Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Pendewasaan Hidup

OPINI | 11 August 2012 | 15:08    Dibaca: 204   Komentar: 0   0

Sony H. Waluyo, 11 Agustus 2012

Kehidupan melibatkan proses pertumbuhan, dari benih yang bertunas dan mulai menumbuhkan akar untuk berpijak, memperbesar dan meninggikan batang serta daun-daunnya untuk menerima energi kehidupan dari matahari. Proses yang panjang dimana daun-daunnya dari waktu ke waktu silih berganti menunaikan tugasnya. Suatu ketika tanaman itupun akan mulai berbuah.

Demikian juga, kehidupan manusia akan menghasilkan buah-buah kehidupan yakni kebijaksanaan hidup yang lahir dari proses jatuh-bangun menjalani kehidupan. Apapun jenis pilihan hidup yang dijalani, manusia akan mulai memahami pengalaman-pengalaman hidupnya yang melibatkan benturan-benturan kehidupan.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia dihadapkan dengan berbagai pilihan dan keputusan-keputusan yang berdampak pada setiap konsekwensi dari langkah-langkah yang diambilnya. Pengalaman akan membuktikan bahwa seseorang tidak akan bisa lepas dari tanggung-jawab atas pilihan dan keputusan serta langkah yang dibuatnya, sehingga ia akan terpojok dan situasi yang sering disebut penderitaan.

Dalam situasi terpojok, seseorang dihadapkan pada situasi untuk berpikir lain atau mesti menemukan solusi kreatif sehingga bisa keluar dari masalah yang dihadapi. Oleh karena itu mereka yang bijaksana akan bisa menghargai betapa berharganya setiap pengalaman hidupnya.

Suatu hal yang mungkin sulit diterima adalah bahwa bahkan pertengkaran-pertengkaranpun merupakan bagian dari pembelajaran kebijaksanaan hidup, dan oleh krn itu sungguh berharga dan mesti bisa disyukuri.  Dalam pertengkaran seseorang akan mendapatkan pengalaman diperlakukan kasar, yang pada suatu ketika akan dipahami sebagai bagian dari pembelajaran untuk siap selalu bertindak dengan lembut.

Saat seseorang melihat bahwa berbalas kekasaran hanya berbuah serangan balik sehingga buahnya menyakiti diri sendiri, maka ia akan menyadari bahwa perilaku kasarnya bukan solusi bijak untuk menyelesaikan masalah. Sebaliknya, saat ia mulai berani memberikan tanggapan-tanggapan dengan cara-cara halus, ia akan mendapati kemampuannya merespon menjadi lebih cerdik, cerdas dan inspiratif yang muncul secara spontan dalam rupa solusi-solusi bijaksana. Disitulah ia menemukan kesadaran jati dirinya ditumbuhkan dan dikuatkan. Hal ini disampaikan dalam pesan “suradira jayaningrat lebur dening pangastuti”.

love&light…((()))…

** ** **

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tembok Paling Serem Sedunia …

Gaganawati | | 27 May 2015 | 19:42

Menuju ke ‘Perut Bumi’ : …

Christie Damayanti | | 27 May 2015 | 16:50

Memprediksi Android M, Fungsi, Fitur dan …

Giri Lumakto | | 27 May 2015 | 22:09

Romantik Adiratna …

Tasch Taufan | | 27 May 2015 | 22:03

Main Bowling di Padang Rumput, Apa Bisa …

Tjiptadinata Effend... | | 27 May 2015 | 16:38


TRENDING ARTICLES

Menguak Citra Buruk PSSI? …

Hery | 14 jam lalu

Ira Koesno, Barbie dan Beras Plastik …

Andi Kurniawan | 16 jam lalu

Fahri Hamzah ‘Menenggelamkan KPK’ …

Jubir Darsun | 18 jam lalu

Sepp Blatter Biang Korupsi FIFA …

Zen Muttaqin | 19 jam lalu

Istana Presiden Ternyata Bangunan Ilegal …

Elde | 20 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: