Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Renaissance Vs Humanisme

REP | 07 November 2012 | 21:54 Dibaca: 1595   Komentar: 0   0

A. Renaissance

Istilah Renaissance berasal dari bahasa Perancis yang berarti kebangkitan kembali. oleh sejarawan, istilah tersebut digunakan untuk menunjukkan berbagai periode kebangkitan intelektual, khususnya yang terjadi di Eropa. orang yang pertama menggunakan istilah tersebut adalah Jules Michelet, sejarawan Perancis terkenal. Menurutnya, Renaissance ialah periode penemuan manusia dan dunia dan bukan sekedar sebagai kebangkitan kembali yang merupakan permulaan kebangkitan modern. bila dikaitkan dengan keadaan, Renaissance adalah masa antara zaman pertengahan dan zaman modern yang dapat dipandang sebagai masa peralihan, yang ditandai oleh terjadinya sejumlah kekacauan dalam bidang pemikiran. di satu pihak terdapat astrologi, kepercayaan yang bersangkutan dengan dunia hitam, perang-perang agama, dan sebagainya, dan di lain pihak muncullah ilmu pengetahuan alam modern serta mulai berpengaruhnya suatu perasaan hidup baru. pada saat itu muncullah usaha-usaha penelitian empiris yang lebih giat yang pada akhirnya memunculkan sains bentuk baru.

Awal mula dari suatu masa baru ditandai oleh suatu usaha besar dari Descartes (1596 - 1650 M ) untuk memberikan kepada filsafat suatu bangunan yang baru. dalam bidang filsafat,zaman Renaissance kurang menghasilkan karya penting bila dibandingkan dengan bidang seni dan sains. namun,di antara perkembangan itu, terjadi pula perkembangan dalam bidang filsafat. Descrates sering disebut sebagai tokoh pertama filsafat modern.

Ciri utama filsafat pada masa Renaissance adalah rasionalisme, yang menetapkan bahwa kebenaran berpusat dari akal, tetapi setiap akal bergantung padsa sujek yang menggunakannya. oleh karena itu, seorang filosof rasionalis menekankan bahwa berfikir sebagai wujud keberadaan diri, jika seorang berfikir berarti ia ada. Ajaran ini diperkenalkan oleh Rene Descrates dengan paradigma cogito ergo sum atau cogito desrates. (Ahmad syadali dan Mudzakir, 2004 : 104 - 106).

B. Humanisme

Pada masa Renaissance muncul aliran yang menetapkan kebenaran berpusat pada manusia, yang kemudian disebut dengan humanisme. aliran ini lahir disebabkan kekuasaan gereja yang telah menafikan berbagai penemuan manusia, bahkan dengan doktrin dan kekuasaannya, gereja telah meredam para filosof dan ilmuwan yang dipandang dengan penemuan ilmiahnya telah mengingkari kitab suci yang selama ini diacu oleh kaum kristiani.

Humanisme, menurut Ali Syariati (1992 : 39), berkaitan dengan eksistensi manusia, bagian dari aliran filsafat yang menyaakan bahwa tujuan pokok dari segala sesuatu adalah kesempurnaan manusia. aliran ini memandang bahwa manusia adalah makhluk mulia yang semua kebutuhan pokok diperuntukkan untuk memperbaiki spesiesnya.

Ada empat aliran yang mengklaim sebagai bagian dari humanisme, yaitu : (1) liberalisme barat; (2)marxisme; (3) eksistensialisme; dan (4) agama. liberalisme barat menyatakan diri sebagai pewaris asli filsafat dan peradaban humanisme dalam sejarah, yang dipandangnya sebagai aliran pemikiran peradaban yang dimulai dari Yunani Kuno dan mencapai puncak kematangan kesempurnaan relatif pada Eropa modern.

Teori humanisme barat dibangun atas asas yang sama yang dimiliki oleh mitologi Yunani Kuno bahwa antara langit dan bumi, alam dewa-dewa dan alam manusia, terdapat pertentangan dan peraturan, sampai-sampai muncul kebencian dan kedengkian antara keduanya. para dewa adalah kekuatan yang memusuhi manusia. seluruh perbuatan dan kesadarannya ditegakkan atas kekuasaannya yang lazim terhadap manusia yang dibelenggu oleh kelemahan dan kebodohannya. Tentu saja hubungan yang bercorak permusuhan seperti ini, sepenuhnya wajar dan logis. dan dari satu sisi bisa dikatakan benar dan sepenuhnya sahih. sebab, dewa-dewa dalam mitologi Yunani adalah penguasa segala sesuatu, dan manifestasi dari kekuatan fisik yang terdapat di alam semesta:laut, sungai, bumi, hujan, keindahan, kekuatan jasmani, kemakmuran ekonomi, gempa, penyakit, kelaparan, dan kematian. (Ali Syariati, 1992 : 40)

Berdasarkan hal itu, pertempuran antara dewa-dewa dan manusia, pada dasarnya adalah pertempuran antara manusia dan penguasa kekuatan alam yang berlaku atas kehidupan, berkehendak dan nasib manusia. dengan kekuatan, kecerdasan, dan kesadarannya yang terus-menerus meningkat, manusia mencoba untuk membebaskan dirinya dari cengkraman kekuasaan tersebut, agar dia bisa menentukan urusannya sendiri dan menjadi kekuatan paling berkuasa atas alam semesta ini. Artinya, dia bisa menjadi wakil Zeus yang merupakan fenomena kekuasaan alam atas manusia.

Kesalahan Barat yang paling serius yang di atasnya ditegakkan bangunan humanisme modern dimulai dari pandangan Politzer, dan berlanjut pada Feurbach dan Marx- ialah mereka menganggap dunia mitologi Yunani Kuno yang bergerak di seputar jiwa yang terbatas, alami dan fisikal, dan dunia spiritual yang sakral dalam pandangan agama-agama besar Timur-sekalipun ada perbedaan esensial antara keduanya sebagai dunia yang sama, dan menganalogikan fenomena yang ada dalam hubungan manusia dengan Ahuramazda, Rhama, Tao, Yesus Sang Juru Selamat, dengan hubungan manusia dengan Zeus, bahkan mereka menyatakan adanya kesamaan antara keduanya. padahal mereka tahu bahwa kedua bentuk hubungan tersebut sepenuhnya berbanding terbalik. (Ali Syariati, 1992 : 40)

Di sini, kita melihat bahwa berbeda dengan Zeus, dalam agama-agama, Tuhan berkehendak membebaskan manusia dari belenggu perbudakan terhadap alam, dan menyatakan pula bahwa cara membebaskan diri dari belenggu tersebut adalah mengikuti “api Bramateus” itu sendiri, dan seterusnya, kita sampai pada kesimpulan tersebut, yaitu bahwa Allah-lah dalam pandangan agama-agama besar dunia yang mengajak manusia untuk mengalahkan Zeus dan menyatakan bahwa “seluruh malaikat bersujud kepada Adam” dan bahwasanya “daratan, lautan, semuanyaditundukkan untuk kepentinganmu.”

Itulah sebabnya, wajar dan logis bila dalam pandangan Yunani Kuno yang memitoskan alam tersebut, humanisme mengambil bentuk sebagai penentang kekuasaan para dewa, yakni tuhan-tuhan alam dan sesembahan mereka. dari sini, terbentuklah pertarungan antara humanisme dan theisme.

Berdasarkan hal itu, humanisme Yunani Kuno berusaha untuk mencapai jati diri manusia dengan seluruh kebenciannya kepada Tuhan dan pengingkarannya atas kekuasaan -Nya, serta memutuskan tali perhambaan manusia dengan “langit”, ketika ia menjadikan manusia sebagai penentu benar atau tidaknya suatu perbuatan, dan menentukan bahwa segala potensi keindahan itu terletak pada tubuh manusia. Humanisme Yunani hanya memerhatikan unsur-unsur yang mengagungkan keindahan kekuasaan atau kenikmatan bagi manusia.

Konsistensi humanisme seperti itu, manakala menampakkan dirinya di depan “langit”, ia pun berubah sosoknya menjadi bercorak bumi dan menyimpang ke arah materialisme atau pengagungan terhadap nilai-nilai materialis. itu sebabnya, humanisme, dalam pandangan Barat- sejak Yunani Kuno hingga Eropa modern- bermuara pada materialisme, dan menemukan nasibnya yang tercermin dalam liberalisasi sains, peradaban borjuis Barat, dan marxisme timur. semuanya itu menyeret humanisme yang mengagungkan manusia di Barat untuk memilih bentuk dengan posisi yang semakin meningkat penentangnya terhadap theisme, karena katholik abad pertengahan menjadi agama Masehi yang dipandangnya sebagai agama mutlak, sebagai musuh humanisme, serta menciptakan pertarungan langit dan bumi yang juga ada pada mitologi Yunani dan Romawi Kuno. akibatnya, manusia sejalan dengan interpretasi-interpretasi Yunani tentang “dosa asal” dan ” pengusiran manusia dari surga”-dinyatakan sebagai mahluk yang dipaksa tunduk kepada kehendak Tuhan dan tertindas di muka bumi, serta menyebutnya sebagai “pendosa yang lemah dan terkutuk”. yang memperoleh pengecualian dari komunitas manusia seperti itu hanyalah lapisan kaum pendeta karena dipandang memiliki “Roh Tuhan”, dan bahwa satu-satunya jalan menuju kebahagiaan yang harus ditempuh orang lain adalah taklid buta kepada mereka, serta bergabung dalam lembaga resmi yang dikendalikan oleh suatu institusi formal yang mengatasnamakan diri sebagai wakil Tuhan di muka bumi. metode berfikir seperti inilah yang menyebabkan theisme menjadi lawan humanisme, dan cara perealisasian kekuasaan Tuhan ini, secara paksa, digerakkan di atas mazhab yang menjadikan humanisme sebagai korbannya. oleh karena itu, Humanisme-pada abad pertengahan betul-betul terlindas. itulah sebabnya, fenomena-fenomena artistik dan estetik abad pertengahan merupakan ungkapan dari lukisan-lukisan metafisik dan apa yang ada di balik alam manusia: Roh Kudus, Yesus Kristus, Malaikat, Mukjizat, Kramat, dan sebagainya. kalaupun di situ terlihat wajah manusia, itu pasti wajah orang-orang suci dan santo-santo. itu pun pasti dengan jubah yang menutup kepala hingga mata kaki, dan lazimnya wajah mereka pun tersembunyi demikian rupa, atau tenggelam di balik “cahaya malakut”. inilah alasannya perhatian sepenuhnya dalam estetika Yunani dicurahkan pada tubuh manusia, dan bangunan keindahan dipusatkan pada lekuk-lekuk tubuh telanjang. patung-patung dan lukisan-lukisan Yunani yang mengemukakan keindahan kepala manusia dan menjadikan puncak keindahan terletak pada tubuh telanjang, merupakan gaya yang muncul dari humanisme seperti itu, oleh karena itu seni di Eropa mengenal unsur-unsur kemanusiaan.

Di tempat manapun katholik abad pertengahan berada, kita pasti melihat manusia berbondong-bondong menuju Tuhan. artinya, mereka diwajibkan mencari perkenan dan ridha Tuhan dengan mengorbankan jati diri kemanusiaan mereka. sampai sejauh manakah kira-kira persamaan antara Tuhan dalam agama Masehi dan Tuhan Zeus ?

Kalau kita bisa mengatakan bahwa humanisme pasca-renaissance di Eropa modern merupakan kelanjutan dari humanisme Yunani Kuno, kita pun bisa mengatakan bahwa. “mazhab langit” yang ada dalam agama Masehi abda pertengahan juga merupakan kelanjutan dari “mazhab langit” dalam mitologi Yunani dan Romawi Kuno, baik yang ada pada abad pertengahan maupun abad modern sekarang ini. semuanya mengalir dari sumber Yunani. sementara itu, sejarah peradaban Barat adalah kelanjutan dari aliran yang bertentangan yang terdapat dalam sumber tersebut. tidak ada perbedaan apapun, apakah agama maupun ilmu pengetahuan.

Kedua aliran yang bertentangan dan berasal dari satu sumber itu, mengambil bentuk dalam borjuisme dan marxisme, yang sama-sama bermuara pada. “materialisme-humanisme“, baik dalam bidang kehidupan maupun akidah. baik pulitzer maupun marx sama-sama menutup mata terhadap dampak psikologis pandangannya pada diri manusia. masyarakat borjuis dan komunis, memperoleh hasil yang sama dalam usahanya membentuk manusia, kehidupan, dan masyarakat manusia. borjuisme masyarakat komunis yang lebih terkemudian-yang sekarang ini tidak memiliki pendukung-bukan terjadi secara kebetulan, asal-asalan, dan tidak terkena revisi. sebab, semuanya berakhir pada manusia. oleh karena itu, adalah wajar bila filsafat-filsafat yang menjadikan manusia sebagai objeknya, bila berangkat dari titik yang sama, pasti memperoleh hasil yang sama pula.

Bagaimana pun, baik liberalisme barat yang borjuis maupun komunis, kedua-duanya mengklaim diri sebagai humanis dan berbicara tentang humanisme. yang pertama mengklaim bahwa tercapainya pengembangan potensi-potensi manusia bila dilakukan dengan cara memberikan kebebasan pribadi dan kebebasan berfikir kepada manusia dalam penelitian ilmiah, mengemukakan pendapat, dan produk-produk ekonomi. adapun yang kedua mengklaim bahwa tujuan tersebut bisa dicapai dengan cara tidak mengakui kebebasan-kebebasan tersebut, dan memasungnya dalam kepemimpinan diktator tunggal, yang dibantu oleh kelompok tunggal, diorganisasi oleh-dan dibangun atas-ideologi tunggal, kemudian membentuk menusia dalam sosok yang sama. akan tetapi, filsafat-filsafat borjuis-liberalis, yaitu meratanya kelas borjuis pada seluruh bangunan masyarakat.

Tidakkah menggelikan,manakala kemudian dikatakan bahwa dengan demikian, marxisme jauh lebih borjuis dari pada borjuisme ?

Benar, memang menggelikan, dan itu-dari sudut pandang humanisme-adalah faktual. sebagaimana halnya dengan liberalisme barat-borjuis yang mengklaim sebagai pewaris peradaban humanisme dalam sejarah, marxisme pun mengklaim diri sebagai metode untuk merealisasikan humanisme dalam bentuk manusia sempurna (insan kamil, L`Homme Total). eksistensialisme, mengajukan klaim lebih dari dua aliran sebelumnya, seperti yang terlihat dalam ucapan sartre, ” eksistensialisme adalah humanisme itu sendiri,”. dengan klaim seperti itu, otomatis eksistensialisme mempunyai hak yang lebih besar dari pada dua yang disebut terdahulu. (Anastasia Dewi Wulandari)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melongok Dapur Produksi Pesawat Boeing …

Bonekpalsu | | 20 December 2014 | 07:30

Merenungkan Sungai dalam Mimpi Poros Maritim …

Subronto Aji | | 20 December 2014 | 09:46

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46

Ckckc… Capung Ini Harganya 48 Juta …

Muslihudin El Hasan... | | 20 December 2014 | 05:13

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 6 jam lalu

Hati Lembut Jokowi Atas Manuver Ical …

Mas Wahyu | 7 jam lalu

Hebat, Pemerintah Sanggup Beli Lumpur …

Erwin Alwazir | 11 jam lalu

Mau Lihat Orang Jepang Antri Di Pom Bensin? …

Weedy Koshino | 14 jam lalu

Talangi Lapindo, Trik Jokowi Jinakan …

Relly Jehato | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: