Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Ketuhanan yang Maha Esa

OPINI | 01 October 2012 | 22:40 Dibaca: 98   Komentar: 0   0

Konon, Pancasila telah ditafsirkan kesana-kemari. Kesaktian Pancasila telah diamputasi. Persoalan inilah sebenarnya yang paling layak kita jadikan tema peringatan hari kesaktian Pancasila hari ini. Dan tidak mengherankan apabila menteri kita mengatakan jangan sekedar hafal sila-silanya saja. Namun yang lebih penting “internalisasi value” dari sila-sila Pancasila itu sendiri.

Terus terang saja saya kebingungan mencari padanan kata ‘internalisasi value’ yang terlontar dalam pernyataan mantan rektor ITS ini. Misalnya bagaimana melakukan ‘internalisasi value’ dari Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama dari Pancasila kita. Saya pikir peletakan sila ketuhanan dalam urutan pertama ini sangat gagah. Mentereng sekali. Tuhan diletakkan diatas segala-galanya. Artinya masyarakat dari Sabang sampai Merauke menghikmadkan diri kepada Tuhan. Mereka percaya bahwa Tuhan lah yang menciptakan alam dan segenap isinya. Yang memberi mereka makan dan rizqi lainnya.

Bangsa ini juga sepakat jika kemerdekaan wujud atas berkat rakhmat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan Yang Maha Adil dan Bijaksana. Oleh karena itu bangsa kita tidak segan mengusir penjajah yang telah merobek-robek keadilan. Kita pun sepakat menjalankan kehidupan bernegara dan bermasyarakat berdasar pada Ketuhanan. Tuhan yang diajarkan dalam agama. Sehingga kebebasan beragama tidak sama dengan kebebasan untuk tak bertuhan. Oleh karenanya sila pertama Pancasila berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa, bukan kemanusiaan yang maha esa.

Tetapi lihatlah sekarang bagaimana sila pertama telah ditafsirkan menjadi kemanusiaan yang maha esa. Misalnya saja, Tuhan berkata tutuplah auratmu. Tapi kenyataannya manusia mengumbar auratnya. Kaum hawa  suka memamerkan pahanya. Berpakaian mini tidak saja saat dirumah. Alasannya mode. Seorang pemerkosa akhirnya juga berkata yang sama. Tuhan juga berkata janganlah meminum yang memabukkan. Tapi pabrik minuman keras dimana-mana. Sabu-sabu menjadi menu empat sehat lima sempurna. Bandar narkoba pun berkeliaran. Semua orang ikut-ikutan. Ikut mabuk dan berdagang barang haram.

Padahal common sense kita menyadari bahwa negara ini berdasar kepada ketuhanan bukan berdasar pada kemanusiaan (antroposentris). Siapa yang harus disalahkan ketika Ketuhanan Yang Maha Esa ditafsirkan dengan humanisme sekuler, atheisme, rasionalisme, agnostisisme dan semacamnya. Akhirnya perjalanan negara kita limbung perlahan-lahan. Yang semula kokoh kini nampak rapuh. Ketuhanan Yang Maha Esa tersudut dipojok-pojok gelap peradaban, di temaram lampu kota-kota metropolitan.

Mestinya kita ini tak perlu terkejut jika masyarakat menunjukkan kemunduran dalam segala hal. Para orang tua kita senang sekali menilep uang rakyat. Sementara muda-mudinya sepertinya tak bisa dicegah untuk terus mabuk. Kalau tidak mabuk bukan anak gaul. Lha, kita ini masih waras apa sudah hilang ingatan.

Cita-cita kita selalu ingin jadi bangsa besar, maju dan beradab. Namun kenyataannya jauh panggang dari api. Orientasi kita tentang Tuhan sudah jauh dari maksud para founding fathers kita dulu meletakkannya pada urutan pertama diatas sila-sila lainnya. Kemanusiaan kita, persatuan kita, permusyawaratan kita dan keadialan sosial kita telah jauh meninggalkan ketuhanan yang maha esa! Fondasinya telah dirusak oleh bangsa kita sendiri.

Sila pertama Pancasila sekedar menjadi simbol religiusitas kosong. Kekuatan buta Mc World kita berhalakan dan kita jadikan tuhan-tuhan baru diatas Tuhan Yang Maha Esa. Apakah pantas kita terus mengaku sebagai negara dan bangsa yang berketuhanan? Sementara ditengah reruntuhan sering kita mendengar teriakan kembali ke Pancasila. Marilah kita jadikan Pancasila sebagai perekat bangsa. Tetapi Pancasila yang mana gerangan? Apa Pancasila yang minus Ketuhanan Yang Maha Esa.

Akhirnya benar kita ini sejatinya telah menjelma menjadi bangsa yang tidak waras, bangsa yang telah gila dan kesurupan. Bangsa yang telah menjadi buih dilautan luas dan tak pernah bisa sadar untuk segera kembali berlayar menantang badai. Kita telah kehilangan nyali. Kita telah kehilangan kegagahan para pahlawan revolusi. Kita telah kehilangan semangat Soedirman, kobaran jihad Diponegoro, teriakan heroik Bung Tomo. Kemana hilangnya semangat kita melawan penindasan dan ketidakadilan. Pantaskah kita kemudian bertanya kepada para pengemis di club-club malam, kepada para gelandangan yang tidur di penhouse, atau kah kita harus segera bersujud dihadapan pada Tuhan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Politik Saling Sandera …

Salman Darwis | 9 jam lalu

Bank Papua, Sponsor Tunggal ISL Musim Depan …

Djarwopapua | 10 jam lalu

Seminggu di Makassar yang Tak Terlupakan …

Annisa Nurul Koesma... | 10 jam lalu

Robohkah Surau Kami Karena Harga BBM Naik? …

Arnold Mamesah | 10 jam lalu

Sahabat Hati …

Siti Nur Hasanah | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: