Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Katedrarajawen

"Merindukan Pencerahan Hidup Melalui Dalam Keheningan Menulis" ______________________________ Saat berkarya, kau adalah seruling yang melalui hatinya bisikan selengkapnya

Sukses dalam Keduniawian, Gagal dalam Kerohanian

OPINI | 29 September 2012 | 13:24    Dibaca: 343   Komentar: 19   7

Demi mengejar kesuksesan keduniawian, justru seringkali menyebabkan kita gagal dalam kerohanian.

Siapa yang tidak ingin sukses? Pada dasarnya setiap manusia ingin sukses dalam hidupnya. Kecuali orang stress dan yang putus asa.

Namun sayangnya yang menjadi ukuran standar kesuksesan kita lebih condong dalam hal keduniawian. Sejujurnya itu lebih menarik bagi kita.

Menjadi kaya, terkenal, berkuasa, memiliki penampilan yang sempurna tentu saja sangat menarik dan menjadi impian.

Demi untuk meraih hal tersebut, yang kita angap sebagai ukuran kesuksesan. Kita rela mengorbankan kesuksesan kerohanian.

Karena kita lebih mengutamakan kesuksesan keduniawian yang mendatangkan puja-puji.

Banyak contoh orang-orang sukses menurut ukuran keduniawian hidup dalam kegagalan secara kerohanian. Dimana jiwanya kesepian dan hatinya kekeringan.

Memang menyedihkan. Bila demi mengejar kesuksesan keduniawian, kita mengorbankan kesuksesan kerohanian.

Mengutamakan kesuksesan keduniawian daripada kerohanian boleh jadi merupakan kesesatan pikir kebanyakan umat manusia saat ini.

Dimana kebanyakan kita lebih berlomba-lomba mengejarkan kesuksesan keduniawian. Bukan hanya dengan mengorbankan urusan kerohanian.

Tetapi juga dengan cara yang tidak manusiawi dan membelakangi nurani. Yang luar biasa, kita tanpa perlu merasa bersalah dengan kesalahan yang kita lakukan.

Dengan kesadaran kita yang masih abu-abu. Seringkali kita tidak bisa melihat dengan jelas antara kebenaran dan kesalahan.

Yang terjadi adalah kebenaran dipandang sebagai kesalahan. Kesalahan dianggap sebagai kebenaran.

Kita lebih memandang bahwa kesuksesan keduniawian lebih menarik dan membahagiakan.

Memandang orang-orang yang tekun mengejar kesuksesan kerohanian sebagai makhluk yang ketinggalan jaman dan hidup kesepian. Padahal justru sebaliknya.

Sayang memang, karena masih hidup dalam kebodohan batin dan kemiskinan spiritual. Kita bangga dalam kesuksesan keduniawian. Namun tenggelam dalam kegagalan urusan kerohanian.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menularkan Minat Sastra kepada Remaja Lewat …

Benny Rhamdani | | 28 May 2015 | 12:56

Atensi Hipertensi …

Dainsyah Vormula Da... | | 28 May 2015 | 06:33

Suasana Ujian Semester di Kampus Top Dunia, …

Fadhilah Muslim | | 28 May 2015 | 05:48

Kekasih …

Jhon Torr Lambene | | 28 May 2015 | 13:33

Sambutlah: Kompasiana Baru 2015 yang Lebih …

Kompasiana | | 20 May 2015 | 19:02


TRENDING ARTICLES

5 Samurai Membidik Rachmat Gobel …

Djono Bedjo | 11 jam lalu

Petral Diaudit, Posisi Politik Jokowi, dan …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu

Hati-Hati Berkendara, Ada Operasi Patuh 2015 …

Suci Handayani | 12 jam lalu

Berbahayanya Provokasi Prabowo dalam Kasus …

Daniel H.t. | 12 jam lalu

Prahara jelang Kongres FIFA …

Achmad Suwefi | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: