Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Ahmad Baihaqi

Tulisan adalah goresan titik pada mangkuk huruf NUN. Berlayarlah dg mangkuk itu...

Ka’bah, Haji, Qurban dan Sejarah Nabi Ibrahim, as

OPINI | 25 October 2012 | 01:45 Dibaca: 10219   Komentar: 6   1

Sejarah dan Hakekat Ka’bah

Salah satu makna Ka’bah (selain diartikan sebagai kubus persegi empat) adalah mata kaki atau mata kayu, pangkal dan poros. Begitu banyak tulisan sejarah yang menceritakan tentang sejarah Ka’bah. Namun, sebagian besar tulisan itu hanyalah berupa catatan tentang peristiwa alam lahiriah. Meskipun tetap memiliki nilai sebuah pencarian kebenaran untuk mempertemukan antara ajaran agama dengan ilmu pengetahuan. Agama bertujuan membangun spirit (akhlak). Sedangkan ilmu pengetahuan bertujuan membangun cara bekerjanya akal untuk meluruskan arah pandang terhadap alam semesta. Keduanya tetaplah memiliki aspek-aspek pengkajian yang sangat penting.

Cara agama dalam memahami segala sesuatu berdasarkan bangunan spirit yang dimiliki oleh seseorang. Sedangkan cara ilmu pengetahuan memahami segala sesuatu berdasarkan bangunan akal atas peristiwa-peristiwa yang bisa diindera. Keduanya tidak terpisah sama sekali. Bahkan saling take and give agar spirit dan akal, keduanya terbangun dengan kokoh.

Ada satu sejarah yang menuliskan tentang berdirinya Ka’bah, yakni terjadi jauh sebelum manusia pertama turun ke bumi. Dalam kajian tersebut, penulis sejarah menyimpulkan bahwa Ka’bah dibangun oleh Malaikat. Bahkan cerita tentang dibangunnya Ka’bah oleh para Malaikat seolah sudah menjadi asumsi umum yang disajikan berdasarkan analisa sebuah dalil tertentu. Contoh dalil tersebut :

“Dan ingatlah ketika Nabi Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail seraya berdo’a : Ya Tuhan kami terimalah daripada kami amalan kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. al-Baqarah : 127).

Analisa tersebut menyimpulkan bahwa sebelum Nabi Ibrahim menginjakkan kakinya ke tanah Makkah sudah ada bangunan Ka’bah yang telah dibangun oleh malaikat dan generasi sebelum Nabi Ibrahim as. Hal itu dapat dipahami dari kata “Yarfa’u” artinya meninggikan yang diartikan meninggikan bangunan yang suda ada. Artinya, Ka’bah sudah lebih dulu dibangun, dan yang membangunnya adalah para Malaikat.

Analisa tersebut barangkali ada benarnya. Tetapi, persepsi tentang Malaikat pun harus tetap berdasar. Jika analisa dalil nash tersebut menyimpulkan bahwa Malaikat telah membangun Ka’bah, maka persepsi tentang Malaikat yang melakukan suatu perbuatan tidaklah sama seperti manusia. Namun, asumsi itu sangat sulit untuk membedakan Malaikat dengan manusia. Sebab, Malaikat itu termasuk salah satu rukun iman sedangkan manusia tidak termasuk. Beriman kepada Malaikat adalah azas aqidah sedangkan beriman kepada manusia tidak ada kamusnya.

Seperti pada definisi Ka’bah secara bahasa di atas, bahwa Ka’bah itu bermakna pangkal, mata kaki (kayu), poros atau sentral segala sesuatu. Definisi tersebut tidak sekedar mengarah kepada tema-tema yang sifatnya lahiriyah. Ia lebih mengarah kepada makna metaforis (majazi). Apalagi dalam sejarahnya, bahwa Ka’bah dibangun oleh para Malaikat.

Makna Malaikat secara bahasa adalah sistem-sistem kekuasaan. Ia berasal dari kata kerja (fi’il) malaka-yamliku, artinya menguasai, merajai, atau memiliki. Malaikat adalah Tangan-tangan Tuhan yang membentuk serangkaian mekanisme penguasaan Tuhan terhadap alam semesta. Malaikat adalah bentuk jama’ dari kata tunggal Malakah. Banyaknya Malaikat membentuk kesatuan mekanisme yang beraneka macam. Ibarat pohon yang terdiri dari akar, batang, dahan, cabang, ranting, daun dan buah. Alam semesta ini seperti pohon yang saling berkaitan dan berhubungan satu sama lain. Syaikh Muhyiddin Ibn Arabiy pernah mengilustrasikan ini dalam kitabnya berjudul “Syajarotul Kaun“.

Malaikat yang disimpulkan sebagai yang pertama membangun Ka’bah disebabkan karena dirinya yang notabene tercipta dari cahaya, terhubung kepada Allah. Karena itu, ia termasuk bagian dari rukun iman. Hal ini dapat dicermati dari ayat yang terdapat dalam Surat Al-Ahzab (33) ayat 56 : “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya shalat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, shalatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya“. Shalat dalam ayat ini bermakna keterhubungan.

Dalam menterjemahkan ayat tersebut, secara bahasa banyak orang membedakan istilah shalat dengan shalawat. Padahal, perbedaan itu hanya terletak pada bentuk mufrod yang bermakna tunggal. Shalat bentuk tunggal dan shalawat bentuk jama’. Sedangkan dalam ayat tersebut tetap saja artinya ya shalat. Yushalluuna ‘alan Nabiyy bermakna shalat kepada Nabi. Pada cara penterjemahan ayat ini, nampak suatu persepsi bahwa shalat selalu saja diterjemahkan kepada penyembahan secara fisik seperti penyembahan rakyat kepada rajanya. Padahal, untuk mengatasi bentuk persepsi yang keliru ini, shalat itu harus dipahami sebagai keterhubungan. Akan terasa beda jika diterjemahkan begini : “”Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya terhubung kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman, berhubunganlah kalian kepada Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya“.

Keterhubungan Allah, Malaikat dan Nabi membentuk suatu kesatuan yang masing-masing punya fungsi sendiri-sendiri. Bukan berarti Allah dengan para Malaikat dan Nabi berposisi sejajar. Allah tidak akan pernah bisa diperbandingkan dengan apapun. Ayat di atas mengungkapkan sebuah prosedur menghadap Allah. Kalimat perintah kepada orang beriman untuk berhubungan kepada Nabi mengungkapkan sebuah tata cara untuk berhubungan kepada Allah. Nabi adalah gerbang untuk memasuki wilayah Ketuhanan. Hanya Nabi yang diperkenalkan dan mengenal Allah. Pemahaman singkat dari ayat di atas begini: “…Hai orang-orang yang beriman, berhubunganlah kalian kepada Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” karena Nabi berhubungan kepada-Ku (pen-).

Baiklah, kembali kepada kajian tentang Ka’bah. Mengapa Malaikat mendirikan Ka’bah? Apa maksudnya? Mengapa Ka’bah? Kok bukan bangunan yang lain yang dibangun pertama? Dalam al-Qur’an surat Ali Imran : 96, disebutkan :

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk manusia, ialah yang di Bakkah, yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.

Ternyata, bayt yang pertama dibangun untuk manusia adalah Ka’bah. Ia berada di Bakkah. Bakkah yang kemudian menjadi awal sejarahnya nama Mekkah itu tidak sekedar mengandung makna denotative yang hanya merujuk kepada tempat tertentu. Makna dasar dari Bakkah adalah kesedihan, kesengsaraan, tembusan, lobang dan kebinasaan. Semua terjemahan dasar dari Bakkah merujuk kepada sesuatu yang fana dan sengsara. Ia merujuk kepada sesuatu yang sering dinisbatkan untuk makna dunia. Dunia adalah makna kesedihan, kesengsaraan dan kebinasaan. Hukum-hukum di dunia telah ditetapkan oleh Allah sebagai mekanisme yang memunculkan kesedihan. Allah melalui para MalaikatNya membangun rumah untuk menetralisir atau melipur segala kesedihan manusia. Rumah itu adalah sebuah dimensi untuk menanggalkan baju keduniaan untuk menuju baju Ketuhanan. Rumah itu membinasakan segala yang palsu untuk memasuki maqam yang asli.

Jadi, Ka’bah adalah dimensi bathiniyah. Ia dikatakan Baytullah (rumah Allah) karena ia merujuk kepada makna bathini. Mengapa Malaikat yang membangun, karena Malaikat dinisbatkan pada pemahaman keimanan yang bersifat bathini. Manusia berada pada dua dimensi; lahiriyah dan bathiniyah. Kakinya yang satu berada di dunia dan satunya lagi berada di akhirat. Dunia dan akhirat adalah lahir dan bathin. Ia berjalan beriring. Dalam dimensi ini, tidak ada lagi sebutan kemarin, sekarang atau besok. Sebutan waktu tersebut hanya ada pada dimensi dunia.

Meski dibangun oleh para Malaikat, Ka’bah hanya diperuntukkan bagi manusia. Penjelasan ini tidak merujuk kepada suatu tempat yang berada di dunia. Ingatlah persepsi tentang alam semesta; manusia, Nabi dan para Malaikat. Ia hanya merujuk kepada persepsi rangkaian banyak system yang membentuk satu kesatuan system. Sistem itu membawa manusia untuk kembali kepada keasliannya. Ada jejak Nabi Ibrahim ketika beliau mencapai titik keasliannya melalui rumah tersebut. Bahkan Nabi Adam pun ada jejaknya. Hingga Nabi Muhammad pun ada jejaknya. Karena itu, ia ajarkan manusia untuk mengikuti jejaknya. Tidak akan ada artinya bagi penelusuran dimensi akhirat, jika jejak yang dicari adalah jejak kaki di dunia. Jejak yang dimaksud itu adalah jejak-jejak dalam dimensi bathiniyah. Makna dari jejak itu adalah kesadaran yang sama tentang Tuhan. Ketika seseorang menyadari tentang hakekat Ketuhanan di dalam dirinya, ingatlah bahwa Nabi Ibrahim pun punya proses yang sama. Dalam istilah Sunda Kuna disebut juga “tampak saking“. Inilah proses-proses yang dialami oleh orang yang bersuluk (menjalani laku bathin untuk mengenal Allah).

Di dalamnya terdapat tanda-tanda yang nyata, maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya menjadi amanlah dia. (penggalan surat Ali Imran : 97)

Rumah yang dimaksud pada ayat di atas adalah sebuah system agar manusia memiliki arah untuk menelusuri kaki akhiratnya. Ka’bah yang di Mekkah saat ini hanyalah simbolisasi dari dimensi kaki akhiratnya manusia. Maqam Ibrahim telah tercetak nyata dalam rumah itu. Ia membentuk sebuah strata bathiniyah hingga mencapai eskalasi yang paling tinggi, yakni Wilayah Ketuhanan.

Sejarah dan Hakekat Ibadah Haji

Perkataan haji adalah bahasa Arab. Ketika diindonesiakan, maka istilah tersebut menjadi kabur. Kebanyakan orang memaknakan haji ya pergi ke Mekkah yang di Arab Saudi. Makna yang agung dan luas itu diasumsikan sebagai perjalanan dimensi lahiriyah menuju ke Mekkah, Arab Saudi. Padahal, istilah haji merujuk kepada kelanjutan ayat yang disebut tadi, yakni surat Ali Imran : 97 :

Dan hanya untuk Allah kewajiban manusia untuk berkunjung ke bayt, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan kepadanya. Barangsiapa mengingkarinya, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari semesta alam.

Istilah Haji merujuk kepada kata “hijjul bayti“. Dalam hal ini penulis menterjemahkan sebagai berkunjung ke bayt (rumah). Hajji, hijju atau hujja adalah sama, yakni bermakna ziarah atau berkunjung. Salah satu makna lain adalah “dabbara laylan” (tadabbur atau merenung di malam hari). Rumah yang Allah perintahkan untuk dikunjungi adalah rumah dalam dimensi bathiniyah. Mengapa? Karena rumah itu memang untuk manusia, bukan untuk makhluk lain. Karena pula, bahwa rumah itu penuh berkah dan banyak terdapat petunjuk bagi semesta alam. Artinya, di dalam rumah itu terdapat banyak pemahaman tentang alam semesta dari akal yang sadar. Akal yang sadar adalah akal yang sudah berkunjung ke bayt (rumah). Karena itu, ia akan dilimpahkan beraneka macam ilmu yang menjadi pemandu bagi akal pikirannya. Kesadaran itulah yang membawanya untuk menyaksikan segala sesuatu dalam perspektif bathiniyah.

Akal manusia sangatlah terbatas. Tetapi, ketika akal itu memasuki dimensi akhiratnya melalui pengertian rumah tadi, maka akal itu seolah mendapatkan suntikan daya sehingga diperluas daya tampungnya. Ibarat hardisk computer, memorinya di upgrade kembali. Karena itu, pandangannya menjadi luas. Geraknya akan menjadikan berkah. Dimana keberkahannya? Keberkahannya berada pada geraknya yang terarah dan tidak terpengaruh oleh dunia penampakan yang masuk melalui panca indera. Ia selalu wukuf (berhenti) dari hal-hal yang membuatnya tidak berkah sehingga menjerumuskannya.

Ibadah haji merupakan improvisasi sejarah Nabi Ibrahim dalam mencari hakekat sesembahan yang benar. Sebagai manusia biasa, Nabi Ibrahim juga menempuh proses yang panjang sebelum ia diangkat menjadi seorang Nabi. Al-Quran dengan jelas merinci perjalanan Nabi Ibrahim dalam proses pencariannya untuk mencapai kebenaran sejati dan agama yang lurus.

75. dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (kami memperlihatkannya) agar Dia Termasuk orang yang yakin.

76. ketika malam telah gelap, Dia melihat sebuah bintang (lalu) Dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam Dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.”

77. kemudian tatkala Dia melihat bulan terbit Dia berkata: “Inilah Tuhanku”. tetapi setelah bulan itu terbenam, Dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaKu, pastilah aku Termasuk orang yang sesat.”

78. kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, Dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, Dia berkata: “Hai kaumku, Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

79. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah Termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (Al-An’am : 75-79).

Dalam pencariannya, Nabi Ibrahim telah melewati berbagai macam eksperimen yang panjang. Barangkali kita pun tidak bisa terima begitu saja ketika dikatakan bahwa seorang Nabi diangkat begitu saja oleh Allah menjadi seorang Nabi. Asumsi itu menihilkan proses-proses kemanusiaan secara wajar. Dalam pandangan manusia biasa yang mengalami proses kelahiran, pertumbuhan dan kematian, setiap Nabi tetaplah mengalami hal-hal yang juga dialami oleh manusia biasa. Beliau tidak secara tiba-tiba (sim salabim) menjadi seorang Nabi.

Dalam ayat tersebut hanya diceritakan rangkuman dari sebuah perjalanan panjang Nabi Ibrahim. Ketika malam gelap, ia melihat bintang dan disembahnya bintang sebagai proses awal eksperimentasi. Barangkali proses ini tidak semalam atau dua malam, tetapi ia berjalan dalam kurun waktu tertentu hingga ia menemukan jawaban bahwa bintang tidak patut untuk disembah. Begitupun bulan dan matahari, proses eksperimentasi untuk sampai pada kesadaran yang murni dan lurus tidaklah sebentar.

Ketika kesadaran murni muncul, ia pegang erat-erat hingga menjadi spirit bagi dirinya untuk melakukan perlawanan bagi lingkungan sekitarnya yang masih jumud dan terikat oleh pandangan-pandangan paganisme. Sebelum itu, secara individual Nabi Ibrahim juga mengalami perjuangan yang hebat dalam menghadapi dan melepaskan kungkungan nafsu. Memurnikan panca indera dari pola pikir yang diselubungi hawa nafsu tidaklah mudah. Diri akan mengalami goncangan yang begitu dahsyat, karena akal telah menerima atau menyaksikan suatu kebenaran yang suci. Hal ini juga terjadi pada Nabi Muhammad saw ketika menerima wahyu pertama di goa hira. Beliau mengalami demam yang begitu hebat. Mengapa? Karena sesuatu yang disaksikannya sangat-sangat berbeda dari pandangannya selama ini. Apa yang terjadi setelah itu?

Kebenaran wahyu suci yang diterima oleh Nabi Ibrahim as atau Nabi Muhammad saw tidaklah mudah untuk disampaikan kepada semua orang pada zaman itu. Mengapa? Karena setiap orang sama sekali tidak percaya bahwa Ibrahim atau Muhammad adalah seorang Nabi. Karena itu, beliau mengalami tentangan yang hebat. Bahkan tentangan yang paling hebat justru selalu datang dari keluarganya sendiri. Azar, seorang pembuat patung paling handal dan sangat dihormati oleh raja Namrudz, adalah bapaknya Nabi Ibrahim. Spirit wahyu yang dipegang oleh Nabi Ibrahim as harus menghadapi tentangan yang tidak jauh dari dirinya, yakni bapaknya sendiri. Abu Jahal dan Abu Lahab, keduanya adalah paman Nabi Muhammad saw. Spirit wahyu yang dipegang oleh Nabi Muhammad saw harus menghadapi tentangan yang berada di lingkungan keluarganya sendiri.

Penelahaan terhadap sejarah secara proporsional sesuai dengan ukuran-ukuran akal murni akan membuat kita termotivasi untuk bisa memahami segala fenomena yang terjadi ketika seseorang bereksperimen dalam mencari kebenaran sejati. Goncangan-goncangan kejiwaan tak luput juga mewarnai perjalanan seseorang untuk melepaskan segala macam kungkungan hawa nafsunya. Setiap orang akan selalu dituntut untuk bisa mempertanggung jawabkan nafas kehidupannya di dunia.

Ibadah haji yang dilaksanakan di Mekkah saat ini adalah simbolisasi dari sejarah perjalanan Nabi Ibrahim as. Jutaan manusia dari berbagai pelosok negeri melakukan sebuah ritual yang umurnya ribuan tahun. Kalau kita hitung kurun waktu sejak zaman Nabi Ibrahim as sebagai Nabi yang keenam, terdapat 18 Nabi yang terlewati ketika Nabi Muhammad mengadopsi ritual ibadah haji sehingga menjadi rukun Islam yang kelima. Nabi Muhammad saw mengadopsi sebuah ritual tua yang hampir saja usang. Kenapa usang? Karena ritual itu pada zaman Nabi Muhammad saw sudah banyak mengalami penyimpangan-penyimpangan karena pengaruh paganisme masyarakat Arab pada saat itu.

Thawaf, Sa’i, tahallul, wukuf, jumroh, mabit di Muzdalifah dan Mina yang kita sebut sebagai rukun dan wajib haji adalah rangkaian perjalanan tauhid Nabi Ibrahim as. Rangkaian ritual itu merupakan simbolisasi yang mengandung makna-makna yang harus bisa dicerap oleh orang yang menuanaikan haji. Barangkali, untuk lebih detilnya lagi kita akan kaji makna-makna ritual itu di lain kesempatan. Untuk saat ini, yang perlu kita cermati adalah salah satu rukun haji yang langsung mendapatkan legitimasi Nabi Muhammad saw, yakni wukuf di Arafah.

Sabda Nabi saw; “Haji adalah wukuf di Arafah”

Rukun dari sekian banyak rukun haji, yang paling utama adalah wukuf di Arafah. Wukuf bermakna berhenti. Berasal dari kata kerja waqafa-yaqifu artinya berhenti atau berdiam. Secara harfiah, pelaksanaan wukuf berada di padang Arafah, yakni salah satu daerah di seputar Mekkah. Secara maknawi, wukuf berarti menghentikan gerak jasad dan kesibukan akal untuk mengenal Allah. Arafah secara harfiah bermakna ma’rifah, yakni mengenal. Ia berasal dari kata kerja ‘arafa-ya’rifu yang artinya mengenal.

Mengapa kesibukan akal harus diberhentikan? Karena pada akallah dunia penampakan itu berpusat. Indera penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan peraba, semuanya berpusat pada akal. Partikel-partikel dunia masuk melalui panca indera tersebut. Partikel-partikel dunia itulah yang membuat segala macam keramaian di dunia. Ia harus dikembalikan pada fitrahnya dengan cara menutup semua lobang panca indera melalui wukuf. Menghentikan gerak akal sementara waktu bertujuan untuk menenangkannya. Akal yang tenang akan tunduk pada jiwa yang tenang. Jiwa yang tenang adalah jiwa yang bisa kembali kepada Tuhannya. Ke arah sanalah agama mengajarkan para pemeluknya agar senantiasa mencapai satu titik ketenangan yang bisa membawa dirinya kepada hakekat kejadian awal. Kejadian awal manusia adalah ikrarnya dalam mengenal Tuhan. “alastu birabbikum, qooluu balaa syahidnaa”, bukankah Aku ini Tuhan kalian, mereka berkata; “ya kami telah bersaksi”.

Akal yang tenang akan selalu tunduk pada jiwa yang tenang. Akal yang tenang akan mendapatkan suntikan energy, sehingga daya tampungnya menjadi lebih luas. Pandangannya tajam terhadap tanda-tanda alam. Sensitifitas kecerdasannya akan selalu membawa kemaslahatan bagi lingkungan dan alam semesta.

27. Hai jiwa yang tenang. 28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. 29. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, 30. Masuklah ke dalam syurga-Ku. (al-Fajr : 27-30).

Gerak akal yang muncul dari panca indera, menjadikannya terbebani oleh persoalan-persoalan dunia. Dunia telah menarik fungsi akal dan mengikat kuat manusia sehingga ia menjadi bodoh, lemah dan terpuruk. Belenggu dunia telah membawa akal sehingga ia tidak mampu berpikir untuk soal-soal yang sangat sederhana. Akal telah terpenjara oleh penampakan panca indera. Sifat-sifat buruk yang muncul dan menjadi penyakit hati berasal dari dunia penampakan yang masuk dari panca indera. Kebencian, kedengkian, iri hati, sombong, riya, sum’ah, buruk sangka, sakit hati, dan penyakit-penyakit lainnya telah menjerumuskan manusia menjadi makhluk yang sangat kerdil dan terhina. Saat itulah manusia telah menjadi bodoh.

Belenggu dunia yang mengikat kuat akal pikiran manusia adalah berhala yang nyata. Ia bukan berada di luar diri, tetapi di dalam diri. Ia membentuk sebuah gambar yang membuat manusia menjadi senang ataupun susah. Gambar-gambar yang muncul di dalam bayangan akal pikiran telah membelenggu dan menjadi penghalang bagi manusia untuk menuju Tuhannya. Melepaskan belenggu-belenggu itu, sama sakitnya seperti mencabut kuku dari jari jemari. Laa Ilaaha illa Anta, Subhaanaka innii kuntu minadzdzoolimiin…

Ya Allah, hati kami sakit, Jiwa kami rusak dan pikiran kami telah membatu. Betapa kuat pengaruh dunia pada diri ini. Begitu tebal hijab kami ini ya Allah, hingga kesaksian kami kepadaMu menjadi terhalang. Bantu kami ya Allah…, angkatlah hijab diri ini…

Qurban dan Sejarah Nabi Ibrahim, as.

Qurban diambil dari bahasa Arab yang berarti dekat. Ia berasal dari dasar kata kerja qariba-yaqrobu. Saat ini, qurban selalu diasumsikan menyembelih hewan yang telah ditentukan syarat rukunnya dalam syari’at. Padahal makna dasar dari qurban adalah segala tindakan yang dinisbatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Sejarah qurban diambil dari sebuah peristiwa dari kisah Nabi Ibrahim as yang menyembelih anaknya, Nabi Ismail as. Dalam kurun waktu tertentu, kisah itu kemudian melatarbelakangi penyembelihan hewan yang diasumsikan sebagai ibadah dan diberi nama Ibadah qurban atau Adha. Sedangkan adha bermakna waktu dhuha. Hal ini merujuk kepada waktu penyembelihan yang dilaksanakan pada waktu dhuha.

Banyak kisah iringan yang melatarbelakangi terjadinya peristiwa penyembelihan Nabi Ismail as. Diantaranya, sebelum terjadi penyembelihan tersebut Nabi Ibrahim as bermimpi hingga 3 kali yang isinya sama, yakni Allah memerintahkan untuk menyembelih anaknya Nabi Ismail as. Riwayat lain menyebutkan, bahwa Nabi Ibrahim as telah terbiasa berqurban dengan menyembelih onta hingga ratusan bahkan ribuan ekor. Begitu beraninya beliau, sehingga mengatakan; jangankan ribuan onta, kalau memang saya diperintahkan Allah untuk menyembelih anak, akan saya sembelih. Ketika mengatakan itu, Nabi Ibrahim belum memiliki anak.

Terlepas dari benar tidaknya riwayat seputar penyembelihan Nabi Ismail as, lebih penting dari itu adalah bahwa makna dasar dari qurban adalah mendekatkan diri kepada Allah. Dengan cara apa? Ya dengan cara apa saja, yang jelas sesuai dengan tuntunan atau pedoman syari’at agama atau pandangan umum ketatakramaan masyarakat. Menjalankan perintah qurban itu harus lebih bersifat fungsional, bukan sekedar menjalankan tata caranya. Fungsional yang dimaksud adalah bahwa mendekatkan diri kepada Allah dengan meninggikan spirit bathin. Jika hanya sekedar terikat pada cara berqurban, maka pembinaan spirit bathin yang seharusnya muncul dari makna berqurban tidak akan ada. Karena selalu saja terikat pada tema-tema syari’at secara kaku. Kenyataannya, qurban seolah telah menjadi trend yang bisa menjadi ukuran prestise seseorang. Di kota besar, barangkali setiap orang neg buat makan daging kambing. Karena setiap masjid atau kelompok masyarakat atau lembaga dan instansi bahkan secara individu, bisa berjumlah puluhan bahkan ratusan ekor yang disembelih. Bayangkan, berapa ribu masjid atau instansi atau individu yang berqurban dalam satu kota besar.

Di Mekkah, penyembelihan hewan untuk qurban lebih menggila. Dari 3 tata cara berhaji, salah satunya wajib menyembelih hewan yang disebut dam. 3 tatacara haji itu; qiran, ifrad dan tamattu’. Haji tamattu’ lah yang mewajibkan seseorang yang menjalankannya untuk membayar dam, namanya dam haji tamattu’. Dam haji tamattu’ dilaksanakan dengan cara memotong hewan. Boleh kambing, onta, sapi atau yang lain-lain sesuai dengan tuntunan syari’at. Bayangkan, jika haji tamattu’ dilaksanakan oleh sepertiga dari jumlah orang yang berhaji secara keseluruhan. Setiap tahun ada kurang lebih 5 juta orang yang datang berhaji dari seluruh dunia. Praktis hampir dua juta hewan yang disembelih untuk melaksanakan dam haji tamattu’. Belum lagi hewan yang disembelih untuk merayakan hari Idul Adha. Ini dilaksanakan juga oleh orang pribumi Mekkah yang tidak menjalankan haji. Ditambah lagi penyembelihan untuk pembayaran dam-dam yang lain. Cukup fantastis, jumlah hewan yang disembelih setiap tahun di Arab Saudi. Lalu, mau dibawa kemana dagingnya? Kalau satu sapi saja seharga minimal Rp. 15.000.000, berapa ratus milliard yang dihabiskan setiap tahun untuk sekedar memenuhi perut yang notabene tidak semua orang suka makan daging.

Barangkali ini harus menjadi bahan pemikiran yang lebih realistis, bahwa makna berqurban harus dikembalikan kepada khtthah awal, yakni mendekatkan diri kepada Allah. Padahal sudah jelas-jelas Allah menyatakan dalam surat al-Hajj ayat 37:

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.

Sejarah Nabi Ibrahim as menyembelih Nabi Ismail as, meski tertulis dalam Al-Qur’an, merupakan kisah simbolik yang harus dimaknai secara lebih dalam. Makna menyembelih anak sendiri yang dinisbatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, justru bersifat spiritual. Artinya, mencintai Allah harus melebihi kecintaan diri kepada anak. Mencintai anak justru harus dimanisfestasikan dengan mencintai Allah.

Anak untuk ukuran kemanusiaan pada umumnya adalah harta yang tak bisa diperbandingkan dengan apapun. Rasa cinta kepada anak melebihi rasa cinta kepada harta dalam bentuk lain. Kasih sayang orang tua kepada anak merupakan naluri wajar bagi setiap orang, bahkan para raja sangat-sangat menjunjung tinggi anaknya sebagai mahkota untuk melanjutkan tampuk kerajaannya.

Dalam perspektif kemanusiaan pada umumnya, mencintai anak sangat bisa diwajarkan. Akan tetapi, mencintai Allah justru harus melebihi ukuran-ukuran kecintaan dalam pandangan yang wajar. Kemampuan mencintai Allah melebihi anak sendiri sungguh telah menjadi ukuran bagi kemampuan bertauhid. Mencintai Allah adalah realisasi Tauhid. Karena, ia menuntut sebuah transaksi yang tidak mudah. Pada akhirnya, Allah tidak akan menyia-nyiakan seseorang yang mencintai-Nya, tak terkecuali anaknya, isterinya, keluarganya, lingkungan masyarakatnya, dan lain sebagainya.

Ketika prosesi penyembelihan Nabi Ismail, as akan berlangsung, ternyata secara tiba-tiba berubah wujudnya menjadi kambing. Kisah ini merupakan simbolisasi bahwa Allah tidak akan berlaku dzalim terhadap hamba-Nya yang berani mengorbankan kasih sayangnya kepada anaknya sendiri demi mencintai Allah. Singkat katanya, berani dulu berkorban karena Allah, baru Allah akan memberikan sesuatu yang tidak diperkirakan sebelumnya. Karena, mencintai Allah sangat berkaitan dengan rasa keimanan bahwa Allah akan memberikan imbalan yang tidak disangka-sangka.

Proses berlepas diri terhadap mencintai segala sesuatu selain Allah akan mendatangkan kegoncangan yang dahsyat. Hal itu disebabkan karena begitu kuatnya diri terikat oleh penampakan-penampakan keduniaan. Rasa mencintai muncul karena adanya penampakan yang mendahuluinya. Ekspressi yang muncul dari rasa mencintai terjadi dari bekerjanya panca indera terhadap dunia penampakan. Mencintai anak dalam hal ini adalah mencintai dunia. Ketika muncul rasa mencintai, saat itulah ia mulai mengikat kejiwaan seseorang. Melepaskan rasa cinta itu mengakibatkan goncangan kejiwaan yang tidak mudah dinetralisir. Mencintai Allah menuntut pelepasan itu. Meski melepaskan cinta kepada selain Allah, tidak akan berubah menjadi sebuah tindakan yang menyimpang dan merugikan seseorang yang mencintai-Nya. Jika ada penyimpangan, hal yang perlu dicermati adalah bahwa rasa cinta kepada Allah belum mencapai titik kulminasi yang mapan.

Banyak orang yang mendasarkan sebuah tindakan demi rasa cinta kepada anaknya. Padahal tindakan yang dilakukannya justru sama sekali tidak menunjukkan sebuah kecintaan. Mungkin benar dirinya mencintai anaknya. Akan tetapi, spirit rasa cinta yang muncul bukan dari dasar hati jernih yang berasal dari rasa cinta kepada Allah. Tetapi dari emosi yang mengikat kuat pada penampakannya. Akibatnya, mengambil tindakan yang sebelumnya dimaksud untuk memenuhi rasa cinta kepada anaknya berubah menjadi malapetaka yang justru menjerumuskan anaknya sendiri. Fenomena yang seperti ini tidaklah sedikit.

Allah mengajarkan manusia bagaimana seharusnya ia mengelola semua rasa yang masuk melalui panca inderanya dengan benar. Mencintai anak adalah salah satu contoh saja dari sekian banyak kecintaan manusia kepada dunia penampakan. Semua itu harus ditempatkan secara proporsional berdasarkan kecintaan kepada Allah. Allah lah yang mengatur segala titipan-Nya melalui spirit kecintaan yang dimiliki seseorang. Banyak manusia mengukur keberhasilan anaknya berdasarkan ukuran perencenaan secara materialistik. Masa depan direncanakan berdasarkan kenyataan-kenyataan empirik. Padahal, rasa mendidik yang muncul pada diri orang tua ditentukan oleh keikhlasannya melepaskan rasa cinta kepada anak untuk hanya sekedar mencintai Allah. Setelah itu, baru muncul pendidikan yang benar terhadap anak-anaknya. Artinya, pola yang menjadi obyek dari pendidikan tidaklah sekedar ditujukan kepada anak, tetapi keduanya; anak dan orang tua. Keduanya mengalami pendidikan yang beriringan. Jadi, tidak subyektif yang sarat akan kesewenang-wenangan.

Realitas penyembelihan Nabi Ismail as oleh bapaknya, sangat tidak mudah dibayangkan. Sepertinya i’tibar ini hanyalah cerita mitos keagamaan yang diterjemahkan begitu saja dengan cara penyembelihan hewan. Makna qurban dari kisah penyembelihan Nabi Ismail as, tidaklah mudah direalisasikan. Bayangkan, Allah memerintahkan menyembelih manusia, apalagi anak sendiri. Tak terbayangkan. Kemudian, kisah tersebut justru telah menjadi bagian dari ajaran agama yang menuntut setiap pemeluknya untuk meyakininya. Tidaklah mudah. Bahkan riwayat sebelum penyembelihan berlangsung Nabi Ibrahim as telah mengalami sebuah goncangan yang hebat. Peristiwa ituah yang melatarbelakangi adanya hari tarwiyah (8 Dzulhijjah) dan arafah (9 Dzulhijjah).

Hari tarwiyah adalah hari pemikiran atau timbang-timbang. Berasal dari kata rowwa-yurawwi yang artinya berpikir atau berargumen. Sedangkan Arafah adalah mengenal atau mengetahui. Tarwiyyah merupakan sebuah penelusuran tentang kebenaran mimpi Nabi Ibrahim as untuk menyembelih anaknya. Hal ini mencerminkan bahwa Nabi Ibrahim as juga tidak mudah menerima perintah penyembelihan itu. Namun, timbang-timbang itu kemudian terjawab pada hari arafah melalui perenungan yang saat ini disebut sebagai wukuf. Wukuf adalah melepaskan segala rasa cinta yang muncul dari dunia penampakan panca indera. Rasa cinta dan sayang kepada anaknya yang berdasarkan ukuran panca indera harus dilepaskan. Justru rasa cinta dan sayang itu harus ditunjukkan dengan menyembelihnya. Allahu Akbar walillahilhamd…

Mengambil spirit yang muncul dari kisah tersebut merupakan ukuran yang harus ada pada saat sekarang. Kecintaan kepada segala yang nampak telah memunculkan ketertutupan pada pandangan yang murni. Pandangan yang murni berada pada proses yang seolah menyimpang pada dzahirnya. Pandangan yang murni pada saat sekarang justru telah menjadi sebuah barang yang asing, aneh dan bahkan dituduh ortodoks. Padahal yang terjadi sesungguhnya adalah kebanyakan manusia telah diikat oleh kebohongan-kebohongan zaman. Kebanyakan manusia telah dikendalikan oleh satu kekuatan yang tanpa sadar telah menyeretnya kepada kehinaan dan kebinasaaan.

Wallaahu a’lamu bishshawab…

byHaqq

Tags: renungan

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pasien BPJS yang Kartunya Tidak Aktif Mulai …

Posma Siahaan | | 21 December 2014 | 06:53

Hollywood Kena Batunya, AS Panik! …

Daniel H.t. | | 21 December 2014 | 10:27

Inilah 5 Strategi Penting Menurunkan Tekanan …

Irsyal Rusad | | 21 December 2014 | 09:22

Tukeran Hadiah, Wichteln …

Gaganawati | | 21 December 2014 | 05:29

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46


TRENDING ARTICLES

Lain Fahri Hamzah, Lain Pula Fadli Zon …

Ajinatha | 7 jam lalu

Lebih Baik Pernyataan Dwi Estiningsih …

Hendi Setiawan | 7 jam lalu

Beda Fahri Hamzah, Fadli Zon, Setya Novanto …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Natal, Skandal Sejarah Kelahiran Yesus …

Nararya | 8 jam lalu

Pintu Damai Tertutup, Menang Golkar Bali …

Erwin Alwazir | 17 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: