Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Arif Budi Utomo

Menyadari kekurangan, menyadari kekosongan, bersiap untuk mengisi. Menuliskannya kembali dari sebelah kanan. Semoga dalam ridho-Nya. selengkapnya

Portal Ghaib di Masjid Para Wali : Kisah Spiritual Mas Dikonthole

REP | 25 October 2012 | 05:50 Dibaca: 2629   Komentar: 2   0

Pernah melihat film ‘The Matrix’ ..(?).

Semisal itulah perjalanan spiritual Mas Dikonthole kali ini.

Dia harus berada di waktu dan tempat yang sudah  tertentu.

Keberadaannya di tempat tersebut akan membawanya melintasi sang waktu. Masuk kedalam dimensi ghaib. Ya,  Mas Dikonthole harus berada di portal-portal lintas dimensi itu .

Sebab sesungguhnya percaturan kehidupan manusia, sangat berkaitan erat dengan dimensi keghaiban itu sendiri.  Apa yang terjadi di dunia maya (ghaib)  akan berpengaruh atas realitas kehidupan alam manusia.  Maka saya analogikan dengan film ‘The Matrix’. Semisal dengan itu kehidupan di alam manusia ini.

Begitulah laku lampah demi menguak  titah suci, yang harus dijalani Mas Dikonthole.

Maka kisah Mas Dikonthole yang (tengah) diperjalankan menyusuri 9 kota di Jawa Tengah kali ini disajikan hanya khusus kepada pembaca, yang menyakini adanya dimensi alam ghaib. Apakah akan menjadi kisah fiksi ?. Ataukah akan bermakna sebagaimana kejadian di alam semesta ?.

Terserah kepada sidang pembaca, kembalinya adalah  kemanakah diri kita  akan meletakkan kesadaran dalam memaknai hikmah kejadiannya.

Berikut inilah kisah-kisahnya. Disajikan dalam sebuah rangkaian kisah berfragmen. Kisah perjalanan di awal bulan oktober tahun 2012 ini. Semoga menjadi berita pembanding atas kisah lainnya. Salam.

Di Kota Para Wali

Langit merah jambu luruh di kota Wali. Mengayun sendiri langkah-langkah sepi. Tersisa nelangsa merenggut jiwa. Sisi ruang batin hampa merindukan pagi. Terkubur keinginan yang terus terkubur. Bersama temaram yang melingkupi di seputar Masjid Agung kota ini. Masih terus manapaki misteri kehidupan ini.

Nampak ramai sekali semua manusia berbondong , bermunajat kesini. Mengharap karomah para Wali. Di Masjid Agung yang diam mengayomi. Inilah kisah perjalanan yang sudah memasuki hari ketiga.

Duduk di pelataran parkir Masjid yang sangat fenomenal itu. Di sebrang jalan bersama lainnya,  yang tengah  menikmati sarapan pagi setelah menunaikan sholat subuh.

Menatap pagi  nun jauh disana di ufuk timur. Sinarnya memerah bata melengkung  dipanjang  garis fatamorgana menutupi langit dari kedua sisinya. Pandangan bergerak perlahan, seperti tengah memotreti kejadian demi kejadian. Berpindah ke  masjid nampak dari arah muka. Di kanan kiri pintu masuknya, disepanjang jalan berdiri pepohonan dengan bunga yang berwarna kuning. Bertaburan diseluruh permukaannya, hingga sulit sekali dibedakan antara daun dan bunganya. Bunganya berjatuhan bertebaran di sekeliling.

Ribuan burung hinggap bergantian di seluruh permukaan bunga. Jumlahnya ribuan, bercicit ramai sekali, hilir mudik. Bersama menikmati pagi. Menghisap sari bunga dengan kepaknya yang cepat sekali. Sayap-sayap kecilnya begitu aerodinamis. Mengimbangi paruhnya yang berada di atas putik bunga. Menghisap sari madunya.

“Siapakah yang menciptakan burung kecil yang demikian hebatnya, mampu berada diposisinya, seperti itu tanpa jatuh. Kecepatan kepak dalam sekian kali perdetiknya. Sungguh luar biasa.. !.”

Ugh…!.

Pagi yang benar-benar membawa nuansa asri dan tenang sekali. Di halaman Masjid Agung di kota Wali. Maka bagaimanakah menguraikan rasa bungah di jiwa, menimati keindahan panorama alam semesta yang tersaji dan terhampar begitu saja. Keindahan yang sayang jika dilewati.

Tergurat pertanyaan pada diri Mas Dikonthole,

“Apakah mereka semua orang  yang datang mampu menikmati keindahan ini ?.”

Rasanya (mungkin) sulit sekali, mereka datang dengan dipenuhi problematika kehidupannya, dengan segala atribut kemanusiaannya, dengan segala keperluan hidupnya. Mereka datang tidak untuk menikmati pagi di kota ini. Mereka datang karena adanya sebuah tujuan, (yang) jelas bukan untuk menikmati keindahan sang pagi. Inilah masalahnya.

Maka kesibukan di alam ghaib (menjadi) tergambar jelas sekali di mata batin Mas Dikonthole. Bagaimana mereka menyambut para tamu-tamu yang datang. Masih seperti dahulu kala. Sebagaimana ketika saat sang Panembahan Senopati masih berkuasa, ketika pemerintahannya diatur  dari sini. Pusat komando strategis berada dan diatur dari dalam Masjid ini.

Kesibukan yang terus berjalan sepanjang hari. Siang dan malam hingga sampai saat sekarang ini . Sebagaimana pemerintahan di alam nyata.   Mereka semua memiliki peranannya masing-masing. Demi menjaga harmonisasi alam nyata dan alam ghaib. Nampak terlihat para Wali sangat sibuk sekali mengatur segala sesuatunya. Kadang para wali sendiri yang pergi ke seluruh daerah wilayah yang berada dalam naungan mereka.

Mas Dikonthole tidak mau mengusik kesibukan mereka. Kedatangannya bukanlah untuk itu. Dia sedang menunggu portal yang akan dimasukinya. Pintu yang akan membawanya menyusuri misteri-misteri yang melingkupi karma manusia.

Sambil menunggu diamati sekelilinginya. Ratusan manusia berlalu lalang disana. Keluar masuk ke masjid itu. Nampak seorang pemuda yang mondar mandir resah sekali, sebab dari subuh tadi motornya dipinjam oleh orang yang tak dikenalnya. Pandangannya berpindah  ke pendopo masjid, nampak beberapa orang seperti orang linglung. Ada yang bengong. Ada yang nampak gelisah dan resah. Ada yang nampak tatapannya kosong. Beraneka rupa manuisa disana. Dengan kesibukan pikiran mereka masing-masing.

Mas Dikonthole menghela nafas. Melihat keadaan beberapa diantara mereka. Banyak yang  berjalan bagai orang mati. Jiwanya telah tergadai,  hanya berjalan dengan naluri saja. Naluri sang raga yang harus hidup mempertahankan diri. Sejatinya jiwa nya telah digantikan makhluk lainnya.

“Duh, Gusti..begitulah polah manusia. Kehidupan dunia telah menghinakan mereka semua. Sehingga rela jiwanya di gadaikan. Mereka berjalan-jalan  diatas dunia ini dengan para siluman di dalam tubuhnya. Bahkan sering para siluman itulah yang mengendalikan raga-raga mereka. Jaman apakah ini .. ?!.”

Kesadaran Mas Dikonthole tiba-tiba menghablur. Alam nyata dan alam ghaib seperti tak berdimensi lagi.  Kesadarannya seperti dibetot perlahan-;ahan namun pasti. Menyisakan lelah jiwa dan sekaligus juga menghantam  instrument ketubuhannya, sehingga  mengalami dis-orientasi akut.

Blaam…blast…!.

Hampir saja tubuhnya ‘limbung’ tak mampu dalam keseimbangan. Kesadarannya (jiwa) telah berpindah ke lain dimensi. Menyusuri alam informasi, alam sebelum terbentuknya materi. Kesadarannya lepas, dengan kecepatan beberapa kali kecepatan cahaya. Sehingga tak mampu diikutinya lagi. Hanya menyisakan raga yang kesakitan bagai di hantam tsunami. Kepala pening tak terkata. Bumi seperti berputar-putar diatasnya. Dia berjalan tanpa menginjakkan kaki.

Portal telah terbuka tepat di gerbang Masjid para Wali menghantarkan kesadarannya mengarungi masa lalu dan masa kini. Perjalanan bersama diatas sang waktu itu sendiri. Mengamati keberadaan sang waktu, dan menyelusup di dalamnya mengamati apa saja yang di bawa bersama oleh  dan meliputi sang waktu itu sendiri.

Sang waktu yang membawa kenangan-kenangan manusia. Sang waktu yang menysiakan hysteria manusia. Ada tawa, ada suka, ada duka, ada senang, ada kecewa, ada nelangsa, ada menghiba, dan ada lagi banyak sekali lainnya. Baik yang serupa atau tak sama. Berjuta galau manusia ada bersama di bawa sang waktu. Sang waktu yang menjadi saksi peradaban manusia.

Sang waktu telah membawa efek radiasi dari sisa-sisa kenangan manusia, mendekam dan tersimpan di dalam atom-atom penyusun DNA manusia. Atom yang digerakkan oleh sang waktu.  Atom-atom yang kemudian menjadi penyusun otak manusia.

Otak yang menjadi alat ‘prosesor’ manusia. Untuk mengolah data dan memaknai seluruh rangkaian kehidupannya. Bagaimanakah kiranya jika atom-atom tesebut tidak luput dari efek radiasi kenangan manusia di masa lalu ?.

Atom-atom yang terus membawa kenangan tersebut lintas generasi. Melintasi sang waktu itu sendiri. Efek radiasi yang terus menerus bertumpuk disetiap peradaban. Terakumulasi melahirkan pola berfikir, dan kesadaran manusia terkini. Lengkap sudah. Maka sempurnalah manusia dengan segala dinamikanya.    Dengan keseluruhan aspek pola berfikirnya.

Menjadi gundah tersendiri bagi manusia yang di tempati keberadaan sang atom-atom yang telah menyimpan akumulasi ‘radiasi’ tersebut.

Maka kesadaran Mas Dikonthole terus  terus melejit, menjauh. Tak memperdulikan sang raga yang tertatih mengikuti laju sang kesadaran.

Kesadan Mas Dikonthole berusaha menghindar, berkelit dari efek radiasi kenangan manusia. Kembali menyusuri alam-alam lainnya. Alam sebelum menjadi informasi. Alam yang tak mampu dikenali otak manusia. Dimana disitu tersimpan kehendak-NYA. Namun akibatnya,

Deer…!.  Rrr…rt..!.

Kecepatannya seper sekian detik. Dan Mas Dikonthole tak mampu mengingat apa-apa. Lupa..!. Dia lupa atas segala sesuatu. Keberadaan tubuhnya, raganya, jiwanya, otaknya, akalnya, bahkan rahsa yang dimilikinya. Hilang…!. Dirinya menjadi tak ada.

Mas Dikonthole mengalami dis-orientasi yang akut. Itulah yang mampu di rasakannya. Untuk apakah., mengapakah, dimanakah. Menjadi pertanyaan yang terus berguliran. Dan dia tak mampu menjawab. Kesadarannya telah meninggalkan dirinya.  Entah berada dimanakah kini. Benar-benar dia tidak tahu.

Daging dan otot di seluruh tubuhnya seperti berderak, berjalan merayapi tulang-tulangnya. Tercabut satu-satu  dari akar-akarnya yang membelit tulang.   Terutama di seputar dada. Diantara tulang-tulang iga. Area yang dekat sekali dengan jantung dan hati. Coba bayangkan betapa sakitnya..?!. Hanya Tuhanlah yang tahu pasti apa gerangan yang bakalan terjadi nanti.

Jika begitu keadaannya, untuk apakah perjalanan ini mesti di tempuh, dengan menempuh segala macam mara bahaya (?).  Apakah sesungguhnya yang diketahuinya ?. Tak ada !. Ya, semakin dimasuki keghaiban, semakin kuat  ketidak mengertian menyelimutinya. Kesadarannya seperti di tahan di angkasa.  Mas Dikonthole melenguh.

Masuknya dirinya kedalam kesadaran semesta (universal) telah berdampak kepada manusia lainnya. Sebab kehadirannya telah mengganggu lintasan orbit kesadaran semesta. Sehingga sangat berbahaya bagi manusia yang (tengah)  berada di angkasa.

Seper sekian detik kesadaran mereka dapat tertarik sehingga mereka tak mampu mengemudikan pesawatnya. Sang pilot  akan mengalami disorientasi akibatnya bisa dibayangkan. Salah-salah pesawat akan nyasar atau bahkan kehilangan kendali.  Inilah resiko yang harus dihadapi Mas Dikonthole.    Apa boleh buat. Dia harus menetapi hal ini. Kesemuanya dikembalikan kepada-NYA.

Satu hal, dia memiliki sebuah tujuan menguak misteri reinkarnasi. Meski harus memasuki lintas dimensi hal itu akan terus dilakukannya. Menjawab sebuah pertayaan antara mitos dan legenda. Sebuah keyakinan akan turunnya ‘SATRIA PININGIT’.  Sosok yang akan membawa pencerahan bagi negri ini. Sosok yang selalu dinanti. Kepada siapakah sosok ini akan reinkarnasi ?. Menjadi pertanyaan tersendiri.

Sementara kesadaran Mas Dikonthole terus memasuki dimensi alam-alam lainnya. Maka raganya menetapi takdirnya sendiri. Berjalan terus menyusuri kota-kota lainnya. Mulai dari Boyolali, Salatiga, Demak, Kudus, Jepara, Patii, Rembang, dan menyusuri kota-kota disepanjang perjalanan itu. Kemudian diulang lagi perjalanan itu hingga dua kali.

Memasuki kota-kota tersebut dari jalur Nanggrek, menuju perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Tak terkata bagaimana penatnya raga. Hingga tubuhnya terasa remuk redam. Masih ditambah lagi dengan muncul pelbagai alergy yang menyerang kulitnya. Gatal di sekujur tubuh, panas dan perih. Bintik-bintik kecil memerah, di sekujur tubuhnya, hingga wajahnya tak luput dari serang bintik tersebut. Seperti disengat lebah. Kulit wajahnya menebal.

Namun semua itu harus di jalani, sebab portal-portal tersebut belum tentu akan terbuka setiap saat. Dalam batin Mas Dikonthole portal tersebut hanya akan terbuka seratus tahun sekali. Maka tentu saja dia tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Raganya harus berada pada posisi yang tepat. Jika tidak kesadarannya tidak akan mampu kembali kepadanya lagi. Inilah resiko yang harus dihadapinya.

Maka kisah ini terus akan digulirkan, sepanjang diri ini masih mampu mengabarkan. Mengabarkan bahwasanya dunia nyata keberadaannya tidak terpisahkan bahkan dipengaruhi oleh keghaiban itu sendiri. Keghaiban dan kenyataan suatu keadaan yang adalah saling meliputi diantara mereka.

Semisal komputer, apa yang ditampilkan di layar adalah wujud imajinasi (ghaib) sang programmer, yang di buat dalam bahasa-bahasa  alam (program 0 dan 1) menjadi sebuah informasi yang mampu diolah prosesor. Sehingga kita pengguna mampu melihat tampilan indah di layar monitor kita. Kita tinggal klik saja apa yang kita cari. Selanjutnya terserah kecenderungan kita mau mengakses situs mana. Jika jiwa  memiliki kecendrungan kefasikan maka dia akan menyukai situs pornografi dan situs-situs aneh lainnya. Begitulah bekerjanya jiwa mansuia dan system di alam semesta ini. Hanya kita tak mampu menyadari (bahwa)  jika keadaan kita semisal dengan itu.

Keghaiban memiliki kecepatan tersendiri dalam menciptakan peradabannya. Keghaiban menyusun dirinya sebagaimana rupa-rupa alam nyata. Sebagaimana sebuah sebuah cermin saja. Pantulan peradaban manusia sudah dapat dilihat disini di alam ghaib ini. Sebagaimana membaca sebuah symbol-symbol.  Maka jikalau kita mampu melihat cermin tersebut maka kita akan mampu memprediksi alam nyata berikut bagaimana dinamikanya.

Begitulah perjalanan spiritual Mas Dikonthole mencoba menguak misteri sang Satria Piningit yang akan segera reinkranasi. Mencari bukti dan berusaha menjadi saksi diantara mitos dan legenda yang senantiasi melingkupi (menjadi) sebuah misteri di tanah perdikan ini. Bumi Indonesia.

Melihat alam nyata melalui alam ghaib. Semisal film ‘The Matrix’ saja.

Maka kepada orang yang menyakini adanya keghaiban, kisah ini dihantarkan !.

salam

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Maaf Anang, Aurel Tak Punya Suara dan Aura …

Arief Firhanusa | 7 jam lalu

“Tamatan Malaysia” Rata-rata Sakit Jiwa …

Pietro Netti | 7 jam lalu

“Operasi Intelejen” Berhasil …

Opa Jappy | 7 jam lalu

Golkar Perlu Belajar ke PKS …

Puspita Sari | 7 jam lalu

Ini Kata Menpora Terkait Gagalnya Timnas …

Djarwopapua | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Saya Dirayu Aguk, Sang Penulis Haji …

Wening Tyas Suminar | 7 jam lalu

Kisruh di Partai Golkar, KMP Pun Terancam …

Adjat R. Sudradjat | 7 jam lalu

Let’s Moving On …

Tonggo Nababan | 7 jam lalu

Indonesia: Tim Medioker Asia Tenggara …

Agung Buana | 8 jam lalu

Gen Bahasa …

Zakiyatul Muti'... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: