Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Arif Budi Utomo

Menyadari kekurangan, menyadari kekosongan, bersiap untuk mengisi. Menuliskannya kembali dari sebelah kanan. Semoga dalam ridho-Nya. selengkapnya

Iblis Ternyata Masuk Surga?

REP | 31 October 2012 | 22:15 Dibaca: 1946   Komentar: 77   4

Membedah pemikiran yang tidak sama, sungguh menyulitkan. Cap kafir, bid’ah, syirik, dan statement lainnya yang mengarah kepada penghakiman merupakan kejadian yang jamak. Belum lagi ancaman teror dan pembunuhan. Nyawa menjadi sebuah taruhan jika kita keluar dari ‘mainstream’ kesadaran kolektif umat. Begitulah yang di alami Nur Cholis Majid, Al Halaj, Ibn Arabi Syek Siti jenar, dan mungkin banyak lagi lainnya.   

Kecintaan yang memiliki kecenderungan yang ‘posesif’ ini atas Islam, membawa dampak sungguh hebat. Umat Islam akhirnya tidak berani ‘menyentuh’ wilayah-wilayah yang sudah di sepakati para ulama. Hampir generasi muda Islam mencari wilayah yang aman-aman saja. Yaitu menghapal dan menghapal, memperlakukan agama sebagaimana sebuah buku ilmu pengetahuan biasa. Semisal dengan matematika, bilogi, sejarah, dan lain-lainnya.

Umat Islam banyak yang tidak berani melakukan eksplorasi. Hingga lama kelamaan melahirkan generasi yang apatis. Sementara lain halnya dengan para ulama. Masing-masing ulama malah semakin jaya dengan mengambil posisi strategis di tengah-tengah umatnya. Mencari sebanyak-banyaknya pengikut . Menjadi figur yang kemudian di kultuskan. Ditangan mereka-merekalah peradaban Islam dibangun. Dan hasilnya sekarang ini seperti yang ada lihat. Negara Islam adalah termasuk kedalam negara-negara termiskin didunia. 

Ilustrasi itu untuk menggambarkan bahwasanya tidak gampang menjadi orang yang ‘beda’. Walaupun hanya sebatas dalam (buah) pemikiran saja. Belum tentu dia buktikan  dalam tindakannya. Begitulah manusia peradaban dibangun atas dasar ini. Yaitu ketakutan atas hilangnya kekuasaan dan kekuatan politik kukuasaan (masa). Mereka selalu khawatir masuknya pemikiran lain akan merasuki kesadaran kolektif. Sehingga akan  menumbangkan kesadaran kolektif yang selama ini didominasi kekuatan politik penguasa.

Padahal pengalaman menunjukan bahwa semakin banyak orang yang berfiakir kritis maka akan semakin berkembanglah peradaban manusia tersebut. Karena olah piker manusia terasah dan teruji oleh persaingan itu sendiri.

Maka dengan memberanikan diri, kajian ini mengusung pemikiran yang tidak biasa, untuk menggugah sidang pembaca bahwasanya ada interprestasi yang tidak sama dalam memaknai suatu ayat yang akhirnya diyakini menjadi suatu ‘kebenaran’ lain lagi. 

Sebuah pertanyaan mengusik, dalam sebuah pengajian di Paramadina, “Salahkah Iblis, karena dia tidak mau sujud kepada Adam, ketika Allah menyuruhnya. Bukankah sujud hanya boleh kepada Allah ?. “

Dr. Nurcholish Madjid (1987), yang memimpin pengajian itu, menjawab dengan satu kutipan dari pendapat Ibnu Arabi, dari salah satu majalah yang terbit di Damascus, Syria, bahwa: “Iblis kelak akan masuk surga, bahkan di tempat yang tertinggi karena dia tidak mau sujud kecuali kepada Allah saja, dan inilah tauhid yang murni.”

Nurcholis juga mengatakan, “Kalau seandainya saudara membaca, dan lebih banyak membaca mungkin saudara menjadi Ibnu Arabi. Sebab apa? Sebab Ibnu Arabi antara lain yang mengatakan bahwa kalau ada makhluk Tuhan yang paling tinggi surganya, itu Iblis. Jadi sebetulnya pertanyaan anda itu permulaan dari satu tingkat iman yang paling tinggi sekali. Tapi harus membaca banyak.”

Pernyataan ini kemudian menimbulkan pro kontra, hingga tak ayal segala macam tudingan dan penghakiman dialamatkan kepada NurCholis Madjid.

Marilah kita lihat perspektif apakah yang dapat kita kaji.

Perlu dicatat dengan tinta besar bahwa dalam  ajaran tauhid (Islam) dosa yang terbesar yang tidak bisa  diampuni adalah dosa syirik, (yaitu) mempersekutukan Allah. Menyembah selain Allah.

Sekarang Iblis dihadapkan kepada perintah yang menurutnya bertentangan dengan ajaran tauhidnya. Begitu juga halnya malaikat mengalami keadaan yang sama. Mereka dihadapkan kepada suatu pilihan yang sungguh sulit. Bagai makan buah simalakama. Dimakan mati bapak tidak dimakan mati ibu.

Jika mereka tidak mau sujud (menyembah) Adam,  berarti diri mereka telah melanggar perintah Allah. Namun jika mereka menyembah selain Allah berarti mereka telah syirik dikarenakan sebab prinsip ketauhidan mensyaratkan demikian. Kedua pilihan ini sama-sama sulit bagi makhluk yang mempunyai keimanan dan ketauhid tingkat tinggi. Baik dosa syirik ataupun dosa melanggar perintah Allah adalah sama-sama dosa besar.

Akan pilihan yang sulit ini, para malaikat sempat berdialog, perhatikanlah dialog mereka pada Al baqoroh ayat 30, “…Mereka   berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”

Malaikat masih tidak mengerti, mengapakah mereka harus bersujud kepada makhluk yang nantinya hanya akan menumpahkan darah. Bukan saja sesuatu yang janggal, namun juga telah menyalahi prinsip ketauhidan mereka. Namun Allah meyakinkan para malaikat,  “Rabb berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. 2:30).

Mendengar penjelasan Tuhannya, terpecahlah kubu malaikat menjadi pro dan kontra. Kubu yang mematuhi perintah Tuhan bersujud kepada Adam  dan kubu yang membangkang (dengan)  tetap tidak mau bersujud kepada Adam. Mereka seperti menempati kubu positip dan negatip. Kubu positip tetap menyandang nama Malaikat sementara kubu negative kemudian  dinamakan Iblis.

Kedua kubu ini membawa  argumentasi dan keyakinannya  masing-masing.  Mereka sama-sama yakin dengan prinsip ketauhidan mereka. Kubu malaikat yakin dengan keyakinan bahwa dia telah mematuhi perintah Allah. Kubu Iblis juga memiliki keyakinan yang sama bahwa dia juga (sedang) mematuhi perintah Allah dengan tidak tergoda untuk bersujud kepada Adam. Sebab  berdasarkan keyakinannya hanya kepada Allahlah dia mesti bersujud.

Iblis mengambil resiko dengan akal dan logikanya sendiri, akankah Allah sedang menguji ketauhidannya ?. Akalnya bekerja apakah dia harus sujud kepada makhluk yang terbuat dari tanah sementara dirinya terbuat dari kilatan api. Dia tidak mau sujud, dia tidak percaya realitas ini. Dia hanya akan sujud kepada Allah tidak kepada makhluk lainnya. Inilah tauhid bagi dirinya.  Dia tidak mau bersujud kepada makhluk !.

Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?”. Menjawab iblis: “Saya lebih baik daripadanya; Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS. 7:12).

Perhatikanlah dialog tersebut secara perlahan, Iblis masih tetap dalam keyakinan dirinya bahwa dirinya adalah dalam kebenaran, yaitu dalam keyakinan prinsip ketauhidan berdasarkan argumentasi yang disusunnya sendiri. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa keputusan yang diambilnya untuk tidak bersujud kepada Adam adalah salah. Akalnya tetap dalam keyakinannya yang seperti itu.

Namun ternyata perkiraan Iblis salah, Allah menganggap keyakinan model seperti Iblis ini adalah sesat. Allah telah memutuskan bahwa Iblis sesat dalam keyakinan yang ‘taklid buta’ tersebut.  Iblis kecewa sekali maka apaboleh buat, pilihan telah diambilnya. Kepalang basah, maka peran sebagai symbol kejahatan (kutub negatif) dengan terpaksa diambilnya.

Allah yang telah menghukum sesat, sementara Iblis sendiri tidak merasa kesesatan dirnya. Dia merasa bahwa prinsip tauhidnya lah yang benar. Bukankahyang  demikian itu  adalah tauhid yang benar. Sebab begitu yang di firmankan Allah di dalam Al qur an. Manusia tidak boleh berlaku syirik. Tidak boleh menyembah atau bersujud kepada makhluk. Manusia diajarkan demikian. Maka kenapakah dirinya harus dihukum karena memiliki keyakinan demikian ?.  Maka kebenciannya kepada manusia semakin bertambah.

Perhatikan dialog di ayat berikutnya ini;

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalangi-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, (QS. 7:16). Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta’at). (QS. 7:17).Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”. (QS. 7:13).Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya  sampai waktu mereka dibangkitkan”. (QS. 7:14).Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh”. (QS. 7:15). Allah berfirman: “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semua”. (QS. 7:18)

Marilah kita tarik beberapa pemahaman dari ulasan diatas, yang sepertinya kontradiktif, yang jika kita tidak hati-hati akan menimbulkan distorsi, sehingga dikhawatirkan menimbulkan kerancuan pemahaman;

Pertama, malaikat bersujud kepada Adam artinya secara kasat mata (harfiah)  malaikat bersujud kepada makhluk (berhala). Bukankah ini syirik terbesar ?. Sementara Agama tauhid diturunkan untuk memberantas kesyirikan. Menghancurkan berhal-berhala. Sebagaimana kisah Ibrahim as,  yang menghancurkan berhala kaumnya. Dan sampaipun saat sekarang ini, ketauhidan dipahami demikian. Sehingga umat Islam sangat getol menghancurkan patung dll.

Kalau begitu mengapa nyatanya malaikat tetap disuruh bersujud kepada makhluk (Adam) ?.

Kedua, Iblis tetap dalam ketauhidan tidak mau bersujud kepada Adam. Tidak mau bersujud kepada makhluk (berhala) meskipun yang memerintahkannya adalah sang Penciptanya sendiri. Akalnya tetap yakin dengan kebenarannya ini. Akalnya merasa benar. Pemikirannya ini juga didukung atas prinsip ketauhidan berdasarkan firman Allah.

Kalau begitu kenapakah Iblis yang tidak mau bersujud kepada makhluk (Adam) dihukum sesat ?.

Nah, bagaimanakah jika kita diposisi itu ?. Bagaimanakah kita dalam meyakini ‘kebenaran’, ketika kita dihadapkan kepada pilihan sulit ?. Sebagaimana Ibrahim as, yang diperintahkan menyembelih Ismail. Padahal secara etik dan norma maupun agama perbuatan menyembelih manusia adalah perbuatan sesat. Bagaimanakah kita memaknai kontradiksi ini ?.

Pertanyaan menarik untuk dikaji; Bukankah kita manusia jika tetap dalam keyakinan La ila ha ilalah akan masuk surga. Lihatlah bukankah Iblis juga dalam keyakinan itu ?. Maka salahkah jikalau ada pemikiran bahwa Iblis akan tetap masuk surga ?.

Bilakah demikian ?.  Lantas bagaimanakah kita menyikapi dan memaknai dua kutub pemahaman syariat dan hakekat ini ?.  Pemahaman sufi dan pemahaman ulama yang nampak seperti bertentangan. Pemahaman dalam dua kutub dalam dualitas alam semesta. Pemahaman dalam percaturan dunia. Surga dan neraka. Benar dan salah.  Iblis dan malaikat. Dsb.

Marilah kita ikuti kajian berikutnya..!.

Bersambung…

.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mengubah Hujan Batu Menjadi Emas di Negeri …

Sekar Sari Indah Ca... | | 19 December 2014 | 17:02

Haruskah Jokowi Blusukan ke Daerah Konflik …

Evha Uaga | | 19 December 2014 | 12:18

Artis, Bulu yang ‘Terpandang’ di …

Sahroha Lumbanraja | | 19 December 2014 | 16:57

Jalanan Rusak Kabupaten Bogor Bikin …

Opi Novianto | | 19 December 2014 | 14:49

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Potong Generasi ala Timnas Vietnam Usai …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Penyebutan “Video Amatir” Adalah …

Arief Firhanusa | 8 jam lalu

Menteri Rini “Sasaran Tembak” …

Gunawan | 10 jam lalu

Inilah Drone Pesawat Nirawak yang Bikin …

Tjiptadinata Effend... | 12 jam lalu

Seorang Manager Menjadi Korban Penipu …

Fey Down | 17 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: