Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Arya Dillah

Sungguh, Inginku. Kamu Mengenaliku!

Nur Ilahiy

REP | 28 July 2012 | 15:56 Dibaca: 304   Komentar: 4   1

13434476901119815901Aku dan kebanyakan menginginkan kehidupan ke-Ruhaniaan yang dapat menciptakan keadilan dan kerakyatan bagi seluruh rakyat Indonesia (Persatuan Indonesia) yang berlandaskan ideologi pancasila, bukan seperti golongan/kelompok yang ber-politik untuk memperebutkan pemerintahan dan kekuasaan, seperti orang-orang terdahulu, yakni seperti perebutan kekuasaan (Bani umaiya), bagiku kamu memiliki “massa” dan dapat di hitung dan kelak di minta pertanggungjawaban, karena bagiku “kehidupan ke-Ruhaniaan dapat memadamkan api fitnah dan menghilangkan perpecahan dan permusuhan serta akan membawa kedamaian yang abadi karna ia dapat memperbaiki hubungan dengan Allah Swt dan dengan manusia itulah jalan kaum Zahid, Abid, Nasik, Suffah/Zawiyyah (Sufi).

Sayyidina Ali bin Abi Thalib bertanya kepada Rasulillah; manakah Tarekat yang sedekat-dekat Tuhan? Yang di jawab oleh Rasulullah, “Tidak lain dengan Zikir kepada Allah Swt”.

Kita telah mengetahui bahwa dalam diri manusia itu terdapat sifat ; hewaniah, saithoniah, malakiah, rububiah, maka dalam hal ini mari kita membahas -Nur Ilahiy-, karna inilah yg dibutuhkan oleh manusia khususnya bangsa Indonesia. Keyakinan (bukan hanya eling tetapi dengan jiwa dan jasadi), kekuatan bathinlah membuat sukses dan membentuk jiwanya (ber-karakter Asmaul Husna) kuat dalam menderita kesukaran dan siksaan dari musuh, kuat dalam menahan lapar dan dahaga, kuat dalam kesabaran dan keberanian, karena itu Rasulillah bersabda; “yang sangat aku takutti terhadap ummatku adalah “lemah keyakinannya”, yang di sebabkan oleh orang-orang yang lupa agama-nya dan bergaul kepada orang yang suka kepada kejahatan atau bersikap kasar”. Dan perlu di-ingat bahwa sebelum Nabiyuna mengerjakan pekerjaan yg menggemparkan dunia ia melatih dirinya dan sahabat-sahabatnya (Abu Bakar, Umar, Usman, Ali-semoga Allah mengasihinya).

Seperti kejahatan mengutip tulisan orang tanpa footnote, mengakui karya orang. (aku meminta perlindungan kepada Zat yang Maha Mengetahui dari pengarang yang zolim).

Bismillah-aku sedikit khawatir dalam mengkaji bab ini, dikarenakan hanya orang-orang tertentu yang pernah merasakannya karna pembahasan ini bersifat subjektif. Kita hanya dapat “membaca” (itupun atas-Izin-Nya) tanda-tanda Allah Swt yang insyaAllah akan menimbulkan dan membutuhkan sensitivitas atau kepekaan terhadap dimensi-dimensi ghaib dari eksistensi. Pendekatan ini nyaris tidak “Ilmiah” karena materi dari pertimbangan-pertimbangan kuantitatif secara intrinsik bukan menjadi perhatiannya, kecuali bila semuanya itu menjadi petunjuk-petunjuk bagi adanya zat yang satu (seperti gagasan pythagorean ikhwan Al-Shaffa). Seperti halnya mencari “Harta Qarun”, kita membutuhkan berbagai alat pendeteksi dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar!

Gagasan ini bisa diungkapkan bahwa Al-Qur’an (aku tidak membahas apakah Al-Qur’an itu Makhluk atau kitab bacaan “petunjuk bagi yang bertaqwa”) mengecilkan arti bercorak “Ilmiah” sembari mendorong lahirnya bercorak “putis”. Ia meminta menusia unntuk melihat makna dan hikmah hakiki dari segala sesuatu dalam kaitannya dengan Allah Swt.
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar. Dan apakah Rabbmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu? (QS. 41:53). dan Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan? (Qs 51: 20-21).

Al-qur’an menegaskan manusia untuk melihat segala sesuatu sebagai tanda-tanda Allah, maka ini berarti bahwa Al-Qur’an mendorong proses mental tertentu yang ditujukan sebagai objek, hal-hal/data. Sebaliknya Al-Qur’an mengatakan kepada kita bahwa kita mesti memahami segala sesuatu bukan melulu mengenai objeknya sendiri, melainkan juga tentang apa yang dapat diterangkannya mengenai sesuatu di luar dirinya, segala sesuatu itu seperti ibarat, perumpamaan (tamsil) dan simbol-simbol (bil-hikmah), sehingga ketika seseorang memahami yang tampak (zohir), maka dia tahu bahwa dia memahami yang tak tampak, dimana yang tak tampak tidak bisa di pahami dengan dirinya sendiri, data tersebut dapat di bedah melalui tahapan-tahapan (illa-bi-iznillah).

Nur Ilahiy atau biasa juga disebut Nurul-Rububiah adalah pemberi sinar cahaya dalam bathin manusia. Maka jika Ia menghendaki (irodah) menampakkan ketentuan-Nya (Takdir) kepada Hamba-Nya, dan siapapun yang tidak mempercayai takdir, maka kurang lengkaplah rukun iman, yang ke-6. Niscaya Nurul-Ilahy itu bercahaya atas muka/wajah manusia, ketika itu berkuasalah Ruhaniahnya atas Basriahnya, berkuasa bathinnya atas lahiriahnya, berkuasalah jiwanya atas badannya, pada taraf ini seluruhnya menjadi Nur Cahaya (Ilahy, al-Wujudu, wal Qidamu, wal Baqau wal Wahdaniahtu dan semua sifat-sifat Allah Azza wa Jalla, baik sifat Wujudiah, Sulbiah, Maknawiah).

Dalam kondisi diatas, itu membawa perubahan cepat sekali dimana sifat-sifat kebaharuan keinsanan (yang Nafi) hilang lenyap, karena telah nampak sifat ke-Qadiman, Azali dan ke-Ilahian (yang isbat) yang telah di tetapkan-Nya dalam ke-Baqaan Allah Swt. Oleh karena itu Manusia tidak bisa melihat dan tidak mungkin dapat melihat Allah Swt {Dalam keadaan ini BERHATI-HATILAH konsep beribadah (solat) jangan hanya ruh tanpa jasad (solatlah kalian seperti solatnya aku “Muhammad Saw”) walaupun hanya sekedar “eling”, oleh karenanya seorang salik membutuhkan seorang Guru (Mursyid)}, “La tudrikuhul Abshor” kamu tidak dapat melihat-AKU-.

Sekiranya dapat nampak Nur Asli-Nya sekecil Inti Atom saja tanpa perantara, niscaya hancur leburlah Alam wujud ini, periksalah kisah-kisah nabi terdahulu yang mengharapkan pertemuan dengan-Nya di alam wujud ini.
Rasulullah bersabda; sekiranya Nur Ilahy itu terbuka luas dari aslinya, niscaya hanguslah semua perantara muka, segala sesuatu yang menjadi tumpuan penglihatan mata.

Fungsi Nur Itu ialah penerangan, fungsi mata Hati ialah hikmah (melihat kebenaran yang hakiki) fungsi qalbu ialah taat dan melanggar, mengaku dan ingkar.
Barang siapa yang di terangi oleh Allah Swt akan Hatinya untuk Islam (taat lahir dan taat bathnin) maka orang itulah mendapat pancaran Nur Cahaya dari Tuhannya.

Dan Nur Ilahy pun memiliki beberapa tingkatan, periksalah literatur Ilmu Tasawuf. Oleh karena itu, mari kita ikuti “Mursyid” pembimbing Tarekat (salik menuju suluk) atau carilah al-Imam, al-Alama al-A’rif bil-Lah,al-Muhaqqiq insyaAllah (Mursyid al-Kamil).

Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, mengingatkan; wahai manusia! Ikutilah kaum Saleh (Sufi) dalam perkataan dan perbuatan mereka (Mursyid). Layani dan dekatilah mereka dengan segenap harta dan jiwa kalian. Semua yang kalian berikan padanya akan menjadi simpanan pada mereka, kelak, mereka akan menyerahkannya kembali kepada kalian.

SubhanAllah, Maha Suci Allah yang menjadikan penutup para Nabi dan Rasul memiliki suri tauladan yang baik bahkan Rasullullah Saw saja hanya sebuah nama, yakni Muhammmad (Saw ) tetapi penerusnya, pengikutnya, sampai saat ini 2012 memiliki gelar di awal maupun di akhir!
Seperti ; al-Imam, al-Alama al-A’rif bil-Lah, al-Muhaqqiq, al-Kamil.

Janganlah mengaku-ngaku akan gelarmu, janganlah bangga terhadapnya dan “ikutilah orang yang tiada meminta balasan (sesungguhnya) mereka adalah orang yang diberi petunjuk (Qs yasin:21)”.

Zuhudlah terhadap dunia agar Allah mencintaimu, dan zuhudlah pada yang ada tanganmu (manusia) supaya manusia cinta kepadamu (Ibnu Maja, Tabrani dan Baihaqi).

Apabila Allah Swt menghendaki seorang hambanya menjadi orang baik, diberinyalah faham akan rahasia-rahasia agama, ditimbulkannya rasa zuhud terhadap dunia dan diberinya anugerah dapat memandang yang zohir dan yang ghaib dan cela terhadap dirinya sendiri (Baihaqi).

Mendekati Allah Swt dan merasa adanya tiada Tuhan selain Allah Swt dan Ma’rifatullah, hanya dapat di capai dengan menempuh suatu jalan, yaitu jalan yang di tempuh oleh kaum sufi (Imamul Al-Ghazali).

kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah >>>jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu)<<<. Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. Qs 16: 69

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” >>>Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya<<<, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya." Qs 18: 110.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sultan Brunei Sambut Idul Fitri Adakan Open …

Tjiptadinata Effend... | | 30 July 2014 | 07:16

Simpang-Siur Makna “Politikus” …

Nararya | | 30 July 2014 | 00:56

Di Timor-NTT, Perlu Tiga Hingga Empat Malam …

Blasius Mengkaka | | 30 July 2014 | 07:18

Jalan-jalan di Belakangpadang …

Cucum Suminar | | 30 July 2014 | 12:46

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


TRENDING ARTICLES

Materi Debat Prabowo yang Patut Diperhatikan …

Bonne Kaloban | 7 jam lalu

Cabut Kewarganegaraan Aktivis ISIS! …

Sutomo Paguci | 10 jam lalu

Presiden 007 Jokowi Bond dan Menlu Prabowo …

Mercy | 10 jam lalu

Dua Kelompok Besar Pendukung Walikota Risma! …

Jimmy Haryanto | 10 jam lalu

Pemerintahan Ancer-ancer Jokowi-JK Bikin …

Hamid H. Supratman | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: