Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Bahasa Membentuk Karakter Bangsa

OPINI | 25 September 2012 | 11:37 Dibaca: 486   Komentar: 2   0

Kekuatan sebuah identitas dapat merefleksikan kekuatan karakter yang terpatri dalam sebuah jiwa. Jiwa merupakan simbol yang melambangkan kesatuan. Sedangkan kesatuan sendiri dapat diartikan sebagai sebuah unit atau lambang dari entitas-entitas di dalamnya yang tergambar secara utuh. Posisi sebuah negara dapat diumpamakan sebagai sebuah jiwa. Suku, ras, maupun agama dalam negara tersebut adalah sebagai entitas yang masing-masing memiliki kekuatan.

Kekuatan masing-masing entitas harus dipadukan dengan diintegrasikan oleh paham universal yang dapat diterima oleh setiap entitas. Adanya paham yang diterima setiap entitas kemudian akan melahirkan sebuah identitas yang mempersatukan kekuatan masing-masing entitas. Identitas inilah yang kemudian menggambarkan bagaimana karakter sekumpulan entitas dalam sebuah jiwa.

Sejak sekian lamanya, bahasa Indonesia telah disepakati sebagai salah satu identitas oleh setiap entitas di negara Indonesia. Sejak Sumpah Pemuda disepakati, bahasa Indonesia menjadi bukti atas komitmen dari setiap entitas di negara Indonesia untuk bersatu dan membentuk sebuah kesatuan dalam jiwa yang satu. Komitmen inilah yang seharusnya ditindaklanjuti dengan baik untuk membentuk identitas bangsa yang kuat.

Bangsa Indonesia memiliki ragam bahasa yang cukup kaya dengan berbagai bahasa daerah yang masing-masing bersifat unik. Namun, ada satu sifat yang menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang unggul. Dalam perjalanannya, bahasa Indonesia terus mengalami proses transformasi. Transformasi ini berupa penyempurnaan ejaan maupun penyesuaian kosakata. Adanya transformasi yang terus berproses secara berkelanjutan menunjukkan bahwa bahasa Indonesia bukan bersifat pasif, melainkan dinamis mengikuti dinamika yang terjadi. Tidak seperti bahasa daerah yang telah berhenti bertransformasi.

Sifatnya yang dinamis menunjukkan kapasitas bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Bahasa Indonesia memiliki  kekuatan untuk mempersatukan setiap entitas bangsa Indonesia. Bersatunya seluruh entitas bangsa berarti pula berpadunya kekuatan masing-masing entitas yang kemudian melebur dalam sebuah pluralisme. Bangsa yang dapat bersatu dalam pluralisme adalah sebuah bangsa yang kaya dengan ragam potensi luar biasa.

Oleh karena itu, bahasa Indonesia harus dihormati dengan baik oleh setiap entitas bangsa sampai entitas yang terkecil. Penggunaannya harus disesuaikan dengan kaidah kebahasaan yang dikristalisasi dari proses transformasi bahasa yang terjadi. Kadangkala kaidah kebahasaan seolah dianggap kaku. Padahal harus disadari bahwa adanya kaidah kebahasaan bertujuan untuk membakukan aturan penggunaan bahasa Indonesia. Pembakuan dilakukan dalam rangka menjaga kelestarian penggunaan bahasa Indonesia sesuai dengan aturan yang telah disepakati.

Cukup banyak pelanggaran terhadap kaidah kebahasaan yang kemudian dianggap lazim dalam keseharian. Tren penggunaan istilah pun makin marak menggunakan bahasa internasional. Bahasa internasional dianggap lebih mutakhir untuk digunakan.

Perlakuan seperti ini mencederai kehormatan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Kehormatan yang diberikan kepada bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan harusnya dijaga dengan baik. Ketika bahasa Indonesia dihormati dengan baik, posisinya sebagai identitas bangsa pun akan semakin kuat. Identitas yang kuat dari sebuah bangsa akan menjadi kekuatan bangsa tersebut di antara bangsa lain. Bangsa dengan identitas yang kuat adalah bangsa yang berkarakter. Dengan begitu, bahasa adalah salah satu pembentuk karakter bangsa. Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar akan menjadikan karakter bangsa Indonesia semakin kuat.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membatik di Atas Kue Bolu bersama Chef Helen …

Eariyanti | | 02 October 2014 | 21:38

Ka’bah dan Haji Itu Arafah …

Lidia Putri | | 02 October 2014 | 18:06

Nasib PNPM Mandiri di Pemerintahan Jokowi …

Ali Yasin | | 02 October 2014 | 10:05

Teror Annabelle, Tak Sehoror The Conjuring …

Sahroha Lumbanraja | | 02 October 2014 | 16:18

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Ternyata, Anang Tidak Tahu Tugas dan Haknya …

Daniel H.t. | 6 jam lalu

Emak-emak Indonesia yang Salah Kaprah! …

Seneng Utami | 8 jam lalu

“Saya Iptu Chandra Kurniawan, Anak Ibu …

Mba Adhe Retno Hudo... | 10 jam lalu

KMP: Lahirnya “Diktator …

Jimmy Haryanto | 11 jam lalu

Dahsyatnya Ceu Popong! …

Aqila Muhammad | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Gara-gara Incest di Jerman, Nginap di Hotel …

Gaganawati | 7 jam lalu

Usul Gw kepada Anggota Dewan …

Bhre | 7 jam lalu

PKC # 3: Kekasih Baru …

Ervipi | 7 jam lalu

Ini Baru #Shame On You# Jika PSC Off Ticket …

Aprindah Jh | 8 jam lalu

Negeriku Tercabik …

Rahab Ganendra | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: