Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Bakungan

seorang anak manusia yang masih perlu banyak belajar akan arti kehidupan.

Gerak dan Posisi Jari Tangan Saat Bersembahyang Mempengaruhi Karakter Manusia

OPINI | 14 July 2012 | 19:35 Dibaca: 562   Komentar: 30   2

Di dalam peradaban budaya timur, khususnya hindu mempunyai banyak sekali teknik sembahyang dan meditasi, bahkan sering kali para ahli veda mengatakan apa yang ada di agama lain akan ditemukan di hindu, namun apa yang ada di hindu belum tentu ada di agama lain. Kenapa demikian? Karena proses pencarian Tuhan dalam hindu mempunyai rentang yang sangat panjang. Veda sebagai sumber pengetahuan ibarat ensiklopedia mencari tuhan terluas dalam sejarah manusia.

Dari demikian banyak teknik sembahyang ada yang ingin saya sorot adalah posisi jari-jari pada saat sembahyang dengan efek2 yang akan ditimbulkannya pada ego pelakunya.

Dalam tradisi hindu, perubahan bentuk dan gerak pada tangan dan jari-jari memberikan efek energi pada badan dan psikologi pelakunya, gerak dan posisi jari tangan ini sering disebut dengan mudra.

1. Jari telunjuk, jari telunjuk mewakili ego manusia.
Jika jari telunjuk terulur keluar (seperti jari telunjuk orang memerintah). Maka para pelaku yang rutin melakukan teknik ini akan mempunyai ego yg kuat, efek buruknya adalah pelaku akan cendrung keras kepala, egois, merasa benar sendiri. Sulit menerima nasihat dan pandangan yang baru.
Cendrung menjadi kolot, lebih parah adalah selalu mengaku diri paling benar dan orang lain salah.
Ini adalah akibat posisi jari telunjuk dalam sembahyang,para pelaku spiritual biasanya sangat waspada akan posisi jari telunjuk ini.

2. Ibu jari : mewakili energi Tuhan, posisi yang paling disukai oleh para pencari spiritual adalah dgn menekuk jari telunjuk menyentuh ujung ibu jari, dengan demikian secara filosofi bahwa ego pelaku sedang merunduk untuk bertemu Tuhan, di samping itu energi tubuh juga mengalami perputaran secara alami dan seimbang dari ibu jari ke jari telunjuk

3. Jari kelingking, jari manis dan jari tengah, adalah mewakili triguna (satwik, rajas, tamas / kebaikan, aktif dan malas(bodoh)) .

gambar diatas adalah salah satu mudra terbaik yang sering digunakan para pemula untuk meningkatkan daya spiritualnya, secara kasar arti mudra diatas adalah dengan menundukan ego, dan melepas keterikatan pada sifat-sifat baik, sifat2 aktif, sifat2 malas. dengan demikianlah baru dapat menyatu dengan Tuhan.

Tuhan berada diluar sifat baik dan buruk, sifat baik dan buruk hanya untuk menuntun manusia memasuki alam-alam surga dan neraka, tapi untuk bersatu dengan Tuhan semua keterikatan tersebut harus dilepaskan.

————–

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lolo Sianipar, Sukses Menjalankan Bisnis …

Erri Subakti | | 23 October 2014 | 19:54

Pak Jokowi, Rakyat Cuma Ingin Bahagia… …

Eddy Mesakh | | 23 October 2014 | 19:57

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Gesture …

Pm Susbandono | | 23 October 2014 | 19:05

Catatan Yayat: Remote Control Traveller …

Kompasiana | | 23 October 2014 | 20:42


TRENDING ARTICLES

Akankah Pemkot Solo Berani Menyatakan Tidak …

Agus Maryono | 6 jam lalu

Jokowi-JK Tak Kompak, Langkah Buruk bagi …

Erwin Alwazir | 7 jam lalu

Jonru Si Pencinta Jokowi …

Nur Isdah | 9 jam lalu

Pak Presiden, Kok Sederhana Banget, Sih! …

Fitri Restiana | 9 jam lalu

Acara Soimah Menelan Korban …

Dean Ridone | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Wih, Sekarang Abdi Rakyat Bakalan Keteteran …

Ridha Harwan | 9 jam lalu

Antara Aku, Kompasiana dan Keindahan …

Rahmat Hadi | 10 jam lalu

Sejarah Qatar, Juara Piala Asia U-19! …

Achmad Suwefi | 10 jam lalu

Makna Kegagalan …

Hanif Amin | 10 jam lalu

Ketika Islam Dianaktirikan Penganutnya …

Anni Muhammad | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: