Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Hamus Rippin

Hamus Rippin, dilahirkan di Murante, Luwu, Sul-Sel, Indonesia.

Jadilah pelita Kalau Tidak Bisa Bersifat Lilin

OPINI | 20 October 2012 | 04:03 Dibaca: 294   Komentar: 3   1

Oleh: Hamus Rippin

Petua dari seorang orang tua kampong yang huruf alfabet a-pun mungkin tidak dikenal apalagi membaca buku, tetapi ia dapat memberi petua kepada seorang anak belia yang akan meninggalkan kampungnya melanjutkan pelajaran dari kampungnya melanjutkan pelajaran ke kota.

Pada satu sore, datang seorang orang tua memberikan nasihat. Ya, memberikan petua dengan kata-kata yang sederhana kepada seorang anak yatim yang berkemauan keras untuk melanjutkan pelajaran yang hanya bermodalkan kemauan saja. ‘Hay anak muda, kalau kau pergi belajar ke tempat jauh dan berpisah famili, tanamkanlah dalam jiwamu. Yang baik tetap baik, yang benar hanya satu.

Sedunia orang menganggap engkau salah, tetapi kata hatimu mengatakan engkau benar, jangan tinggalkan kebenaran dalam pendirianmu yang benar. Karena yang menilai engkau salah belum tentu dia, atau mereka itu benar. Jadilah engakau selaku pelita, kalau tidak bisa bersipat selaku lilin.’

‘Apa maksud kakek dengan kata-kata ini, apa artinya semua dari ungkapan kakek, saya belum mengerti.’ Tanya sang anak muda.

‘Saya mahfun anak muda. Saya sendiri mungkin yang salah, salah karena memberi makan anak ayam dengan jagung antero. Semestinya makanan anak ayam adalah lemukut.’ Sambung orang tua ini melanjutkan kata-katanya.

‘Saya buta pengertian kakek.’

‘Bukan kamu tidak mengerti anak muda apa yang kakek bilang, hanya kamu tidak faham maknanya, bukan?’

Setelah itu sang belia yang diberi petua meninggalkan kampung, pergi menuntut ilmu. Dan selanjutnya pergi merantau sangat jauh dari kampung halaman.

Dalam perjalanan hidup san anak ini, ia menemui berbagai masalah, tetapi makna kata-kata dari petua sang orang tua kampong tidak pernah dilupa. Bila-bila saja timbul lagi kembali ‘Sedunia orang mengatakan engkau salah, tanyalah kata hatimu, karena yang benar hanya satu. Jadilah engkau pelita, kalau kau tidak bisa jadi lilin’.

Sampai akhir hidup sang belia yang dinasihati tidak pernah dilupakan kata-kata ini, tetapi maknanya belum dicernah keseluruhannya. Apa gerangan maksud petua ini.*

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kontroversi Panjat Pinang dan Serunya …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 11:15

Si Gagah yang Terlelap …

Findraw | | 03 September 2014 | 09:17

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | | 03 September 2014 | 08:39

Oase untuk Anak Indonesia …

Agung Han | | 03 September 2014 | 08:10

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Oposisi Recehan …

Yasril Faqot | 3 jam lalu

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | 5 jam lalu

Florence Sihombing Disorot Dunia …

Iswanto Junior | 7 jam lalu

Manuver Hatta Rajasa dan Soliditas Koalisi …

Jusman Dalle | 8 jam lalu

Awasi Jokowi, Kita Bukan Kerbau Dungu …

Mas Wahyu | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Transparansi Pengadaan Alutsista di TNI …

Putra Perkasa | 8 jam lalu

Kontroversi Panjat Pinang dan Serunya …

Kompasiana | 8 jam lalu

Ala Backpacker menuju Negri di Atas Awan …

Wilda Hikmalia | 8 jam lalu

Krisis Kesetiaan …

Blasius Mengkaka | 9 jam lalu

Hadiah Istimewa Dari Pepih Nugraha …

Tur Muzi | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: