Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Handoyo El Jeffry

Bila ingin mengenal seseorang, bacalah tulisannya. Bila ingin membaca seseorang, kenalilah tulisannya. Bila ingin menulis selengkapnya

Manusia Tanpa Logika: Mamalia

OPINI | 30 August 2012 | 03:41 Dibaca: 625   Komentar: 6   2

Ketika manusia diputuskan untuk menjadi pemimpin di muka bumi, malaikat bertanya: ” Adakah Engkau hendak jadikan pemimpin di bumi makhluk yang gemar membuat kerusakan di sana dan gemar menumpahkan darah? Sedangkan kami senantiasa bertasbih memujiMu dan mensucikanMu? “

Sosok manusia telah ‘disinyalir’ sebagai makhluk perusak, petarung, penghancur dan gemar berperang, naluri mengacak-acak dan membunuh. Kenyataan membuktikan, ketika dua anak Adam bersaudara terlibat perseteruan, pembunuhan antar manusia pertama kali di dunia. Kejadian sama berlanjut berabad-abad, dan bahkan mungkin sampai dunia kiamat, suatu kebetulan dari ‘prediksi‘ malaikat, atau mungkin sebuah keniscayaan yang tak bisa diganggu gugat.

Kita percaya mustahil Tuhan keliru memutuskan, Maha suci Dia dari kekeliruan. Ada alasan kenapa tetap saja manusia diturunkan ke bumi ketika Dia berkata: “ Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu sekalian ketahui.” Akal. Ya, akal. Akal yang ditanamkan ke dalam jasad tubuh kasar. Segumpal benda halus yang tertanam di dalam kepala.

Keunikan dan kesempurnaan manusia dibanding makhluk-makhluk lainnya, termasuk malaikat, sang penanya. Malaikat tidak diberi akal, mereka hanya punya ketaatan mutlak, aparatur Tuhan dengan loyalitas yang sempurna, namun tidak sempurna sebagai pemimpin bumi. Manusia adalah kreasi sempurna Tuhan diantara ciptaan di alam semesta.

Akal yang ada didalam tiap jiwa, tersembunyi di balik tubuh biologis, lengkap dengan tabiat kebinatangan yang gemar merusak dan menghancurkan. Akal bagi jiwa adalah pemimpin, ruh pengendali gerak tubuh, ia yang akan menyelamatkan manusia dari kerusakan dan kehancuran dalam kehidupan dunia.

Akal adalah ‘chip unik’ dan tercanggih yang pernah ada, hidup dan berkembang di dalam otak dengan kemampuan tanpa batas, misteri besar tak terpecahkan, sebanyak jumlah selnya yang mencapai milyaran, sebanyak itu pula kinerjanya memecahkan masalah-masalah yang datang sepanjang hidup sebuah jiwa, dan sepanjang sejarah peradaban manusia di dunia.

Akal, logika, penalaran, penimbangan, penghitungan, pikiran adalah shoftware sempurna, delegasi resmi Tuhan dalam setiap jiwa, tanpa kecuali ada dan berfungsi ketika setiap bayi dilahirkan normal dan telah mencapai pada umur tertentu. Saat dewasa, akil baligh, saat setiap jiwa telah layak bertanggung jawab terhadap dirinya masing- masing. Dengan akal manusia bisa membedakan salah dan benar. Dengan akal manusia bisa menalar, menimbang-nimbang. Akal adalah neraca keadilan, mizan keseimbangan. Alat ukur yang tak pernah uzur selama ia masih hidup dan dijaga kesehatannya kewarasannya.

Akal sehat, nalar, ilmu, pengetahuan, pikiran, itulah logika, baik alamiah maupun ilmiah. Logika alamiah adalah kinerja akal budi manusia yang berpikir secara tepat dan lurus sebelum dipengaruhi oleh keinginan-keinginan dan kecenderungan-kecenderungan yang subjektif. Emosi, nafsu, syahwat, ambisi, obsesi adalah sifat bawaan dan tabiat dasar yang mendampingi sang akal selama jiwa masih ada dalam raga.

Dan logika ilmiah akan memperhalus, mempertajam pikiran dan akal budi. Logika ilmiah menjadi ilmu khusus yang merumuskan azas-azas yang harus ditepati dalam setiap pemikiran. Berkat pertolongan logika ilmiah inilah akal budi dapat bekerja dengan lebih tepat, lebih teliti, lebih mudah, dan lebih aman. Logika ilmiah dimaksudkan untuk menghindarkan kesesatan atau, paling tidak, menguranginya.

Jika logika alamiah, akal sehat yang menjadi fitrah masih terjaga, mungkin kita tak perlu harus bersusah payah menghabiskan waktu dengan mempelajari teori-teori asing para filsafat barat dengan setumpuk istilah yang cuma bikin bingung. Akal sehat adalah penalaran. Apakah penalaran deduktif atau induktif, apakah itu inferensi, argumentasi, proposisi, dialektika, silogisme, atau istilah-istilah lain yang hanya merusak mata karena kebanyakan membaca.

Entah dari filsafat-filsafat Yunani, Thale, Aristoteles, Theophrastus, Thomas Hobbes, John Locke, Francis Bacon, J. S. Mills, dan masih seabrek nama-nama besar filsuf lengkap dengan segudang buku yang hanya membuat pening, itu menjadi tak penting manakala segunung teori yang ada tak mampu menjawab secara nyata problem-problem yang ada dalam realita. Diri kita, keluarga,  masyarakat sekitar dan bangsa kita. Bangsa ini telah kehilangan logika. Akal sehat telah pergi entah ke mana.

Ketika jiwa kehilangan logika, mata hati rabun membedakan yang benar dan yang salah. Yang salah dikira benar. Yang benar divonis salah. Tabiat nafsu memang selalu mengajak kepada keburukan, kecuali ia diarahkan di jalan kasih sayang sebagai anugerah Tuhan. Jika tidak, maka nafsu akan mengambil alih kendali jiwa, akal sehat kalah, lalu tiba-tiba  masalah menjadi bias, tidak objektif dalam memandang dan menilai segala hal. Penalaran hilang, tidak berimbang dalam mengukur perkara, awal dari munculnya ketidakadilan, penyalahan dan pelanggaran.

Semakin besar kadar kekuasaan seseorang, semakin besar pula efek ketidakadilan ini bagi kehidupan. Nafsu, syahwat sangat berpotensi menipu diri. Logika hilang, jiwa tertipu, lalu merasa dirinya paling benar, yang lain semua salah. Merasa diri telah berada di atas jalan kebenaran, yang lain  tersesat. Tanpa penalaran, tanpa telaah, tanpa olah fakta dan kadang tanpa alasan jelas, argumen valid, hujjah kuat. Logika ilmiahpun terlewat.  Dalil-dalil diperalat untuk melegalisir pendapat, prasangka dan praduga dari perspektif ego pribadi, tak memberi ruang pada lawan untuk menyampaikan hak jawab membela diri.

Jiwa tanpa logika, tidak berpikir sebelum bicara, tidak menghitung sebelum berbuat. Amarah berkuasa jika pemikiran berbeda. Otot bicara. Hantam kromo, adu jotos, adu senjata. Tawuran  tradisional, tradisi yang menasional, dari kalangan awam sampai intelektual. Dari lingkungan liar sampai lingkungan terpelajar, sekolah dasar sampai perguruan tinggi, minisiswa sampai mahasiswa. Tawuran antar kampus menggejala. Benteng pertahanan terakhir penjaga wilayah logika telah jebol. Calon-calon sarjana mendadak nampak bak sekumpulan bocah tolol. Kampus jadi sarang anak-anak bulus. Universitas jadi teori di atas tumpukan kertas, kehormatan toga saat wisuda akan amblas, kandas, sebab pengusung logika telah bablas. Tak perlu heran jika suatu saat mereka tampil memimpin negeri ini akan menjadi figur-figur culas, buas dan nggragas.

Tawaran berujung tawuran. Tawuran menjadi pelarian gagalnya tawaran. Presentasi gagal, pemaksaan transaksi secara brutal. Dialog buntu, selesaikan dengan cara laki- laki, kepalan tinju dan lemparan batu, benda tajam dan benda tumpul saling beradu. Perang saudara, tawuran antar pelajar, antar warga, antar suku, antar sekte-aliran, antar agama, tiba-tiba kita menjadi bangsa yang gemar tawur-menawur. Logika ditanggalkan, kita lupa bahwa tawur-menawur selalu berakibat kedua kubu jadi babak belur, hancur lebur, kalah menang sama-sama terkubur.

Logika telah pergi. Padahal kita hidup dalam sistem, bagai satu tubuh. Tubuh adalah sistem, kumpulan dari seluruh organ yang saling topang dan berkaitan. Salah satu anggota dan organ rusak, maka rusaklah tubuh. Saat kaki terluka, tangan akan merawatnya, mulut meringis, mata menangis, lalu saat infeksi kuman menyebar maka seluruh tubuh jadi demam, antibodi bekerja dalam sel-sel darah di seluruh urat, indera dan saraf bekarja, sakit terasa. Semua berjalan dalam mekanisme otomatis. Jempol kaki tersayat besi berkarat, bias berakibat tubuh sekarat. Organ-organ dan anggota tubuh lain jadi tak berguna, ikut binasa. Kerugian sistemik ditanggung bersama.

Logika yang terjaga akan menyadari, dari satu jiwa terkumpul jadi satu keluarga, tubuh keluarga. Lalu terhimpun dalam satu komunitas, tubuh baru yang lebih besar. Dan seterusnya sampai terhimpun dalam satu keluarga besar sebagai negara-bangsa. Perusakan terhadap satu tubuh adalah tindakan anti logika. Bagaimana bisa menyelamatkan perut lapar dengan memotong kaki sendiri lalu memakannya? Harga yang harus dibayar lebih mahal dari hasil yang didapatkan jika penyelesaian masalah dilakukan dengan cara yang tidak masuk akal, alias tidak logis.

Kekerasan dan perusakan, anarkisme, apapun alasannya selalu membawa kerugian yang mesti ditanggung bersama. Pelanggaran, perampasan, perselingkuhan, pencurian, pertawuran, penipuan, dan segala bentuk kejahatan meskipun sekilas menguntungkan bagi diri sendiri atau sekelompok orang yang bersekutu dalam sindikat selalu merugikan tubuh bersama dalam satu bangsa, lalu akhirnya sampai pula akibatnya kepada diri sendiri, sebagai bagian dari sistem.

Di negeri ini logika telah ‘mati suri’. Hilang akal, hilang kewarasan, gila, edan. Bukan karena bodoh, tapi tidak pintar. Yang pintar tak benar, yang benar tak sabar, yang sabar malah terlempar, logika alamiah telah pudar, logika ilmiahpun telah buyar, pikiran bebal, hilang akal budi terganti syahwat kanibal. Kemunafikan merajalela. Tiada keselarasan antara keyakinan dalam hati dengan ucapan dan perilaku. Agama pun telah kehilangan logika. Pelaku agama tanpa logika, di satu saat lidah mengucap  do’a meminta surga, di saat lain lidah yang sama meretas jalan menuju neraka. Dusta, caci maki, gunjing sana-sini, provokasi, obral sumpah dan janji imitasi.

Di satu hari tangan menadah memohon ampunan, tapi tangan yang sama pula menebar kejahatan, mencuri, menampar, menjarah, merambah hutan, menebarkan polusi, merusak tatanan alam. Satu hari beribadah berjama’ah, rukun, akrab dan damai selayaknya saudara serumah, lalu di hari yang sama menegakkan kepala menepuk dada dengan bangga, saling jegal dalam perebutan kekuasaan dan harta. Dengan segala cara, tak peduli halal-haram, semua dihantam dan diterkam. Kontradiksi dan kontraproduksi antara yang diajarkan dengan apa yang dikerjakan. Kesalehan ritual tak selaras dengan kesalehan sosial.

Cendekia tanpa logika, hanya pintar beretorika, berbicara berputar putar, tumpang tindih, njelimet, susah dicerna, mencla-mencle, esok dele sore tempe, inkonsistensi. Meskipun mereka selalu menang dalam berdebat dan berdiplomasi, tapi praktis galat, gagal alat, gagal menyuguhkan solusi tepat. Maka awam bingung, semua bingung, ‘kebingungan nasional’, tak tahu ujung tak tahu pangkal. Ribuan pasal hukum dan aturan yang selalu disempurnakan, gagal menjawab masalah bangsa, sebab produsen hukum juga kehilangan logika.

Ketika terjadi keganjilan, rakyat menuding  DPR telah kehilangan akal sehat, padahal mereka adalah wakil rakyat, dipilih oleh rakyat, dan diberi mandat secara legal oleh rakyat. Kegagalan wakil rakyat, tak sepenuhnya lepas dari kegagalan rakyat dalam memilih. Mereka bejat, maka rakyat jugalah yang kadang memberi ruang untuk bejat. Mereka terpilih dengan politik uang, maka yang memilih juga berarti menerima uang. Mereka menyuap dengan membeli suara karena ada yang mau disuap dan mau menjual suara. Kegagalan nasional, kegagalan negara, kegagalan keluarga, kegagalan manusia.

Pemimpin menuding rakyat, rakyat menuding pemimpin.  Tuding-menuding, tuduh-menuduh, lempar-melempar, cari kambing hitam dan tumbal kegagalan,  ciri khas tidak sehatnya akal sebuah komunitas. Pejabat, aparat, wakil rakyat adalah cermin dari rakyat dalam sebuah negara. Maling teriak maling, setan teriak setan, tak akan bisa bisa menjadi penyelamat. Hanya satu yang bisa mengakhiri blunder peradaban di negeri ini, akal sehat.

Namun akal sehat bangsa ini sedang bersembunyi, logika pergi, nalar hilang, pikiran malfungsi, kewarasan terkebiri, bangsa ini benar-benar tengah mati suri. Siapa lagi yang bisa diharapkan  mengobati sakitnya akal ini, agar logika hadir lagi? Tak ada yang bisa menjawab. Atau semuanya bisa menjawab. Mungkin jawabannya ada di dalam diri, tiap jiwa kita, manusia Indonesia yang masih merasa, atau setidak-tidaknya punya keinginan untuk kembali menyehatkan akal, menghidupkan logika yang telah lama pergi.

Dan sudah semestinya kita tidak membiarkan diri terus tertidur dalam kebingungan, sehingga ‘keraguan’ malaikat ketika manusia ‘diusir’ untuk memimpin bumi dapat kita jawab sebagai pembuktian bahwa keputusan Tuhan mutlak benar. Untuk bumi Indonesia yang lebih baik, hidupkan kembali akal, logika dalam jiwa. Jika tidak, maka kita, manusia bisa lebih hina dan lebih sesat dari binatang ternak yang hanya numpang hidup di dunia untuk makan, tidur dan berkembang biak, tak lebih mulia dari  binatang menyusui, mamalia…***

Salam…
El Jeffry

(salinan dari blog pribadi: nafaspembaharuan.blogspot.com)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Prabowo Mundur dan Tolak Hasil Pilpres Tidak …

Yusril Ihza Mahendr... | | 22 July 2014 | 17:27

Timnas U-23 dan Prestasi di Asian Games …

Achmad Suwefi | | 22 July 2014 | 13:14

Inilah Pemenang Blog Competition …

Kompasiana | | 22 July 2014 | 15:18

Sindrom Mbak Hana & Mas Bram …

Ulfa Rahmatania | | 22 July 2014 | 14:24

Siku Sudut Unik Candi Dadi Tulungagung …

Siwi Sang | | 22 July 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Jokowi Beri 8 Milliar untuk Facebook! …

Tukang Marketing | 8 jam lalu

Selamat Datang Bapak Presiden Republik …

Ahmadi | 9 jam lalu

Perlukah THR untuk Para Asisten Rumah …

Yunita Sidauruk | 10 jam lalu

Jangan Keluar dari Pekerjaan karena Emosi …

Enny Soepardjono | 10 jam lalu

Catatan Tercecer Pasca Pilpres 2014 (8) …

Armin Mustamin Topu... | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: