Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Salman Faridi

saya senang membaca dan berjalan-jalan. bercita-cita menjadi fabriekk gagasan. Berkreasi di penerbit Bentang Pustaka

Mendefinisikan Kembali Arti Bekerja

OPINI | 06 August 2012 | 16:59 Dibaca: 1017   Komentar: 0   0

Tampaknya, manusia harus menerima nasibnya sebagai makhluk yang ditakdirkan untuk bekerja. Dalam bekerja ada kenikmatan. Dalam bekerja ada penghargaan. Dan, dalam bekerja juga ada kebahagiaan. Akan tetapi, secara perlahan makna bekerja sekarang ini rupanya bergeser ke arah yang lebih peyoratif. Bekerja dilihat sebagai penderitaan–menghabiskan waktu delapan jam di kantor. Sementara kata baru yang seksi sekarang ini adalah entrepreneur. Yang diartikan secara umum memiliki kebebasan waktu luang, waktu senggang dan kalau bisa lebih banyak liburan. Inilah kelas baru wirausahawan yang sekarang diuber banyak orang kantoran.

Kelas entrepreneur ini sedikit lebih gengsi dan lebih tinggi dibandingkan kelas pekerja delapan jam-an. Tak heran banyak sekali seminar entrepreneur yang menawarkan jalan keluar secara instan bagi karyawan dan pekerja kantoran lainnya. Singkatnya, jika ingin hidup lebih nyaman, lebih terjamin, lebih banyak waktu bersama keluarga, jadilah entrepreneur.

Saya kira tidak ada salahnya orang memilih banting setir jadi wirausahawan. Mengapa tidak? Konon Indonesia membutuhkan sekurang-kurangnya 4 juta wirausaha. Atau sekitar 2% dari total populasi. Bandingkan dengan negara tetangga yang sudah memiliki populasi wirausaha sebesar 7%. Kalau saya berharap angkanya jangan cuma minimal 2% tapi minimal 10%. Artinya akan ada 20 juta wirausaha Indonesia. Jumlah yang luar biasa bukan?

Akan tetapi, orang sering kali lupa, yang terbayang menjadi wirausaha adalah bayangan tentang yang enak-enak saja. Liburan ke luar negeri, cash flow tidak dibatasi tanggal akhir bulan lagi, omzet miliaran dan lain-lain. Padahal, fondasi kemewahan itu, tidak lain dan tidak bukan adalah bekerja. Bahkan mungkin Anda atau kita harus bekerja lebih keras lagi ketika memilih untuk bekerja untuk diri sendiri. Bukankah tidak ada lagi yang menggaji selain diri sendiri?

Nah, sejatinya, mau masuk di kelas mana pun, bekerja tetaplah menjadi hal yang utama. Dan, dengan bekerja, sebenarnya kita menemukan banyak hal–baik yang ngantor maupun yang punya kantor. Bekerja menumbuhkan disiplin dan harapan. Capek karena bekerja jauh lebih baik dibandingkan capek mencari pekerjaan. Bekerja dalam makna yang lebih esoterik bahkan menempa jiwa untuk mendekati yang Maha. Bahkan menurut sebuah buku, Spiritual Capital–buku yang menghimpun sekitar 1000-an wawancara para pemimpin binis–rata-rata pemimpin sukses dan berkarakter itu tidak lain karena modal spiritual yang dimilikinya.

Karena itu marilah kita bekerja. Dan banggalah dengan apa pun yang Anda kerjakan sekarang. Setiap orang memiliki pilihan masing-masing. Di area mana pun Anda memilih, pastikan saja bahwa Anda bersungguh-sungguh. Kesungguhan dalam bekerja sama halnya dengan kesungguhan menanam benih. Benih yang baik, ditanam dengan penuh kesungguhan akan menjadi pohon besar dengan akar yang kuat, dan menaungi pemiliknya. Semoga.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | | 27 November 2014 | 16:39

Bu Susi, Bagaimana dengan Kualitas Ikan di …

Ilyani Sudardjat | | 27 November 2014 | 16:38

Saya Ibu Bekerja, Kurang Setuju Rencana …

Popy Indriana | | 27 November 2014 | 16:16

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24



HIGHLIGHT

Peringatan! Jadi Guru Les Jangan …

Thuluw Muhlis Romdl... | 7 jam lalu

Esensi Talkshow, English Corner, Dari …

Rahmat J | 8 jam lalu

Blusukan Jokowi di Bengkulu: Presiden …

Taufan Libero | 8 jam lalu

Terima Kasihku Untuk Team Admin Kompasiana …

Fey Down | 8 jam lalu

Jurassic World dan Minions: Film Paling …

Nasrul Wathoni | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: