Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Pitoresmi Pujiningsih

In Caffeine We Trust!

Tentang Karakter

OPINI | 17 August 2012 | 10:38 Dibaca: 254   Komentar: 2   2

1345155286353319235

Gambar cantik dengan pesan kuat ini diambil dari http://goo.gl/iDqcp

No matter how hard you fall, it’s how to get up that counts.

Pada suatu malam yang iseng, saya dan beberapa setan biadab belahan jiwa ngobrol-ngobrol tentang… JAV. Saya yang penggemar hentai agak mengernyit mendengar mereka ngomongin betapa seksinya squirt, karena rintihan imut “motto, motto oni-chaaan… kimochiii…” yang mirip tikus kejepit pintu berulang-ulang sampai mampus itu jauh lebih unyu.

Ini semacam penyangkalan: saya bukan otaku atau maniak jejepangan. Tapi saya memang sempat tergila-gila anime Bleach yang setiap ada episode baru selalu saya unduh sampai hard disk saya penuh. Di playlist saya juga ada The Seatbelts, Tokyo Ska Paradise Orchestra dan Depapepe diantara Symphony X, Apocalyptica, RATM dan Homicide. Belum lagi karya-karya Makoto Shinkai dan Akira Kurosawa-dono yang nggak bosan-bosan saya tonton. Dan saya selalu bermimpi sekolah di gerbong kereta tua seperti Totto-chan.

Jepang sebagai negara penjajah itu memang bajingan. Selain sempat menduduki Indonesia di Perang Dunia II, produk budayanya juga merajai planet Bumi. Saingan utamanya cuma Korea dengan segala K-Pop Maha Kuasa, digilai dedek-dedek SMU yang sering nongkrong di Sevel pakai celana gemes. Kita–yang lebih dewasa dari semua dedek-dedek itu–dibesarkan dengan Doraemon dan Sinchan setiap Minggu pagi, dan lebih mengenal Inuyasha ketimbang Caroq-nya Ahmad Toriq (kalo nggak kita ya gue lah). Dan manusia-manusia Jepang juga sangat teratur, gigih, tepat waktu dan santun. Saya tahu itu dari cerita-cerita tentang samurai, commuter line, dan pejalan kere yang bertandang karena tiket murah, juga pakdhe-pakdhe yang sempat tinggal di sana beberapa tahun.

Benchmark prestasi dan rasa malu mereka begitu tinggi hingga banyak kasus bunuh diri anak-anak sekolah karena nilai yang anjlok. Dua menit saja kereta terlambat, pihak stasiun akan membagikan kertas kecil berisi permintaan maaf. Fungsinya sebagai penjelasan jika penumpang mereka telat masuk kantor atau kelas. Penduduk Jepang juga ramah sekali pada para pelancong. Ketika mbak-mbakan saya nyasar dan nggak ngerti jalan ke kuil yang ingin dia kunjungi, seorang ibu tua mengantarkannya hingga ke gerbang setelah melewati undakan tinggi dan banyak. Waktu dia nggak ngerti arah ke stasiun dan bertanya ke mas-mas sipit yang melintas, sambil tersenyum ramah dan bahasa Inggris patah-patah diantarkannya mbak saya sampai ke tujuan. Kemudian dia balik kanan setelah memastikan si mbak tahu harus naik kereta apa di peron mana.

Tapi ya nggak segitu “dewa”nya juga sih, Jepang itu. Sejarah menuliskan Jepang sebagai salah satu penjajah Indonesia di tahun-tahun terakhir Perang Dunia. Para penyintas yang dulunya dipaksa jadi jugun ianfu juga masih berjuang mengatasi trauma dan gangguan fungsi fisik hingga mereka sudah jadi simbah-simbah. Oh, tahu Unit 731? Selama bertahun-tahun salah satu unit militer yang berbasis di Manchuria tersebut menjadi lab paling horor bagi para tawanan perang. Diakui sebagai salah satu peristiwa kejahatan perang paling kejam, tawanan-tawanan tersebut dipergunakan sebagai “tumbal” atas nama sains dan untuk mengembangkan senjata biologis. Otopsi hidup-hidup? Dijungkirkan dengan kepala di bawah sampai mati? Perlu membelah kepala untuk ambil otak segar yang fresh from inside the skull? Itu sudah biasa di sana. Kalau perutmu kuat, meng-google-lah gambar dengan kata kunci Japan Unit 731. But don’t say I didn’t warn you.

Tapi tidak ada satu negara pun yang bisa mem-branding citranya sebagai bangsa yang tegar saat di titik nadir, kecuali Jepang.

11 Maret 2011 tsunami menghantam Tohoku dan hampir menenggelamkan “matahari terbit”, namun perjuangan mereka menyadarkan saya tentang mental bangsa. Beberapa kenalan saya jadi saksi betapa sabarnya orang-orang berbaris di jalur evakuasi, tanpa buru-buru, tanpa berdesak-desak meskipun gedung berderak-derak. Bocah, remaja, orangtua, lelaki dan perempuan. Mereka sudah tahu harus berjalan di mana dan ke mana. Minimart membuka pintunya lebar-lebar, membagikan makanan dan minuman dagangan pada saudara senasib, tanpa perlu dijarah. Perdana menteri bahkan meminta maaf karena merasa tak cukup mampu mengusir ancaman radiasi setelah sebelumnya langsung turun ke kompleks pembangkit listrik tenaga nuklir yang mensuplai hampir 80% energi negara tersebut. Di semua media yang saya jelajahi lewat internet tak nampak sepotong pun mayat disela-sela reruntuhan, karena besarnya hormat mereka pada yang wafat.

Dan saya malu mendapati Papa Nobita ketakutan diintai teroris, yang hanya bisa bilang “prihatin”, menyulitkan pengungsi gempa Jogja yang terpaksa mesti berbenah tampil “representatif” meskipun hati berdarah-darah kehilangan rumah. Sementara itu jajaran kabinetnya menyedot darah rakyat sekarat dengan renovasi toilet bertotal 2 milyar rupiah SAJA dan ngambek minta naik gaji karena capek tidur di kursi empuk dengan dalih rapat di dalam gedung pantat. Sementara itu Ketua Dewan PERWAKILAN RAKYAT yang terhormat punya mulut nggak sekolah.

Tapi mungkin begitulah evolusi pungkas karakter bangsa pemalas. Semacam wajah buruk yang kita simpan rapat-rapat namun dijembreng vulgar oleh mereka yang katanya pemimpin. Kita punya sejarah dijajah Belanda selama 350 tahun. Sistem mereka membuat pribumi-pribumi “terpaksa” menjilati bokong-bokong bule pencari rempah dan sumber dana perang; atau mereka harus setor upeti dan digencet seperti cicak di sela pintu. Jelata bergaya seperti bangsawan, menginjak saudara sebangsa yang kisahnya bisa kamu baca di Tetralogi Buru-nya Eyang Pram. Para raja kecil terlalu ramah menerima penjajah, senyum dan tangan mereka terbuka lebar. Mungkin karena silau disogok macam-macam benda dari lain benua yang tak biasa? Atau kata-kata manis mereka membuat para penguasa tak mampu membendung liur? Atau mereka punya intel hebat yang tahu hingga ke tai-tainya orang sini? (Ingat Snouck Hurgronje, cendekiawan Belanda urusan Ketimuran?) Nggak tahu juga. Tapi yang kelihatan sampai sekarang adalah bagaimana kentaranya kroco-kroco mendekat pada pemilik kuasa seperti semut merubung gula. Berharap mendapat proyek dan cipratan rejeki. Bisa ikutan tender dengan markup setinggi-tingginya, operasional serendah-rendahnya, namun kualitas setiarap-tiarapnya. Ah, andai orang-orang seperti itu baca karyanya Pak Mrázek dan Romo Mangun…

Dan ini kesimpulan sotoy saya dengan ilmu cocoklogi: melalui sistem jilat pantat yang dipelihara ratusan tahun itulah priyayi-priyayi kecil tercipta di rumah-rumah; sampai penjajah bule hengkang sistem tersebut masih dilestarikan oleh para pengangkang kekuasaan. Mau contoh kecilnya? Lihat saja saudara sebangsa yang apes tak mampu nyicip pendidikan dan kurang makan terpaksa bekerja menjadi pembantu rumah tangga. Dengan dalih “kamu udah tinggal di sini, nggak perlu bayar kos; makan di sini, nggak perlu beli; nonton tivi juga boleh” jam kerja mereka lebih panjang dan lama. Job desc adalah “melayani semua orang di rumah”, padahal tak ada satupun manusia yang bisa melayani dua majikan. Lupakan liburan. Lupakan sekolah lagi atau ujian persamaan untuk mendapatkan ijazah demi peningkatan kualitas hidup. Saya lihat sendiri kok bocah-bocah cadel yang TK-pun belum namun fasih teriak “Bibiiik!” hanya untuk ngambilin minum sejangkauan tangannya. Hidup dibuat gampang, apa-apa minta dilayani, nggak ada yang bikin nantang. Kalau kepingin sesuatu tinggal beli di mall yang berjamur hingga ke pelosok negeri. Jadi, harusnya saya nggak heran jika hal seperti ini kejadian di depan mata. Mumpung bisa diladeni. Mumpung bisa nyuruh-nyuruh. Ngapain juga repot-repot ngerjain sendiri. Iya kan?

Eh, tapi saya percaya kok yang baca tulisan ini bukan orang-orang Indonesia kayak gitu. Kan terpelajar. Iya kan? Bener?

*nyengir*

Ngemeng-ngemeng, selamat ulang tahun, Indonesia! Selamat buka mata dan hati, rakyat. Jangan gampang diadu-domba sama isu-isu agama dong. Udah nggak ngetren di dunia. Negara lain sudah ngirim mini cooper ke Mars, kita masih bunuh-bunuhan aja Tuhan siapa yang patut disembah pakai cara apa. Cih!

Ini saya kasih logo dari KDRI aja, yang jauh lebih keren dari logo resmi bau Orba. Silakan dikopas. Bebas.

13451566441290298010

Indonesia: Mendunia dengan kekuatan Garuda! Hell, yeah!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Penjelajah Kuburan, Mencintai Indonesia …

Olive Bendon | | 23 October 2014 | 03:53

Astaghfirulloh, Ada Kampung Gay di …

Cakshon | | 23 October 2014 | 17:48

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

”Inspirasi Pendidikan” dari Berau …

Rustan Ambo Asse | | 23 October 2014 | 18:22

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Presiden, Kok Sederhana Banget, Sih! …

Fitri Restiana | 5 jam lalu

Acara Soimah Menelan Korban …

Dean Ridone | 11 jam lalu

Dua Cewek Kakak-Adik Pengidap HIV/AIDS di …

Syaiful W. Harahap | 11 jam lalu

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 13 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Maju Mundur Cantik Kabinet Jokowi ala …

Yudhi Hertanto | 7 jam lalu

Ssstt….Ada Srikandi di Tol Laut …

Aqshaya | 7 jam lalu

Penderita Lumpuh Layu Itu Hidupi Dua …

Asep Rizal | 7 jam lalu

Penumpang Duduk Di Lantai Krl yang Sangat …

Saut Hasiholan | 8 jam lalu

Esok Aku Datang Lagi …

Septi Yaning | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: