Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Salman Faridi

saya senang membaca dan berjalan-jalan. bercita-cita menjadi fabriekk gagasan. Berkreasi di penerbit Bentang Pustaka

Mendefinisikan Kembali Arti Bekerja

OPINI | 06 August 2012 | 16:59 Dibaca: 994   Komentar: 0   0

Tampaknya, manusia harus menerima nasibnya sebagai makhluk yang ditakdirkan untuk bekerja. Dalam bekerja ada kenikmatan. Dalam bekerja ada penghargaan. Dan, dalam bekerja juga ada kebahagiaan. Akan tetapi, secara perlahan makna bekerja sekarang ini rupanya bergeser ke arah yang lebih peyoratif. Bekerja dilihat sebagai penderitaan–menghabiskan waktu delapan jam di kantor. Sementara kata baru yang seksi sekarang ini adalah entrepreneur. Yang diartikan secara umum memiliki kebebasan waktu luang, waktu senggang dan kalau bisa lebih banyak liburan. Inilah kelas baru wirausahawan yang sekarang diuber banyak orang kantoran.

Kelas entrepreneur ini sedikit lebih gengsi dan lebih tinggi dibandingkan kelas pekerja delapan jam-an. Tak heran banyak sekali seminar entrepreneur yang menawarkan jalan keluar secara instan bagi karyawan dan pekerja kantoran lainnya. Singkatnya, jika ingin hidup lebih nyaman, lebih terjamin, lebih banyak waktu bersama keluarga, jadilah entrepreneur.

Saya kira tidak ada salahnya orang memilih banting setir jadi wirausahawan. Mengapa tidak? Konon Indonesia membutuhkan sekurang-kurangnya 4 juta wirausaha. Atau sekitar 2% dari total populasi. Bandingkan dengan negara tetangga yang sudah memiliki populasi wirausaha sebesar 7%. Kalau saya berharap angkanya jangan cuma minimal 2% tapi minimal 10%. Artinya akan ada 20 juta wirausaha Indonesia. Jumlah yang luar biasa bukan?

Akan tetapi, orang sering kali lupa, yang terbayang menjadi wirausaha adalah bayangan tentang yang enak-enak saja. Liburan ke luar negeri, cash flow tidak dibatasi tanggal akhir bulan lagi, omzet miliaran dan lain-lain. Padahal, fondasi kemewahan itu, tidak lain dan tidak bukan adalah bekerja. Bahkan mungkin Anda atau kita harus bekerja lebih keras lagi ketika memilih untuk bekerja untuk diri sendiri. Bukankah tidak ada lagi yang menggaji selain diri sendiri?

Nah, sejatinya, mau masuk di kelas mana pun, bekerja tetaplah menjadi hal yang utama. Dan, dengan bekerja, sebenarnya kita menemukan banyak hal–baik yang ngantor maupun yang punya kantor. Bekerja menumbuhkan disiplin dan harapan. Capek karena bekerja jauh lebih baik dibandingkan capek mencari pekerjaan. Bekerja dalam makna yang lebih esoterik bahkan menempa jiwa untuk mendekati yang Maha. Bahkan menurut sebuah buku, Spiritual Capital–buku yang menghimpun sekitar 1000-an wawancara para pemimpin binis–rata-rata pemimpin sukses dan berkarakter itu tidak lain karena modal spiritual yang dimilikinya.

Karena itu marilah kita bekerja. Dan banggalah dengan apa pun yang Anda kerjakan sekarang. Setiap orang memiliki pilihan masing-masing. Di area mana pun Anda memilih, pastikan saja bahwa Anda bersungguh-sungguh. Kesungguhan dalam bekerja sama halnya dengan kesungguhan menanam benih. Benih yang baik, ditanam dengan penuh kesungguhan akan menjadi pohon besar dengan akar yang kuat, dan menaungi pemiliknya. Semoga.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Haru Jokowi-JK di Kapal Phinisi …

Yusran Darmawan | | 25 July 2014 | 10:00

Menggigil di Rio, Sauna di Dubai …

Iskandarjet | | 25 July 2014 | 13:20

US Dollar Bukan Sekedar Mata Uang …

Arif Rifano | | 25 July 2014 | 11:21

9 Tips Meninggalkan Rumah Saat Mudik …

Dzulfikar | | 24 July 2014 | 22:48

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Demokrasi ala SBY Jadi Perhatian Pakar Dunia …

Solehuddin Dori | 5 jam lalu

Mengapa Harus Jokowi yang Terpilih? …

Ryan Perdana | 7 jam lalu

Membaca Jurus Rahasia Kubu Prabowo-Hatta …

Zulfikar Akbar | 14 jam lalu

Semakin Ngotot Menang Tim Prabowo Semakin …

Galaxi2014 | 16 jam lalu

Kemenangan Jokowi Bukan Kemenangan Rakyat …

Dean Ridone | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: