Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Arif Budi Utomo

Menyadari kekurangan, menyadari kekosongan, bersiap untuk mengisi. Menuliskannya kembali dari sebelah kanan. Semoga dalam ridho-Nya. selengkapnya

Konsepsi Karma phala, Mendedah Pemikiran Islam

OPINI | 29 October 2012 | 12:54 Dibaca: 225   Komentar: 0   2


Tidak dapat dipungkiri bahwasanya sebagian besar umat Islam menolak sebagian atau bahkan keseluruhan konsepsi yang di tawarkan oleh Hukum Karma phala.

Penolakan yang mengabaikan argumentasi apapun ini  sudah terjadi turun temurun lintas generasi. Hingga sampai ke generasi kita ini.

Dan sangat disayangkan juga, kita pun tak pernah mau  turun untuk melakukan eksplorasi sendiri, untuk mencari tahu kebenaran atas konsepsi ini, kita seperti ‘mem-bebek’ ikut larut dalam kesadaran kolektif. (Yaitu) turut larut serta dalam menolak keberadaan hukum Karma phala ini. Dan mengabaikan seluruh argumentasinya. Tanpa tahu sebab mengapanya.

Kita menolak hukum dan konsepsi Karma phala tanpa tahu sebab mengapa kita harus menolak konsepsi dan hukum Karma phala ini. Inilah keadaan diri saya, dan mungkin juga terjadi kepada sebagian besar lainnya.

Bukankah ini suatu ironi bagi perkembangan kedewasan berpikir kita. Kesadaran diri kita akan terobsesi tanpa bisa memahami hakekat sebenaranya. (Dan karenanya kita tidak mampu mengambil hikmah, diturunkannya para nabi-nabi pada era sebelum Agama Samawi.)

Jika kita jujur terhadap diri kita sendiri, se-nyatanya kita tidak pernah  tahu esenssi sebenarnya dari  konsepsi Karma phala itu sendiri. Bahkan mendengar secara rinci pun mungkin tidak pernah. Apalagi untuk mendalami konsepsi ini dari sang ahlinya.  Begitulah yang terjadi, (sebab) saya terliputi kesadaran kolektif nenk moyang  yang begitu kuat. Hukum penolakan Karma phala telah menjadi hukum postif bagi umat Islam. Maka tidak ada kemungkinan lagi ruang dialog untuk ini. Inilah yang memperihatinkan.

Begitu kuatnya stigma ini, semua berasal dari kekhawatiran yang berlebihan dari para mufasirin yang berusaha melindungi Islam dari bi’ah, syirik dan klenik. Sehingga mengabaikan penjelasan apapun dari luar Islam. Meskipun kita sedang membahas hal yang sama. Meskipun belum tentu seluruh konsepsi Karma phala berbeda dengan Islam.

Islam berusaha melindungi dirinya, sedemikian rupa dari ‘sinkretiisme’, (percampuran pemahaman) yang di khawatirkan akan menggoyahkan pondasi ketauhidan umat, dimana pada saat itu umat  baru saja bertumbuh.

Inilah semangat yang dibangun oleh para mufasirin yang mengawal perkembangan peradaban Islam. Semangat yang begitu menggelora, semangat dalam eksistensi,  sehingga lupa bahwa semangat yang terlalu ini dapat melahirkan membawa dampak lainnya, yaitu sifat yang terlalu hati-hati, sifat terlalu ini selanjutnya menumbuhkan kecurigaan kepada golongan lainnya yang tidak sepaham.  Kecurigaan melahirkan prasangka. Prasangka melahirkan persepsi. Dari persepsi inilah terbangun dogma atau paham. Maka lahirlah sifat taklid buta. Hantam kromo saja !.Gebyrah uyah !.

Bila kita urut sejarah perkembangan Islam. Semangat penolakan atas sesuatu yang dari luar Islam, terjadi saat umat mengalami Fitnah Besar (Fitnah Kubro). Yaitu era jamannya banyak sekali beredar hadist-hadist palsu. Dimana saat itu, umat Islam yang berasal dari peradaban gurun pasir bersentuhan dengan peradaban lainnya di seluruh permukaan bumi.

Ketika bersentuhan dengan peradaban asing, maka tidak ada jalan lain selain Islam harus membentengi diri, dan melindungi pemahamannya dari serbuan pemahaman lainnya. (Baca; kajian Fragmentasi spiritual).

Semangat untuk melindungi pemahaman inilah yang mengakibatkan satu sama lainnya kemudian saling mengkafirkan. Jangankan pemahaman yang dari luar Islam semisal Karma phala. Pemahaman dari dalam Islam itu sendiri juga selalu dipertentangkan oleh satu sama lainnya.

Misal seperti pemahaman tentang Takdir, ada Jabariyah dan Kodariyah, ada maturidy dan Asyairiyah. Dimana golongan-golongan ini berseteru untuk duiduk di puncak kekuasaan. Mengakibatkan banyak banjir darah disana.

Belum mengijak kepada hukum-hukum lainnya. Dalam ilmu kalam muncul kelompok Mu’tazilah, Asyairiyah, Maturidiyah, Ibn Rusyd, Musyabihah, dan lain-lainnya. Merekalah yang selalu mengusung propaganda perang kesadaran, dengan mengusung pemahaman yang mereka interprestasikannya dari al qur’an. Masing-masing dengan mengutip ayat-ayat Al qur’an. Merekalah kaum cendikia yang mengawal pertumbuhan peradaban Islam.

Karma phala adalah salah satu dari lima keyakinan (Panca Sradha) dari Agama Hindu agama Dharma. Berakar dari dua kata yaitu karma dan phala. Karma berarti perbuatan/aksi, dan phala berarti buah/hasil. Karma phala berarti buah dari perbuatan yang telah dilakukan atau yang akan dilakukan.

Dalam hukum karma ada tiga jenis karma yang didasarkan atas waktu dari karma itu diterima yaitu :

1. Prarabda Karma yaitu suatu perbuatan yang dilakukan pada waktu hidup sekarang dan diterima dalam kehidupan sekarang juga.

2. Kriyamana Karma yaitu perbuatan yang dilakukan sekarang didunia ini tetapi hasilnya akan diterima setelah mati dialam baka.

3. Sancita Karma yaitu perbuatan yang dilakukan sekarang didunia ini yang hasilnya akan diterima pada kelahiran (reinkarnasi) yang akan datang didunia ini.

Pada saat janin masih dalam kandungan ibu, Atman sudah dibungkus dengan karma yang disebut dengan Karma Wasana yang merupakan hasil perbuatan yang dilakukan pada kehidupan terdahulu (Sancita Karma). Kwalitas karma wasana sangat tergantung dengan kwalitas hidup sebelum reinkarnasi apakah Subakarma (baik) atau Asubakarma (buruk).

Saya cuplik sebagian konsepsi Karma phala di atas. Marilah kita kaji.

Konsepsi karma phala adalah hukum perbuatan dan hasilnya. Hukum sebab dan akibatnya. Seseorang yang berbuat kebaikan pasti akan mendapatkan hasil berupa kebaikan pula. Maka konsepsi ini sejalan dengan pemahaman dari semua agama. Konsepsi surga dan neraka, yaitu hukum perimbangan ; perbuatan  baik akan mendapatkan pahala, kepadanya berhak menempati surga, dan sementara perbuatan buruk akan mendapatkan dosa, sehingga dirinya akan dibenamkan di  neraka.

Hasil dari perbuatan akan di ganjar kepada manusia itu sendiri. Perbedaan dalam memaknai konsepsi Karma phala antara Hindu dan Islam, hanya terletak pada pemahaman point no 3 saja, yaitu Sancita Karma.

Islam menolak jikalau hasil perbuatan manusia saat sekarang ini adalah buah hasil perbuatannya di masa lalu. Artinya Islam menolak jikalau jiwa manusia akan reinkarnasi untuk  menuai hasil buah perbuatannya sekarang ini  untuk diakumulasikan di kelahirannya yang akan datang.

Islam meyakini setelah kematian,  (maka) selesai sudah amal perbuatan manusia. Ganjarannya hanya akan diterima dan dipertanggung jawabkan di akherat bukan di dunia lagi. Tidak ada siklus disini.

Inilah perbedaan yang prinsipil dalam menyoal konsepsi Karma phala. Islam menolak sebagian dari konsepsi Karma phala bukan keseluruhan atas konsep ini.

Dalam memaknai takdir, Karma phala mengusung konsep Karma Wasana ,yaitu manusia akan diliputi oleh karma atas perbuatan yang dilakukan jaman dahulu.

Sedangkan dalam Islam, untuk   hal (fakta) yang sama tersebut, Islam menjelaskannya dari sisi yang berbeda. Bahwa seluruh perbuatan adalah di skenariokan oleh Allah. Bukan merupakan akumulasi perbuatan manusia tersebut di masa lalu..

Letak perbedaan dan memaknai atas suatu fakta inilah yang membedakan antar pemahaman Hindu dan Islam dalam konsepsi Karma phala ini.

Islam meletakan manusia sebagai objek (semisal wayang)  bukan sebagai subyeknya. Dimana dalam Islam, subyek (pelaku) perbuatan adalah Allah.

Sementara pemahaman konsepsi Karma phala meletakkan manusia sebagai subyek atas perbuatan. Bahwa pelaku perbuatan adalah manusia itu sendiri. Sehingga dalam pemahaman Karma phala, akan terjadi akumulasi perbuatan manusia yang tiada akhir hingga sampai akhir jaman. Dosa manusia kaan diakumulasi secara terus menerus. Sampai manusia tersebut memiliki kesadaran untuk memutuskan mata rantai ini.

Disinilah kuncinya, manusia harus memutuskan mata rantai karma agar tidak terjadi siklus. Dengan putusnya rantai ini maka manusia dapat Ina lilahi wainailahi rojiun atau moksa. Keinginan agar manusia mampu memutuskan karma langsung kembali kepada Allah atau Brahman dalam Hindu inilah yang menjadi pijakan,  dalam  pemahaman selanjutnya. Menjadi kajiansaya. Bagaimana kesadaran manusia bercabang. Dalam memaknai methodology yang digunakan untuk memutus mata rantai siklus karma-nya itu.

Siapakah yang akan memutus proses (siklus)  karma itu, apakah atas ‘kuasa’  manusia itu sendiri ataukah ‘kuasa’ Allah (Tuhan/Brahman) ?. Disinilah letak muara simpul percabangan yang menjadi mainstream dalam kesadaran manusia. Menjadi problematika dan pertanyaan seluruh umat manusia. Menjadi pro dan kontra.

Marilah kita lihat, dari fakta tersebut, ternyata untuk menjelaskan fakta keadaan yang sama.  Keduanya, menjelaskannya  dari sisi yang berbeda. Dimana yang satu menganggap sebagai objek perbuatan dan yang lainnya sebagi subjek perbuatan.Kalau begitu, ini adalah perihal siapakah sang  objek dan siapakah subyek.

Islam mengajarkan bahwasanya untuk memutuskan rantai karma mutlak kuasa Allah semata. Bukanlah kuasa manusia.  Manusia hanyalah objek Allah. Maka manusia diminta ber-serah. Menyerahkan urusan ini hanya kepada Allah semata. Jika manusia mampu mencapai keadaan ini maka manusia hanya cukup hidup sekali saja. Sehingga manusia tidak perlu lahir kembali untuk memutuskan karma. Dalam Islam karma adalah urusan Allah.

Pengajaran inilah yang di tawarkan Islam. Islam berusaha menafikan kemungkinan bahwa manusia akan dilahirkan kembali. Lupakanlah reinkarnasi sebab kita pasti bisa memutuskan karma itu di hidup sekarang ini. Inilah pesan Islam.

Islam menyayangkan sekali jika umatnya, masih harus mengalami kelahiran kembali, masih harus menanggung dosa lagi setelah kematiannya. Janganlah begitu !. Selesaikan hidupmu sekarang ini. Kemudian setelahnya pindah ke surga. Maka jangan berandai-andai untuk dapat hidup dan lahir lagi di kemudian nanti. Apalagi berharap dapat menbus dosa di kelahiran berikutnya. jangan ber-andai-andai sebab setelah kematian kita tidak akan tahu kejadiannya. Inilah pesan Islam.

Semua dalam liputan ilmu Allah, begitulah Islam berpesan kepada umatnya;

Al hadist, “…Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menulis empat perkara yaitu: menentukan rezekinya, ajalnya, amalnya serta apakah ia sebagai orang yang sengsara ataukah orang yang bahagia. ..dst”

Al  qur an, “… Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai pada kedewasaan, dan diantara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) diantara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya….dst” · (QS. 22:5)

Maka berserah diri sajalah !. Jangan pernah berfikir untuk hidup lagi. Sebab belum tentu hidup kita nanti lebih baik lagi dari yang sekarang ini. Selesaikan tugas khalifah kita sekarang ini. Maka berserah dirilah kepada Allah. Biarkanlah Dia (Allah)  yang bekerja memutus karma. Inilah konsepsi yang ditawarkan  Islam kepada manusia.

Maka diharapkan manusia berserah saja (ber-Islam) atas karma apapun yang sedang menimpanya. Upaya manusia harus diminimalkan sampai kepada tingkat ‘tiada’ sang AKU lagi. Sedangkan (sementara) konsepsi Karma phala justru mendorong kepada manusia (untuk) dengan kekuatan ‘kuasa’ nya sendiri melepaskan diri dari karma. Dusunilah letak permasalahannya. Inilah yang menjadi fokus kajian kita selanjutnya.

Konsepsi Karma phala itu sendiri dalam pandangan saya,  sebenarnya mendekati konsepsi TAKDIR. (Yaitu) Qodho dan Qadar dalam Islam. (Maka) Jikalau menyoal  konsepsi ini,  kita juga akan mengenal sejarah beberapa pemahaman dalam Islam yang memperdebatkan konsep Takdir itu sendiri dalam sepanjang peradaban Islam. Yaitu,   Jabariyah dan Kodariyah. Determinime dan Indeterminime. Free Will dan Fatalis.

Maka dapatlah kita tarik sebuah kesimpulan, jikalau dalam tubuh Islam saja masih berbenturan anatara konsep Jabariyah dan Kodariyah.  Dengan masih banyaknya  yang mengakui dan meyakini konsep Kodariyah (Free Wiil), yaitu manusia ber kuasa atas perbuatannya sendiri. Maka mengapakah  ketika kita berhadapan dengan konsepsi Karma phala kita menolak semua yang di tawarkan ?.  Termasuk konsepsi bahwa manusia menentukan perbuatannya sendiri ?.

Tidakkah kita mampu menarik benang merah, mengapa konsepsi Kodariyah (Free Will) bisa ada dalam kesadaran manusia. ?. Sebab jikalaukita bisa memahami  ini, maka selanjutnya Islam akan mampu menelusuri jalan pemikiran konsepsi yang diusung Karma phala.

Konsepsi siapakah subyek pelaku perbuatan itu. Apakah Tuhan yang melakukan perbuatan (Fatalis). Ataukah manusia yang bebas melakukan perbuatan itu. (Free Will)

Nah, jika kita memasuki ini, maka kita sudah masuk kepada perang kesadaran yang sudah berlangsung rbuan tahun. Sejak di mulai dari Plato hingga filsuf –filsuf lainnya.

Siapakah yang gerak, siapakah yang berbuat, siapakah yang ‘action; dan siapakah yang melakukan ‘eksekusi’ atas perbuatan ?.

Siapakah yang sadar, siapakah yang hidup, dan lain-lain.

Manusia merasa bahwa dirinya hidup..

Manusia merasa dirinya sadar.

Manusia merasa dirinyalah yang berbuat dan bertindak..dsb..

Konsep ini membingungkan sekali bagi kesadaran manusia. Saat kita di hadapkan kepada konsepsi ‘Yang Maha Esa’. Bahwa hakekatnya hanyalah DIA (allah) yang Maha Sadar, DIA (Allah) yang Maha Hidup. DIA (Allah) tempat bergantung semua makhluk. (Maka) Manusia sulit sekali untuk melepaskan ‘ego’ dirinya, menyerahkan hidupnya, kesadarannya, dan segala gerak, perbuatannya kepada-NYA.

Maka kita bisa memaklumi jika kemudian kesadaran manusia mengalami benturan kesadaran. Benturan kesadaran dankeyakinan dalam  memaknai hal ini. Islam dengan Islam. Islam dengan Hindu. Hindu dengan Hindu. Kristen dengan Kristen. Dsb. Telah mengkrital menjadi golongan yang saling meng kafirkan.

Maka carilah muaranya, yaitu asal dimana mata air itu keluar. Suatu keyakinan umat adalah satu dan dhien juga adalah satu.

Semisal minuman, ada kopi, ada teh, sirop, kampucino, es campur, dll. Jika perdebatan di area ini maka kita tidak akan pernah mendapatkan titik temu. Sebab faktanya, kopi adalah kopi dan teh adalah teh. Tidak ada satupun yang mau jika teh disebut kopi. Lihatlah di kedalam entitas apakah yang meliputi minuman tersebut. Tahukah, jika entitas yang meliputi semua itu itu adalah AIR !.  Yah.. entitas yang sama adalah AIR, yang menyatukan dan meliputi  minuman tersebut.

Mengapakah kita tidak bicara perihal AIR dan bagaimana mencari sumber air yang asli dan jernih. Di kedalam berpakah kita bisa mendapatkan mata air di dasar bumi.  Menurut saya, itu lebih baik, dari pada kita (hanya) meributkan , kopi, teh atau sirop. Meributkan rahsa minuman itu.

Jika aku suka kopi dan anda suka teh, tidaklah kita harus perang karena meributkan itu !.

Begitulah perumpamaannya.

Catatan : Perihal pemahaman saya dalam memaknai reinkarnasi banyak bertebaran melalui kisah spiritual Mas Dikonthole. Demikian juga, dalam memaknai  Takdir, sebelumnya sudah ada kajian yang mendahului. http://filsafat.kompasiana.com/2012/02/16/merekontruksi-takdir/

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mereka Meninggalkan Ego demi Kesehatan …

Mohamad Nurfahmi Bu... | | 31 October 2014 | 00:51

Rokok Elektronik, Solusi Stop Merokok yang …

Gaganawati | | 31 October 2014 | 01:19

Profit Samsung Anjlok 73,9%, Apple Naik …

Didik Djunaedi | | 31 October 2014 | 07:17

Ihwal Pornografi dan Debat Kusir Sesudahnya …

Sugiyanto Hadi | | 31 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Kabinet Kerja Jokowi-JK, Menepis Isu …

Tasch Taufan | 10 jam lalu

Saat Tukang Sate Satukan Para Pendusta …

Ardi Winata Tobing | 11 jam lalu

Jokowi-JK Tolak Wacana Pimpinan DPR …

Erwin Alwazir | 12 jam lalu

Pengampunan Berisiko (Kasus Gambar Porno …

Julianto Simanjunta... | 13 jam lalu

Mantan Pembantu Mendadak PD, Berkat Sudah …

Seneng | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Bukan Diriku …

Roviatus Sa'ada... | 8 jam lalu

Humor Revolusi Mental #017: Orang Batak …

Felix | 8 jam lalu

Sabang & Tugu Nol Kilometer yang …

Muslihudin El Hasan... | 8 jam lalu

Hanya Kemendagri dan Kemenpu yang Memberi …

Rooy Salamony | 8 jam lalu

Distributor Rokok Mengambil Alih Permainan …

Jumardi Salam | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: