Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Adi Daffa

ada dan tiada http://dekatterasing.blogspot.com

Antara Logika dan Laku

OPINI | 05 October 2012 | 06:45 Dibaca: 157   Komentar: 0   0

Kerangka logika sebesar dan sehebat apapun, apabila salah satu element kecil dasarnya ada yang gugur, maka otomatis keseluruhan bangunan logika di atasnya akan runtuh. Tetapi kadang kita malu mengakui, enggan untuk jujur, atau pura-pura tidak tahu apabila di salah satu dasar logika ternyata mengandung kecacatan.

Manusia memang sulit untuk bebas dari keinginan dan kepentingan. Seseorang yang dirinya cerdas dan sudah merasa berpikir logis, belum tentu jalur pikirannya benar-benar logis, karena bisa jadi ada faktor kepentingan yang mempengaruhi jalan pikirannya. Untuk itulah diperlukan alat bantu berupa angka-angka (perhitungan) atau obyek nyata untuk membuktikan kelogisan berpikirnya.

Bagaimana apabila kesulitan dalam melakukan perhitungan atau percobaan-percobaan?

Maka perlu dilakukan pengikisan keinginan, yaitu dengan LAKU. Misalnya dengan menekan hasrat makan di luar kebutuhan, hasrat seksual di luar keperluan, hasrat malas, hasrat terkenal, hasrat gengsi, hasrat kekayaan, hasrat sombong, hasrat kepuasan, dll. Dengan laku, akan lebih teranglah alam pikiran, lebih jujur, lebih adil, meskipun mungkin belum mencapai puncaknya.

Keterkaitan antara kondisi keinginan dengan alam pemikiran ini sangat erat, bisa dibuktikan bahwa kadang kala pola pikir personal mengalami perubahan tergantung suasana hati, tergantung keadaan yang melingkupi. Berpikir saat sehat, senang dan kenyang kadang berbeda dengan saat sakit dan sengsara.

Teknologi yang diakui dunia dan mampu membawa manfaat bagi manusia tidak terlepas dari serangkaian perhitungan dan uji coba yang serius. Sedangkan pengetahuan spiritual besar dunia tidak terlepas dari laku hidup yang cenderung bebas ego dari tokohnya. Para tokoh besar dunia adalah orang-orang yang telah nyata perjuangannya lahir dan batin.

Jadi, bagi kita yang konon memperjuangkan kebenaran, atau yang mencari pencerahan, atau yang belajar menemukan kebenaran, atau yang bahkan menyanggah perkataan tokoh besar yang dihormati, sangat penting bagi kita untuk berkaca, seperti apakah pribadi kita, seberapa besarkah ego kita. Karena suatu kemustahilan untuk menemukan kerangka pikir baru yang lebih benar apabila dirinya sendiri terbukti masih sering memperturutkan keinginannya.

Wallohu a’lam

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Nasib Buruh Migran di Pintu Akhir …

Eddy Mesakh | | 19 December 2014 | 12:57

Dengan Google Street Kita Bisa …

Daniel H.t. | | 19 December 2014 | 09:34

Tim “Hantu” Menpora Berpotensi …

Erwin Alwazir | | 19 December 2014 | 12:47

Tiga Seniman “Menguak Takdir” …

Ajinatha | | 19 December 2014 | 09:08

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Menteri Rini “Sasaran Tembak” …

Gunawan | 8 jam lalu

Inilah Drone Pesawat Nirawak yang Bikin …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

Seorang Manager Menjadi Korban Penipu …

Fey Down | 15 jam lalu

Meramu Isu “Menteri Rini Melarang …

Irawan | 16 jam lalu

Luar Biasa, Kasus Lapindo Selesai di Tangan …

Hanny Setiawan | 16 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: