Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Munajat

Menjalani hidup sesuai qudratnya, berusaha untuk mengikuti aturan mainnya, menikmati hidup,tidak mencari-cari kenikmatan hidup. menulis selengkapnya

Dikotomi Agama dan Non Agama Adalah Sumber Kehancuran

OPINI | 06 August 2012 | 04:19 Dibaca: 315   Komentar: 7   3

Pengertian agama secara verbal menurut saya sebetulnya harus telah selesai, setelah selesainya Tuhan YME menstarformasikan beragam wahyunya kepada orang-orang yang telah dipilihnya  untuk disebarluaskan kepada seluruh manusia melalui agama-agama samawi melalui ayat-ayat kauliyah yang tersurat dalam kitab-kitab sucinya. Sedangkan pengertian agama secara universal adalah meliputi seluruh dimensi alam semesta baik yang nyata maupun yg tidak nyata, sistim dan sub-sitem yang bekerja seraca runtut raut sehingga menciptakan keteraturan dan keseimbangan alam semesta. poses pemahaman, penghayatan dan pengamalan atas agama secara komprehensif ini, yaitu pengertian agama secara verbal dan universal, maka akan membuat manusia berada dalam hirarki tertinggi dalam struktur mahluk versi Tuhan

Lalu mengapa sering terjadi perbedaan pemahan atas kebenaran agama baik antar seagama maupun yang beda agama khusunya secara verbal ?, jika kita meganggap kita semua harus sama, justru disitulah letak kelemahan kita dalam memaknai agama secara utuh, kita belum memahami konsep keseimbangan yang telah diciptakan Tuhan, bukankah keajegan alam semesta ini, tidak didukung oleh satu unsur atau satu sistim, tapi keajegan alam semesta ini didukung oleh beribu bahkan berjuta unsur dan materi yang berbeda, dan berjuta siklus kehidupan telah Tuhan ciptakan sehingga semua berputar pada garis edarnya. Satu bagian terkecil dari keberadaan materi mempunyai hubungan yang saling terkait dengan berbagai siklus kehidupan yang lain, semua akan berinteraksi, karena jika ada aksi pasti ada reaksi dan alam semesta sebagai doktrin Tuhan akan mencari keseimbangan baru dengan beragam tingkat dan gradasinya.

Jika kita perhatikan kemajuan lahiriah negara-negara barat di abad modern ini, patut kita akui dan diberikan aplause sekaligus kita contoh dalam mengelola berbagai sumber daya yang telah tersedia , bagaimana barat telah berhasil membangun inprastruktur pembangunan negaranya dengan baik, menemukan dan mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan dan tehnologi secara modern, persenjataan perang yang canggih, pembangunan gedung-gedung pencakar langit dan berbagai macam kemajuan lahiriah yang spektakuler, ini membuktikan barat telah menyukuri nikmat akal yang diberikan Tuhan untuk meng-explore berbagai ayat-ayat kuniah Tuhan yang tersirat di alam semesta untuk kemakmuran kehidupan yg lebih baik. Tapi sayang barat telah ingkar terhadap ayat-ayat kauliah Tuhan yang tersurat dalam kitab-kitab Tuhan hingga barat dari sisi agama secara verbal mereka telah ingkar/kufur sehingga pasti akan menciptakan ketimpangan dan secara bertahap akan mempengaruhi siklus keseimbangan secara makro kosmis.

Disisi lain orang-orang yang berpandangan dengan Teokrasi-nya, memandang bahwa Tuhan memimpin langsung dirinya melalui pemahaman agama melalui doktrin dalam kitab-kitabnya sehingga mereka memposisikan dirinya sebagai boneka-boneka Tuhan, pemahaman mereka menjadi kaku dan rigid dalam memaknai agama dan kehidupan. Padahal Tuhan bukanlah dalang yang menggerakan manusia seperti wayang,  bahkan Tuhan tidak akan mengintervensi untuk menjadikan manusia secara pribadi, atau secara kelompok atau sebagai bangsa menjadi unggul, KECUALI manusia/ kaum/ bangsa tersebut mau merubah dirinya untuk unggul telepas dari perbedaan pemahaman agama secara verbal. Karena Tuhan pada dasarnya telah memberikan hardware ( doktrin agama-agama secara verbal ), dan Solfware ( doktrin Tuhan dialam semesta ) dan manusia yg unggul akan mampu memahaminya kedua solfware itu secara cerdas.

Saya mempunyai keyakinan bahwa kemunduran dan kehancuran alam semesta akan terjadi, jika kita sebagai manusia sudah melakukan dikotomi agama dan non agama. Dalam pandangan saya secara pribadi, tak ada satu kegiatan sekecil apapun didunia ini yang terlepas dari agama ( hukum-hukum Tuhan ) baik itu kita bekerja, bersosialisasi antar manusia dan alam semesta, bercinta, beribadah secara ritual sesuai agama yg kita diyakini, bahkan satu tarikan napas kitapun jika kita resapi pasti ada partikel kimiawi yang akan membawa kita pada rasa syukur pada Tuhan. ( Statament Tuhan dalam Al-Qur’an : siapa yang pandai bersyukur pasti akan kutambah nikmatku, dan siapa yang kufur, sungguh siksa-Ku sangat pedih )

WALLAHU ALAM BISAWAB

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hikayat Baru Klinting di Rawa Pening …

Dhanang Dhave | | 24 April 2014 | 14:57

Uniknya Gorila Bule di Pusat Primata …

Dzulfikar | | 24 April 2014 | 14:49

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Arloji Sang Jenderal dan Si Putri …

Subagyo | | 24 April 2014 | 09:52

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 4 jam lalu

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 7 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 11 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 13 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: