Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Ahmad Taufiq

Berminat di bidang pendidikan, sejarah, ekonomi politik, sastra dan revolusi. Frustasi jadi mahasiswa. Belajar jadi selengkapnya

Pesan Sunan Kalijogo

OPINI | 04 August 2012 | 06:43 Dibaca: 516   Komentar: 0   0

“Anglaras ilineng banyu, angeli ananging ora keli.”

Itulah yang tampak saat aku duduk di teras depan masjid UIN Suka, Jogja. Ucapan Sunan Kalijogo itu artinya kurang lebih mengajak kita untuk menyelaraskan diri dengan arus zaman, tapi jangan sampai terhanyut dalam arus itu.

Memang, terkadang kita temui orang-orang yang maunya hanya ngelawan arus, tapi lebih sering kelelahan dan mati di tengah jalan, atau minimal berbalik arah sebab tak kuat menahan arus. Tipe yang kedua adalah mereka yang sejak awal selalu cari aman, cari enaknya saja. Tipikal yang seperti ini susah untuk dijadikan pelopor. Dan Sunan Kalijogo jauh-jauh hari sudah berpesan pada kita, bahwa zaman memang tidak bisa ditentang. Tapi kita harus punya prinsip, punya pijakan. Sebab dengan itu, kita tidak bakal kebingungan menentukan arah.

Orang yang tak punya tujuan yang jelas, adalah orang yang tidak sadar posisinya ada dimana, hidupnya untuk apa, apa yang harus dilakukan, mengapa sesuatu harus dilakukan dan untuk apa. Ia hanya ikut saja maunya arus. Atau ia menjadi naif. Mengharapkan perubahan atas realita sosial yang menurutnya hancur, lalu dengan serta-merta ia frontal melawan arus itu, dan akhirnya hanya dua, menyerah kelelahan, atau mati.

Alangkah indahnya pesan Sunan Kalijogo itu kalau kita bisa jalankan.

04/08/12

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

ABG Tanpa Malu Mengakses Video Porno di Area …

Opa Jappy | | 24 January 2015 | 21:59

Kota Malang: Dulu Ijo Royo-royo, Sekarang …

Sri Krisna | | 25 January 2015 | 13:48

Saksi Bohong di Sidang MK …

Hendra Budiman | | 25 January 2015 | 21:00

Inilah Olahraga yang Indah: Kisah Duo …

Aditya Prahara | | 25 January 2015 | 14:10

Kebiasaan Buruk Tempat Wisata …

Widianto.h Didiet | | 24 January 2015 | 15:46


TRENDING ARTICLES

Surat Cinta Untuk Pak Tedjo …

Masykur A. Baddal | 12 jam lalu

Marwah, Wibawa dan Harga Diri Jokowi …

Thamrin Dahlan | 13 jam lalu

Siapa yang Buang Bayi di Bengawan Solo? …

Gaganawati | 15 jam lalu

Surat Terbuka kepada Megawati Sukarnoputri …

Ilyani Sudardjat | 19 jam lalu

Dewasanya Polri, Liciknya Oknum KPK …

Ar Kus | 19 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: