Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Katedrarajawen

"Merindukan Pencerahan Hidup Melalui Dalam Keheningan Menulis" ______________________________ Saat berkarya, kau adalah seruling yang melalui hatinya bisikan selengkapnya

Omong Kosong Tentang Cinta

OPINI | 04 August 2012 | 13:17 Dibaca: 1486   Komentar: 18   4

Sejatinya cinta yang begitu agung dan mulia. Bagaikan permata. Kini terapung-apung di dunia bagaikan seonggok batu saja.
Cinta tak semestinya bersatu. Mencintai tidak berarti harus memiliki. Demi cinta rela berkorban. Apapun akan kuberikan.

Jangankan emas permata. Hati dan jantung pun kan kupersembahkan. Kalau tidak percaya, belahlah dada ini. Betapa indah dan romantisnya. Bagai kata-kata pujangga.

Tetapi tahukah kita. Berapa banyak anak manusia yang harus kehilangan nyawa dan harapan? Karena cintanya tak dapat bersatu. Dipisahkan oleh keadaan dan perbedaan.

Karena cinta, obat serangga rela jadi minuman ringan. Sampai akhirnya benar-benar mabuk kepayang. Nyawa meregang.

Karena cinta rela melayang di udara dari gedung bertingkat. Tanpa pikir panjang. Lupa kata-kata indah syair pujangga.

Berapa banyak anak manusia yang harus frustasi dan menjadi pemabuk? Karena tidak bisa memiliki orang yang dicintainya.

Kemudian, jangankan emas permata atau hati dan jantung. Sesuatu yang murah meriah pun tak bisa diberikan. Yaitu perhatian dan pengertian.

Apakah itu cinta?

Cinta lebih menjadi omong kosong. Kata-kata cinta tak lebih dari obat bius saja. Kata-kata sakti untuk menghipnotis.

Karena cinta begitu mudah diucapkan. Begitu mudah merangkainya dalam kata demi kata.

Sekarang menjadi pertanyaan. Ketika seseorang mengucapkan “cinta”. Cinta apa ini?

Lihatlah berapa banyak wanita yang menjadi korban kebuasan dan akal licik para lelaki.

Dengan mantra,”Kalau kamu benar-benar mencintai saya. Buktikanlah!”

Terbukti memang manjur. Kata-kata sederhana. Tetapi seakan memiliki kekuatan magis untuk menghipnotis.

Para berpikir,”Baiklah, saya akan buktikan cintaku malam ini juga. Ambillah semua yang kau mau!”

Pasrah. Tapi apakah ini benar-benar ungkapan cinta atau termakan nafsu yang bergelora.

Saya hanya meyakini. Semua itu tak lebih dari sekadar omong kosong saja.

Kata-kata cinta memang ampuh menjadi omong kosong yang membius. Herannya para wanita masih begitu suka dan rela dirayu dengan buaian cinta dari mulut para lelaki.

Istri saya dulu sampai bertanya, “Sebenarnya kamu cinta sama saya gak sih, Pi?”

Saya jawab cukup dengan satu kata, “Cinta!”

“Kalau memang cinta, kenapa tidak pernah ngomong?” protes istri cemberut.

“Loh, itu barusan ngomong!” saya balik protes.

“Cuma itu?” istri tersenyum memberi tanda-tanda ingin meminta lebih sambil senyum tersipu.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Inilah 5 Butir Penting Putusan MK atas …

Rullysyah | | 21 August 2014 | 17:49

MK Nilai Alat Bukti dari Kotak Suara …

Politik14 | | 21 August 2014 | 15:12

Sharing Profesi Berbagi Inspirasi ke Siswa …

Wardah Fajri | | 21 August 2014 | 20:12

Meriahnya Kirab Seni Pembukaan @FKY26 …

Arif L Hakim | | 21 August 2014 | 11:20

Haruskah Semua Pihak Menerima Putusan MK? …

Kompasiana | | 21 August 2014 | 10:31


TRENDING ARTICLES

Dear Pak Prabowo, Would You be Our Hero? …

Dewi Meisari Haryan... | 13 jam lalu

Kereta Kuda Arjuna Tak Gentar Melawan Water …

Jonatan Sara | 14 jam lalu

Dahlan Iskan, “Minggir Dulu Mas, Ada …

Ina Purmini | 15 jam lalu

Intip-intip Pesaing Timnas U-19: Uzbekistan …

Achmad Suwefi | 17 jam lalu

Saya yang Memburu Dahlan Iskan! …

Poempida Hidayatull... | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: