Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Ajmain Halta

Kumpulan Kata-Kata Cinta, Renungan hati, inspirasi dan kata-kata status facebook

Kata Kata Sombong

REP | 08 November 2012 | 04:50 Dibaca: 777   Komentar: 0   1

Hari ini tak seperti biasanya, sepulang mengajar  kusempatkan diriku untuk singgah ke mesjid. Lama sudah aku tak merasakan dinginnya berwudhu disini, melirik sejenak kajian-kajian pekan yang telah tersusun rapi di papan pengumuman. Seusai wudhu aku menaiki tangga putih untuk menuju ke tempat khusus akhwat, kucari mukena yang terbaik dan membuatku nyaman. Aku memilih tempat di sudut di dalam mesjid itu, dan melanjutkan shalat sunat dua rakaat. Adalah sekitar 15 menit aku menunggu azan asar berkumandang, ku buka kitab suci mini yang kubawa, membaca surah Al Israa beberapa lembar. Tak lama jamaah masjid ini mulai ramai, shaf di depan dipenuhi oleh ibu-ibu, begitu selanjutnya, mereka berbaur mencari tempat terbaik dan ternyaman untuk beribadah. Empat rakaat ibadah telah ditunaikan secara berjamaah, merapatkan siku dan kaki agar tak ada celah.

Seseorang yang merapat di sampingku, serta merta mengulurkan tangannnya setelah salam, lalu kembali khusyuk berzikir, menyampaikan puji-pujian kepada sang Khaliq.

Tak lama, kotak amal yang biasa beredar seusai shalat berjamaah berhenti tepat dihadapanku, aku merogoh-rogoh saku bajuku, lalu membuka dompet, sempat agak lama kotak amal itu berada dihadapanku, karena aku sibuk mencari uang pecahan terkecil yang aku punya, perlu aku katakan dalam dompetku ada uang lembaran lima puluh ribu dua lembar, dua puluh ribu satu lembar dan sepuluh ribu satu lembar, dan pecahan seribu tiga lembar. Serta merta kutarik pecahan terkecil dari dompet itu satu lembar, lalu melipatnya kecil-kecil dan kumasukkan dalam kotak amal itu.

Selanjutnya kotak amal itu bergeser ke kanan dan disambut oleh seseorang yang tadi menyalamiku. Entah kenapa kusempatkan melirik ke kanan, seseorang itu langsung membuka dompetnya yang kembali lagi, maaf!!! Jelas kulihat di dompetnya hanya ada pecahan dua puluh ribu satu lembar dan lima ribu satu lembar. Tanpa pikir lama, lima detikpun tak sampai, seseorang itu menarik dua puluh ibu untuk kemudian dilipat kecil-kecil dan langsung dimasukkan kedalam kotak amal itu, selanjutnya pandangannya kembali khusyuk kedepan, melanjutkan puji-pujiannya kepada Sang Khaliq.

info selengkapnya di

Kata Kata Sombong

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Latahnya Pedagang Kaki Lima …

Agung Han | | 17 September 2014 | 04:16

Polemik Kabinet Jokowi-JK …

Mike Reyssent | | 17 September 2014 | 05:05

Potret-Potret Geliat TKW HK Memang …

Seneng Utami | | 17 September 2014 | 06:07

Pro-Kontra Pembubaran (Sebagian) Kementerian …

Hendi Setiawan | | 17 September 2014 | 08:17

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

PKS Pecundang Menolak Pilkada Langsung …

Damang Averroes Al-... | 12 jam lalu

Jusuf Kalla Sebaiknya Belajar dari Ahok …

Relly Jehato | 14 jam lalu

Wanda Hamidah Bukan Ahok …

Mawalu | 16 jam lalu

Ini Kepemimpinan Ala Jokowi …

Sjahrir Hannanu | 16 jam lalu

Anomali Ahok: Pahlawan atau Pengkhianat? …

Choirul Huda | 19 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika Jokowi Bermain Kata-kata …

Hasan Ali | 8 jam lalu

Sanggupkah Timnas Lolos dari Hadangan …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Istilah Luar Negeri …

Rizky Purwantoro | 8 jam lalu

Maudy Ayunda ‘Dimodusin’ Bule! …

Darren Wennars | 8 jam lalu

Kutinggalkan Cintaku Terkapar di Tuktuk (7) …

Leonardo | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: