Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Bang Nasr

Bangnasr. Masih belajar pada kehidupan, dan memungut hikmah yang berserakan. Mantan TKI. Ikut kompasiana ingin selengkapnya

Muhasabah Menjelang Ramadhan

OPINI | 15 July 2012 | 10:57 Dibaca: 340   Komentar: 2   1

Malam minggu tadi malam (14/7) merupakan malam minggu terakhir bulan Sya’ban. Dalam kalender Jawa dikenal dengan bulan Arwah atau Rowah. Masyarakat muslim tradisional juga sering mengadakan sedekahan atau rowahan dengan membaca khatmul qur’an, tahlil dan tahmid serta doa-doa yang lain yang ditujukan kepada arwah leluhur agar selalu diampuni dosa-dosanya oleh Allah swt. Bahkan, sering membuat tamsil sebagai wejangan kepada anak-cucunya apabila mereka belum membuat rowahan tadi arwah almarhum keluarga mereka pada nanyain, pada kemana aja anak-anak gua kok belum ada yang ngirimin doa. Walaupun doa tidak harus dipanjatkan hanya pada acara rowahan, tapi setiap saat khususnya habis shalat fardhu dan sunat, bahkan setiap memulai makan juga alangkah indahnya bila kita mulai dengan mendoakan arwah para orang tua kita berkat peninggalan harta mereka (warisan), bimbingan hidup, pendidikan dsb kita bisa menjadi ‘orang’ yang seperti kita alami. Itulah barangkali sedikit syukur kepada mereka yang telah mendidik anak-anak sebagai amanat dari Allah swt.

Selain itu juga, biasanya masyarakat juga banyak yang melakukan ziarah ke makam leluhur mereka. Ziarah ini juga tidak harus hanya setahun sekali saja, bahkan seyogianya sesering mungkin bila ada waktu luang. Karena selain mendoakan para leluhur juga sebagai tempat muhasabah diri bahwa kita juga akan mati, cuma soal waktu saja, kapan kematian itu tiba. Dengan ziarah ke makam, kita membayangkan lebih dalam lagi apa yang sudah diberbuat selam hidup ini, dan bagaimana mempertanggungjawabkan semua itu dihadapan mahkamah Allah nanti? Apakah dosa dan kejahatan yang lebih banyak diperbuat? Ataukah kebaikan yang lebih sedikit? dan lain sebaiknya. Biasanya orang yang tidak melakukan muhasabah semacam ini, jiwanya semakin liar, sulit dikendalikan sehingga lama-lama kelamaan lupa ‘mati’, lupa akherat dan lupa Tuhan. Sehingga tercermin dalam hidupnya semua aturan diterabas, halal-haram diterjang, duit rakyat dikorupsi, anggaran ditilep, banggar bermain dengan pengguna anggaran, pejabat menipu rakyat, dan banyak lain lagi yang semuanya melanggar aturan dan agama. Merenung kematian dan banyak ziarah kubur minimal dapat mengerem suasana batin bisa menahan nafsu untuk tidak liar, gerasak-gerusuk, sikat sana sikat sini sehingga diri selalu terkontrol dan terkendali. Ah..andaikan para pejabat selalu ingat mati. Apa yang dibawa. Cuma selembar kain putih (kafan) yang murah. Semua harta warisan milik orang lain (ahli waris). Bagus, bila ahli warisnya bersyukur dan tidak memperebutkan warisan tersebut. Namun tidak sedikit mereka berantem berebut warisan tersebut. Nauzubillah.

Tadi malam jalan di depan rumah saya dan juga para tetangga lainnya ditutup sementara karena ada peningatan Isra-Miraj sekaligus penutupan kegiatan pengajian masjid dengan menghadirkan Majlis Rasulullah. Tentu saja jamaah pengajian tumpah ruah ke acara yang mempunyai jamaah tersendiri di kalangan anak-anak muda. Dengan mengenakan jaket hitam mereka rapih bersila mendengarkan para pimpinan majlis memberikan tausiah, nasehat dan wejangan agama untuk kebaikan dan kemaslahatan hidup kita di dunia dan akherat, meneduhkan fikiran dari kegaualauan dunia dan materi. Untuk apa banyak harta bila nantinya cuma menambah beban dihadapan Tuhan. Bukannya nikmat yang didapatkan, tapi kesengsaraan. Kesenangan duniawi hanya sesaat. paling dapat bergaya cuma 70-an tahun saja. Bila tidak cerdas mengelola hidup, boleh jadi akan menjadi orang yang nelongso secara abadi di ‘kehidupan hakiki’ yaitu kehidupan setelah kematian.

Semoga menjelang Ramadan ini dapat dijadikan momentum untuk muhasabah diri. Dan dalam kesempatan ini juag saya memanfaatkan untuk minta maaf kepada semua sahabat kompasianer bila ada kesalahan atau menyinggung perasaan dalam berbagai tulisan maupun komentar, walau tujuannya tidak demikian. Namun, tidak ada gading yang tak retak. Mohon maaf dan selamat menjalankan ibadah puasa bagi umat Islam dan bagi umat lain yang tidak menjalani dapat menghormati kemuliannya.

salam damai,,,

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Inilah (Bocoran) Kunci Jawaban UN SMA 2014! …

Mohammad Ihsan | | 17 April 2014 | 09:28

Kapal Feri Karam, 300-an Siswa SMA Hilang …

Mas Wahyu | | 17 April 2014 | 05:31

Tawuran Pasca-UN, Katarsis Kebablasan …

Giri Lumakto | | 17 April 2014 | 09:09

Sudah Dikompres tapi Masih Demam, Salahkah? …

Widhi Handayani | | 16 April 2014 | 21:59

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 4 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 4 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 5 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 6 jam lalu

Menakar Pasangan Ideal Capres - Cawapres …

Afdhal Ramadhan | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: