Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Katedrarajawen

"Merindukan Pencerahan Hidup Melalui Dalam Keheningan Menulis" ______________________________ Saat berkarya, kau adalah seruling yang melalui hatinya bisikan selengkapnya

Sukses dalam Keduniawian, Gagal dalam Kerohanian

OPINI | 29 September 2012 | 13:24 Dibaca: 328   Komentar: 19   7

Demi mengejar kesuksesan keduniawian, justru seringkali menyebabkan kita gagal dalam kerohanian.

Siapa yang tidak ingin sukses? Pada dasarnya setiap manusia ingin sukses dalam hidupnya. Kecuali orang stress dan yang putus asa.

Namun sayangnya yang menjadi ukuran standar kesuksesan kita lebih condong dalam hal keduniawian. Sejujurnya itu lebih menarik bagi kita.

Menjadi kaya, terkenal, berkuasa, memiliki penampilan yang sempurna tentu saja sangat menarik dan menjadi impian.

Demi untuk meraih hal tersebut, yang kita angap sebagai ukuran kesuksesan. Kita rela mengorbankan kesuksesan kerohanian.

Karena kita lebih mengutamakan kesuksesan keduniawian yang mendatangkan puja-puji.

Banyak contoh orang-orang sukses menurut ukuran keduniawian hidup dalam kegagalan secara kerohanian. Dimana jiwanya kesepian dan hatinya kekeringan.

Memang menyedihkan. Bila demi mengejar kesuksesan keduniawian, kita mengorbankan kesuksesan kerohanian.

Mengutamakan kesuksesan keduniawian daripada kerohanian boleh jadi merupakan kesesatan pikir kebanyakan umat manusia saat ini.

Dimana kebanyakan kita lebih berlomba-lomba mengejarkan kesuksesan keduniawian. Bukan hanya dengan mengorbankan urusan kerohanian.

Tetapi juga dengan cara yang tidak manusiawi dan membelakangi nurani. Yang luar biasa, kita tanpa perlu merasa bersalah dengan kesalahan yang kita lakukan.

Dengan kesadaran kita yang masih abu-abu. Seringkali kita tidak bisa melihat dengan jelas antara kebenaran dan kesalahan.

Yang terjadi adalah kebenaran dipandang sebagai kesalahan. Kesalahan dianggap sebagai kebenaran.

Kita lebih memandang bahwa kesuksesan keduniawian lebih menarik dan membahagiakan.

Memandang orang-orang yang tekun mengejar kesuksesan kerohanian sebagai makhluk yang ketinggalan jaman dan hidup kesepian. Padahal justru sebaliknya.

Sayang memang, karena masih hidup dalam kebodohan batin dan kemiskinan spiritual. Kita bangga dalam kesuksesan keduniawian. Namun tenggelam dalam kegagalan urusan kerohanian.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 5 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 6 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 7 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 8 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Resiko Terlalu Banyak Informasi Diri di …

Opa Jappy | 8 jam lalu

Ketika Sayang Dijadikan Sebuah Alasan Untuk …

Fairusyifa Dara | 8 jam lalu

Semarak Pesta Rakyat Situ Bungur (Bingkai …

Agung Han | 9 jam lalu

Kenapa Lebih PD Dengan Bahasa Asing Dari …

Seneng | 9 jam lalu

Car Free Day Bukan Solusi …

Nitami Adistya Putr... | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: