negara Rugi 2 Triliun, KPK …

Imam Kodri | 13 jam lalu

Presiden Jokowi Menerima Gratifikasi Batu …

Gunawan | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: