Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Drh. Chaidir, Mm

JABATAN TERAKHIR, Ketua DPRD Provinsi Riau Periode 1999-2004 dan Periode 2004-2008, Pembina Yayasan Taman Nasional selengkapnya

Puisi untuk Rakyat

OPINI | 12 November 2012 | 07:37 Dibaca: 258   Komentar: 0   1

Oleh drh Chaidir

KHALIFAH Umar bin Khattab memberi nasihat, “Ajarkan sastra pada anak-anakmu, agar anak yang pengecut jadi pemberani.” Ungkapan itu sangat menarik, tetapi saya tak menemukan konteks yang pas kecuali bahwa sastra Arab di masa itu sering berhubungan dengan semangat kepahlawanan. Kenapa Umar bin Khattab memberi apresiasi tinggi kepada sastra? Aisyah r.a. bahkan menyebut secara lebih spesifik, “Ajari anak-anak puisi sejak dini.” Kenapa mesti puisi, bukan ilmu aljabar? Adakah karena aljabar bukan sastra, sedangkan puisi adalah genre sastra? Dengan demikian menulis puisi berarti menjadikan anak-anak pemberani?

Sastrawan seakan memang dilahirkan memiliki keberanian berlebih dalam penggunaan kata-kata. Mereka tak pernah takut salah dalam meramu kata-kata, dan tak pernah merasa khawatir kendati kata-katanya setajam sembilu dalam menegakkan kebenaran dan keadilan. Penulis puisi sering disebut penguasa kata-kata, dan dalam wilayah singgasana kekuasaannya itu, menurut Sutardji Calzoum Bachri, sastrawan tak bisa diminta pertanggung jawabannya. Barangkali karena kebebasan dan keberanian berekspresi itu, maka sastrawan menjadi seorang pemberani atau dikenal pemberani. Sastrawan tak pernah ada beban dalam memanfaatkan kelebihannya mengungkapkan bahasa-bahasa sastra, mereka seakan tak punya saraf takut sama sekali.

Kalau logikanya demikian, maka Umar bin Khattab dan Aisyah r.a. tak berlebihan dengan tesisnya. Lihatlah beberapa pujangga kita, Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Ajip Rosidi, Asrul Sani, WS Rendra, Pramoedya Ananta Toer, Sutardji Calzoum Bachri, Taufiq Ismail, Gunawan Mohamad, Idrus Tintin, Ediruslan Pe Amanriza, dan lain-lain. Mereka tak pernah gentar melawan kekuasaan dan ketidak adilan. Adakalanya mereka dikucilkan, dipenjara, tapi mereka tak peduli.

Tradisi itulah agaknya yang hendak dipertontonkan nanti malam oleh sejumlah sastrawan Riau dalam bentuk Malam Baca Puisi di Arena Purna MTQ Pekanbaru sebagai bentuk solidaritas atas aksi kekerasan yang dialami oleh Didik, wartawan Riau Pos dalam musibah jatuhnya pesawat tempur Hawk 200 di Desa Pasir Putih, Kampar, Riau, pada 16 Oktober 2012 lalu. Sastrawan yang ambil bagian antara lain tercatat Rida K Liamsi, Mustamir Thalib, Edi Ahmad RM, Fedli Azis, Kuni Masrohanti, Fakhrunnas MA Jabbar, Hang Kafrawi, Syaukani El Karim, Kazzaini KS, Prof Yusmar Yusuf, dan lain-lain. Semuanya nama-nama terbilang.

Sastrawan Riau, negeri pujangga, menggeliat terbangun dari hibernasi. Kezaliman dan kesewenang-wenangan memang harus dilawan. Hukum harus ditegakkan, pembiaran tak boleh terjadi. Didik tak boleh dikorbankan, juga Letkol Robert Simanjuntak, keduanya tak lebih penting dari rakyat daerah umumnya, yang sering jadi korban salah urus sistemik akibat nafsu angkara murka. Kita lupa sumpah moyang, “raja alim raja disembah, raja zalim raja disanggah.” Kita tunggu agenda sastrawan Riau berikutnya, baca puisi untuk rakyat.

Tentang Penulis : http://drh.chaidir.net

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sambut Sunrise Dari Puncak Gunung Mahawu …

Tri Lokon | | 28 July 2014 | 13:14

Pengalaman Adventure Taklukkan Ketakutan …

Tjiptadinata Effend... | | 28 July 2014 | 19:20

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 12 jam lalu

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 13 jam lalu

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 14 jam lalu

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 17 jam lalu

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: