Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Hamus Rippin

Hamus Rippin, dilahirkan di Murante, Luwu, Sul-Sel, Indonesia.

Jadilah pelita Kalau Tidak Bisa Bersifat Lilin

OPINI | 20 October 2012 | 04:03 Dibaca: 295   Komentar: 3   1

Oleh: Hamus Rippin

Petua dari seorang orang tua kampong yang huruf alfabet a-pun mungkin tidak dikenal apalagi membaca buku, tetapi ia dapat memberi petua kepada seorang anak belia yang akan meninggalkan kampungnya melanjutkan pelajaran dari kampungnya melanjutkan pelajaran ke kota.

Pada satu sore, datang seorang orang tua memberikan nasihat. Ya, memberikan petua dengan kata-kata yang sederhana kepada seorang anak yatim yang berkemauan keras untuk melanjutkan pelajaran yang hanya bermodalkan kemauan saja. ‘Hay anak muda, kalau kau pergi belajar ke tempat jauh dan berpisah famili, tanamkanlah dalam jiwamu. Yang baik tetap baik, yang benar hanya satu.

Sedunia orang menganggap engkau salah, tetapi kata hatimu mengatakan engkau benar, jangan tinggalkan kebenaran dalam pendirianmu yang benar. Karena yang menilai engkau salah belum tentu dia, atau mereka itu benar. Jadilah engakau selaku pelita, kalau tidak bisa bersipat selaku lilin.’

‘Apa maksud kakek dengan kata-kata ini, apa artinya semua dari ungkapan kakek, saya belum mengerti.’ Tanya sang anak muda.

‘Saya mahfun anak muda. Saya sendiri mungkin yang salah, salah karena memberi makan anak ayam dengan jagung antero. Semestinya makanan anak ayam adalah lemukut.’ Sambung orang tua ini melanjutkan kata-katanya.

‘Saya buta pengertian kakek.’

‘Bukan kamu tidak mengerti anak muda apa yang kakek bilang, hanya kamu tidak faham maknanya, bukan?’

Setelah itu sang belia yang diberi petua meninggalkan kampung, pergi menuntut ilmu. Dan selanjutnya pergi merantau sangat jauh dari kampung halaman.

Dalam perjalanan hidup san anak ini, ia menemui berbagai masalah, tetapi makna kata-kata dari petua sang orang tua kampong tidak pernah dilupa. Bila-bila saja timbul lagi kembali ‘Sedunia orang mengatakan engkau salah, tanyalah kata hatimu, karena yang benar hanya satu. Jadilah engkau pelita, kalau kau tidak bisa jadi lilin’.

Sampai akhir hidup sang belia yang dinasihati tidak pernah dilupakan kata-kata ini, tetapi maknanya belum dicernah keseluruhannya. Apa gerangan maksud petua ini.*

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Taman Balekambang, Bukti Cinta Orangtua …

Agoeng Widodo | | 30 September 2014 | 15:39

Gedung DPR Dijual …

Hendra Budiman | | 30 September 2014 | 11:55

Bahkan Macan Asia pun Butuh Demokrasi …

Yudhi Hertanto | | 30 September 2014 | 12:16

Langkah Kecil, Meninggalkan Jejak yang …

Ngesti Setyo Moerni | | 30 September 2014 | 15:07

Kamukah Pemenang Sun Life Syariah Blog …

Kompasiana | | 29 September 2014 | 09:44


TRENDING ARTICLES

Kumpulan Berbagai Reaksi Masyarakat …

Elvis Presley | 6 jam lalu

UU Pilkada, Ahok dan Paham Minoritas …

Edi Tempos | 8 jam lalu

People Power Menolak Penghapusan Pilihan …

Daniel Setiawan | 9 jam lalu

Hobi Berbahaya Anak Muda di Saudi …

Umm Mariam | 10 jam lalu

Inilah Cara SBY Membatalkan UU Pilkada …

Rullysyah | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Layanan Kesehatan Harus Ramah dan Terbuka …

Baihaqi | 7 jam lalu

Bogor Islamic Book Fair 2014 …

Adi Setiadi | 7 jam lalu

“Indonesia Tanah Air Beta”, Kata …

Elvini Effendi | 7 jam lalu

Layakkah Menteri Agama RI menetapkan Iedul …

Ibnu Dawam Aziz | 7 jam lalu

Orang Indonesia Itu Baik-baik Semua …

Den Bhaghoese | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: