Back to Kompasiana
Artikel

Filsafat

Faridz Artha

Psychological Analyst, State Islamic University of Maulana Malik Ibrahim Malang

Urgensi Manusia Sebagai ‘Khalifah fil al-Ardhi’ dalam Bingkai Keadilan

OPINI | 12 July 2012 | 01:50 Dibaca: 1244   Komentar: 1   0

Menurut Dr. Syekh Syaukat Hussain (1996) ada beberapa konsep yang harus dilaksanakan manusia sebagai khalifatuh fi al-Ardhi, antara lain : manusia hanyalah bertindah sebagai pengelola (administrator) dan manusia tidak memegang posisi ini menurut haknya sendiri tanpa mempertimbangkan hak orang lain, manusia harus mengelola sesuai dengan arahan-arahan yang diberikan Tuhan, selama menjalankan kekuasaan, hendaknya manusia memenuhi tujuan maksud dan tujuan Tuhan, manusia harus menjalankan kekuasaan dengan batas-batas yang digariskan oleh Tuhan, dan setiap manusia yang memegang kekuasaan kendaknya bertanggung jawab atas segala tindakan yang diambil.

Manusia sebagai khalifah fi al-Ardhi merupakan entitas yang melekat pada mahluk Tuhan yang paling sempurna diantara mahluk-mahluk lainnya. Hal ini dapat dilihat dari potensi manusia yang berpeluang dalam menciptakan peradaban dengan iman dalam keyakinan religius yang dianutnya. Tidaklah didikotomikan antara aspek pribadi dan sosial dalam bentuk pengabdian kepada Tuhan yang dipercayainya. Kesatuan integral diperlukan supaya dalam setiap aspek eksplorasinya tidak terjadi split personality yang dapat menghambat kemajuan bagi peradaban itu sendiri. Hasilnya adalah kualitas man of future yang berani menyuarakan idea of progress sebagai man of inovator.

Setelah memiliki keyakinan akan iman yang dimilikinya, untuk mampu mengkontribusikan apa yang dia punya dibutuhkanlah sebuah pengetahuan yang sistematis, kritis, dan objektif. Disinilah urgensi dari ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dibutuhkan untuk mencari tau tentang kebenaran menuju kebenaran mutlak yaitu Tuhan YME sebagai tujuan akhir. Meskipun kebenaran sifatnya relatif, namun posisi pengetahuan tetap tidak dapat dipisahkan dalam mengkreasikan apa yang dipunyai manusia dalam berproses disetiap elemen kehidupannya untuk memenuhi tujuan hidupnya, yakni  mengabdi pada-Nya dan meniadakan posisi yang lain atau menyetarakan.

Karena berhubungan dengan orang lain, maka manusia disebut pula homo sosialis. Interaksinya dengan individu lain, bagaimana mempengaruhi untuk mencapai kesamaan dalam mencapai tujuan menjadi tantangan tersendiri bagi manusia. Sebab ketika tidak sesuai akan berpretensi pada konflik. Konflik semestinya diselesaikan dengan cara tidak berat sebelah dalam memandang permasalahan melainkan diselesaikan dengan rasionalisasi yang kritis,  toleran, produktif, dan solutif sesuai dengan konteks dimana ia berada. Dimanapun selalu ada seperangkat aturan dalam tata nilai dan norma. Oleh karena itu manusia sebagai mahluk individu yang memiliki kehendak merdeka tidak semena-mena mengurangi hak kemerdekaan bagi orang lain dengan mentaati aturan atau nilai yang berlaku. Apabila ternyata ada yang tidak sesuai dengan norma dan tata nilai yang dianut oleh manusia lain disuatu tempat, maka individu dari manusia akan terdorong instingnya untuk mencari kelompok lain yang memiliki kesamaan orientasi guna memasifkan harapan-harapannya dalam bentuk tindakan yang terimplementasikan. Bukan here and now saja kebutuhan manusia melainkan lebih pentingnya dalam menghidupkan peradaban masyarakat dibutuhkan keahlian futuristik yang mampu mengakomodir sumber daya untuk kemajuan bangsanya.

Tiap hari manusia selalu memenuhi kebutuhannya dalam rangka mencapai apa yang ia inginkan, mempertahankan hidup, serta melanjutkan keturunan. Itu adalah pencapaian yang pada umumnya disadari oleh mayoritas manusia, yang pada ahirnya setelah ditelaah lebih kritis lagi itu merupakan prinsip homeostatis hewan yang tidak membedakan manusia jika menerapkan prinsip tersebut. Dapat dikatakan bahwa itu merupakan prinsip dasar dalam menuju prinsip terluhur manusia yang fitrah sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Prinsip dasar yang mesti terpenuhi tentu membutuhkan pengorbanan selain barang bebas yang memang tidak dikomersilkan (seperti udara). Pengorbanan yang sampat saat ini paling lazim menggunakan fasilitas uang sebagai alat tukar. Tentu uang yang dimiliki manusia selayaknya cukup apabila ingin dipenuhinya tuntutan yang bernuansa futuristik, karena jaman yang semakin modern membawa manusia dalam persaingan global yang lebih kompetitif dengan profite oriented. Imbasnya manusia tak pelak dirugikan dan dijajah dalam perampasan hak ekonomi yang selayaknya menjadi miliknya oleh penguasa. Alokasi kekuasaan yang oleh aliran filsafat posmodernisme sebagai The one (mengabdi pada satu penguasa dunia tunggal karena kekuatannya) tidaklah lantas mencederai manusia dalam wilayah ekonomi.

Sebab implikasinya berdampak kronis pada penbangunan infrastruktur dan suprastruktur yang menunjang kemajuan sumberdaya manusia, seperti tidak meratanya pembangunan gedung sekolah, lapangan kerja tidak merata, tindak kejahatan seperti pencopetan dan pencurian yang berahir pada pembunuhan, dan kerugian lainnya dikarenakan korupsi yang merajalela. Akarnya adalah tidak adilnya perekenomian karena ditunggangi oleh orang-orang yang memiliki kepentingan desdruktif tanpa pondasi iman dan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu manusia sebagai homo economicus semestinya mampu meregulasi perekonomian yang bukan hanya berorientasi pribadi (kenyang perut sendiri. red) namun juga orang banyak demi meminimalisir adanya kesenjangan (diskrepansi) yang amat dalam antara si miskin dan si kaya untuk mengabdi pada-Nya .

Apabila tetap terjadi suatu ketidakseimbangan dalam komunikasi yang menyebabkan rapuhnya keadilan sosial dan ekonomi bagi manusia, itu dikarenakan split personality yang oleh seorang psikolog, Dale Carnegie ( dalam Musawi : 2001) dikatakan sakit. Perkataannya adalah sebagai berikut :

“Sekarang telah ditegaskan dengan pasti secara ilmiah maupun filosofis, dan lepas dari segala keraguan, bahwa tak ada manusia ‘jahat’; hanya manusia sakit. Kesadaran tentang hal ini demikian pentingnya sehingga dapat dikatakan tanpa melebihkan bahwa tak ada temuan di dunia sejak munculnya manusia hingga masa kini, dan tak akan pernah ada suatu dampak yang sama pada kesejahteraan manusia. Yakni, ketika orang benar-benar menyadari kenyataan ini dan organisasi masyarakat serta lembaga-lembaga pengaturannya didasarkan pada kebenaran yang mapan ini, bagian besar dari penderitaan manusia, kehancuran, permusuhan, konflik dan hukuman manusia akan berkurang. Mengapa? Karena bilamana setiap orang mengetahui, misalnya bahwa kekikiran, cemburu, takut, kelicikan, prasangka, kecurangan, kelaliman, dan ratusan kejehatan seperti itu adalah akibat logis dari penyakit spiritual yang rentan terhadap perawatan tepat sebagaimana demam, sakit tenggorokan, diare dan sebagainya akan menghasilkan dua hal yang sangat penting Dn bermanfaat. Pertama, orang-orang yang sakit itu, yang sekarang dianggap jahat, akan mengusahakan harapan penuh dan menjadi sehat serta menjadi manusia yang baik. Kedua, orang tidak akan memandang mereka dengan permusuhan dan rasa benci sebagai orang-orang yang ‘jahat’, melainkan sebagai orang sakit yang patut mendapatkan simpati. Dan jelaslah ada suatu perbedaan besar antara kedua pandangan itu dan akibat-akibatnya.

Inilah prinsip yang sekarang ditetapkan di kebanyakan sekolah di negara-negara beradab, dan bahkan di penjara-penjara, dan pendekatan ini secara berangsur-angsur mulai digunakan dengan hasil yang sangat bermanfaat. Adalah kewajiban para penulis humanis untuk berusaha sekuat-kuatnya menyiarkan kebenaran yang teramat bermanfaat ini supaya masyarakat sedunia beroleh manfaat darinya.”

===========================

Manusia sebagai khalifah fi al-Ardhi sudah selayaknya mengabdi pada tujuan tauhid di muka bumi ini demi terciptanya masyarakat yang adil makmur. Diperlukan aspek ritual yang mengintegralkan pribadi dengan kelompok yang berkebangsaan dengan mendasarkan pada pondasi iman, ilmu, dan amal supaya tidak adanya split personality yang duduk dikursi penguasa. Korbannya adalah manusia-manusia yang berada dalam situasi bangsa itu sendiri sebab tidak dipenuhinya keadilan. Split personality masih menekankan kepentingan pada ego, penonjolan diri, dan keserakahan, bukanlah pada pencerahan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Danar Zohar dan Ian Marshal dalam Soiritual Capital itulah faktor yang mendominasi kerusakan pada pribadi manusia. Dampak terbesarnya terjadi perampasan hak asasi manusia lewat jalur ekonomi yang hanya mengenyangkan perut sebagian orang saja, dan kelompok rakyat sebagai komponen bangsa posisinya semakin termarginalkan (misalnya KKN yang tidak kunjung usai dalam dewasa ini).

Meminjam istilah dari Gayatri Spivak, maka komponen rakyat atau masyarakat menjadi sub altern yang tidak memiliki “kekuasaan akan makna” dan posisinya didiskreditkan dalam hidup berbangsa dan bernegara. Kemudian inilah yang disebut dengan ­neo colonialism era baru pada negeri sendiri yang sudah seharusnya di counter oleh anak haram zaman yang bertanggung jawab, cerdas dan berani menyuarakan kebenaran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai abdi Tuhan yang hanief.

Referensi tidak diterterakan… :)

· · · Bagikan · Hapus

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ketika Keluarga Indonesia Merayakan …

Zulham | | 28 November 2014 | 11:19

Ahok, Kang Emil, Mas Ganjar, dan Para …

Dean | | 28 November 2014 | 06:03

Serunya Dalang Bocah di Museum BI Jakarta …

Azis Nizar | | 28 November 2014 | 08:50

Kay Pang Petak Sembilan …

Dhanang Dhave | | 28 November 2014 | 09:35

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50



Subscribe and Follow Kompasiana: