Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Ayick Tigabelas

Sedikit pinter, sedikit bloon, Sedikit aneh, sedikit punya wawasan, sedikit-banyak tahu, sedikit2 banyak bertanya.

Adakah kehidupan setelah mati

REP | 08 September 2012 | 09:10 Dibaca: 4183   Komentar: 10   3

Sebelumnya, Buat para pembaca yang budiman. Jika memang postingan saya ini termasuk sampah silahkan di lewati saja atau close bila memang dirasa perlu.

Saya memang tolol, bodoh bin bego dan disini saya ingin menambah wawasan. mungkin tulisan saya ini melempem dan ‘ngga bergizi’. Nah, disini saya ingin mengerti benar-tidaknya ada kehidupan setelah kematian Tapi Sungguh, saya ndak tahu apa2 tentang kematian. konon, kelak jika saya mati/meninggal/bongko/matek/die. Akan ada kehidupan setelah kematian. Benarkah itu?

Secara ngga langsung, jika merujuk pada kitab suci dan khotbah2 para ulama Sudah banyak perihal mengenai kehidupan setelah kematian ini dibahas disana.

Secara kita di doktrin untuk mempercayainya bahwa yang jika begini maka begitu, kalau begitu maka begini. Secara umum, kita sudah mengerti begini begitu tadi. Sekian mubaligh, para ustadz-ustadzah, para wiku, dan para romo2 telah mengabarkan, sekian kitab telah mengupasnya. Bahkan, komik dan filmnya pun tersedia.
Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengetahuan2 saya yang selalu dituntut untuk maju. bagaimana saya bisa ‘percaya dengan sebenar2nya’ jika belum pernah ke sana (kehidupan setelah mati)? Belum pernah ‘merasakannya’? Lagi pula, mereka yang sudah mati tidak ada yang kembali lagi ke alam dunia ini untuk menceritakannya?

Bayangkan, kita diminta untuk mempercayai adanya kehidupan setelah kematian sementara belum pernah ‘jalan2’ ke sana. Sekilas video atau secuil foto pun tidak ada. Adanya sebatas ‘kisah’.
Simpul besarnya adalah bagaimana kita bisa sedemikian yakin bahwa setelah itu tidaklah ada apa2 lagi? Sekarang pun kita dapat merasakan bahwa disamping jasad, ada hal lainnya dari keutuhan kita sebagai manusia,bukan? Manusia itu kan lengkap, jasadi ~ ruhani, lahir ~ batin, syariat ~ hakikat. Nah, kemanakah hal lain ini setelah jasad kita mati? Apakah dengan itu selesai juga kisahnya?
Kalau hanya segitu, lantas untuk apakah kita berlari2an di bumi selama ini? Menikah, bekerja, beribadah, sakit, sehat, lapar, haus, kenyang, bertengkar, membenci, mencinta, memaafkan, dan lain2nya. Apakah semua itu berjalan tanpa arti apa2? Sekedar iseng2 saja? Apa betul begitu? Apa mungkin ada maknanya..? Apakah.. Apakah.. Apakah.. Begitulah pikiran saya bergelayut terus menerus secara kontinyu.
Nah, disini saya menginginkan sebentuk pencerahan, saya masih ingat kutipan yang disampaikan oleh Bang Erianto Anas bahwa : “pencerahan itu bukan barang murah. Dibutuhkan proses trial and error, jatuh-bangun pemikiran dan perenungan yang panjang. Dan akan lebih kencang jalannya jika ada sparing partner dalam menggapainya. Tapi maaf, sejauh ini; itu yang nyaris belum saya temukan. Meskipun dengan beberapa nama sempat saya nikmati. Tapi jumlah mereka sangat sangat sedikit.”
Akhirul kata Buat para pembaca yang budiman, Mohon tuangkanlah komentar2 yang cerdas dan ‘bergizi’. Itulah yang saya rindukan. Itulah yang saya cari selama ini. Itulah salah satu sorga kegemaran saya
Well, lantas bagaimana kehidupan setelah kematian yang saya tuliskan diatas menurut pandangan para pembaca yang budiman? Mohon penjelasannya.

Terima Kasih.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selamat! Surabaya Meraih Socrates Award …

Ilyani Sudardjat | | 17 April 2014 | 11:14

Warga Kecam Pemogokan Panitera …

Sutomo Paguci | | 17 April 2014 | 08:56

Fenomena Simon Santoso: Penerapan Teori XY? …

Yuniandono Achmad | | 17 April 2014 | 08:18

Sudah Dikompres tapi Masih Demam, Salahkah? …

Widhi Handayani | | 16 April 2014 | 21:59

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 10 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 10 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 10 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 11 jam lalu

Menakar Pasangan Ideal Capres - Cawapres …

Afdhal Ramadhan | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: