Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Baharudin Udi

Hidup ini terlalu singkat untuk diisi dengan segala penyesalan, tetap setia pada proses dan fokus selengkapnya

Mencari Jawaban Dari Pertanyaan

OPINI | 20 July 2012 | 20:04 Dibaca: 2039   Komentar: 0   1

Saya pernah mendapatkan artikel di website-website islami, dan saat itu percaya begitu saja tanpa sedikitpun mengkritisi dari mana sumber artikel ini, dan seolah-olah seperti dongeng, di greja mana, atau dimana kejadian ini terjadi, kita sebagai seorang muslim awam, mungkin langsung melogikan bahwa cerita tersebut benar, berbeda dengan para akademisi, berikut artikel atau cerita tersebut :

Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuhu


Ini kisah nyata seorang pemuda Arab yang menimba ilmu di Amerika!

Ada seorang pemuda Arab yang baru saja menyelesaikan bangku kuliahnya di Amerika. Pemuda ini adalah salah seorang yang diberi nikmat oleh Allah berupa pendidikan agama Islam bahkan ia mampu mendalaminya. Selain belajar, Ia juga seorang juru dakwah Islam. Ketika berada di Amerika, ia berkenalan dengan salah seorang Nasrani. Hubungan mereka semakin akrab, dengan harapan semoga Allah SWT memberinya hidayah masuk Islam.

Pada suatu hari mereka berdua berjalan-jalan di sebuah perkampungan di Amerika dan melintas di dekat sebuah gereja yang terdapat di kampung tersebut. Temannya itu meminta agar ia turut masuk ke dalam gereja. Semula ia berkeberatan, namun karena temannya terus mendesak akhirnya pemuda itupun memenuhi permintaannya lalu ikut masuk ke dalam gereja dan duduk di salah satu bangku dengan hening.

Sebagaimana kebiasaan mereka ketika pendeta masuk, mereka serentak berdiri untuk memberikan penghormatan lantas kembali duduk. Di saat itu si pendeta agak terbelalak ketika melihat kepada para hadirin dan berkata,

“Di tengah kita ada seorang muslim. Aku harap ia keluar dari sini.”


Pemuda Arab itu tidak bergeming dari tempatnya. Pendeta tersebut mengucapkan perkataan itu berkali-kali, namun ia tetap tidak bergeming dari tempatnya. Hingga akhirnya pendeta itu berkata,

“Aku minta ia keluar dari sini dan aku menjamin keselamatannya.”


Barulah pemuda ini beranjak keluar. Di ambang pintu ia bertanya kepada sang pendeta,

“Bagaimana Anda tahu bahwa saya seorang muslim ?”


Pendeta itu menjawab,

“Dari tanda yang terdapat di wajahmu.”


Kemudian ia beranjak hendak keluar, namun sang pendeta ingin memanfaatkan keberadaan pemuda ini, yaitu dengan mengajukan beberapa pertanyaan, tujuannya untuk memojokkan pemuda tersebut dan sekaligus mengokohkan markasnya. Pemuda muslim itupun menerima tantangan debat tersebut.

Sang pendeta berkata,

“Aku akan mengajukan kepada Anda 22 pertanyaan dan anda harus menjawabnya dengan tepat.”


Si pemuda tersenyum dan berkata,

“Silahkan!”



Sang pendeta pun mulai bertanya,

“Sebutkan satu yang tiada duanya,
Dua yang tiada tiganya,
Tiga yang tiada empatnya,
Empat yang tiada limanya,
Lima yang tiada enamnya,
Enam yang tiada tujuhnya,
Tujuh yang tiada delapannya,
Delapan yang tiada sembilannya,
Sembilan yang tiada sepuluhnya,
Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh,
Sebelas yang tiada dua belasnya,
Dua belas yang tiada tiga belasnya,
Tiga belas yang tiada empat belasnya.
Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak mempunyai ruh!
Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa isinya?
Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam surga?
Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah namun Dia tidak menyukainya?
Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dengan tanpa ayah dan ibu!
Siapakah yang tercipta dari api, siapakah yang diadzab dengan api dan siapakah yang terpelihara dari api?
Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yang diadzab dengan batu dan siapakah yang terpelihara dari batu?
Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap besar!
Pohon apakah yang mempunyai 12 ranting, setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah naungan dan dua di bawah sinaran matahari?”

Mendengar pertanyaan tersebut pemuda itu tersenyum dengan senyuman mengandung keyakinan kepada Allah. Setelah membaca Basmalah ia berkata,


Satu yang tiada duanya ialah Allah SWT.
Dua yang tiada tiganya ialah malam dan siang. Allah SWT berfirman, “Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran kami).” (Al-Isra’:12).
Tiga yang tiada empatnya adalah kekhilafan yang dilakukan Nabi Musa ketika Khidir menenggelamkan sampan, membunuh seorang anak kecil dan ketika menegakkan kembali dinding yang hampir roboh.
Empat yang tiada limanya adalah Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur’an.
Lima yang tiada enamnya ialah shalat lima waktu.
Enam yang tiada tujuhnya ialah jumlah hari ketika Allah SWT menciptakan makhluk.
Tujuh yang tiada delapannya ialah langit yang tujuh lapis. Allah SWT berfirman, “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang.” (Al-Mulk:3).
Delapan yang tiada sembilannya ialah malaikat pemikul Arsy ar-Rahman. Allah SWT berfirman,”Dan malaikat-malaikat berada dipenjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy Rabbmu di atas(kepala) mereka.” (Al-Haqah: 17).
Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah mu’jizat yang diberikan kepada Nabi Musa : tongkat, tangan yang bercahaya, angin topan, musim paceklik, katak, laut, darah, kutu dan belalang. Allah SWT berfirman, Dan sungguh Kami telah memberikan kepada Musa sembilan mukjizat yang nyata.” (Al.Israa’:101). “Dan ia mengeluarkan tangannya, maka ketika itu juga tangan itu menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya. (Al A’raaf:108). “Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah (air minum mereka berubah menjadi darah) sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.” (Al A’raaf:133). “Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir’aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran.” (Al A’raaf:130). “Lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.” Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.” (Asy Syu’araa’:63).
Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh ialah kebaikan. Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang berbuat kebaikan maka untuknya sepuluh kali lipat.” (Al-An’am: 160).
Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah saudara-saudara Yusuf.
Dua belas yang tiada tiga belasnya ialah mu’jizat Nabi Musa yang terdapat dalam firman Allah, “Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, ‘Pukullah batu itu dengan tongkatmu.’ Lalu memancarlah dari padanya dua belas mata air.” (Al- Baqarah:60).
Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah saudara Yusuf ditambah dengan ayah dan ibunya.
Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai ruh adalah waktu Shubuh. Allah SWT berfirman, “Dan waktu subuh apabila fajarnya mulai menyingsing. ” (At-Takwir:1).
Kuburan yang membawa isinya adalah ikan yang menelan Nabi Yunus AS.
Mereka yang berdusta namun masuk ke dalam surga adalah saudara-saudara Yusuf,yakni ketika mereka berkata kepada ayahnya,”Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala.” Setelah kedustaan terungkap, Yusuf berkata kepada mereka,” tak ada cercaaan terhadap kalian.” Dan ayah mereka Ya’qub berkata, “Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Sesuatu yang diciptakan Allah namun tidak Dia sukai adalah suara keledai. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara keledai.” (Luqman: 19).
Makhluk yang diciptakan Allah tanpa bapak dan ibu adalah Nabi Adam, malaikat, unta Nabi Shalih dan kambing Nabi Ibrahim.
Makhluk yang diciptakan dari api adalah Iblis, yang diadzab dengan api ialah Abu Jahal dan yang terpelihara dari api adalah Nabi Ibrahim. Allah SWT berfirman, “Wahai api dinginlah dan selamatkan Ibrahim.” (Al-Anbiya’: 69).
Makhluk yang terbuat dari batu adalah unta Nabi Shalih, yang diadzab dengan batu adalah tentara bergajah dan yang terpelihara dari batu adalah Ash-habul Kahfi (penghuni gua).
Sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap perkara besar adalah tipu daya wanita, sebagaimana firman Allah SWT, “Sesungguhnya tipu daya kaum wanita itu sangatlah besar.” (Yusuf: 2).
Adapun pohon yang memiliki 12 ranting setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah teduhan dan dua di bawah sinaran matahari maknanya: Pohon adalah tahun, ranting adalah bulan, daun adalah hari dan buahnya adalah shalat yang lima waktu, tiga dikerjakan di malam hari dan dua di siang hari.

Pendeta dan para hadirin merasa takjub mendengar jawaban pemuda muslim tersebut. Kemudian ia pamit dan beranjak hendak pergi. Namun ia mengurungkan niatnya dan meminta kepada pendeta agar menjawab satu pertanyaan saja. Permintaan ini disetujui oleh sang pendeta.

Pemuda ini berkata,


“Apakah kunci surga itu?”


mendengar pertanyaan itu lidah sang pendeta menjadi kelu, hatinya diselimuti keraguan dan rona wajahnya pun berubah. Ia berusaha menyembunyikan kekhawatirannya, namun hasilnya nihil. Orang-orang yang hadir di gereja itu terus mendesaknya agar menjawab pertanyaan tersebut, namun ia berusaha mengelak.

Mereka berkata, “Anda telah melontarkan 22 pertanyaan kepadanya dan semuanya ia jawab sementara ia hanya memberimu satu pertanyaan namun anda tidak mampu menjawabnya!”


Pendeta tersebut berkata,

“Sungguh aku mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut, namun aku takut kalian marah.”

Mereka menjawab,

“Kami akan jamin keselamatan anda.”

Sang pendeta pun berkata,

“Jawabannya ialah: Asyhadu an La Ilaha Illallah wa’asyhaduanna Muhammadar Rasulullah.”


Lantas sang pendeta dan orang-orang yang hadir di gereja itu memeluk agama Islam. ALLAHU AKBAR! Sungguh Allah telah menganugrahkan kebaikan dan menjaga mereka dengan Islam melalui tangan seorang pemuda muslim yang bertakwa.

Semoga bermanfaat.

Setelah membaca artikel ini langsung saja saya copy-paste di group for share, dan beberapa teman saya yang tergabung di group tersebut-pun banyak copy-paste dari group atau men-share artikel itu, beberapa bulan berselang, seorang teman mengirimkan saya pesan, yang membuat saya berpikir keras untuk menjawab dari pertanyaan tersebut, pesannya berikut:

kak,, yg kakak post kan kemaren kan ci ambil buat share,, trus ada yg comment begini bg,,
bagusnya tindakan ci gimana y bg??

Sangat menggagumkan cerita di wall kamu [:)]
Luar biasa

Tapi saya lebih takjub dengan kemampuanmu mengetik teks tersebut daripada arti isi teks tersbut.

Hanya saja, saya ingin meluruskan banyak hal.

1) Iman bukanlah sesuatu hal yang bisa dengan mudah digoyahkan oleh kekaguman akan kemampuan seorang dalam hal menghapal.

2) Mari kita gunakan logika, pertanyaan yang ditanyakan oleh sang pendeta bukan tipe pertanyaan yang akan dilontar oleh seorang pendeta kepada seorang muslim, kenapa ? Karena untuk pertanyaan sedetail itu, tidak sembarangan orang yang tahu. Hanya yang mendalami mengenai ajaran islam yang dapat mengingat dan menayakan pertanyaan sedetail itu, mungkin seorang ustad atau guru besar agama islam. Jika sang pendeta bisa menanyakan sedetail itu, berarti ia tahu apa jawaban dari pertanyaan itu dengan sama detailnya. Jikapun seorang Nasrani akan menanyakan pertanyaan dan berusaha menyudutkan seorang muslim, ia tidak akan menanyakan mengenai ilmu seorang tersebut, tapi mempertanyakan kebenarannya. Dan saya yakin, seorang pendeta tidak akan berusaha menyudutkan seorang muslim, karena ia telah diajarkan untuk menyebarkan KASIH kepada semua orang,
menolong orang yang bahkan berusaha untuk menekannya.

Hal ini membuat saya bertanya, jika aktor “pendeta” dalam cerita anda sudah tidak benar, apakah cerita bisa dikatakan suatu “kebenaran” ?
Hanya Tuhan yang tahu [:)]

3) Dari cerita mengenai pemuda Arab tersebut, saya menemukan bahwa jemaat yang ada di gereja terlihat kagum atas jawaban yang diberikan oleh sang pemuda muslim. Mari kita gunakan logika lagi, tapi dengan sedikit perasaan, kali ini saya akan gunakan perumpamaan.

Ada suatu ketika, saat murid-murid kelas 5 SD sedang mengerjakan soal matematika yang diberikan oleh gurunya, ya soal kuis lah….
Saat soal disebutkan oleh sang guru, para murid mulai mengerjakan dengan rumus yang telah dipelajari. Namun kelihatannya para murid kebingungan, sampai seorang diantaranya berhasil menjawab pertanyaan tersebut. Para anak lain awalnya mulai kagum, tapi mempertanyakan apakah jawaban tersebut benar. Dan guru mengkonfirmasi bahwa jawabannya salah. Kemudian ada murid lain yang mengetahui jawabannya dan memberitahu kepada guru. Sama seperti tadi, murid lain mempertanyakan jawaban tersebut, namun setelah sang guru menyatakan bahwa jawabannya benar, baru mereka kagum.

Intinya, bagaimana mungkin para jemaat bisa kagum dengan segala jawaban sang pemuda muslim, jika mereka sendiri tidak tahu apakah yang dikatakan benar atau tidak.
Lagipula, apakah jemaat akan mengerti dengan jawaban tersebut, karena bukankah seperti yang saya katakan, mereka bukanlah orang-orang yang mendalami ajaran agama islam, sehingga mereka tidak akan mengerti mengenai apa yang ditanyakan dan apa yang seharusnya dijawab.

Oke, jika tadi saya meragukan peran sang “pendeta” kali ini juga saya meragukan peran para “jemaat”.

4) Pernah mengikuti ibadah rohani Kristen di Amerika ?
mungkin Chicago, Ohio, Florida ?
Kita ambil contoh di New Mexico.
Kegiatan ibadah Minggu disana cukup menyenangkan, lagu-lagu pujian dinyanyikan dengan semangat, namun tetap khusyuk saat berdoa. Seperti kebanyakan gereja di Amerika, begitu ada jemaat baru yang menghadiri ibadah, mereka tentu langsung tahu karena hubungan antara sesama jemaat dan dengan pendeta yang memang akrab dan kekeluargaan. Mereka sangat terbuka meskipun salah satu jemaat tersebut bukanlah seorang Kristen. Bukankan gereja adalah rumah Tuhan, dan Tuhan sendiri dengan KasihNya membukakan tangan dan merangkul semua orang ?
Saya yakin itu hal tersebut sangat dipahami para jemaat, apalagi pendeta.
Jadi, mengusir dengan perkataan frontal kepada seorang jemaat, meskipun ia seorang Kristen atau tidak, saat ibadah atau tidak, saya sangat yakin tidak ada seorang pendetapun yang mau melakukannya. Sekali lagi saya menemukan hal-hal yang ganjil dalam peran “pendeta”

5) Saya masih merasa janggal dengan akhir cerita. “Lantas sang pendeta dan orang-orang yang hadir di gereja itu memeluk agama Islam”. Apakah sehebat itukah yang dilakukan sang pemuda muslim tersbut? Saya tidak ada hal baik yang menyentuh hati yang dilakukannya. Saya juga tidak melihat adanya pengaplikasian ilmu agama dari tindakannya, hanya menyebutkan sesuatu yang telah dihapalnya. Adakah ia melakukan suatu pengorbanan ? Nyawa ? keluarga ? kehidupan ? uang ? 1 sen saja ? sepertinya tidak.
Jadi, tidak ada pengorbanan, tidak tindakan kasih, tidak keajaiban. Saya membaca bahwa pemuda itu hanya menjawab pertanyaan pendeta, dan isi jawaban tersebut adalah berupa hapalan dari apa yang dipelajari, tidak ada hal yang menginspirasi, tidak ada nasihat, tidak ada teguran, tidak ada tindakan yang menunjukan bahwa pemuda tersebut mengaplikasikan apa yang telah ia pelajari dalam agamanya, hanya menjawab saja.

Jadi, banyak yang saya ingin tanyakan mengenai cerita ini :

* Apakah anda yang menulis cerita ini atau anda mengkopinya dari penulis lain ? Karena saya tidak melihat link atau nama penulis di akhir cerita.

* Apakah yang diceritakan adalah benar ? karena saya menemukan banyak sekali kejanggalan dalam cerita tersebut. Menyedihkan bagi saya, jika anda berusaha menginspirasi dan menguatkan iman orang lain dengan cerita yang belum tentu benar asal-usulnya. Karena cerita yang dibahas bukan sekedar cerita seorang motivator (mungkin Mario Teguh) seperti untuk para seseorang agar lebih termotivasi dalam hidupnya. Ini cerita untuk pembaca agar mereka lebih beriman kepada Tuhannya.

* Saya ingin tahu, apakah tujuan anda untuk mempublikasikan cerita ini hanya untuk menginspirasi umat muslim lain dan berbagi cerita ? Adakah keinginan lain ?
Popularitas ? Ingin mendapat “like” dari banyak orang ? Atau ingin menekan keyakinan dari pemeluk agama lain ?
Karena bagi pembaca yang mempunyai pola pikir sempit, mereka akan menganggap bahwa seperti dalam cerita itulah watak seorang Kristen. (Pada dasarnya sih, memang seperti itu lah anda menceritakannya, seakan-akan umat Kristen memang berwatak demikian).

Saya hanya berpesan, jadilah Terang bagi orang, kepada siapapun itu meski ia Muslim ataupun non-Muslim. Mari kita saling menghormati sebagai sesama pemeluk agama. Saling menjaga perasaan, tidak saling menyudutkan dan tetap adil.

Dan satu lagi, sepertinya anda berbakat menjadi seorang penulis. Jika nanti anda menulis sebuah buku yang bisa menginspirasi banyak orang, maka saya akan menjadi penggemar pertama anda.

Semoga hal ini tidak merusak hubungan baik diantara kita, tapi menjadi pembelajaran bagi kita. Selamat menunaikan ibadah puasa ya.

Dari temanmu

The Truthseeker

So, gimana jawabnya ya ?!, Njelimet juga kalau ada cerita tentang islamisasi orang Kristen tanpa mengkritisinya, apalagi satu greja masuk islam, Subhanallah, Laa haula wa laa quwwata illa billah

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menyelamatkan 500 Generasi Muda dari Dampak …

Thamrin Dahlan | | 19 September 2014 | 20:47

Dangdut Koplo Pengusir Jenuh, Siapa Mau? …

Gunawan Setyono | | 20 September 2014 | 08:45

“Apartemen” untuk Penyandang …

Arman Fauzi | | 19 September 2014 | 14:10

Saya, Istri dan Kompasiana …

Tubagus Encep | | 20 September 2014 | 08:00

Beli Bahan Bakar Berhadiah Jalan-jalan ke …

Advertorial | | 20 September 2014 | 07:12


TRENDING ARTICLES

Heboh!Foto Bugil Siswi SMP Di Jakarta …

Adi Supriadi | 2 jam lalu

Kisah Perkawinan Malaikat dan Syaiton …

Sri Mulyono | 3 jam lalu

Beda Kondisi Psikologis Pemilih Jokowi …

Rahmad Agus Koto | 3 jam lalu

Tidak Rasional Mengakui Jokowi-Jk Menang …

Muhibbuddin Abdulmu... | 11 jam lalu

Malaysian Airlines Berang dan Ancam Tuntut …

Tjiptadinata Effend... | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Puluhan Kompasianer Tanggapi Ulah Florence …

Kompasiana | 7 jam lalu

Sate Khas Semarang yang ada Di Jakarta …

Kornelius Ginting | 8 jam lalu

Browser Chrome Tidak Cocok Untuk Membuka …

Ruslan | 8 jam lalu

Andromax Pilihanku dalam Komunikasiku …

Dedy Sigid Setiawan | 8 jam lalu

Bang Ahok Jangan Bikin Malu Kami Ya …

Betterthangood Ina | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: