Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Mahendra Hariyanto

Pekerja IT yang sedang belajar menulis… Seoarang Suami dan juga Ayah dari lelaki kecil yang selengkapnya

Naik-naik ke Puncak Gunung

OPINI | 15 September 2012 | 06:56 Dibaca: 390   Komentar: 10   7

Banyak cara untuk mendekatkan diri kepada-Nya-menguatkan kembali keimanan kita kepada yang maha kuasa.

Melakukan ritual doa, mendengarkan ceramah-ceramah agama, melakukan perjalanan ziarah ke tempat-tempat suci keagamaan, adalah beberapa cara bagi kita untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Namun, demikian, melakukan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan ritual keagaman bukanlah satu-satu nya cara untuk mendekatkan diri kepadanya.

Ada banyak cara

Mendaki gunung adalah salah satunya. Di saat kita bisa menaklukkan puncak gunung yang didaki, diketinggian gunung yang sunyi, memandang daratan dan lautan luas tak terhalangi, akan membuat kita sadar betapa luasnya alam ini. Betapa agungnya sang maha pencipta , dan betapa kecilnya kita di hadapan-Nya.

“Setiap kali kudaki sebuah gunung, semakin kumerasa dekat dengat Nya. Jadi, Bagiku , mendaki gunung itu adalah ibadah.. bukan sekedar berpetualang, rekreasi atau olah raga”

Begitu kira-kira inti nasehat seorang pendaki gunung yang pernah kudengar bertahun-tahun lalu di saat ku masih remaja.

Jadi, ibadah untuk mendekatkan diri kepada-Nya itu ternyata bisa dilakukan dalam banyak hal bergantung pada Niat-nya. Begitu kira-kira pelajaran pertama yang dapat diambil dari cerita mendaki gunung ini.

Makanya, ketika aku mendengar seorang wakil menteri yang gemar mendaki gunung, dan pada akhirnya meninggal pada saat sedang mendaki sebuah gunung, aku berprasangka baik, bahwasan-nysa beliau meninggal dalam keadaan sedang beribadah.

Di hari lain, aku mendengar kisah seorang teman yang mendaki gunung bersama beberapa teman sekelasnya. Pendaki gunung amatir tentunya , bukan pendaki professional, hanya sekelompok pelajar yang ingin mencoba-coba berpetualang mendaki sebuah gunung di Jawa Barat (saya lupa gunung apa tepatnya). Ini adalah pengalaman baru. Tidak semua pelajar lelaki di sekolahnya berani menerima tantangan untuk mendaki gunung itu. Hanya mereka yang suka berpetualang -dan sedikit terpengaruh iklan rokok- yang berani menerima tantangan itu. Iya betul, iklan rokok.

Di jaman itu ada sebuah merek rokok yang memposisikan dirinya sebagai rokoknya para petualang. Karenanya , iklan-iklan nya di TV penuh dengan adegan petualangan sekelompok lelaki yang mendaki gunung, mengarungi gurun, ataupun menyeberangi sungai yang deras.

Maka berangkatlah temanku ini bersama kelompok kecilnya pergi mendaki gunung. Targetnya tidak muluk-muluk, tidak perlu sampai puncaknya. Yang dituju hanyalah area dataran perkemahan tertinggi yang terletak beberapa ratus meter dari puncak tertinggi gunung tersebut.

Tentu tidak mudah bagi anak-anak remaja pendaki amatir, yang jarang berolah raga , bahkan beberapa diantaranya sudah mulai menyukai rokok, melakukan pendaki an gunung untuk pertama kalinya.

Belum lagi satu jam mendaki, beberapa diantaranya sudah letih penat , menuntut teman-teman lainnya untuk berhenti sejenak beristirahat .

Begitulah jalannya pendakian gunung itu. Tertatih-tatih. Waktu tempuh pendakian yang selayaknya dapat diselesaikan dalam waktu 1.5 jam oleh pendaki gunung pada umumnya, akhirnya dapat dicapai dalam waktu 3 jam oleh para pendaki gunung amatir itu.

“Akhirnya… sampai juga!!!”

Senyum lebar menyeringai di wajah remaja pendaki gunung amatir itu. Kenyataan bahwa mereka adalah orang-orang pertama disekolah mereka yang berhasil mencapai dataran tertinggi di gunung itu membuat mereka bangga dan jumawa.

“Mulai hari ini, kita tidak akan lagi dipandang sebelah mata oleh geng-geng lain di sekolah kita”

Perasaan Bangga dan Jumawa itu ternyata tidak bertahan lama. Sekonyong-konyong muncul 2 anak kecil berkepala botak dari jalan setapak yang baru saja mereka daki.

Bukan, mereka bukan tuyul pegunungan. Ukuran-badan mereka seukuran anak 10 tahun an, terlalu besar untuk ukuran tuyul. Lagian mana ada tuyul yang jalan-jalan bawa termos es dan kantong plastik.

Wajah kedua anak kecil berkepala botak itu dihiasi senyum manis menyeringai di saat mencapai dataran tertinggi gunung itu. Bukan senyuman bangga dan jumawa, tapi senyuman penuh harapan. Penuh harapan, bahwa dagangan es, air mineral, makanan kecil yang mereka jual hari ini akan laku keras.

Dihadapan mereka, telah menanti sekelompok calon pelanggan - remaja pendaki gunung amatir itu - yang terlihat letih, kuyu, dan kehabisan tenaga itu.

“Aa , Aqua-nya . … Kratingdaeng.. Extra Joss.. rokok -nya .. A’ “, kedua anak itu tidak membuang-buang waktu menjajakan dagangan mereka. Untuk diketahui Aa ‘ atau A’ adalah ucapan yang banyak dipakai di tanah sunda untuk menggantikan kata “kakak.’

Para remaja pendaki gunung itu menatap kedua anak itu dengan pandangan tak percaya.

“Adik-adik ini datang dari mana? Emangnya ada perkampungan di atas gunung ini ya. ?” tanya seorang pendaki gunung amatir itu. Pertanyaan tendensius unutk mengeliminasi kenyataan bahwa gunung yang mereka daki dengan susah payah ternyata bisa juga ditaklukan oleh dua anak kecil botak pedagang asongan.

“Di atas sini nggak ada kampung A’. kita tinggal di bawah sana. Sekitar satu setengah jam-an lah jalan dari bawah sana ke atas sini. “

“Setiap hari Sabtu-Minggu biasanya banyak yang ke sini naik gunung. Makanya kita juga naik ke sini jualan minuman.

“Mau coba Extra Jossnya A’, bisa menambah tenaga lho A’?” Jawab salah satu anak botak itu, ditutup dengan iklan terselubung dari Extra Joss.

Jawaban anak kecil itu semakin membuat para pendaki amatir itu kuyu tak bertenaga.

Rasa bangga telah berhasil mendaki gunung yang membuat mereka merasa menjadi laki-laki terkuat di sekolahnya, sirna-lah sudah.

Gunung yang baru saja mereka taklukan dengan perjuangan tidada tara, menguras keringat dan tenaga; ternyata dapat juga ditaklukan dengan mudah oleh dua orang anak kecil pedagang asongan berkepala botak.

Dari cerita ini, kita bisa memetik pelajaran kedua , yaitu : Adalah penting untuk selalu bersikap rendah hati , terutama di saat kita baru saja berhasil apa yang kita cita-citakan. Jangan takabur dan sombong. Cepat atau lambat, kesombongan hanya akan membuat kita kecewa.

Di lain waktu, di saat aku masih kuliah dulu, aku dan beberapa teman kelas ku juga berkesempatan mendaki gunung. Sebuah gunung di Jawa Barat. Saya lagi-lagi lupa nama gunungnya. Ceritanya tidak jauh seperti anak-anak remaja pendaki gunung amatir di atas. Sama-sama amatir, sama-sama terinspirasi sebuah iklan rokok di telivisi. Lebih parahnya lagi, diantara kami bertujuh yang mendaki gunung saat itu , lima diantaranya adalah perokok aktif. Hanya aku dan satu orang teman lainnya yang tidak merokok. Percayalah, mendaki gunung dengan paru-paru dipenuhi nikotin, tidaklah gampang. Napas menjadi pendek-pendek, terengah-engah dan gampang cape.

Begitulah, dengan tertatih-tatih kami mendaki gunung itu. Hari sudah hampir gelap. Namun, tujuan kami, sebuah dataran yang dikitari tetumbuhan bunga edelweiss di lereng gunung itu, belum lagi tercapai. Demi keselamatan, kami memutuskan untuk menghentikan pendakian di sore itu, dan akan melanjutkannya pendakian keesokan paginya. Kami mendirikan tenda untuk bermalam. Kami berbagi tugas, ada yang bertugas mendirikan tenda, ada yang mencari kayu-kayu kering untuk dijaidkan api unggun di malam itu, dan aku berinisiatif mencari sumber air untuk menambah persediaan air minum yang sudah semakin menipis.

Untung-nya sumber air yang kucari tidak jauh dari tempat kami bermalam saat itu. Gemericik air terdengar sama-samar dikejauhan. Aku berjalan mengikuti suara gemericik air itu . Tidak sampai 15 menit, kutemukan aliran air gunung mengalir di sebuah aliran alur yang tidak terlalu lebar. Tak sampai satu meter dan dangkal. Air mengalir jernih bersih diantara bebatuan.Tanpa ragu, kutangkup air gunung itu dengan kedua tanganku, dan kualirkan air itu ketenggorokanku tuk melepaskan dahaga. Waah.. dingin dan menyegarkan…

Kutahu air itu belum di masak masih mentah. Kata bu guru SD-ku dulu, minum air mentah itu tidak baik. Air minum harus dimasak dulu, supaya kuman-kuman mati.

Ah peduli amat. Air gunung tentunya masih bersih dan tidak terkontaminasi. Begitulah, setelah kulepaskan dahagaku, kepenuhi botol-botol air minum untuk dibawa kembali ke tenda dan dibagikan pada teman-teman lainnya yang persediaan air minumnya sudah hampir habis.

Begitu tiba kembali ke tenda, teman-teman menyambutku - atau tepatnya- menyambut air minum yang kubawa dengan antusias. Sama seperti aku, teman-temanku, langsung meminum air gunung yang menyegarkan itu tanpa harus repot-report memasaknya terlebih dahulu.

Dingin dan menyegarkan….

Singkat cerita, kami melanjutkan pendakian keesokan paginya. Tujuan kami sudah dekat. Kurang dari satu jam perjalanan, kami sudah tiba di tujuan kami- sebuah dataran luas yang dikelilingi bunga-bunga edelweiss yang indah. Tampak beberapa pendaki gunung lainnya telah berkemah di sekitar dataran itu.

“Lihat, ada aliran air gunung di sebelah sana” kata salah seorang temanku. Tidak jauh dari dataran itu terdapat alur aliran air gunung sebesar parit, lebarnya hanya sekitar 1 - 1.5 meter.

” Iya betul, aliran itu pasti bagian hulu , aliran air gunung tempat ku mengambil persediaan air minum kemarin malam” aku menimpali.

“Air minumku sudah hampir habis lagi, yuk kita ke sana ambil air lagi”

Maka bergegaslah kami menghampiri aliran air gunung itu.

Setibanya kami di sana, kami terkejut mendapati apa yang kami lihat. Di dasar air yang jernih itu dapat kami saksikan tumpukan benda kuning sebesar pisang molen yang tidak lain tidak bukan adalah (maaf) kotoran manusia.

Air gunung kami minum mentah-mentah kemarin, ternyata besumber dari aliran air gunung tidak jauh di atasanya yang di jadikan MCK alami oleh para pendaki gunung yang berkemah. Mendapati kenyataan ini membuat perut kami yang sedari tadi pagi baik-baik mendadak menjadi mual ingin muntah. Rasa haus langsung hilang, nafsu makan pun lenyap seharian membayangkan telah meminum beberapa air mentah terkontaminasi kotoran manusia.

Jadi teman, pelajaran ketiga yang menutup cerita ini adalah : lebih baik berhati hati daripada menyesal di kemudian hari.Seperti kata orang bule: “Better safe than sorry” .

Begitu saja. Semoga bermanfaat.

Selamat berakhir pekan.

Singapura, 14 September 2012

Mahendra Hariyanto

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

FEATURED ARTICLE

HEADLINE ARTICLES

Ke Brasil, Jangan Cari Warga yang Mengerti …

Iskandarjet | | 11 July 2014 | 17:14

Masyarakat Ekonomi ASEAN : Sedikit-sedikit …

Kusmayanto Kadiman | | 11 July 2014 | 11:45

Ramadhan di Saudi, TKI Bisa Hemat Uang Makan …

Teguh Suprayogi | | 11 July 2014 | 17:53

Hindari Denda sampai $60.000 atau Kurungan …

Roselina Tjiptadina... | | 11 July 2014 | 08:48

[Daftar Online] Kompasiana Nangkring + …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:17


TRENDING ARTICLES

Stamina Perang Prabowo-Hatta …

Win Winarto | 16 jam lalu

Pelecehan Ilmu Statistika …

Herulono Murtopo | 21 jam lalu

Ayo Tantang Lembaga Survei Buka-bukaan …

Sigit Kamseno | 22 jam lalu

Iklan Mastin Kulit Manggis Ternyata Plagiat …

Samandayu | 23 jam lalu

Bahasa Paling Romantis di Dunia …

Umm Mariam | 11 July 2014 07:42

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: