Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Fajri Mursalin

Fajri Impezza, Mahasiswa Universitas Negeri Makassar. Sebagai Mahasiswa, ia aktifndalam berbagai organisasi yang dianggapnya sebagai selengkapnya

Ammatoa di Tanatoa; Kajang Kab. Bulukumba Sulawesi Selatan

OPINI | 01 September 2012 | 02:11 Dibaca: 1112   Komentar: 0   0

Mendengar kata AMMATOA mungkin masih begitu asing bagi beberapa orang dan sangat lekat istilah ini bagi beberapa orang lainnya yang pernah datang di TANATOA, Kajang Kab. Bulukumba Sul-Sel. TANATOA merupakan suatu kawasan yang dipercaya oleh masyarakat sebagai Tanah yang paling tua di negari ini, dimana kawasan ini dihuni oleh masyarakat yang memiliki adat dan kepercayaan yang mungkin dianggap ekstrem bagi masyarakat secara umum. Sedikit penggambaran bahwa masyarakat yang berada dikawasan ini adalah sepenuhnya masyarakat yang menolak teknologi modern untuk berada dalam kawasan, sehingga ketika berkunjung ke tempat ini maka kita tak akan menemui kendaraan roda dua, roda empat ataupun lainnya yang menggunakan teknologi modern. Apalagi dengan alat teknologi semacam TV, HP dll tidak akan kita jumpai digunakan masyarakat. Jangankan alat elektronik tadi, listrik pun tidak masuk dalam kawasan ini.

Memang sangat berbeda dengan kehidupan yang kita jumpai selama ini, dimana kita tidak bisa jauh dari teknologi modern. Tapi itulah realitas yang ada bahwa masih ada masyarakat yang begitu konsisten untuk menjaga prinsipnya. Yah, sekumpulan masyarakat yang selalu mengenakan pakaian hitam dalam keseharian mereka. Sekelompok masyarakat yang dipimpin oleh seorang yang sangat mereka hormati dan ikuti setiap apa yang menjadi keputusannya, pemimpin mereka disebut sebagai AMMATOA.

Beberapa hari yang lalu, 1 Juli 2012 saya mendapat kesempatan untuk berkunjung ke tempat itu. Setelah menempuh perjalanan sekitar lebih dari 30 KM dari posisi saya di Bulukumba (Baca; Posko KKN REGULER UNM ANGK. XXVII di Kec. Bontobahari). Setelah sampai di salah satu tempat sekitar 3 KM sebelum masuk wilayah TANATOA, saya mengunjungi salah satu kerabat saya yang juga merupakan kemanakan dari salah satu Orang yang mendapat kedudukan di TANATOA. Beliaulah yang akan mengantarkan kami memasuki kawasan TANATOA itu. Setelah perjalanan 3 KM itu dengan mengendarai sepeda motor, tibalah kami di depan gerbang kawasan dimana teknologi tak bisa lagi digunakan. Setelah parkir motor, kami yang juga mengenakan pakaian serba hitam melepaskan sepatu sebelum memasuki kawasan ini. Setelah melepaskan sepatu, kami mulai berjalan memasuki kawasan dimana tepat di hadapan kami melihat sekelompok orang yang berbaju hitam tengah menunggu kedatangan kami di atas rumah (atau mungkin balai desa, balai pemerintahan kalau di daerah kita). Sebelum sampai di rumah, saya sempat bertanya saat berjalan melintasi jalan berbatu dengan tanah yang agak licin karena baru saja gerimis mengguyur tempat ini. Dengan sedikit menahan sakit akibat kaki yang tak biasa bertelanjang untuk berjalan. “kenapa mesti melepaskan sepatu? Atau mungkin paling tepatnya kenapa masyarakat disini tak mengenakan alas kaki?” tapi, dia hanya menjawab “nanti kita tanyakan pada AMMATOA!. Ini membuat saya semakin penasaran. Seperti apakah gerangan sosok AMMATOA ini?.

Setelah sampai di kaki tangga yang beranjak menuju balai pertemuan yang sudah ada AMMATOA disana, saya masih saja kebingungan mencari sumber air atau sekedar lap kaki untuk membersihkan kaki yang saya anggap kotor karena telapaknya penuh dengan tanah. Tapi salah satu orang yang ada di atas rumah itu langsung menyahut “langsung naik saja, tidak perlu dibersihkan. Memang seperti inilah kebiasaan kami di sini”. Dalam hati aku sedikit menggumpat, tapi kan kotor sambil menanjak menaiki tangga. Saat menginjakkan kaki di tangga terakhir, mata saya langsung tertuju pada mereka yang sedang duduk menunggu kedatangan kami. Sosok yang memakai pakaian hitam dengan semacam surban dikepala yang mereka kenal dengan nama ‘passapu’ . setelah dipersilahkan duduk, salah satu dari rombongan memulai pembicaran dengan AMMATOA (saya lupa; sebenarnya kami memasuki kawasan ini beserta rombongan dari UIN Alauddin Makassar yang ingin meneliti tentang perbandingan budaya, agama dan kepercayaan). Beliau adalah juga merupakan orang di daerah ini, namun tidak tingal dalam kawasan TANATOA ini.

Pembicaraan dimulai dan kami diberi kesempatan untuk bertanya. Meskipun dijawab oleh AMMATOA dengan bahasa yang masih sulit saya mengerti, tapi saya bisa paham yang dikatakan lewat kerabat saya tadi. Beberapa pertanyaan akan saya rangkum dalam percakapan di bawah ini, dimana sepenuhnya pertanyaan dijawab oleh AMMATOA dalam bahasa ‘konjo’ (bahasa daerah yang dipakai masyarakat KAJANG, dan beberapa daerah di bulukumba yang hampir mirip dengan bahasa ‘makassar’).

“Kenapa kawasan ini disebut sebagai TANATOA?”, Kawasan ini disebut TANA TOA (TANA; Tanah dan TOA; Tua) yang artinya Tanah yang Tua, karena kami percaya bahwa inilah merupakan tanah yang paling tua di daerah ini dimana dalam kesejarahan setiap masyarakat yang ada di Gowa, Bone dan Luwu berasal dari masyarakat ini, tanah tua yang merupakan asal mereka. Tanah ini asal nenek moyang mereka sebelum ada masyarakat di daerah tersebut.

“Apa artinya itu AMMATOA?”, AMMATOA (AMMA; Bapak dan TOA; Tua) artinya bapak yang dituakan. Dimana seorang AMMATOA menjadi pemimpin bagi segenap masyarakat yang ada disini. Kekuasaannya absolut, melingkupi kebijakan dalam bidang adat, pemerintahan dan aturan agama. Tidak ada yang boleh menentang keputusan AMMATOA sebagai seorang yang dituakan dan diamanahkan untuk menduduki jabatan ini.

“Sejak kapan AMMATOA memimpin dan bagaimana kriteria untuk bisa jadi AMMATOA serta siapa yang memilih AMMATOA?” AMMATOA adalah gelar yang diberikan kepada seseorang yang pantas untuk menjadi pemimpin. Adapun dimulainya istilah AMMATOA sejak datangnya ‘Tomanurung’ (menurut kepercayaan; Tomanurung adalah cikal bakal masyarakat di Sul Sel). AMMATOA yang petama adalah Datuk moyang yang sampai sekarang sudah AMMATOA yang ke-22 sejak AMMATOA yang pertama. Kedudukan AMMATOA adalah seumur hidup, artinya sampai Orang yang sudah dilantik jadi AMMATOA meninggal dunia. Setelah itu dipilih lagi AMMATOA baru yang harus memenuhi beberapa kriteria tertentu yang merupakan sesuatu yang gaib, artinya mendapat petunjuk dari Turae Ra’na (baca; Tuhan) untuk melakukan beberapa hal sebelum jadi AMMATOA. Tapi yang paling penting adalah orang tersebut adalah orang yang jujur, tidak pernah menyakiti, menjaga diri dari perbuatan jahat, tidak merusak alam serta senantiasa mendekatkan diri pada “Turae ra’na”. Jadi, jabatan AMMATOA bukan sesuatu yang didapatkan karena pemilihan secara Demokrasi yang mungkin bisa dengan cara kotor (money Politik, intervensi dan tendensi). Tapi harus mendapat petunjuk dari Tuhan dan memenuhi syarat yang ada, sehingga bisa dikatakan bahwa jabatan AMMATOA adalah penunjukan oleh ‘Turae Ra’na’.

“Kenapa memasuki Kawasan ini kita harus mengenakan pakaian warna hitam dan melepaskan alas kaki?”. Warna hitam adalah warna yang tua, sesuai dengan tanah ini yang juga merupakan tanah yang tua. Hitam adalah warna yang mampu melebur semua warna yang ada menyatu menjadi warnanya. Melepaskan alas kaki berarti kita langsung bersentuhan langsung dengan tanah, dengan begitu kita akan sadar tentang hakikat penciptaan kita yang dari tanah. Menyentuh tanah secara langsung akan senantiasa mengingat bahwa pada akhirnya kita pun akan kembali ke tanah dan menjadi sesuatu yang tak lagi hidup. Artinya, mengingatkan kita terhadap kematian yang akan dikuburkan di dalam tanah.

“Bagaimana sistem kehidupan masyarakat TANA TOA?” Masyarakat disini hidup berdampingan dengan alam, dimana pohon dan makhluk yang ada dalam kawasan TANA TOA ini tidak boleh disakiti ataupun dirusak, begitupun dengan sesama manusia yang ada di daerah ini. Itu yang menjadi pesan ataupun ketentuan yang disampaikan Turae Ra’na yang disampaikan kepada AMMA TOA. Sehingga, kepemimpinan absolut dari AMMA TOA semakin jelas menjadi sistem kehidupan masyarakat. Dimana setiap pesan adat, agama dan yang berkaitan dengannya harus bersumber dari AMMA TOA yang diyakini sebagai penyampai (penghubung) pesan dari Turae Ra’na.

“Bagaimana dengan agama dan keyakinan yang dianut masyarakat TANA TOA?” Kami disini seluruhnya menganut agama Islam (SALLANG; bahasa Konjo). Tidak ada agama lain selain Islam disini, kami percaya kepada Turae Ra’na sebagai asal segala sesuatu dan pemberi kekuatan bagi segenap makhluknya. Disini, masyarakat harus hidup berdasarkan agama islam. Antara perempuan dan laki-laki tidak boleh jalan berdua jika tidak ada ikatan pernikahan, jika kedapatan maka akan dikenakan denda (sanksi) atas ketetapan hukum yang sudah ditetapkan AMMA TOA. Dan setiap masyarakat harus tunduk dalam ajaran Islam. Dan kita harus tahu bahwa setiap pembangunan rumah disini mengahadap ke kiblat (ka’bah). Itu memperjelas bahwa semenjak awal masyarakat TANA TOA menganut ajaran Islam.

“Bagaimanakah caranya seorang AMMA TOA menjaga pesan-pesan (baca; petunjuk atau aturan) dari AMMA TOA sebelumnya?” Jadi pesan-pesan itu dipelajari dari AMMA TOA sebelumnya dengan belajar. Seperti kalian yang belajar di sekolah ataupun di kampus dalam mencari ilmu. Setiap yang jadi AMMA TOA juga belajar mengerti dan memahami pesan-pesan itu, jadi bukan hanya sekedar menghafal pesan-pesan itu. Selain itu, orang yang bisa menghafal pesan-pesan itu juga harus orang yang benar-benar mengikuti pesan-pesan itu. Saya (baca; AMMA TOA sekarang) mempelajari pesan-pesan itu selama 30 tahun dan sampai sekarang masih ingat semua dengan jelas. Seperti itulah pesan kami jaga sebagai anugerah dari Turae Ra’na.

(Masih ada beberapa pertanyaan yang terlontar namun tak sempat terekam dengan jelas olehku, namun pertanyaan yang diatas sudah menjadi hasil representatif dari semua pertanyaan yang hadir pada hari itu.)

Tak terasa waktu berlalu, dimana tiba saatnya untuk rombongan kembali dari tempat ini. Dengan ucapan terimakasih kepada segenap pemangku adat yang dengan ramah tamahnya menyambut kami dan diakhiri dengan jabat tangan sebagai pelengkap dari kunjungan kami hari itu.

Banyak pesan yang bisa kami ambil pelajaran dari kunjungan kami, bahwa di TANAH TOA lah yang dipimpin oleh AMMATOA memperlihatkan konsistensi dan komitmen manusia dalam menjaga pola-pola kehidupan yang manusia dan menjaga keberlangsungan Alam. Dengan tunduk sepenuhnya akan titah Tuhan untuk menjadi pemelihara bagi manusia dan alam. Disini, banyak nilai luhur yang tetap menjadi bagian dari masyaraklat meskipun mereka tak menjadi modern karena menolak modernisme. Akan tetapi, disisi lain mereka mampu menunjukkan tentang suatu kehidupan yang penuh harmonisasi. Tak ada perang, tak ada ambisi kuasa, tak ada penghianatan, tak ada pembangkangan dan semua patuh atas pimpinannya sebagai keyakinan menjadi wakil bagi Tuhan dalam menjaga pesan perdamaian itu, yang dimana tak hanya sebatas perdamaian sesama manusia melainkan perdamaian dengan Alam. Itulah salah satukarismatik yang hendaknya dicontoh oleh bangsa ini. AMMATOA dari TANATOA.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Saat Hari Anak Nasional Terlupakan oleh …

Topik Irawan | | 23 July 2014 | 18:53

Parcel Lebaran Dibuang ke Jalan …

Roti Janggut | | 23 July 2014 | 17:43

Efek Samping Kurikulum “Cepat Saji” …

Ramdhan Hamdani | | 23 July 2014 | 18:46

Mengejar Sunset dan Sunrise di Pantai Slili …

Tri Lokon | | 23 July 2014 | 20:12

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Akhirnya Prabowo-Hatta Melangkah ke MK …

Bang Pilot | 5 jam lalu

(Saatnya) Menghukum Media Penipu …

Wiwid Santoso | 5 jam lalu

Setelah Kalah, Terus Apa? …

Hendra Budiman | 6 jam lalu

Jokowi Raih Suara, Ahok Menang Pilpres …

Syukri Muhammad Syu... | 7 jam lalu

Kata Ahok, Dapat Jabatan Itu Bukan …

Ilyani Sudardjat | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: